20120919

Tersenyumlah...

Ah, sudah lama aku tak melihat senyum darimu. Senyum terakhir yang aku ingat dari kamu. Iya, di pagi itu, ketika aku baru turun dari kereta malam Yogya-Bandung. Dan kamu masih mengenakan pakaian tidurmu. Kita bertemu di depan gang sempit, di pinggir jalan yang masih basah oleh embun.

Aku sempat menunggu di atas trotoar. Tak lama kemudian kamu datang. Dengan senyum yang biasa kamu berikan ketika aku menjengukmu. Dan setelah kita berhadapan, kau langsung mengacak rambutku. "Gondrong..", kamu bilang begitu. Aku hanya bisa terkekeh. Tak kukira, aku harus merindu dengan usapan tanganmu di rambutku begitu lama. 

Ah, sudah lama aku tak melihat senyum darimu. Tersenyum lah lagi untukku....:) 

Tentang Bersamamu!

Suara angin begitu kencang,
kencang menyanyikan semua tentang mu
Aku tahu, 
bersamamu aku pertama kali berkenalan dengan angin di suatu lembah

Langit malam ini tak terlalu banyak bintang,
bintang yang sedikit itu membentuk namamu
Aku tahu,
bersamamu aku pertama kali menikmati bintang di atas bukit

Ah, sebelum kulihat bintang, ada kabut yang membuat tubuhku dingin
Ku rapatkan punggungku bersandar di batang pohon
Aku tahu,
kau yang selalu memelukku ketika aku harus menembus kabut di malam hari


Di Samping Edelweiss - Di Atas Rumput Kering,  22 Sept 2012

20120819

Serba Salah

Bahkan untuk menelpon kamu saja harus berulang kali aku melihat namamu di layar handphone-ku. 

20120818

Hampa!

Dooooooooooorrrrr......
Praaaaaaaaakkk..
Dooooooorrrrrrrrr.....

Di mana ini? Ada apa di luar? Aku terbangun dengan perasaan takut. Terdengar suara keras di langit di luar ruangan. Menggema. Apakah dunia sedang berperang? Perang dunia ke III? Atau ke IV?.

Aku adalah seorang entah manusia atau makhluk apa namanya. Yang pasti aku tinggal di planet bernama Bumi. Aku selalu mengalami tidur panjang. Tak tentu seberapa lama aku tertidur. Di mana tempat aku bangun. Selalu berpindah-pindah. Dan sekarang aku terbangun. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Terakhir kali aku bangun adalah di akhir tahun 2002. Dan kembali tidur 4 bulan setelahnya. 

Suara di luar masih berantakan. Ramai. Kadang ada suara seperti tembakan. Ah mungkin hanya petasan. Kadang suara mesin-mesin yang aku kenal sebagai suara motor terdengar bersahutan. Ada apa ini? Tahun baru? Atau benar-benar tengah terjadi peperangan? Aku masih berusaha untuk menyadarkan secara utuh tubuhku. Jiwaku juga. 

Ruangan ini... Aku pernah mengenal ruangan ini. Seorang teman pernah membawaku kemari. Ketika aku terbangun di awal tahun 2003. Doooooooorrrrr.. Ah sepertinya itu hanya suara petasan. Mungkin orang-orang sedang menyambut tahun baru. Seperti tahun baru 2002. Memang banyak petasan. Aku mencoba untuk berdiri. Mencari sesuatu yang bisa aku kenakan. Ah ada lemari baju di pojok ruangan. Semoga saja ada pakaian yang seukuranku. Dan memang ada beberapa pasang pakaian di sini. 

Aku berjalan menuju satu-satunya pintu di ruangan ini. Berhasil. Aku berhasil keluar dari ruangan ini. Ada sebuah televisi masih dalam keadaan on. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini. Oh, aku berada di sebuah rumah.  Sebaiknya aku keluar rumah. Bergabung dengan orang-orang yang sedang merayakan tahun baru.Beruntung sekali aku bisa bangun di perpindahan tahun. Sebelumnya sih ramai dan asyik.

