Tampilkan postingan dengan label Kata-kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata-kata. Tampilkan semua postingan

20140326

Hujan, Rindu!


Photo Source: http://sarangpenyamun.files.wordpress.com/2012/10/dsc_0043.jpg
 Ah, aku rindu padanya
Pada hujan di sore hari 
yang membuat harum tanah di depan rumah

Ah, aku rindu senandungnya
Senandung rintik hujan
yang beradu dengan daun-daun diterpa angin

Selayaknya tarian
pada senja setelah hujan turun
 bukan di bulan desember

Dan senyuman
Ketika rindu pada hujan
seperti daun-daun gugur dari pohon yang rindang

F253B,  26 Maret 2014



20131027

Damai...

"Alunan nada dibalut asap-asap putih yang membawa manusia melayang. Berada di batas mimpi dan kenyataan."

20130821

Ini adalah Kisah Tentang Seorang Perempuan

Ini adalah kisah tentang seorang perempuan
...
Pada kabut dititipkannya peluk
Pada matahari terbit menyimpan hangat
Pada setiap jejak langkah terselip rindu
...
Mengisi dialog pada waktu yang kosong
Menjadi senandung indah pada setiap keramaian
Mengirimkan teduh ketika terlelap
...
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan

20130626

Dialog Keempat: Tamparan Keras!

"datangi ibumu... rasakan getarannya.. dalam dirinya ada keberkahanmu, keajaibanmu, asal kau tau cara mendapatkannya..." 
-Saptuari Sugiharto-

Tak perlu panjang lebar.. Aku rindu Ibu..

Dialog Ketiga: Berputar!

I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books.
I don’t know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
I don’t know if I should
I don’t know if I could
(ride a white swan)

I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books.
I don’t know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
How could you say you paid attention
keep making the same mistake?
How could you say you paid attention
keep making the same mistake?
same mistake

I don’t know if I could
(ride a white swan)
I don’t know if I should
(ride the tide now)
I don’t know if I could
(ride a white swan)
I don’t know if I should
(ride the tide now)

Conundrum - The SIGIT
 
Sulit menentukan bukan? Benar dan salah memang ditentukan pada apa yang berkembang di masyarakat. Pembentukan opini besar-besaran. Bahwasanya kehidupan ini harus dilakukan dengan sesuatu yang selalu benar. Dan kesalahan itu harus dihindari. Tanpa tahu dari mana benar dan salah itu ditentukan. Hanya opini yang terbentuk secara sengaja, teratur, dan terus menerus dilakukan/diulang.
 
Sejak manusia bisa mengingat, sejak itulah pembentukan opini dimulai tentang benar dan salah. Enak bukan? Tanpa harus mencari dan mencoba, benar dan salah itu sudah dijejalkan di setiap sudut pemikiran mereka yang dapat mengingat. Dan dibuktikan dengan apa yang bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung. Padahal itu hanya perputaran dari yang sebelumnya. Hal yang sama yang terus dilakukan. 
 
Ada yang ingin melakukan perubahan? Ah, perubahan itu sendiri dibentuk untuk membentuk opini yang berbeda namun sama. Hanya arahnya saja dirubah. Karena perubahan dilakukan karena melihat ada suatu lubang dijalurnya. Tetapi perubahan itu pun hanya akan menghasilkan lubang lain. Lebih baik daripada tidak sama sekali? Itupun hasil dari pembentukan di kalangan masyarakat luas. Percaya bahwa bergerak dan melakukan perubahan itu akan menuju ke arah yang lebih baik. Satu lubang dihindari ketika ditemukan. Dan lubang lain pun lama-lama akan ditemukan juga. Tanpa perlu dicari. Tunggu saja..

Kehidupan ini berputar. Sudah ada contohnya. Tinggal ikuti saja. Manusia-manusia di masa datang akan mempelajari manusia di masa sekarang. Manusia-manusia di masa sekarang mempelajari dari masa lalu. Yang seharusnya disadari, masa datang pun akan menjadi masa lalu. Tidak ada yang berbeda. Hingga menjadi bingung apa yang seharusnya dilakukan. 

Ikuti saja apa yang sedang berkembang. Dengan begitu lama-lama akan bisa membentuk opini yang diinginkan. Begitu seterusnya.
 


20130625

Dialog Kedua: Berkarya!

