Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

20130628

Kekuatan Super: Butterfly Effect


organized chaos

Beberapa orang setuju jika kekuatan jumper (teleportation) yang dikisahkan melalui film Jumper adalah kekuatan yang paling menguntungkan dibandingkan dengan kekuatan-kekuatan super lainnya. Namun ada yang lebih menarik perhatian mengenai kekuatan super yang (mungkin hanya) dimiliki oleh manusia-manusia di dalam skenario film. Dapat dibayangkan jika ada manusia yang menguasai teori chaos dan dapat mempraktekannya dengan tepat di dunia nyata. Teori chaos atau dikenal juga dengan nama Butterfly Effect. Dengan berdasarkan pada konsep yang dikisahkan pada film Butterfly Effect, kekuatan itu benar-benar menakjubkan (tentunya diluar maksud sesungguhnya dari film tersebut). Dengan hanya mengendalikan pikiran (yang artinya tidak perlu kembali ke masa lalu), seorang pengguna butterfly effect bisa mengubah nasibnya. Berkali-kali, dengan resiko yang sangat kecil. Kecuali si pengguna menyatakan dirinya meninggal di masa lalu. 

Teori chaos pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli matematika dan metereologi dari United States. Teori ini diungkapkan oleh Edward Norton Lorenz (1978-2008) pada tahun 1961 yang pada awal pemikirannya adalah efek yang dihasilkan satu kepakan seekor burung camar laut dapat merubah cuaca untuk selamanya. Yang pada akhirnya dihaluskan menjadi satu kepakan sayap kupu-kupu di Brazil bisa membuat tornado di Texas di masa depan. Yang akhirnya teori chaos ini lebih dikenal dengan Butterfly Effect. Butterfly effect ini pada awalnya digunakan untuk ilmu matematika dan fisika quantum. Namun saat ini berbagai bidang telah menerapkan teori ini karena teori ini mendukung teori yang berada pada bidang selain matematika dan fisika. Sebut saja imu psikologi, hukum, atau sosial. Karena secara sederhana, teori butterfly effect ini mengungkapkan bahwa hal sekecil apapun yang dilakukan saat ini akan mampu membuat perubahan besar dikemudian hari. Atau suatu kejadian yang besar saat ini dikarenakan suatu hal kecil yang dilakukan pada masa lalu. Yang artinya satu hal kecil tidak dapat diabaikan dalam kehidupan ini.

Bayangkan ketika butterfly effect ini menjadi suatu kekuatan super yang dikawinkan dengan kemampuan kembali ke masa lalu tanpa perlu menggunakan mesin waktu. Artinya hanya menggunakan kekuatan pikiran. Cukup dengan merubah hal kecil saja bisa merubah kehidupan saat ini. Bahkan hanya dengan merubah kalimat yang telah diucapkan. Perubahannya akan begitu besar. Contoh sederhananya mungkin mengenai cinta, sebut saja seorang pria bernama W memiliki kemampuan mengatur butterfly effect. W mencintai seorang perempuan bernama V, namun W tidak memeliki keberanian di masa lalu untuk mengungkapkannya. Saat ini W merasa sangat terpuruk karena tidak memiliki V. Dan dia yakin apabila memiliki V, kehidupannya akan berubah drastis menjadi lebih baik. Dengan kekuatan pikirannya, W kembali ke masa saat W pertama kali mengenal V. Tanpa canggung W berani mengatakan bahwa W mencintai V. W berani mengatakannya karena hal itu hanya terjadi di alam pikirannya. Namun akan sangat berpengaruh di kehidupan nyata. Akhirnya V menerima W dan mereka berdua saling memiliki. Pada saat ini, kehidupan W memang berubah sangat drastis dengan V berada di sampingnya. Maka W telah berhasil menggunakan kekuatan butterfly effect untuk merubah kehidupannya dengan kembali ke masa lalu menggunakan alam pikirannya. 

Namun tentunya efek yang terjadi karena merubah masa lalu tidak terjadi sesederhana itu, pasti ada hal lain yang berubah ke arah negatif. Yang artinya, perubahan kecil di masa lalu memang akan menimbulkan efek yang sangat besar dikemudian hari. Sebut saja misalnya W yang saat ini telah bersama V kehilangan sahabat baiknya ketika W tidak bersama V. Karena di perjalanan kisahnya yang tidak dia gambarkan di pikirannya, V telah membatasi kehidupan liar W. Memang selalu ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang besar. 