Baru saja aku melangkahkan kaki keluar rumah. Sebuah sepeda motor yang melaju kencang hampir menyerempetku. Sial, orang-orang semakin gila saja membawa kendaraan. Aku melangkah perlahan-lahan. Masih harus menyesuaikan tubuh. Banyak sekali orang di luar sini. Ramai. Langit malam pun begitu meriah. Kembang api di mana-mana. Senang sekali. 

Terus aku menyusuri jalan ini. Di depan sana semakin ramai kelihatannya. Banyak kendaraan lalu lalang. Benar saja. Orang-orang sedang berpesta. Mereka berpasangan menggunakan motor. Orang-orang yang sedang duduk di pinggir jalan juga ramai. Akan menjadi malam yang sangat meriah sepertinya. 

Aku mencoba menghampiri seseorang yang tengah asyik duduk di trotoar sendirian. Ku ajak untuk sedikit berbincang. Tapi kuurungkan niatku. Orang itu sedang sibuk bersama handphone-nya. Ayo cari lagi yang lain. Aku palingkan mataku ke sebelah kanan. Ada sekumpulan orang juga. Tapi mereka semua sedang sibuk dengan handphone-nya masing-masing. Ada apa ini? Aku perhatikan sekitar. Semuanya sedang menunduk. Semuanya sibuk sendiri-sendiri. Dengan handphone di tangannya. Aaah, orang-orang sudah berubah. Mungkin aku terlalu lama tidur. 

Di langit masih penuh dengan kembang api. Tapi orang-orang di darat tak ada yang berbincang satu sama lain. Bahkan berbicara pun tidak. Mungkin aku harus mencari handphone untuk berbincang dengan mereka.

Aku arahkan badanku menuju satu warung. Penjaga warung pun asyik dengan handphone. Aku membeli  sebungkus rokok. Sebelumnya aku temukan uang dengan jumlah yang tidak terlalu sedikit di saku celana yang aku pakai. Si penjaga warung hanya mengambil uang dariku kemudian memberikan sebungkus rokok. Menatapku saja bahkan tidak dia lakukan. Aku bertanya tentang tahun berapa sekarang. Dia menjawab, "2012". Hanya itu saja. 

Tidak terlalu lama aku tertidur. Tapi perubahan orang-orang cepat sekali. Aku perhatikan orang-orang berkendara dengan acuh. Sangat gila. Sebaiknya aku kembali ke rumah tempat aku terbangun. Barangkali si tuan rumah sudah ada. Aku menyebrang jalan dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba ada suara decit mobil dari jauh. Hampir saja aku tertabrak. "TOLOL!" terdengar teriakan dari dalam mobil. Orang-orang di sekitar menatapku. Terdengar mereka juga meneriakkan kata yang sama. 

Takut. Aku berlari sekencang-kencangnya. Menghindari tatapan-tatapan tajam orang-orang yang meneriakki aku tadi. Aaaahh, sangat berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Akhirnya aku sampai di rumah. Masih tak ada orang di tempat ini. Aku kembali masuk ke ruangan tempat aku terbangun. Menyalakan rokok dengan tangan bergetar. 

Sebatang rokok habis. Aku mulai kembali tenang. Ada apa ini? Seharusnya ketika tahun baru orang-orang kan senang. Bergembira. Bahkan berpesta. Tapi di luar sangat berbeda. Suara kembang api masih meriah. Rokok kedua aku bakar. Sayup-sayup terdengar suara takbir. Iya, takbir! Tapi kecil sekali suaranya. Kalah oleh suara kembang api. Biasanya takbir ketika sedang merayakan lebaran. Begitu sepengetahuanku. 

