Hujan selalu membawaku pada kenangan. Di situ ada kamu bersama kebahagiaan dan keperihanku. Saat itu awal bulan menuju berhentinya musim penghujan. Hari-hari sebelumnya, hujan selalu turun setiap detiknya. Sepanjang hari. Hari itu, hujan menyambut musim kemarau di tahun kerbau turun sangat lama. Bukan hujan deras yang membuat berisik, tapi hujan gerimis, pelan-pelan turunnya dalam waktu yang lama, hari itu sepanjang hari gerimis turun. Sore di hari itulah yang membuat aku mengenangmu ketika hujan turun.
Kau bukanlah permempuan pencinta hujan. Tapi sore itu kamu membawa payung saat pergi bersamaku. Aku sendiri yang memegang payung punyamu itu. Wajahmu saat itu tidak gelap seperti langit sore yang mendung karena hujan. Aku melihat matahari dari wajahmu yang berseri. Payung yang memang tidak terlalu besar untuk kita berdua berlindung dari air hujan. Tapi karena payung kecil itu lah aku bisa merapatkan tubuhku kepadamu. Tiba-tiba saja kau menarik tanganku untuk berlari kecil untuk masuk ke helai-helai rintik hujan. Aku bergegas melipat payung kecilmu agar aku bisa ikut menikmati air yang ditumpahkan oleh para malaikat penyiram hujan. Orang-orang yang berteduh di emperan toko sempat tersenyum melihat tingkah mu. Ada yang berteriak untuk menyuruh kita berteduh juga. Sepertinya kau terlalu menikmati air dari langit. Akhirnya aku pun ikut berlari ke arahmu. Dan sejak itu aku menyukai hujan gerimis di sore hari.
Sebelumnya kau sempat bercerita banyak hal ketika di warung makan. Tapi aku tak mengingat satu halpun tentang apa yang kau ceritakan. Rambutmu yang hitam panjang, bibirmu yang begitu lembut, warna kulitmu yang kuning kecokelatan, dan seluruh bagian dirimu. Aku lebih tertarik memperhatikan kamu. Aku terlalu menikmati sinar wajahmu saat itu. Senyummu yang membuat suara deru hujan terdengar serperti alunan violin. Kerupuk yang aku pegang di tangan kiriku rasanya menjadi bunga. Ingin aku memberikan bunga itu untukmu. Ternyata film-film India ada benarnya juga, pandangan terhadap seorang perempuan bisa merubah dunia di sekelilingmu. Mulutmu tak hentinya berbicara, aku hanya mendengar kau sedang menceritakan dunia di hadapanmu. Menceritakan aku? Hanya itu yang aku dengar.
Jalanan sudah seperti sungai. Air dari jalan yang lebih tinggi terus mengalir, tapi kakimu menari sangat indah di atasnya. Kamu berlari kecil mencipratkan genangan air ke arahku. Kita tak sedang berada di pantai. Hanya ada aku dan kamu. Kita berlari ke arah gang kecil untuk menuju ke rumahmu. Kini air dari genteng yang menetes ke kepalamu. Tapi itu membuat senyummu menjadi tawa. Tangga-tangga kecil kamu loncati dengan ringan.
Sampai di rumahmu, kamu tak memberikanku kesempatan untuk duduk. Kamu menarik tanganku untuk menuju ke lantai dua rumahmu. Lantai dua yang beratapkan langsung langit sore. Di bawah belaian gerimis, kau lepas tawamu. Aku pun menjadi teman tertawa setiamu di sana. Sentuhan-sentuhan mesra dari hujan membuat aku lebih menikmati wajahmu yang basah. Cukup lama kita menghabiskan waktu hanya untuk tertawa dan berlari mengelilingi atap rumahmu.
Aku memutuskan untuk memelukmu, tapi kau malah menjauh dariku. Hingga akhirnya kau menjadi diam. Raut wajahmu berubah kaku. Apa kamu marah karena aku ingin memelukmu? Aku pun tak bisa berkata apa-apa. Kamu tetap diam saat aku memandangmu lebih tajam. Dan kamu pun membaringkan tubuhmu, membiarkan seluruh tubuhmu di belai oleh air dari para malaikat. Aku pergi dari atapmu. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat kamu lagi.
