20110926

Peri Hujan

Hujan selalu membawaku pada kenangan. Di situ ada kamu bersama kebahagiaan dan keperihanku. Saat itu awal bulan menuju berhentinya musim penghujan. Hari-hari sebelumnya, hujan selalu turun setiap detiknya. Sepanjang hari. Hari itu, hujan menyambut musim kemarau di tahun kerbau turun sangat lama. Bukan hujan deras yang membuat berisik, tapi hujan gerimis, pelan-pelan turunnya dalam waktu yang lama, hari itu sepanjang hari gerimis turun. Sore di hari itulah yang membuat aku mengenangmu ketika hujan turun.

Kau bukanlah permempuan pencinta hujan. Tapi sore itu kamu membawa payung saat pergi bersamaku. Aku sendiri yang memegang payung punyamu itu. Wajahmu saat itu tidak gelap seperti langit sore yang mendung karena hujan. Aku melihat matahari dari wajahmu yang berseri. Payung yang memang tidak terlalu besar untuk kita berdua berlindung dari air hujan. Tapi karena payung kecil itu lah aku bisa merapatkan tubuhku kepadamu. Tiba-tiba saja kau menarik tanganku untuk berlari kecil untuk masuk ke helai-helai rintik hujan. Aku bergegas melipat payung kecilmu agar aku bisa ikut menikmati air yang ditumpahkan oleh para malaikat penyiram hujan. Orang-orang yang berteduh di emperan toko sempat tersenyum melihat tingkah mu. Ada yang berteriak untuk menyuruh kita berteduh juga. Sepertinya kau terlalu menikmati air dari langit. Akhirnya aku pun ikut berlari ke arahmu. Dan sejak itu aku menyukai hujan gerimis di sore hari. 

Sebelumnya kau sempat bercerita banyak hal ketika di warung makan. Tapi aku tak mengingat satu halpun tentang apa yang kau ceritakan. Rambutmu yang hitam panjang, bibirmu yang begitu lembut, warna kulitmu yang kuning kecokelatan, dan seluruh bagian dirimu. Aku lebih tertarik memperhatikan kamu. Aku terlalu menikmati sinar wajahmu saat itu. Senyummu yang membuat suara deru hujan terdengar serperti alunan violin. Kerupuk yang aku pegang di tangan kiriku rasanya menjadi bunga. Ingin aku memberikan bunga itu untukmu. Ternyata film-film India ada benarnya juga, pandangan terhadap seorang perempuan bisa merubah dunia di sekelilingmu. Mulutmu tak hentinya berbicara, aku hanya mendengar kau sedang menceritakan dunia di hadapanmu. Menceritakan aku? Hanya itu yang aku dengar. 

Jalanan sudah seperti sungai. Air dari jalan yang lebih tinggi terus mengalir, tapi kakimu menari sangat indah di atasnya. Kamu berlari kecil mencipratkan genangan air ke arahku. Kita tak sedang berada di pantai. Hanya ada aku dan kamu. Kita berlari ke arah gang kecil untuk menuju ke rumahmu. Kini air dari genteng yang menetes ke kepalamu. Tapi itu membuat senyummu menjadi tawa. Tangga-tangga kecil kamu loncati dengan ringan. 


Sampai di rumahmu, kamu tak memberikanku kesempatan untuk duduk. Kamu menarik tanganku untuk menuju ke lantai dua rumahmu. Lantai dua yang beratapkan langsung langit sore. Di bawah belaian gerimis, kau lepas tawamu. Aku pun menjadi teman tertawa setiamu di sana. Sentuhan-sentuhan mesra dari hujan membuat aku lebih menikmati wajahmu yang basah. Cukup lama kita menghabiskan waktu hanya untuk tertawa dan berlari mengelilingi atap rumahmu. 

Aku memutuskan untuk memelukmu, tapi kau malah menjauh dariku. Hingga akhirnya kau menjadi diam. Raut wajahmu berubah kaku. Apa kamu marah karena aku ingin memelukmu? Aku pun tak bisa berkata apa-apa. Kamu tetap diam saat aku memandangmu lebih tajam. Dan kamu pun membaringkan tubuhmu, membiarkan seluruh tubuhmu di belai oleh air dari para malaikat. Aku pergi dari atapmu. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat kamu lagi.