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.
Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” 
-Buya Hamka-

Bagaimana menjalani hidup ketika tujuan pun belum ditentukan. 
Apakah hidup yang telah dijalani telah berada di jalur yang tepat?
Bagaimana jika tidak?
Kembali ke sudut pikiran yang pernah terlupakan.
Merasa tak pernah bergerak.
Tak juga merasa terlindas.
Ada hal-hal yang tidak memerlukan alasan untuk memperjelasnya. 
Jalani saja?
Babi di hutan pun menjalani hidupnya lurus-lurus saja. 
Menjadi daging asap jika tertembak pemburu. 
Bahkan monyet pun terus berlatih dari satu pohon ke pohon yang lain.
Terjatuh?
Naik lagi saja.
Diamnya manusia sudah lebih dari sekadar babi di hutan dan atau monyet yang bergelantungan.
Diamnya manusia juga adalah sebuah karya.
  

Dialog Pembuka!

"Lemah sekali aku menjadi manusia."

"Iya, lemah! Pikiranmu hanya bagaimana caranya menghasilkan uang. Menghasilkan uang untuk mendapatkan bahagia. Kau betul-betul lemah. Menjadi seorang setan pun tak pantas." ujar Tuan Setan sambil tekekeh.

"Aku merindukan Ibu."

"Untuk merengek supaya Ibumu memintakan uang terhadap Bapakmu? Untuk memenuhi segala kebutuhanmu? Tak malu dengan umurmu?" Tuan Setan tertawa kencang. "Kau terlalu lemah dan bodoh sebagai manusia." Tuan Setan tertawa penuh kemenangan.

"JANCUUUUUUUUK KOE SETAAAAAN!!!!"

"HAHAHAHAHAHAHAAH" Tuan Setan tertawa semakin kencang.

20130505

Kata

Bahkan selarut ini,
ketika biasanya kata menjadi selalu indah untuk dibentuk rupa.

Tidak bagiku, saat ini.
Mencari kata, memikirkan rupa,
terlalu rumit!

Aku mencari kata untuk melukiskan ia,
memikirkan rupa untuk membuatnya bisa berdansa.

Ah, ada yang keliru.
Ia tak perlu dicari, karena selalu ada.
Juga tentangnya, bukan masalah pikiran, tapi rasa.

5 Mei 2013


20130411

Tentram, Selalu Lebih Tenang!

"Aa, jangan pernah menggunakan kekuatan Aa sebagai manusia untuk berjuang. Selalu minta bantuan kepada Alloh, ya Sayang Ibu? Berdoa. Insya Alloh bisa, A.
-Ibuku tercinta-
 

20130323

Tanya atau Jawab?

Sebuah fakta yang dilukiskan menjadi sebuah prosa yang begitu indah
Pertanyaan yang timbul akan hadirnya oranye di langit barat pada sore hari.
Indah bukan?

Dan fiksi yang diperankan begitu sempurna.
Seakan menjadi sebuah jawaban bagi mereka yang menanti ungu di langit timur,
sebelum embun membasahi tanah yang sebenarnya merindukan hangat.

Jawaban yang muncul sebelum pertanyaan dilemparkan oleh Sang Kuasa.
Mencari.
Begitu.

Mencari kebenaran yang hakiki tentang pertanyaan dan sebuah jawaban.
Entah itu oranye ataukah ungu.
Yang mana tanya? Sebuah jawaban?
Entahlah!

di antara oranye dan ungu
23/01/2013 23:26  

Dia!

Di antara tirai-tirai kesunyian yang diselimuti keraguan matahari pagi..
Kebekuan rindu malam hari yang perlahan mencair..

Ramai sekali pagi ini. Banyak sekali aku yang berlalulalang di hadapanku. Beberapa di antaranya bertanya tentang sebuah kepastian. Yang lainnya tentang keberanian.
Dalam beberapa hal, kehidupan ini memang tentang sebuah keberanian dalam memastikan.
Sebuah keputusan memang sudah selayaknya dibicarakan.
Tak seharusnya membiarkan gerimis menguasai pagi. Yang menjadikan matahari menjadi dinanti.


Lantai keramik yang dingin 
24/01/2013 07:49 

  

20121218

Untitled

Di sore itu, ketika hujan turun membentuk tirai yang menghubungkan langit dan bumi. Sepasang manusia bersembunyi di antaranya. Berjalan di bawah kuningnya langit ufuk barat. Kadang berlari, bermain gemericik air. Kemudian berjalan lagi, menikmati gradasi warna langit senja.

