Berikut ini salah satu kegelisahan yang membuat otak dan hati saya galau.
Sebuah Pertemuan
Hampir saja saya lupa akan sebuah janji yang saya berikan beberapa hari yang lalu kepada salah satu anak jalanan di Yogyakarta. Saya menjajikannya mengajari membaca dan menulis.
Tanggal 21 Mei 2014 Mbak Farah yang punya angkringan KopdarYK memanggil seorang bocah yang sangat kumal. Kalau kata Mas kopinisme sih itu anak sering mondar-mandir setiap malam area Tugu Jogja. Saya yang saat itu sedang ngopi Bali Natural racikan mase tergoda untuk kepoin itu bocah. Sebut saja namanya Semprul (bukan nama sebenarnya), dia mengaku berumur 15 tahun saat ini. Asli Wonosobo, nggak ada sanak saudara di Yogyakarta. Menyambung hidup dengan mengemis di area wisata Alun-alun Lor Jogja - Jalan Malioboro - Tugu Jogja. Tidur di emperan toko di daerah Tugu Jogja. Penghasilannya sehari-hari sekitar Lima Puluh Ribu Rupiah (berapa penghasilan kalian sehari? Heheh). Malam itu nggak banyak informasi yang saya dapatkan dari bocah itu, seperti halnya ngepoin bocah-bocah jalanan lainnya. Semprul mengaku sudah lupa caranya membaca dan menulis. Dia lulus SD namun nggak bisa melanjutkan sekolah. Seperti biasa ketika saya ngepoin bocah-bocah SD, saya selalu bertanya, "Masih mau lanjut sekolah?". Ada yang menjawab mau, nggak sedikit yang menjawab nggak mau. Semprul salah satu yang menjawab nggak mau, malas! Tapi pas saya bertanya ke pertanyaan kedua, "Kalau belajar masih mau?". Biasanya jawabannya nggak mau juga kalau jawaban pertanyaan yang pertama nggak mau. Tapi si Semprul ini mau, dia ingin belajar membaca dan menulis. Yang dengan berani langsung saya janjikan Hari Jum'at Tanggal 23 Mei 2014 jam 20.00 di tempat yang sama saya akan mengajarinya. Dia mengangguk. Tak lama setelah itu dia pergi tanpa pamit.
Tanggal 23 Mei 2014 saya malah hampir lupa janji saya ke si Semprul ini. Malah saya menyetujui ajakan Gema untuk pergi nonton. Saya baru ingat janji saya selepas Shalat Magrib. Buru-buru saya mengkonsep cara yang akan saya gunakan untuk menarik perhatian si Semprul ini. Saya nggak mau bocah ini kabur karena metode saya yang kaku dan membuat dia bosan atau tertekan seperti yang sudah pernah terjadi. Jam 19.53 saya mengirim pesan via BBM ke Mas kopinisme menanyakan keberadaan si Semprul. Balasannya mengecewakan "Belum ada". Saya berpikiran paling nggak jadi karena si Semprul lupa atau malas. Jam 20.21 ada pesan masuk dari mas kopinisme "Ini anaknya datang". Dengan semangat saya bersiap langsung meluncur, tak ingin membuat si bocah menunggu dan mempunyai pikiran negatif. Perjalanan dari tempatku ke angkringan KopdarYK sekitar 10 menit. Saya sedikit lama mencari kunci motor. Jam 20.31 pesan masuk lagi "Asem anaknya malah ngabur. Barusan aja kabur sama temennya.". Jedeeeeeer, hilang sudah kesempatan saya mengabdikan diri untuk negeri ini. Akhirnya baru jam setengah sepuluh saya pergi ke Angkringan KopdarYK, berharap si bocah datang agak tengah malam seperti pertemuan sebelumnya. Hampir tengah malam si semprul datang. Tapi saya senang. Ditambah si Semprul dalam kondisi bersih, rapi. Jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Saya nggak mau bertindak mengajari. Nggak sopan rasanya. Keinginan saya adalah menjadi temannya. Saya bisa mendapat pelajaran dari si Semprul dan si Semprul mendapatkan keuntungan dari saya yang lebih beruntung menjadi seorang mahasiswa. Saya ingin dia mampu bercerita tentang kehidupannya, tentang keinginannya, tentang hobinya, dan tentang semuanya yang selama ini dia pendam. Nggak membutuhkan waktu lama, dia mulai terbuka tentang kehidupannya. Yang ternyata dia masih mampu membaca dan menulis. Tapi nggak lancar. Malam ini si Semprul lebih banyak bercerita, saya sebagai pendengar. Sesekali saya bercerita tentang diri saya, tapi si Semprul nggak peduli. Hahahah. Kemampuan menulisnya luar biasa jika dibimbing perlahan untuk seseorang yang tiga tahun nggak sekolah. Kemampuan berceritanya yang tidak tertata. Harus dipancing.
