Hari sabtu tanggal 28 Agustus 2010, hari ini telah terbentuk sepuluh kelompok kecil yang berasal dari satu Jurusan Teknik Fisika. Dari sepuluh kelompok itu juga telah terbentuk satu kelompok bernama MUR BAUT. Bagaimanakah awal terbentuknya kelompok MUR BAUT ini??
Jam 07.00 kita harus sudah kumpul di pelataran parkir Jurusan Teknik Fisika untuk melaksanakan Stadium General, seharusnya sih hari sabtu itu adalah hari yang tenang, hari yang seharusnya bisa dipakai untuk istirahat. Yah tapi apa daya, sebagai MABA (Mahasiswa Baru yah, bukan Manusia Baru.) masih harus mengikuti acara Stadium General untuk Ospek yang bakal dilaksanakan bulan september sama oktober nanti. Set dah.....
Walaupun masih ada beberapa yang terlambat, tapi seperti biasanya dengan alibi bulan puasa jadi tidak ada penindakan secara tegas. :) . Hanya mungkin mendapatkan pengurangan point untuk menjadi mahasiswa terbaik 2010 se JTF (Jurusan Teknik Fisika) .
Diawali oleh perkenalan para pembawa acara yang katanya merangkap menjadi seksi acara. Seperti biasanya, cukup membuat semuanya bengong.. ^^ .. Selanjutnya perkenalan para panitia dimulai dari ketuanya sampai ke para panitia lainnya. Cukup lama memang. Setelah itu ada pembagian kelompok, kita harus mencari sendiri dengan siapa kelompoknya. Dengan melihat kertas yang ditempelkan di berbagai macam jenis tempat yang bisa ditempelkan, kebetulan kelompok kami kertasnya ditempelkan di badan salah seorang panitia ospek itu. Gokil meennn.... hahahaha ...
Kumpul deh sama teman-teman satu kelompok, kelompok 2 tepatnya. Awalnya adalah kelompok yang sangat silent banget. hahaha.. Membuat lingkaran saja tetap tidak menimbulkan suara sedikitpun. Ada 11 orang yang terkumpul saat itu, yaitu ada Aris, Atika, Bagus, Dio, Huda, Khusin, dan Ragil dari Fisika Teknik 2010 dan ada Ayu, Bemby, Hadi, dan Rouf dari Teknik Nuklir 2010. Ada 7 orang dari Fistek 10 (Fisika Teknik 2010) dan ada 4 orang dari TN 10 (Teknik Nuklir 2010). Namun pada akhirnya, kita adalah sama yaitu di bawah naungan Jurusan Teknik Fisika. Oh iah, pada ospek kali ini kita dapat tema yang namanya MEKANIKA. Hmmmm, artinya apa yah??? Kalo dikasih tau gak rame ntarnya, cari tau aja yah sendiri... hahahahahaha
11 orang yang rata-rata pendiam, atau belum keluar aslinya. Setelah tau kelompoknya beranggotakan siapa saja, kita mendapat tugas untuk mencari siapa pemandu untuk kelompok 2. Dengan 3 clue, yaitu 1. Bertempat di tempat parkir tetangga yang gedungnya sebelah atas; 2. Pemandu laki-lakinya bertubuh besar, IP pada semester 1 adalah 3,89 dan suka spongebob; 3. Pemandu wanitanya adalah seorang yang pendiam, murah senyum, suka pake rok dan merupakan anggota dari madani. Kamipun mencari pemandu kami, dengan bermodalkan clue nomor 2 saja ternyata sudah cukup cepat untuk menemukan pemandunya... hehehe ... Nama pemandunya ternyata adalah Mas Abed dan Mbak Veni. Walaupun awalnya mereka pura-pura bukan pemandu dan ngakunya keamanan, tapi kami dapat memojokkan mereka sampai mengaku dengan membalikkan setiap alibi mereka. hahahahah... Nice Job !!