Hari ini, tepat dua tahun setelah kita terkahir kali bertemu. Aku berdiri di tempat yang sama seperti yang pernah kita lakukan dulu. Dengan rintik hujan yang mesra. Di atap rumahmu. Hari ini aku menunggu kamu untuk menari bersamamu lagi. Mataku tertuju ke tumpukan kabel terbuka yang sudah berkarat di dekat tempatmu berdiri dua tahun yang lalu. Dua tahun berlalu, tapi aku masih bisa melihat tubuhmu ketika listrik dari kabel menyambarmu. Masih jelas terbayang saat tubuhmu menjadi benar-benar kaku. Aku tak berani untuk menyentuhmu. Takut yang aku rasakan ketika aliran listrik menyelimuti tubuhmu yang basah. Seketika itu pula seluruh kulitmu menghitam. Gosong. Hingga akhirnya tubuhmu jatuh. Malaikat penyiram hujan rupanya membutuhkan peri baru untuk menemani mereka membuat gerimis. Dalam hati aku selalu ingin tahu kabar darimu. Apakah kamu ikut menumpahkan air dari langit setiap kali hujan turun? Karena ketika gerimis datang, aku selalu melihat sinar wajahmu dalam helai-helai air dari langit.  

Apa kabarmu peri hujanku? Aku akan selalu menunggu gerimis dari mu, malaikatku. 




catatan: 
cerpen ini terinspirasi dari karya Rama Dira berjudul "Hujanlah yang Membawaku Kepadamu"

20110921

Mendaki Gunung Mengganggu Kuliah?

Mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari arti kata kebebasan. Kebebasan memilih, kebebasan berpendapat, kebebasan menghargai, dan kebebasan kebebasan lainnya. Ada yang memilih bebas dan benar-benar bebas, tidak sedikit pula mereka yang memilih menyalurkan kebebasannya di organisasi kemahasiswaan. Salah satunya menjadi Mahasiswa Pencinta Alam atau biasa di sebut Mapala. Ada Mapala yang berbentuk organisasi atau himpunan, ada pula yang hanya sebagai freelancer  atau hanya sebagai seorang individu yang mencintai kegiatan di alam bebas.

Salah satu kegiatan mereka yang mencintai kegiatan outdoor adalah mendaki gunung. Tidak sedikit orang yang bilang bahwa kegiatan mapala atau outdoor dapat mengganggu aktivitas kuliah. Katanya bisa membuat lama kuliah dan tidak ada hubungannya dengan kegiatan di perkuliahan. Hanya buang-buang waktu dan tenaga, begitu kata mereka yang tidak memilih outdoor activity sebagai sarana membebaskan dirinya. Benarkah hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Sebenarnya ada banyak hubungan antara kegiatan alam bebas dan kuliah. Untuk tulisan ini penulis membatasi hanya antara mendaki gunung dengan kuliah saja. Karena terlalu luasnya esensi antara dua kegiatan mahasiswa itu.

Mendaki gunung atau santainya orang menyebutnya naik gunung.  Apa sih hubungannya dengan kuliah? Ketika seseorang memilih untuk mendaki gunung, berarti orang itu telah mengambil suatu resiko yang tidak mudah. Karena dapat membahayakan keselamatan dirinya sendiri dan juga membuat khawatir orang-orang terdekatnya. Mereka akan menunggu kabar di rumah hingga si pendaki dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Sama halnya dengan ketika seseorang yang lulus SMA kemudian memilih meneruskan kuliah, dia telah membuat keputusan untuk membahayakan dirinya karena dia memilih keluar dari rumah untuk memberikan masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan keluarganya. Orang-orang di rumah pun akan selalu setia menunggu kabar baik dari kampus mengenai dirinya.

