20120204

Apa?

Edel, Edel...
Oh, Edel... 
Haruskah aku katakan?
Bahwa aku mencintaimu...
Aku kira tidak perlu. 
Karena kamu sudah tau!

Gang Asem, 4 Februari 2012

20120203

Perjumpaan

Saat ini aku sedang berada dalam sebuah kereta malam. Kereta ini tidak terlalu sesak seperti biasanya. Aku duduk di kursi dibagian yang dekat dengan jendela. Tujuanku kota Yogyakarta. Masih ada sisa enam jam perjalanan. Sebelahku masih kosong. Belum ada yang menempati.


Tak berapa lama ada seorang perempuan yang mengisi kursi sebelahku. Tak terlalu aku perhatikan. Pemandangan sawah dan gunung di luar lebih menarik untuk aku nikmati. Aah, andai aku bisa menikmati gunung-gunung itu dari lembahnya. 

Lama aku diam memandang ke luar. Samar aku lihat pantulan perempuan di sampingku sedang memperhatikanku. Ah kaca jendelanya retak. Mungkin hanya perasaanku saja. Pelan-pelan aku lirikkan mata ke arahnya. Ya benar, dia memperhatikanku. Biasa! Aku memang sering diperhatikan banyak orang. Karena aku memang selalu menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, dengan tongkat penyangga di sebelah kananku. Ya, aku memang pincang. Sudah terbiasa dengan tatapan banyak orang. Biarlah orang-orang menatapku dengan berbagai macam perasaan mereka. Toh aku tetap selalu bersyukur dengan segala karunia yang diberikan-Nya kepadaku. Aku masih punya kaki kiri.


Aku kembali mengarahkan tatapanku ke arah luar jendela. Tiba-tiba saja perempuan di sampingku itu menyapaku. Dia memanggil namaku. Ah.... ternyata dia sahabatku. Dulu, empat tahun lamanya kami tak bertemu. 

Dia sahabat yang pernah aku mencintainya. Tapi tak berani aku mengungkapkannya. Teman berbagi tawa ketika sedang menikmati sejuknya kabut di dataran tinggi. Sebelum kecelakaan itu merenggut kaki kananku tentunya. Kami pernah saling tertawa, saling bercanda atau saling memaki. Ingatanku terus melambung tanpa sempat menjawab sapaan dari perempuan di sampingku itu. Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya. Tidak terlalu baik. 


Ah, dia menyentuh pundakku. Dia membuyarkan lamunanku. Aku menatap matanya, masih sama. Tajam. Tapi indah dan sayu. Dia tersenyum dan mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Aku tak bisa mendengarnya. Pikiranku terlalu fokus memandangnya. Rambutnya sekarang lebih panjang dari terakhir aku bertemu. Badannya lebih segar. Ah, dia sudah mau menggunakan anting rupanya. Banyak sekali perubahan darinya. Lebih dewasa.


"Hai.." ujarku.


"Hey, apa kabar? Rupanya kamu gak mengenalku. Banyak perubahan dariku kan?" ceria sekali dia. Aku hanya bisa terkekeh saja.


"Hehehe, tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini. Hendak kemana tujuanmu?" Aku mencoba mengatur nafasku.


"Kok langsung tanya tujuan. Tak ada rasa rindu dalam hatimu kah, kawan? Bagaimana kabarmu?" tampak tenang sekali dia bertemu denganku.


Ingin aku jawab Aku selalu rindu padamu, tak berani aku mengeluarkan kalimat itu. "Yah, seperti yang kau lihat. Dengan satu kaki. Haruskah aku jelaskan padamu?"


"Maaf, aku hanya ingin memulai obrolan. Aaah, tak menyesal kah kau meninggalkanku dulu seperti itu?"


Rupa-rupanya dia masih ingat jelas apa yang aku lakukan empat tahun yang lalu. Aah, kenapa harus bertemu seperti ini.


"Aku hendak pergi ke Jogja, ada pekerjaan yang mengharuskan aku pergi ke sana. Hanya beberapa hari saja. Kamu? Masih dengan kegiatan alam bebas mu?" Dia melanjutkan kalimatnya tanpa sempat aku jawab. Syukurlah, berarti aku tak harus menceritakan kelakuanku empat tahun yang lalu padanya lagi.


"Oh, ya ya. Ya, aku juga pergi ke Jogja. Sudah dua tahun aku tinggal di sana. Hmmm, lagi. Dengan kaki seperti ini? Menurutmu?"


"Maaf, lagi-lagi maaf. Kau tampak tak sesemangat dulu. Oh, iya? Tinggal di Jogja? Seru sekali sepertinya. Apa kegiatanmu sekarang?" Dia tetap peduli terhadapku. Baguslah, setidaknya dia bisa terus memancing obrolan.