Aku mencoba lebih memusatkan pendengaranku ke suara itu. Iya, memang benar suara takbir. Dari masjid biasanya.Tapi suara kembang api dan raungan mesin kendaraan lebih terdengar jelas. Ini lebaran atau tahun baru? Masih bingung. Baru kali aku dibuat bingung ketika terbangun. Dari keadaan orang-orang yang sibuk dengan handphonenya sendiri, orang-orang berkendara semakin gila, orang-orang yang meneriakki ku tolol hingga suara takbir yang seperti sedang bertarung dengan suara kembang api. 

Semisalnya ini adalah tahun baru, kenapa orang-orang bertakbir? Bukankah ketika terbangun sebelum sekarang, orang-orang tidak ada yang di masjid ketika tahun baru tiba? Tapi kenapa orang-orang tak bahagia dengan tahun baru? Atau ini memang malam lebaran? Tapi suara kembang api lebih ramai daripada suara takbir. Bahkan orang-orang terlalu banyak di jalanan. Sepertinya masjid juga sepi. Tak terdengar nyaring suara takbir di masjid. Bingung.

Bingung. Orang-orang di tahun ini membuatku bingung. Sedang merayakan apa sebenarnya? Dan ada apa dengan orang-orang? Tak terasa aku sudah menghabiskan rokok ke lima. Aku bakar saja rokok ke enamku. Ketika rokok mulai terbakar,  BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMM... Suara kencang, dindingpun bergetar. Tak ada suara apa-apa lagi di luar. Itu adalah suara terakhir yang aku dengar. 

Aku keluar dari ruangan ini. Dinding-dinding rumah yang sebelumnya kokoh sekarang rata dengan tanah. Asap mengepul di mana-mana. Hanya tersisa ruangan yang aku tempati saja. Gempa bumi! Gempa bumi menjadikan malam ini sunyi seketika. Terlihat ada koran di kakiku. Aku baca pada headline koran itu, judulnya "Selamat Hari Raya Idul Fitri". Ah, tadi adalah perayaan malam lebaran. 

Cepat sekali gempa bumi meratakan tanah dan membuat bumi menjadi sunyi. Tak ada lagi keramaian. Dan tak berapa lama terdengar suara orang bertakbir. Entah dari mana suara itu. 

Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Semakin lama takbir itu semakin kencang suaranya. Aaaah, rupanya hatiku yang sekarang mulai bertakbir. Di tengah kesunyian. 

20120816

Jangan Bangun!

Malam menuju larut,
berjalan di antara air dan tanah
Kita berdua,
walaupun hanya saling terdiam

Rambut panjang mu,
Senyum kecil mengintip dibalik gelap
Tatap sendu karena bulan
Suara air membuat mu berpaling

Angin begitu kencang,
Kau tak kedinginan?
Kuberikan jaket biruku
Mata kita sesaat beradu

Aku elus rambut mu,
Semoga kau tak marah
Tubuhmu perlahan mendekat
Ah, apa semua ini nyata?


Pada Suatu Mimpi, 16 Agustus 2012
*kepada seseorang di seberang 


20120812

Menuju Satu Syawal

Kucari Kamu....

Lebaran ya, sebentar lagi ramadhan usai. Tak kurang dari 6 hari lagi puasa wajib yang harus dilakukan bagi golongan Muhammadiyah (mungkin) dan 7 hari lagi bagi golongan pemerintah. Berarti sudah memasuki 10 malam terakhir yang artinya adalah malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar, menurut pendengaranku, lebih beragam lagi suara dari masjid-masjid yang jamaahnya sedang tadarusan. Banyak orang mencari malam Lailatul Qadar dengan ber-I'tikaf di masjid. Tidak sedikit orang-orang yang "merapelkan" membaca Al-Quran hanya pada 10 malam terakhir di Ramadhan saja.

Dalam setiap malam...
Dalam bayang masa suram...