Kemudian ketika seorang pendaki menginjakkan kakinya di pintu masuk menuju hutan, dia harus bisa dengan cepat beradaptasi dengan hutan tersebut. Tersesat di perjalanan adalah salah satu masalah yang harus dihadapi ketika di alam bebas. Oleh karena itu, para pendaki pasti telah mempelajari karakter gunung yang akan didakinya sebelum dia melakukan perjalanan. Membuat rencana perjalanan, akan berapa lama dia melakukan perjalanan, apa tujuan dari pendakian, jalur mana yang akan dilalui atau dengan siapa dia akan mendaki. Jika tidak melakukan itu semua, tersesat adalah hasil dari perjalanannya. Sama halnya ketika lulusan SMA  memulai perkuliahan, harus cepat pula beradaptasi. Baik itu dengan teman-teman barunya, dengan dosen ataupun dirinya sendiri. Membuat rencana butuh berapa lama dia untuk menjadi seorang sarjana. Jika tidak membuat dia akan tersesat pula di dunia kampus.

Di dalam perjalanan pasti akan mendapatkan masalah yang harus diselesaikan dengan tenang, cepat dan tepat. Ketika pendaki memilih untuk menikmati perjalanannya, itu akan membuat pengalaman dan ilmu dari perjalanannya lebih banyak daripada seorang pendaki yang memilih untuk sampai ke puncak gunung dengan cepat. Padahal puncak gunung hanyalah bonus dari perjalanan itu. Begitupula kuliah, akan ada ujian-ujian yang diberikan dosen. Apakah harus dinikmati? Atau dibuat pusing? Jika puncak gunung di ibaratkan nilai bagus. Berarti nilai bagus itu adalah bonus dari hasil ujian-ujian yang telah dilaluinya. Sampai puncak, berarti nilai bagus. Ya, nilai bagus di kuliah hanyalah bonus. Yang terpenting adalah bagaimana cara dia menyelesaikan masalah atau ujian yang dia hadapi selama belajar.

Lalu bagaimana hubungan ketika pendaki itu telah kembali turun dengan perkuliahan? Hal ini bisa diibaratkan dengan lulusnya seorang mahasiswa menjadi sarjana. Lebih tepatnya, apa yang akan dilakukan sarjana itu ketika telah selesai kuliah. Ketika seseorang telah mendaki gunung, pasti akan banyak sekali kebesaran dari Sang Pencipta yang dia lihat dan rasakan. Berbeda ketika dia sedang di kota. Biasanya ketika dia berhasil menyikapi dan memaknai dari kebesaran Sang Pencipta artinya dia sukses melakukan perjalannya. Hasilnya dia akan menjadi seorang yang lebih baik dari sebelumnya, karena dia sadar bahwa dia hanyalah setitik debu kecil di antara besarnya kuasa Allah SWT. Tidak jauh berbeda dengan perkuliahan, ketika seseorang menjadi sarjana, dia bisa dikatakan sukses ketika dia berhasil mengambil inti dari perkuliahan yang dia jalani cukup lama. Akan menjadi orang yang lebih dari orang-orang yang tidak merasakan kuliah apabila dia berhasil menyikapi bahwa masih banyak ilmu yang belum dia ketahui selama dia kuliah.

Masih banyak hubungan antara kegiatan alam bebas dengan perkuliahan apabila dijabarkan lebih luas. Setiap kegiatan apapun yang dipilih adalah sama tujuannya. Tergantung bagaimana menyikapi perjalanan yang dilalu selama beraktivitas. Baik itu mapala, BEM, HMJ, atau apapun akan sama saja. Tidak ada yang lebih buruk dan tidak ada yang lebih baik. Yang membuatnya beda hanya sebutan. Tidak ada pula yang mengganggu kuliah apabila direncanakan dengan baik.

Catatan: konteks mapala di sini tidak di artikan sebagai organisasi, hanya sebagai sebutan untuk orang-orang yang senang berkegiatan di alam bebas. Mohon maaf apabila ada Mapala yang sebenarnya yang membaca tulisan ini tidak berkenan di hati. Boleh menyampaikan komentar langsung. Untuk para pembaca lainnya juga, penulis mohon maaf apabila ada salah-salah kata. Terima kasih