Hari ini, tepat dua tahun setelah kita terkahir kali bertemu. Aku berdiri di tempat yang sama seperti yang pernah kita lakukan dulu. Dengan rintik hujan yang mesra. Di atap rumahmu. Hari ini aku menunggu kamu untuk menari bersamamu lagi. Mataku tertuju ke tumpukan kabel terbuka yang sudah berkarat di dekat tempatmu berdiri dua tahun yang lalu. Dua tahun berlalu, tapi aku masih bisa melihat tubuhmu ketika listrik dari kabel menyambarmu. Masih jelas terbayang saat tubuhmu menjadi benar-benar kaku. Aku tak berani untuk menyentuhmu. Takut yang aku rasakan ketika aliran listrik menyelimuti tubuhmu yang basah. Seketika itu pula seluruh kulitmu menghitam. Gosong. Hingga akhirnya tubuhmu jatuh. Malaikat penyiram hujan rupanya membutuhkan peri baru untuk menemani mereka membuat gerimis. Dalam hati aku selalu ingin tahu kabar darimu. Apakah kamu ikut menumpahkan air dari langit setiap kali hujan turun? Karena ketika gerimis datang, aku selalu melihat sinar wajahmu dalam helai-helai air dari langit.
Apa kabarmu peri hujanku? Aku akan selalu menunggu gerimis dari mu, malaikatku.
catatan:
cerpen ini terinspirasi dari karya Rama Dira berjudul "Hujanlah yang Membawaku Kepadamu"
20110926
20110921
Mendaki Gunung Mengganggu Kuliah?
Mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari arti kata kebebasan.
Kebebasan memilih, kebebasan berpendapat, kebebasan menghargai, dan kebebasan
kebebasan lainnya. Ada yang memilih bebas dan benar-benar bebas, tidak sedikit
pula mereka yang memilih menyalurkan kebebasannya di organisasi kemahasiswaan.
Salah satunya menjadi Mahasiswa Pencinta Alam atau biasa di sebut Mapala. Ada
Mapala yang berbentuk organisasi atau himpunan, ada pula yang hanya sebagai freelancer atau hanya sebagai seorang individu yang
mencintai kegiatan di alam bebas.
Salah satu kegiatan mereka yang mencintai kegiatan outdoor adalah mendaki gunung. Tidak
sedikit orang yang bilang bahwa kegiatan mapala atau outdoor dapat mengganggu aktivitas kuliah. Katanya bisa membuat
lama kuliah dan tidak ada hubungannya dengan kegiatan di perkuliahan. Hanya
buang-buang waktu dan tenaga, begitu kata mereka yang tidak memilih outdoor activity sebagai sarana
membebaskan dirinya. Benarkah hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Sebenarnya
ada banyak hubungan antara kegiatan alam bebas dan kuliah. Untuk tulisan ini
penulis membatasi hanya antara mendaki gunung dengan kuliah saja. Karena
terlalu luasnya esensi antara dua kegiatan mahasiswa itu.
Mendaki gunung atau santainya orang menyebutnya naik
gunung. Apa sih hubungannya dengan
kuliah? Ketika seseorang memilih untuk mendaki gunung, berarti orang itu telah
mengambil suatu resiko yang tidak mudah. Karena dapat membahayakan keselamatan
dirinya sendiri dan juga membuat khawatir orang-orang terdekatnya. Mereka akan
menunggu kabar di rumah hingga si pendaki dapat kembali ke rumah dalam keadaan
sehat. Sama halnya dengan ketika seseorang yang lulus SMA kemudian memilih
meneruskan kuliah, dia telah membuat keputusan untuk membahayakan dirinya
karena dia memilih keluar dari rumah untuk memberikan masa depan yang lebih
baik untuk dirinya dan keluarganya. Orang-orang di rumah pun akan selalu setia
menunggu kabar baik dari kampus mengenai dirinya.