Semburat kuning tembaga. Perlahan menjadi redup. Bayangan sepasang manusia itu menjadi satu. Di antara gelap yang akan menjadi terang. Tak ada bulan malamnya. Hanya pasir-pasir di langit biru yang berkilauan. Saling berkedip menggoda si wanita. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari si pria.

Dingin. Begitu biasanya ketika si wanita tak bisa digoda. Senandung fajar seketika menggema di antara hembusan angin.

Si wanita perlahan terlelap. Si pria melihat ada bunga bersemi di antara cahaya yang masih kelabu.


Di Ujung Malam, 18 Desember 2012

20121206

Sebelum Senja

Di atas rumput pada suatu siang
Angin enggan bermain karena terik

Pandanganku tak jelas memandang arah
Rasa cemas menanti keadatangan seorang gadis
Padahal nada sungai mengalun lembut

Di atas rumput pada suatu siang
Ilalang hanya sesekali mengangguk di atas bukit

Fokusku pada jalan setapak sebelum belokan
Seorang gadis muncul dari ujungnya
Dengan senyum yang  menghias wajahnya

Suara angin perlahan mengalun
Lembut mencumbu daun-daun pada pohon di pinggir sungai

Waktu berjalan sangat lambat
Gadis itu masih tetap dengan senyumnya
Membentuk lesung di pipinya

Goresan warna biru di langit perlahan memudar

Gadis itu duduk disampingku
Angin mencumbu mesra rambutnya
Senyum lembutnya mengantarkan waktu pada senja

Sebelum Hujan Turun
Mungkin di awal Desember 2012

20121019

The First!

Photo Taken: 22-April-2008 / 12:38 / by Luthfil Hadi
"...the first step to changing our lives further. Sharing time with nature, smell the green leaves, playing with edelweiss flowers..." -Jodi Wijhan B.-



20120919

Tentang Bersamamu!

Suara angin begitu kencang,
kencang menyanyikan semua tentang mu
Aku tahu, 
bersamamu aku pertama kali berkenalan dengan angin di suatu lembah

Langit malam ini tak terlalu banyak bintang,
bintang yang sedikit itu membentuk namamu
Aku tahu,
bersamamu aku pertama kali menikmati bintang di atas bukit

Ah, sebelum kulihat bintang, ada kabut yang membuat tubuhku dingin
Ku rapatkan punggungku bersandar di batang pohon
Aku tahu,
kau yang selalu memelukku ketika aku harus menembus kabut di malam hari


Di Samping Edelweiss - Di Atas Rumput Kering,  22 Sept 2012

20120819

Serba Salah

Bahkan untuk menelpon kamu saja harus berulang kali aku melihat namamu di layar handphone-ku. 

20120818

Hampa!

Dooooooooooorrrrr......
Praaaaaaaaakkk..
Dooooooorrrrrrrrr.....

Di mana ini? Ada apa di luar? Aku terbangun dengan perasaan takut. Terdengar suara keras di langit di luar ruangan. Menggema. Apakah dunia sedang berperang? Perang dunia ke III? Atau ke IV?.

Aku adalah seorang entah manusia atau makhluk apa namanya. Yang pasti aku tinggal di planet bernama Bumi. Aku selalu mengalami tidur panjang. Tak tentu seberapa lama aku tertidur. Di mana tempat aku bangun. Selalu berpindah-pindah. Dan sekarang aku terbangun. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Terakhir kali aku bangun adalah di akhir tahun 2002. Dan kembali tidur 4 bulan setelahnya. 

Suara di luar masih berantakan. Ramai. Kadang ada suara seperti tembakan. Ah mungkin hanya petasan. Kadang suara mesin-mesin yang aku kenal sebagai suara motor terdengar bersahutan. Ada apa ini? Tahun baru? Atau benar-benar tengah terjadi peperangan? Aku masih berusaha untuk menyadarkan secara utuh tubuhku. Jiwaku juga. 