Teori ini memang sangatlah hebat. Tak perlu khawatir tentang keterpurukan. Tinggal memejamkan mata untuk masuk ke alam bawah sadar dan membangkitkannya, kemudian menggali ingatan dan merubahnya sesuai keinginan. Dahsyat bukan? Tapi apa yang akan terjadi ketika terlalu sering menggunakan kekuatan tersebut? Tentunya akan membuat gila penggunanya. Karena apa yang didapatkan pasti ada yang harus dibuang atau ditinggalkan atau bahkan terpaksa dihilangkan. Yang akhirnya akan mengakibatkan de javu secara berlebihan. De javu secara berlebihan akan mempengaruhi pikiran ke arah kehidupan nyata atau hanya mimpi saja. Akhirnya bingung tentang apa yang terjadi sebenarnya atau hanya merupakan sebuah imajinasi saja. Efeknya adalah tidak teraturnya pola pikir si pengguna kekuatan tersebut karena bingung dan akhirnya gila.

Kekuatan yang sangat hebat bukan? Manfaatnya sangat luar biasa. Tapi jika berlebihan akan terjadi chaos (kekacauan) bagi si penggunanya. Ah, semua hal pun bila dilakukan berlebihan memang tidak baik. Namun hal kecil apapun memang harusnya tidak boleh dianggap enteng. Butterfly effect, efek abstrak yang mengagumkan. Sebuah seni kekacauan yang begitu indah. 

Pertanyaannya, apakah ada manusia canggih di dunia nyata ini yang mampu mengendalikan pikirannya untuk mencapai kekuatan butterfly effect?  Mungkin ada, yaitu manusia-manusia yang mampu memanfaatkan hal-hal kecil menjadi luar biasa. Iya, manusia-manusia yang mampu melihat dan memanfaatkan kesempatan ketika manusia lainnya tidak. :D


sumber gambar: http://liesma.deviantart.com/art/organized-chaos-160240663 

20120922

Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda

Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.
(Che Guevara)

Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian. Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Katanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua.

Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian. Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup!

Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Kutinggalkan jabatan menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu. Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman.

Rasa nyaman yang kini kusaksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat. Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus.

Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua. Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi. Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan. Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa.

Yang kauhadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi. Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM.

Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan. Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggung jawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu kukerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi. Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.

sumber: Berbagai macam blog dari google. 

catatan:
- Langsung copy paste tanpa ada perubahan
- Entah asli atau tidak!

20120919

Paragraf Terakhir: Dialah Muhammad


Sedikit respon untuk film Innocent of Muslims yang sedang diprotes secara keras oleh umat muslim. Saya mengutip paragraf terakhir dari tulisan Fahd Djibran. 


"Mereka yang membenci Muhammad telah menyalakan sumbu bagi dinamit kemarahan kita. Sebagai reaksi senyawa cinta dalam dada, kita pantas marah dan harus mengecam kemunculan film yang memfitnah junjunan kita secara keji dan biadab itu. Tetapi kita tak boleh meledak—apalagi meledak-ledak. Ingatlah, sebagai pecinta, Muhammad tidak mengajarkan kita untuk menghancurkan siapapun yang membenci. Kita diajarkan untuk membalas mereka dengan kasih sayang, kita diajarkan untuk menaklukkan mereka dengan keluhuran budi-pekerti. Maka bangunlah untuk kembali terjaga bahwa kita harus senantiasa memancarkan cahaya dan sifat-sifat kemuhammadan dari dalam diri kita—agar seluruh dunia mengetahuinya. Marahlah sebagai pecinta, bukan sebagai pembenci yang hanya akan membuat orang-orang yang ingin melihat “kekerdilan berpikir kita yang emosional” justru bergembira dan menari-nari."

Read more: http://www.fahdisme.com/2012/09/dialah-muhammad.html#ixzz26vtZr4OB


20120818

Hampa!

Dooooooooooorrrrr......
Praaaaaaaaakkk..
Dooooooorrrrrrrrr.....

Di mana ini? Ada apa di luar? Aku terbangun dengan perasaan takut. Terdengar suara keras di langit di luar ruangan. Menggema. Apakah dunia sedang berperang? Perang dunia ke III? Atau ke IV?.

Aku adalah seorang entah manusia atau makhluk apa namanya. Yang pasti aku tinggal di planet bernama Bumi. Aku selalu mengalami tidur panjang. Tak tentu seberapa lama aku tertidur. Di mana tempat aku bangun. Selalu berpindah-pindah. Dan sekarang aku terbangun. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Terakhir kali aku bangun adalah di akhir tahun 2002. Dan kembali tidur 4 bulan setelahnya. 