Ah, tapi aku sendiri masih bingung. Haruskah aku mencari? Karena kenyataannya hatiku masih belum terlalu tulus untuk mencari malam Lailatul Qadar itu. Aku masih belum sanggup untuk membaca Al-Quran berjuz-juz hanya dalam satu malam. Bukankah lebih baik rutin walaupun hanya sedikit? Tapi lebih bagus lagi rutin dan banyak, bukan?. Malam Lailatul Qadar, aku malah menjadi lebih sering berada di jalanan pada 10 malam terakhir ini. Ah, semoga saja aku bisa menemukan Malam Lailatul Qadar, walaupun di jalan raya. Semoga saja. Heheh. 

Kucari Kamu...

Kurang dari 10 hari lagi. Entah aku harus sedih karena bulan yang penuh kemenangan ini akan lewat. Atau aku harus senang karena aku sudah tak harus menahan haus dan lapar di siang hari karena berpuasa. Ah, yang pasti ramadhan pasti akan segera berlalu. Dan tahun depan semoga masih bisa bertemu lagi. Dengan iman yang lebih mantap.

Dalam setiap langkah...
Dalam ragu yang membisu...

Lebaran, lebaran sebentar lagi. Aku ragu dengan kesiapan ku menghadapi Idul Fitri. Apakah aku bisa menjadi suci kembali? Iya, seperti yang dulu selalu diberi tahu oleh Ustadz di pesantren kilat. Dengan keadaan aku menghadapi shaum saja masih banyak mengeluh. Masih ngomel. Masih balas dendam ketika adzan magrib terdengar. Pantaskah jika aku kembali suci di Idul Fitri? 

Aku cari Kamu...
Dalam setiap ruang...

Tapi setidaknya aku siap untuk mengirimi ucapan-ucapan berisi permohonan maaf dan ucapan selamat Idul Fitri kepada kawan-kawan melalui SMS ataupun MMS. Iya, aku siap hal itu. Aku selalu siap merangkai kata-kata yang indah. Baik itu berupa pantun, puisi atau hanya ucapan biasa. Bahkan, melalui facebook, aku tak pernah lupa untuk men-tag teman-teman di gambar-gambar yang lucu dan unik yang masih bertema lebaran. Minal Aidzin yaaaa.. Begitu lah kurang lebih isinya. 

Seperti aku yang menunggu...
...kabar dari angin malam...

Iya, aku akan terus mencari. Tentang apa yang harus aku pelajari untuk melaksanakan apa yang harus dilakukan, apa yang tidak harus dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan. 

Aku cari Kamu...
Di setiap malam yang panjang...

Ramadhan, pertemukan lah lagi aku denganmu tahun depan. Aku akan lebih siap lagi dalam menjalani hari-hari di bulanmu. Lebih tulus lagi. Agar aku bisa mencapai Lailatul Qadar apabila tahun ini aku tak mendapatkannya. Datanglah lagi, Ramadhan. Agar aku belajar untuk lebih pantas lagi mendapatkan kesucian di hari raya. 

Aku cari Kamu...
Kutemui Kau tiada...
Aku cari Kamu...
Disetiap bayang Kau tersenyum...
Aku cari Kamu...
Kutemui kau berubah...


Gang Asem, 12 Agustus 2012

Tentang WC

WC adalah hal simpel yang mampu merubah hidup seseorang. Dan Toilet adalah tempat di mana dimulainya perubahan tersebut. Ketika sedang berada di Toilet, katakanlah ketika sedang melaksanakan boker, seorang manusia mampu menjelajahi pikirannya sendiri lebih luas daripada ketika berada di tempat lain. Sebagai contoh, saya sendiri mampu mengolah pikiran-pikiran sederhana menjadi hal-hal yang lebih kompleks. Hal yang biasanya terpikirkan sederhana di tempat selain Toilet, (kamar tidur misalnya) bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang saling berhubungan ketika sedang melaksanakan boker. 