Akhirnya malam ini saya mengetahui tentang keadaan keluarganya, teman-temannya, hobinya, penghasilan yang dia dapatkan yang ternyata lebih dari yang dia sebutkan di pertemuan pertama (mau tau rincinya? kontak aja. Heheh), dan sedikit tentang tingkah lakunya. Sesuai dengan yang saya harapkan, saya bisa bertindak sebagai teman dia tanpa harus menjadi pengemis. Alhamdulillah saya bisa membuat dia bertanya "Kapan lagi ketemu? Hari Selasa atau Rabu?" dengan berbagai pancingan yang membuat dia tertarik. Mudah-mudahan saja saya masih bisa bertemu dengan si Semprul selasa malam dengan membawakannya komik karena dia ingin membaca. Dan saya ingin dia berbicara lebih banyak lagi tentang apapun.
Kegelisahan
Tentu banyak bocah-bocah dan orang tua-orang tua seperti si Semprul tadi. Beberapa tipe sudah pernah saya temui. Tapi saya lebih memfokuskan ke bocah-bocah di bawah 17 tahun. Karena mindset mereka lebih mudah dirubah daripada orang-orang tua. Mindset tentang ngapain kerja susah-susah, capek, duitnya sedikit, padahal satu jam saja bisa dapat uang banyak. Mindset tentang mengemis itu sesuatu yang cerdas karena simpel dan menghasilkan banyak uang. Selain pengemis, ada bocah-bocah yang kurang beruntung ingin sekolah tapi nggak ada biaya. Pemulung karena turunan. Pengamen. Mereka hanya orang-orang kurang beruntung yang nggak punya teman dialog yang di luar kehidupannya. Saya ingin merubah hal itu.
Program-program pemerintah sudah banyak variasinya mengenai kemiskinan (miskin mental dan materi). Tapi menurut saya percuma saja jika lingkungan mereka masih sama. Mungkin dari 50 orang, hanya satu yang bisa terbebas dari kemiskinan setiap tahunnya (angka ini tanpa data). Karena orang-orang miskin ini masih bergaul dengan orang miskin. Pengemis-pengemis itu teman dialognya ya sesama pengemis. Obrolannya tentu tentang bagaimana menjadi pengemis yang lebih berpenghasilan. Pengamen-pengamen ngobrol dengan sesama pengamen tentu lagu apa yang bisa menghibur orang-orang. Kuli-kuli bangunan ngobrol ya sama kuli bangunan lagi, obrolannya tentang lelucon-lelucon untuk menghibur diri sendiri yang lelah. Nggak ada perkembangan yang terjadi dalam benak mereka. Atau lain lagi, misalnya pengemis berdialog dengan pengamen, akan terjadi perbedaan dan tentunya perubahan. Antara si pengemis menjadi pengamen, atau pengamen yang jadi pengemis. Atau kuli bangunan dengan pengamen. Tapi ya tetap dalam lingkaran kemiskinan dong.
Bandingkan apabila 10 orang mahasiswa berdialog secara rutin dengan 10 pengemis cilik, secara sabar dan tekun. Jangka satu tahun Insha Allah 10 pengemis itu berkeinginan menjadi mahasiswa. Atau 10 orang pengusaha berdialog secara rutin dengan 10 pengamen. Insha Allah 10 pengamen itu akan menjadi pengusaha. Karena setiap manusia itu membutuhkan inspirator, lebih baik jika mampu berinteraksi langsung. Contohnya saya sendiri, saya ingin menjadi pengusaha, saya masih mengejar para pengusaha sukses untuk saya jadikan mentor. Begitu.
Cerita lain, seperti si Semprul yang kurang bisa baca tulis, mari para aktivis lebih sering terjun ke lapangan. Ilmu itu lebih banyak berada di lapangan kok, bukan di ruang rapat atau di dalam kelas. Sudah ada Indonesia Mengajar, kelompok-kelompok yang mau mengajar di desa tertinggal, kelompok-kelompok yang iuran memberikan beasiswa, dan kelompok lainnya yang bergerak menyelamatkan negeri ini. Saya sendiri selalu mengusahakan untuk selalu bergerak memberikan yang saya mampu berikan kepada yang membutuhkan. Tapi jangan lupa untuk selalu berdialog 4 mata dengan mereka. Karena mereka juga butuh inspirasi dan pendengar. Mereka butuh didengarkan.
Kesimpulan
Banyak yang bisa kita lakukan untuk membuat negeri dan bangsa ini lebih baik jika kita mau menggunakan kaki kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman, jika kita mau menggunakan mata kita untuk lebih melihat orang-orang yang kurang beruntung dari kita, jika kita mau menggunakan mulut kita untuk lebih menyapa mereka bukan hanya untuk basa basi, jika kita mau menggunakan telinga kita untuk lebih mendengar cerita dan harapan mereka, dan jika kita mau menggunakan hati kita untuk lebih menggerakkan tubuh kita berbuat hal yang luar biasa untuk negeri ini.
Walaupun tata bahasa saya tidak sempurna dan loncat kesana kemari, semoga bisa bermanfaat. Semoga kegelisahan berikutnya bisa tertulis lebih rapi lagi.