Kemudian ketika seorang pendaki menginjakkan kakinya di
pintu masuk menuju hutan, dia harus bisa dengan cepat beradaptasi dengan hutan
tersebut. Tersesat di perjalanan adalah salah satu masalah yang harus dihadapi
ketika di alam bebas. Oleh karena itu, para pendaki pasti telah mempelajari
karakter gunung yang akan didakinya sebelum dia melakukan perjalanan. Membuat
rencana perjalanan, akan berapa lama dia melakukan perjalanan, apa tujuan dari
pendakian, jalur mana yang akan dilalui atau dengan siapa dia akan mendaki.
Jika tidak melakukan itu semua, tersesat adalah hasil dari perjalanannya. Sama
halnya ketika lulusan SMA memulai
perkuliahan, harus cepat pula beradaptasi. Baik itu dengan teman-teman barunya,
dengan dosen ataupun dirinya sendiri. Membuat rencana butuh berapa lama dia
untuk menjadi seorang sarjana. Jika tidak membuat dia akan tersesat pula di
dunia kampus.
Di dalam perjalanan pasti akan mendapatkan masalah yang
harus diselesaikan dengan tenang, cepat dan tepat. Ketika pendaki memilih untuk
menikmati perjalanannya, itu akan membuat pengalaman dan ilmu dari
perjalanannya lebih banyak daripada seorang pendaki yang memilih untuk sampai
ke puncak gunung dengan cepat. Padahal puncak gunung hanyalah bonus dari
perjalanan itu. Begitupula kuliah, akan ada ujian-ujian yang diberikan dosen.
Apakah harus dinikmati? Atau dibuat pusing? Jika puncak gunung di ibaratkan
nilai bagus. Berarti nilai bagus itu adalah bonus dari hasil ujian-ujian yang
telah dilaluinya. Sampai puncak, berarti nilai bagus. Ya, nilai bagus di kuliah
hanyalah bonus. Yang terpenting adalah bagaimana cara dia menyelesaikan masalah
atau ujian yang dia hadapi selama belajar.
Lalu bagaimana hubungan ketika pendaki itu telah kembali
turun dengan perkuliahan? Hal ini bisa diibaratkan dengan lulusnya seorang
mahasiswa menjadi sarjana. Lebih tepatnya, apa yang akan dilakukan sarjana itu
ketika telah selesai kuliah. Ketika seseorang telah mendaki gunung, pasti akan
banyak sekali kebesaran dari Sang Pencipta yang dia lihat dan rasakan. Berbeda
ketika dia sedang di kota. Biasanya ketika dia berhasil menyikapi dan memaknai dari
kebesaran Sang Pencipta artinya dia sukses melakukan perjalannya. Hasilnya dia
akan menjadi seorang yang lebih baik dari sebelumnya, karena dia sadar bahwa
dia hanyalah setitik debu kecil di antara besarnya kuasa Allah SWT. Tidak jauh
berbeda dengan perkuliahan, ketika seseorang menjadi sarjana, dia bisa
dikatakan sukses ketika dia berhasil mengambil inti dari perkuliahan yang dia
jalani cukup lama. Akan menjadi orang yang lebih dari orang-orang yang tidak
merasakan kuliah apabila dia berhasil menyikapi bahwa masih banyak ilmu yang
belum dia ketahui selama dia kuliah.
Masih banyak hubungan antara kegiatan alam bebas dengan
perkuliahan apabila dijabarkan lebih luas. Setiap kegiatan apapun yang dipilih
adalah sama tujuannya. Tergantung bagaimana menyikapi perjalanan yang dilalu
selama beraktivitas. Baik itu mapala, BEM, HMJ, atau apapun akan sama saja.
Tidak ada yang lebih buruk dan tidak ada yang lebih baik. Yang membuatnya beda
hanya sebutan. Tidak ada pula yang mengganggu kuliah apabila direncanakan
dengan baik.
Catatan: konteks mapala di sini tidak di artikan sebagai
organisasi, hanya sebagai sebutan untuk orang-orang yang senang berkegiatan di
alam bebas. Mohon maaf apabila ada Mapala yang sebenarnya yang membaca tulisan
ini tidak berkenan di hati. Boleh menyampaikan komentar langsung. Untuk para
pembaca lainnya juga, penulis mohon maaf apabila ada salah-salah kata. Terima
kasih
Langganan:
Postingan (Atom)