Setelah itu acara perkenalan dimulai, dari A sampai Z..... (loh emang ada yang namanya dari z yah??) ... hmmm, setelah itu ada pembentukan kelompok, yaitu dengan menentukan ketua, wakil, sekretaris, bendahara dan Penanggung Jawab tugas. Karena saking banyaknya tugas, maka dari itu dibentuklah penanggung jawab tugas.. :hammer: ...
Karena memang bakat alami yang dimiliki 11 orang ini adalah diam, ketika pemilihan ketua pun semua diam.. hahahaha... gak deng, ada 4 calon yang maju. Bagus, Huda, Hadi dan (satu lagi tambahin da, lupa ahahahah) . Sebelum dilakukan pemilihan, ada orasi dulu, dan akhirnya Hadi terpilih menjadi ketua di kelompok 2 dengan Huda sebagai wakilnya. Nice Job!! .. Seperti pada umumnya, ada ketua dan wakil, pasti akan langsung ada sekretaris dan bendahara, karena cuman ada 2 orang perempuan langsung aja ditunjuk untuk memegang jabatan itu.. hahahaha....
Begitu pula dengan para PJ (Penanggung Jawab) . Semuanya dapat jatah masing-masing.. ^^
Next, kita memilih satu nama untuk kelompok ini, setiap orang memberikan pendapatnya dan pada akhirnya nama MUR BAUT yang diusulkan Huda menjadi nama kelompok kita. Dengan filosofi walaupun kecil tapi dapat berguna untuk semua. Kita ingin kelompok kita menjadi berguna. hahahaha.... Karena waktu menunjukkan jam 12 siang, para Maba sudah gak diperbolehkan berada disekitar lingkungan kampus JTF. Maka MUR BAUT pun berpindah tempat ke Kantor Pusat Fakultas Teknik (KPFT )sayap Utara.
Hari ini langsung kita kerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Dan pada akhirnya, kita pun bisa menyelesaikan sebagian tugas yang ada. The End..
*- Kalo mau ditambah atau kurang silahkan aja
- Yang di bold tolong diganti yak,.. ^^
20100830
20100828
Ketika Gambar yang Bercerita
Gambar... suatu potret mati tak bergerak, tak bersuara, tak bernafas yang menjadi suatu perantara untuk menyambungkan emosi jiwa dengan kehidupan nyata. Gambar yang memperlihatkan keburukan dan kebaikan dalam hidup. Gambar yang tak bergerak, tak bersuara itu akan menjadi seperti terlihat hidup. Bahkan bisa melebihi kata "seperti" itu sendiri. Ketika gambar berada di tempat dan waktu yang tepat.
Hari ini, suatu pameran foto anak-anak muda yang memegang tanggung jawab bangsa Indonesia di masa depan di pamerkan dengan satu tema yang seragam, yaitu 55+. Berbeda dengan pameran-pameran foto yang biasanya menampilkan keindahan abstrak dalam gambar, kali banyak sekali potret-potret lusuh para pemuda di jaman dulu yang saat ini sudah menjadi tua. Terkesan sangat tua memang pameran foto itu.
Namun dalam foto yang bermodelkan wajah-wajah keriput, tersirat makna suatu perjuangan hidup yang telah model-model itu alami. Masih tergambar jelas semangat-semangat muda mereka, baik itu dalam hal pendidikan, kesehatan, karir, bahkan kisah cinta yang tak tersampaikan.
Wajah-wajah tua dalam gambar itu seperti ingin berteriak, "Akulah yang terhebat." Mereka tak peduli seberapa lusuh wajah mereka dalam gambar. Mereka tak peduli tinggal berapa tahun sisa umur mereka. Bahkan mungkin hari.
Namun ironis sekali ketika dibandingkan dengan foto-foto yang selalu menjadi wajah dalam headline news suatu koran atau surat kabar yang setiap harinya pasti selalu ada wajah-wajah muda yang menundukkan kepalanya karena malu dengan perbuatan mereka. Wajah-wajah yang kerap kali mereka tutup dengan tangan. Seakan mereka berteriak, "Cukup jangan berbicara lagi." Sangat bertolak belakangan dengan semangat yang terpancar dari gambar-gambar di pameran foto 55+ itu.