Ruangan ini... Aku pernah mengenal ruangan ini. Seorang teman pernah membawaku kemari. Ketika aku terbangun di awal tahun 2003. Doooooooorrrrr.. Ah sepertinya itu hanya suara petasan. Mungkin orang-orang sedang menyambut tahun baru. Seperti tahun baru 2002. Memang banyak petasan. Aku mencoba untuk berdiri. Mencari sesuatu yang bisa aku kenakan. Ah ada lemari baju di pojok ruangan. Semoga saja ada pakaian yang seukuranku. Dan memang ada beberapa pasang pakaian di sini. 

Aku berjalan menuju satu-satunya pintu di ruangan ini. Berhasil. Aku berhasil keluar dari ruangan ini. Ada sebuah televisi masih dalam keadaan on. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini. Oh, aku berada di sebuah rumah.  Sebaiknya aku keluar rumah. Bergabung dengan orang-orang yang sedang merayakan tahun baru.Beruntung sekali aku bisa bangun di perpindahan tahun. Sebelumnya sih ramai dan asyik.

Baru saja aku melangkahkan kaki keluar rumah. Sebuah sepeda motor yang melaju kencang hampir menyerempetku. Sial, orang-orang semakin gila saja membawa kendaraan. Aku melangkah perlahan-lahan. Masih harus menyesuaikan tubuh. Banyak sekali orang di luar sini. Ramai. Langit malam pun begitu meriah. Kembang api di mana-mana. Senang sekali. 

Terus aku menyusuri jalan ini. Di depan sana semakin ramai kelihatannya. Banyak kendaraan lalu lalang. Benar saja. Orang-orang sedang berpesta. Mereka berpasangan menggunakan motor. Orang-orang yang sedang duduk di pinggir jalan juga ramai. Akan menjadi malam yang sangat meriah sepertinya. 

Aku mencoba menghampiri seseorang yang tengah asyik duduk di trotoar sendirian. Ku ajak untuk sedikit berbincang. Tapi kuurungkan niatku. Orang itu sedang sibuk bersama handphone-nya. Ayo cari lagi yang lain. Aku palingkan mataku ke sebelah kanan. Ada sekumpulan orang juga. Tapi mereka semua sedang sibuk dengan handphone-nya masing-masing. Ada apa ini? Aku perhatikan sekitar. Semuanya sedang menunduk. Semuanya sibuk sendiri-sendiri. Dengan handphone di tangannya. Aaah, orang-orang sudah berubah. Mungkin aku terlalu lama tidur. 

Di langit masih penuh dengan kembang api. Tapi orang-orang di darat tak ada yang berbincang satu sama lain. Bahkan berbicara pun tidak. Mungkin aku harus mencari handphone untuk berbincang dengan mereka.

Aku arahkan badanku menuju satu warung. Penjaga warung pun asyik dengan handphone. Aku membeli  sebungkus rokok. Sebelumnya aku temukan uang dengan jumlah yang tidak terlalu sedikit di saku celana yang aku pakai. Si penjaga warung hanya mengambil uang dariku kemudian memberikan sebungkus rokok. Menatapku saja bahkan tidak dia lakukan. Aku bertanya tentang tahun berapa sekarang. Dia menjawab, "2012". Hanya itu saja. 

Tidak terlalu lama aku tertidur. Tapi perubahan orang-orang cepat sekali. Aku perhatikan orang-orang berkendara dengan acuh. Sangat gila. Sebaiknya aku kembali ke rumah tempat aku terbangun. Barangkali si tuan rumah sudah ada. Aku menyebrang jalan dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba ada suara decit mobil dari jauh. Hampir saja aku tertabrak. "TOLOL!" terdengar teriakan dari dalam mobil. Orang-orang di sekitar menatapku. Terdengar mereka juga meneriakkan kata yang sama. 

Takut. Aku berlari sekencang-kencangnya. Menghindari tatapan-tatapan tajam orang-orang yang meneriakki aku tadi. Aaaahh, sangat berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Akhirnya aku sampai di rumah. Masih tak ada orang di tempat ini. Aku kembali masuk ke ruangan tempat aku terbangun. Menyalakan rokok dengan tangan bergetar. 

Sebatang rokok habis. Aku mulai kembali tenang. Ada apa ini? Seharusnya ketika tahun baru orang-orang kan senang. Bergembira. Bahkan berpesta. Tapi di luar sangat berbeda. Suara kembang api masih meriah. Rokok kedua aku bakar. Sayup-sayup terdengar suara takbir. Iya, takbir! Tapi kecil sekali suaranya. Kalah oleh suara kembang api. Biasanya takbir ketika sedang merayakan lebaran. Begitu sepengetahuanku. 