Suara di luar masih berantakan. Ramai. Kadang ada suara seperti tembakan. Ah mungkin hanya petasan. Kadang suara mesin-mesin yang aku kenal sebagai suara motor terdengar bersahutan. Ada apa ini? Tahun baru? Atau benar-benar tengah terjadi peperangan? Aku masih berusaha untuk menyadarkan secara utuh tubuhku. Jiwaku juga. 

Ruangan ini... Aku pernah mengenal ruangan ini. Seorang teman pernah membawaku kemari. Ketika aku terbangun di awal tahun 2003. Doooooooorrrrr.. Ah sepertinya itu hanya suara petasan. Mungkin orang-orang sedang menyambut tahun baru. Seperti tahun baru 2002. Memang banyak petasan. Aku mencoba untuk berdiri. Mencari sesuatu yang bisa aku kenakan. Ah ada lemari baju di pojok ruangan. Semoga saja ada pakaian yang seukuranku. Dan memang ada beberapa pasang pakaian di sini. 

Aku berjalan menuju satu-satunya pintu di ruangan ini. Berhasil. Aku berhasil keluar dari ruangan ini. Ada sebuah televisi masih dalam keadaan on. Tapi tidak ada siapa-siapa di sini. Oh, aku berada di sebuah rumah.  Sebaiknya aku keluar rumah. Bergabung dengan orang-orang yang sedang merayakan tahun baru.Beruntung sekali aku bisa bangun di perpindahan tahun. Sebelumnya sih ramai dan asyik.

Baru saja aku melangkahkan kaki keluar rumah. Sebuah sepeda motor yang melaju kencang hampir menyerempetku. Sial, orang-orang semakin gila saja membawa kendaraan. Aku melangkah perlahan-lahan. Masih harus menyesuaikan tubuh. Banyak sekali orang di luar sini. Ramai. Langit malam pun begitu meriah. Kembang api di mana-mana. Senang sekali. 

Terus aku menyusuri jalan ini. Di depan sana semakin ramai kelihatannya. Banyak kendaraan lalu lalang. Benar saja. Orang-orang sedang berpesta. Mereka berpasangan menggunakan motor. Orang-orang yang sedang duduk di pinggir jalan juga ramai. Akan menjadi malam yang sangat meriah sepertinya. 

Aku mencoba menghampiri seseorang yang tengah asyik duduk di trotoar sendirian. Ku ajak untuk sedikit berbincang. Tapi kuurungkan niatku. Orang itu sedang sibuk bersama handphone-nya. Ayo cari lagi yang lain. Aku palingkan mataku ke sebelah kanan. Ada sekumpulan orang juga. Tapi mereka semua sedang sibuk dengan handphone-nya masing-masing. Ada apa ini? Aku perhatikan sekitar. Semuanya sedang menunduk. Semuanya sibuk sendiri-sendiri. Dengan handphone di tangannya. Aaah, orang-orang sudah berubah. Mungkin aku terlalu lama tidur. 

Di langit masih penuh dengan kembang api. Tapi orang-orang di darat tak ada yang berbincang satu sama lain. Bahkan berbicara pun tidak. Mungkin aku harus mencari handphone untuk berbincang dengan mereka.

Aku arahkan badanku menuju satu warung. Penjaga warung pun asyik dengan handphone. Aku membeli  sebungkus rokok. Sebelumnya aku temukan uang dengan jumlah yang tidak terlalu sedikit di saku celana yang aku pakai. Si penjaga warung hanya mengambil uang dariku kemudian memberikan sebungkus rokok. Menatapku saja bahkan tidak dia lakukan. Aku bertanya tentang tahun berapa sekarang. Dia menjawab, "2012". Hanya itu saja. 

Tidak terlalu lama aku tertidur. Tapi perubahan orang-orang cepat sekali. Aku perhatikan orang-orang berkendara dengan acuh. Sangat gila. Sebaiknya aku kembali ke rumah tempat aku terbangun. Barangkali si tuan rumah sudah ada. Aku menyebrang jalan dengan sangat hati-hati. Tiba-tiba ada suara decit mobil dari jauh. Hampir saja aku tertabrak. "TOLOL!" terdengar teriakan dari dalam mobil. Orang-orang di sekitar menatapku. Terdengar mereka juga meneriakkan kata yang sama. 

Takut. Aku berlari sekencang-kencangnya. Menghindari tatapan-tatapan tajam orang-orang yang meneriakki aku tadi. Aaaahh, sangat berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Akhirnya aku sampai di rumah. Masih tak ada orang di tempat ini. Aku kembali masuk ke ruangan tempat aku terbangun. Menyalakan rokok dengan tangan bergetar. 