Gambar yang bercerita. Gambar yang berbicara. Gambar yang berkomentar. Gambar yang menceritakan kisah buruk seseorang sering kali bisa didapatkan dengan mudah. Kareka keburukan itu sangat mudah dalam penyebarannya. Namun ketika gambar yang berceritakan kisah baik seseorang, diperlukan tempat dan waktu yang mahal. Tempat dan waktu yang tepat. Tempat dan waktu yang eklusif. Karena kebaikan itu adalah mahal.
LUTHFIL HADI
Hari ini, suatu pameran foto anak-anak muda yang memegang tanggung jawab bangsa Indonesia di masa depan di pamerkan dengan satu tema yang seragam, yaitu 55+. Berbeda dengan pameran-pameran foto yang biasanya menampilkan keindahan abstrak dalam gambar, kali banyak sekali potret-potret lusuh para pemuda di jaman dulu yang saat ini sudah menjadi tua. Terkesan sangat tua memang pameran foto itu.
Namun dalam foto yang bermodelkan wajah-wajah keriput, tersirat makna suatu perjuangan hidup yang telah model-model itu alami. Masih tergambar jelas semangat-semangat muda mereka, baik itu dalam hal pendidikan, kesehatan, karir, bahkan kisah cinta yang tak tersampaikan.
Wajah-wajah tua dalam gambar itu seperti ingin berteriak, "Akulah yang terhebat." Mereka tak peduli seberapa lusuh wajah mereka dalam gambar. Mereka tak peduli tinggal berapa tahun sisa umur mereka. Bahkan mungkin hari.
Namun ironis sekali ketika dibandingkan dengan foto-foto yang selalu menjadi wajah dalam headline news suatu koran atau surat kabar yang setiap harinya pasti selalu ada wajah-wajah muda yang menundukkan kepalanya karena malu dengan perbuatan mereka. Wajah-wajah yang kerap kali mereka tutup dengan tangan. Seakan mereka berteriak, "Cukup jangan berbicara lagi." Sangat bertolak belakangan dengan semangat yang terpancar dari gambar-gambar di pameran foto 55+ itu.
Gambar yang bercerita. Gambar yang berbicara. Gambar yang berkomentar. Gambar yang menceritakan kisah buruk seseorang sering kali bisa didapatkan dengan mudah. Kareka keburukan itu sangat mudah dalam penyebarannya. Namun ketika gambar yang berceritakan kisah baik seseorang, diperlukan tempat dan waktu yang mahal. Tempat dan waktu yang tepat. Tempat dan waktu yang eklusif. Karena kebaikan itu adalah mahal.
LUTHFIL HADI
20100827
20100823
AKULAH SOLUSI BANGSAKU !!
"Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada
Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku."
-Hymne Gadjah Mada-
"Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan...
... wahai kalian yang rindu kemenangan.. "
-Darah Juang-
Potongan bait lagu yang selalu dan menjadi kebanggan para mahasiswa, khususnya mahasiswa Gadjah Mada itu sudah cukup untuk menyampaikan bahwa kami mahasiswa selalu siap untuk mencapai kejayaan. Potongan lagu yang apabila dinyanyikan utuh selalu bisa menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Dengan kepalan tangan yang diangkat setinggi-tingginya, dengan kepalan tangan yang bangga menyentuh dada, mahasiswa siap untuk berjuang mencapai kemenangan.
Aku adalah solusi bangsaku, itu sudah terdapat dalam kedua lagu itu, merupakan suatu janji untuk berjuang mencapai, mencapai kejayaan. Namun untuk mencapai kemenangan dan kejayaan itu, tidak cukup dengan bernyanyi begitu semangatnya. Untuk menjadi solusi bangsa yang besar ini dibutuhkan pula keberanian, kebersamaan dan tanggung jawab yang besar.