Misalnya, ketika sedang berada di kamar tidur, saya memikirkan atau merindukan suatu makanan yang bernama Dodongkal. Dodongkal adalah makanan khas sunda yang (katanya) saat ini sudah menjadi makanan yang langka. Nah, di kamar tidur saya cuman bisa membayangkan Dodongkal saja. Iya, hanya Dodongkal, tanpa ada pemikiran lainnya. Saya cuman membayangkan betapa enaknya Dodongkal tersebut. Tapi, ketika berada di dalam Toilet, pikiran saya yang awalnya hanya sebuah Dodongkal bisa menjadi pemikiran yang mengarah ke bisnis. Ketika sedang nagog (baca: jongkok), kepikiran kenapa gak nyoba buat membuat bisnis Dodongkal saja? Dodongkal kan udah langka nih, tapi yang nyari masih banyak. Dan orang-orang nyari juga kebanyakan cuman sekadar nyari doang. Gak ada kepikiran buat ngeproduksi Dodongkal itu sendiri. Nah, masih di Toilet, langsung kepikiran juga di mana emak-emak yang biasa bikin Dodongkal itu berproduksi. Terus cara bikinnya gimana. Kalo udah bisa bikinnya mau di lempar kemana tuh Dodongkal buat di jual. Ajaib kan toilet?

Atau contoh lain, misalnya ketika sedang nonton acara musik di TV. Yang terjadi adalah hanya menonton. Menikmati. Tapi pas masuk ke Toilet? Kita bisa memikirkan suatu konsep sebuah lagu. Bikin puisi lah sederhananya. Konon katanya banyak orang mampu membuat puiklir si lebih indah ketika sedang nagog di WC. Atau tingkat romantis seorang lelaki lebih meningkat ketika sedang nagog itu. Sambil megang handphone, dia bisa lebih mudah merayu perempuan yang menjadi gebetannya. Dan konon katanya juga, rayuannya lebih sukses dari sekedar di ruangan lain. Heheh. Ajaib?

Atau banyak orang yang memikirkan cita-citanya di Toilet. Ketika sedang duduk atau nagog di WC. Kalau begitu berarti kita harus sangat berterima kasih kepada sang penemu WC dan Toilet. Karena WC dan Toilet sangat menginspirasi banyak orang. Katanya sih penemunya Sir John Harrington. Dari Inggris. 

Bayangkan, mungkin saja tanpa adanya Toilet, kita tak kan bisa mendengarkan karya karya agung dari Bob Dylan. Karena mungkin saja karya Bob Dylan sebagian dipikirkan ketika sedang di WC. Atau orang-orang gak bakal kenal yang namanya Iphone atau Ipad kalau gak ada WC. Gak menutup kemungkinan sang penemu Iphone dan Ipad menciptakan kedua benda tersebut karena ingin lebih sederhana lagi dalam membaca koran ketika sedang melaksanakan boker. Atau karya Kahlil Gibran tak kan seromantis itu membicarakan cinta jika tak ada WC. Orang-orang haruslah berterima kasih pada Sir John Harrington.

Tapi, bisa juga WC menjadi awal terjadinya bencana. Mungkin Hitler yang agung terpikir untuk membunuh para Yahudi berawal dari WC. Ketika Hitler kecil sedang bermain dan jajan di sebuah warung milik Yahudi, misalnya, terus dia sakit perut dan langsung ke WC. Bisa saja dia ingin membalas dendam atas sakit perutnya itu kepada si Yahudi. Mungkin saja kan. Atau Hiroshima dan Nagasaki tak kan menjadi korban bom nuklir kalau saja Oppenheimer gak menemukan bom atom. Bisa juga kan Oppenheimer kepikiran rumus-rumus yang canggih ketika sedang nagog di WC? Ah, berarti gak harus juga berterima kasih pada Sir John Harrington. 

Tapi terlepas dari itu, WC dan Toilet memang sanggup menciptakan pikiran-pikiran yang kritis terhadap para penggunanya. Edan lah WC sama Toilet itu. Maka, nikmatilah saat-saat kita sedang berada di WC untuk melaksanakan boker. :)