Bulan di langit terlihat tak seterang sebelum obrolan di mulai. Sawah-sawah tak lagi terlihat. Hanya gelap yang aku pandang. Semuanya sama di luar sana. 

Aah, tanpa sempat aku menjawab. Telepon genggamnya berdering. Aku coba untuk menunggu kepentingannya selesai. Terlalu lama. Sebaiknya aku tidur saja.


Banyak hal yang telah kami lakukan sebelum empat tahun ini. Kau benar-benar berubah. Tampak bertambah dewasa. Sangat jauh berbeda sejak kita berpisah. Aaah, kupejamkan mata hanya lembaran kenangan lalu yang muncul. Kau benar-benar berbeda, langkahmu kian panjang ternyata. Aku lebih bahagia sejak 8 menit yang lalu. Terima kasih sobat...


Aku ingin tertidur, dia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Semoga perjalanan kereta ini terhambat. Aku masih ingin berbincang dengannya, setidaknya ingin ku menatap matanya lagi. Tak kan ada kesempatan kita bersama lagi. Kerinduan ini sedikit terobati.


Semoga kau tak menyesal untuk bertemu lagi. Baiklah, aku tidur saja. Semoga ada obrolan yang lebih bersemangat ketika aku bangun. Masih ada 7 jam lagi sebelum Yogyakarta.
Terima kasih kereta malam...

20120202

Aarde

Aarde,
Yang aku ingat kau sangat sejuk bila dinikmati
Aku masih mendengar siulan yang menggesek organ-organ tubuhmu
Hanya jika aku tidak salah mengingat

Aarde, 
Ada yang bilang kau menanti mati
Sangat sering kau marah
Padahal aku bertemu denganmu begitu lembut

Putih,
Itu yang aku lihat ketika pagi menjelang
Selimut yang menutupimu sangat tebal
Aku hanya bisa menggigil kala pagi datang

Putih,
Aku mendapat kabar putihmu menjadi sesak
Bukan pagi selimut putihmu terlihat 
Ketika siang putihmu menjadi pekat

Kamu mulai panas Aarde? 
Jangan sampai biru mu menjadi merah
Siulanmu haruslah tetap lembut
Jangan menjadi kasar dan kasar serta panas

Aarde yang indah
Aarde yang sejuk
Jangan marah Aarde
Jangan mati Aarde

Marrikh
Bulan, 1 Februari 2012

ps: Sajak ini dibuat oleh Marrikh seorang kenalan yang aku temui di Bulan. Marrikh tinggal di planet Venus. Dia seorang panglima  perang dari Mars yang diusir dari kerajaannya karena telah membangkang tidak mau menuruti perintah untuk menyerang Bumi. Hingga dia diasingkan di Venus. 

Sajak ini dia buat untukku. Aku sendiri tak memahami apa arti sajak ini. Mungkin nanti aku mengerti. 

Melihat Jiwa!

Ada jiwa yang sedang bermain jauh sekali hari ini. 
Jiwa yg sedang bermain itu adalah jiwa yg selalu rindu rintik hujan di sore hari. Aku belum sempat menitipkan salam padanya.
Semoga dia mengerti dan menyampaikan rinduku untuk seorang perempuan sombong di gang sebelah. Aku ingin berbincang dengannya. :)

Ah, tiba-tiba saja ada sekolompok jiwa orang lain sedang mengunjungiku.
Jiwa-jiwa dari luar berlarian masuk ke kamarku. Ah, di luar kan hujan. Mereka malah berdansa di atas karpet kamarku.
Seakan mereka tak melihatku yg sedang menikmati musik saat itu. Sungguh mengganggu, tapi dansa mereka sangatlah cantik.
Ada tiga pasangan yang berdansa. Ke tiga pria itu semuanya menggunakan setelan jas hitam-hitam dengan dasi kupu-kupu. Penampilannya klimis.
Pasangannya menggunakan gaun. Wanita prtama menggunakan gaun berwarna kuning. Gaun yg bagian bawahnya mengembang. Cantik, rambutnya pirang!
Wanita kedua, dia selalu tersenyum. Warna rambutnya cokelat kemerahan. Panjangnya sepinggang. Menggunakan gaun merah yg anggun.
Yang ketiga, nampaknya dia yg tertua dari kedua org yg lain. Terpancar aura yg berbeda dari wajahnya. Gaunnya warna biru laut selutut.
Karpetku mulai terlihat basah. Wanita bergaun merah itu paling basah. Tidak! Jangan injak rokoku.
Nampaknya aku tak asing dengan wajah si gaun merah. Ya! Itu si nona sombong yg dulu sempat dekat denganku. Pantas dia slalu melihat padaku.

Jiwa-jiwanya mengunjungiku hari ini. Terima kasih nona sombong.


Gang Timor-Timur, 16 Januari 2012