"Berjuta rakyat bersimbah luka/Anak kurus tak sekolah/Pemuda desa tak kerja." Bait lainnya dari lagu "Darah Juang" ini adalah gambaran bangsa Indonesia yang telah 65 tahun merdeka. Butuh waktu untuk merubah liriknya menjadi "Berjuta rakyat bersimbah harta/Anak sehat menjadi sarjana/Pemuda desa berkelana." Tak banyak yang bisa dilakukan apabila seorang mahasiswa masih menjadi "Aku". Seorang "Aku" tak akan bisa menjadi solusi bangsa yang telah lama merindukan suatu kejayaan. Bahkan seorang mahasiswa yang panda dalam berorasi atau membakar semangat orang lain pun tak akan bisa menjadi solusi bangsa ini apabila masih menjadi seorang "Aku".
Hanya sedikit yang bisa, maaf, masih hanya sedikit yang bisa menjadi solusi bangsa yang besar ini. Yaitu orang-orang atau mahasiswa-mahasiswa yang sudah bukan menjadi seorang "Aku", mahasiswa-mahasiswa yang sudah tidak "menyebut"kata "kami", mahasiswa yang bukan berpikir "kamu" tidak bisa mengalahkan "Aku". Mahasiswa yang menjadikan dirinya seorang "KITA". Mahasiswa "KITA" adalah mahasiswa yang mampu memyelesaikan permasalahan bangsa. Mahasiswa yang mampu melihat keadaan dan dengan cepat menyesuaikan dirinya.
Mahasiswa "KITA" di Indonesia hanya menjadi dan pernah besar ketika bangsa ini sudah sangat terpuruk. Sebagai contoh kecil adalah ketika semua mahasiswa turun ke jalan dan selalu berteriak "KITA ADALAH SATU", "KITA ADALAH SAMA." Ketika itu keadaan bangsa sudah sangat terpuruk di bawah tahta Soeharto. Mereka berteriak "KITA BUTUH KEADILAN", berbeda dengan kebanyakan para orator yang selalu meneriakan "KAMI MINTA KORUPSI DIMUSNAHKAN".
Sewaktu masih bersekolah, setiap hari senin selalu diucapkan "Persatuan Indonesia" ketika pembacaan pancasila. Namun itu hanya menjadi suatu ucapan saja. Atau ketika kepedulian muncul apabila banyak orang sudah peduli. Menjadi solusi bangsa itu harus cepat tanggap apabila ada suatu masalah. Mampu membuka lebar pandangan dan pola berpikirnya.
Untuk menjadi solusi bangsa, seorang mahasiswa bukan hanya butuh profesionalitas saja, tapi juga nilai-nilai moral dan agama, dan menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Yaitu bangsa yang santun dan penuh rasa hormat. Karena seorang mahasiswa merupakan pewaris peradaban yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Peradaban yang dulu pernah menjadi raja di hutan yang keras. Itulah yang selalu dinyanyikan mahasiswa.
Menjadi solusi bangsa bukan hanya dengan turun ke jalan, tapi bisa dengan memperlihatkan kehormatan kita. Dengan menunjukkan kualitas kita dalam sebuah bangsa. Karena kita adalah satu.
Aku bisa menjadi solusi bangsa. Akulah solusi bangsa ketika aku adalah bukan seorang "Aku". Ketika aku adalah bukan "Kamu". Ketika aku adalah bukan "Kami". Tapi aku adalah solusi bangsa, akulah solusi bangsa, aku menjadi solusi bangsa ketika aku sudah menjadi "KITA".
HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!
HIDUP RAKYAT INDONESIA !!
Luthfil Hadi
Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku."
-Hymne Gadjah Mada-
"Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan...
... wahai kalian yang rindu kemenangan.. "
-Darah Juang-
Potongan bait lagu yang selalu dan menjadi kebanggan para mahasiswa, khususnya mahasiswa Gadjah Mada itu sudah cukup untuk menyampaikan bahwa kami mahasiswa selalu siap untuk mencapai kejayaan. Potongan lagu yang apabila dinyanyikan utuh selalu bisa menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Dengan kepalan tangan yang diangkat setinggi-tingginya, dengan kepalan tangan yang bangga menyentuh dada, mahasiswa siap untuk berjuang mencapai kemenangan.