Aku mencoba lebih memusatkan pendengaranku ke suara itu. Iya, memang benar suara takbir. Dari masjid biasanya.Tapi suara kembang api dan raungan mesin kendaraan lebih terdengar jelas. Ini lebaran atau tahun baru? Masih bingung. Baru kali aku dibuat bingung ketika terbangun. Dari keadaan orang-orang yang sibuk dengan handphonenya sendiri, orang-orang berkendara semakin gila, orang-orang yang meneriakki ku tolol hingga suara takbir yang seperti sedang bertarung dengan suara kembang api. 

Semisalnya ini adalah tahun baru, kenapa orang-orang bertakbir? Bukankah ketika terbangun sebelum sekarang, orang-orang tidak ada yang di masjid ketika tahun baru tiba? Tapi kenapa orang-orang tak bahagia dengan tahun baru? Atau ini memang malam lebaran? Tapi suara kembang api lebih ramai daripada suara takbir. Bahkan orang-orang terlalu banyak di jalanan. Sepertinya masjid juga sepi. Tak terdengar nyaring suara takbir di masjid. Bingung.

Bingung. Orang-orang di tahun ini membuatku bingung. Sedang merayakan apa sebenarnya? Dan ada apa dengan orang-orang? Tak terasa aku sudah menghabiskan rokok ke lima. Aku bakar saja rokok ke enamku. Ketika rokok mulai terbakar,  BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMM... Suara kencang, dindingpun bergetar. Tak ada suara apa-apa lagi di luar. Itu adalah suara terakhir yang aku dengar. 

Aku keluar dari ruangan ini. Dinding-dinding rumah yang sebelumnya kokoh sekarang rata dengan tanah. Asap mengepul di mana-mana. Hanya tersisa ruangan yang aku tempati saja. Gempa bumi! Gempa bumi menjadikan malam ini sunyi seketika. Terlihat ada koran di kakiku. Aku baca pada headline koran itu, judulnya "Selamat Hari Raya Idul Fitri". Ah, tadi adalah perayaan malam lebaran. 

Cepat sekali gempa bumi meratakan tanah dan membuat bumi menjadi sunyi. Tak ada lagi keramaian. Dan tak berapa lama terdengar suara orang bertakbir. Entah dari mana suara itu. 

Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Semakin lama takbir itu semakin kencang suaranya. Aaaah, rupanya hatiku yang sekarang mulai bertakbir. Di tengah kesunyian. 

20120816

Jangan Bangun!

Malam menuju larut,
berjalan di antara air dan tanah
Kita berdua,
walaupun hanya saling terdiam

Rambut panjang mu,
Senyum kecil mengintip dibalik gelap
Tatap sendu karena bulan
Suara air membuat mu berpaling

Angin begitu kencang,
Kau tak kedinginan?
Kuberikan jaket biruku
Mata kita sesaat beradu

Aku elus rambut mu,
Semoga kau tak marah
Tubuhmu perlahan mendekat
Ah, apa semua ini nyata?


Pada Suatu Mimpi, 16 Agustus 2012
*kepada seseorang di seberang 


20120731

Memoria

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan rambut kelimis disisirkan ibu
dan baju seragam yang agak bau keringat hari rabu

aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan lidah cadel dan kepala agak miring ke kanan
—yang kuhafal secara lengkap hampir tanpa kesalahan

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan setiap saat dengan kaki-kaki kecil penuh semangat
mengentak lantai—meski kadang sumbang, kadang salah ketukan

aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kuiringi dengan pukulan-pukulan kecil di bangku
sekolah yang tua dan rapuh, sambil menunggu giliran dipanggil guru
dengan dada berdebar, seperti dada pencuri tertangkap radar

aku ingin mencintaimu seperti lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana
—yang hanya meminta dirinya dinyanyikan
: itu saja!



Curhat Setan, 2009


*dari sebuah buku berudul: ""curhat setan":Karena berdosa membuatmu selalu bertanya"

20120606

Mengenang Malam

Pada malam kita pernah mencerca siang
Pada malam juga kita pernah mengenang senja
Dan pada malam juga kita pernah menanti pagi

Tentunya,
Malamlah yang pernah mempersatukan kita

Bantal Lipat, 6 Juni 2012