Aku adalah solusi bangsaku, itu sudah terdapat dalam kedua lagu itu, merupakan suatu janji untuk berjuang mencapai, mencapai kejayaan. Namun untuk mencapai kemenangan dan kejayaan itu, tidak cukup dengan bernyanyi begitu semangatnya. Untuk menjadi solusi bangsa yang besar ini dibutuhkan pula keberanian, kebersamaan dan tanggung jawab yang besar.
"Berjuta rakyat bersimbah luka/Anak kurus tak sekolah/Pemuda desa tak kerja." Bait lainnya dari lagu "Darah Juang" ini adalah gambaran bangsa Indonesia yang telah 65 tahun merdeka. Butuh waktu untuk merubah liriknya menjadi "Berjuta rakyat bersimbah harta/Anak sehat menjadi sarjana/Pemuda desa berkelana." Tak banyak yang bisa dilakukan apabila seorang mahasiswa masih menjadi "Aku". Seorang "Aku" tak akan bisa menjadi solusi bangsa yang telah lama merindukan suatu kejayaan. Bahkan seorang mahasiswa yang panda dalam berorasi atau membakar semangat orang lain pun tak akan bisa menjadi solusi bangsa ini apabila masih menjadi seorang "Aku".
Hanya sedikit yang bisa, maaf, masih hanya sedikit yang bisa menjadi solusi bangsa yang besar ini. Yaitu orang-orang atau mahasiswa-mahasiswa yang sudah bukan menjadi seorang "Aku", mahasiswa-mahasiswa yang sudah tidak "menyebut"kata "kami", mahasiswa yang bukan berpikir "kamu" tidak bisa mengalahkan "Aku". Mahasiswa yang menjadikan dirinya seorang "KITA". Mahasiswa "KITA" adalah mahasiswa yang mampu memyelesaikan permasalahan bangsa. Mahasiswa yang mampu melihat keadaan dan dengan cepat menyesuaikan dirinya.
Mahasiswa "KITA" di Indonesia hanya menjadi dan pernah besar ketika bangsa ini sudah sangat terpuruk. Sebagai contoh kecil adalah ketika semua mahasiswa turun ke jalan dan selalu berteriak "KITA ADALAH SATU", "KITA ADALAH SAMA." Ketika itu keadaan bangsa sudah sangat terpuruk di bawah tahta Soeharto. Mereka berteriak "KITA BUTUH KEADILAN", berbeda dengan kebanyakan para orator yang selalu meneriakan "KAMI MINTA KORUPSI DIMUSNAHKAN".
Sewaktu masih bersekolah, setiap hari senin selalu diucapkan "Persatuan Indonesia" ketika pembacaan pancasila. Namun itu hanya menjadi suatu ucapan saja. Atau ketika kepedulian muncul apabila banyak orang sudah peduli. Menjadi solusi bangsa itu harus cepat tanggap apabila ada suatu masalah. Mampu membuka lebar pandangan dan pola berpikirnya.
Untuk menjadi solusi bangsa, seorang mahasiswa bukan hanya butuh profesionalitas saja, tapi juga nilai-nilai moral dan agama, dan menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Yaitu bangsa yang santun dan penuh rasa hormat. Karena seorang mahasiswa merupakan pewaris peradaban yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Peradaban yang dulu pernah menjadi raja di hutan yang keras. Itulah yang selalu dinyanyikan mahasiswa.
Menjadi solusi bangsa bukan hanya dengan turun ke jalan, tapi bisa dengan memperlihatkan kehormatan kita. Dengan menunjukkan kualitas kita dalam sebuah bangsa. Karena kita adalah satu.
Aku bisa menjadi solusi bangsa. Akulah solusi bangsa ketika aku adalah bukan seorang "Aku". Ketika aku adalah bukan "Kamu". Ketika aku adalah bukan "Kami". Tapi aku adalah solusi bangsa, akulah solusi bangsa, aku menjadi solusi bangsa ketika aku sudah menjadi "KITA".
HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!
HIDUP RAKYAT INDONESIA !!
Luthfil Hadi
Langganan:
Postingan (Atom)