Sebatang rokok habis. Aku mulai kembali tenang. Ada apa ini? Seharusnya ketika tahun baru orang-orang kan senang. Bergembira. Bahkan berpesta. Tapi di luar sangat berbeda. Suara kembang api masih meriah. Rokok kedua aku bakar. Sayup-sayup terdengar suara takbir. Iya, takbir! Tapi kecil sekali suaranya. Kalah oleh suara kembang api. Biasanya takbir ketika sedang merayakan lebaran. Begitu sepengetahuanku. 

Aku mencoba lebih memusatkan pendengaranku ke suara itu. Iya, memang benar suara takbir. Dari masjid biasanya.Tapi suara kembang api dan raungan mesin kendaraan lebih terdengar jelas. Ini lebaran atau tahun baru? Masih bingung. Baru kali aku dibuat bingung ketika terbangun. Dari keadaan orang-orang yang sibuk dengan handphonenya sendiri, orang-orang berkendara semakin gila, orang-orang yang meneriakki ku tolol hingga suara takbir yang seperti sedang bertarung dengan suara kembang api. 

Semisalnya ini adalah tahun baru, kenapa orang-orang bertakbir? Bukankah ketika terbangun sebelum sekarang, orang-orang tidak ada yang di masjid ketika tahun baru tiba? Tapi kenapa orang-orang tak bahagia dengan tahun baru? Atau ini memang malam lebaran? Tapi suara kembang api lebih ramai daripada suara takbir. Bahkan orang-orang terlalu banyak di jalanan. Sepertinya masjid juga sepi. Tak terdengar nyaring suara takbir di masjid. Bingung.

Bingung. Orang-orang di tahun ini membuatku bingung. Sedang merayakan apa sebenarnya? Dan ada apa dengan orang-orang? Tak terasa aku sudah menghabiskan rokok ke lima. Aku bakar saja rokok ke enamku. Ketika rokok mulai terbakar,  BAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMMMMMMMM... Suara kencang, dindingpun bergetar. Tak ada suara apa-apa lagi di luar. Itu adalah suara terakhir yang aku dengar. 

Aku keluar dari ruangan ini. Dinding-dinding rumah yang sebelumnya kokoh sekarang rata dengan tanah. Asap mengepul di mana-mana. Hanya tersisa ruangan yang aku tempati saja. Gempa bumi! Gempa bumi menjadikan malam ini sunyi seketika. Terlihat ada koran di kakiku. Aku baca pada headline koran itu, judulnya "Selamat Hari Raya Idul Fitri". Ah, tadi adalah perayaan malam lebaran. 

Cepat sekali gempa bumi meratakan tanah dan membuat bumi menjadi sunyi. Tak ada lagi keramaian. Dan tak berapa lama terdengar suara orang bertakbir. Entah dari mana suara itu. 

Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar.....
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd. 

Semakin lama takbir itu semakin kencang suaranya. Aaaah, rupanya hatiku yang sekarang mulai bertakbir. Di tengah kesunyian. 

20120812

Menuju Satu Syawal

Kucari Kamu....

Lebaran ya, sebentar lagi ramadhan usai. Tak kurang dari 6 hari lagi puasa wajib yang harus dilakukan bagi golongan Muhammadiyah (mungkin) dan 7 hari lagi bagi golongan pemerintah. Berarti sudah memasuki 10 malam terakhir yang artinya adalah malam Lailatul Qadar. Malam Lailatul Qadar, menurut pendengaranku, lebih beragam lagi suara dari masjid-masjid yang jamaahnya sedang tadarusan. Banyak orang mencari malam Lailatul Qadar dengan ber-I'tikaf di masjid. Tidak sedikit orang-orang yang "merapelkan" membaca Al-Quran hanya pada 10 malam terakhir di Ramadhan saja.

Dalam setiap malam...
Dalam bayang masa suram...

Ah, tapi aku sendiri masih bingung. Haruskah aku mencari? Karena kenyataannya hatiku masih belum terlalu tulus untuk mencari malam Lailatul Qadar itu. Aku masih belum sanggup untuk membaca Al-Quran berjuz-juz hanya dalam satu malam. Bukankah lebih baik rutin walaupun hanya sedikit? Tapi lebih bagus lagi rutin dan banyak, bukan?. Malam Lailatul Qadar, aku malah menjadi lebih sering berada di jalanan pada 10 malam terakhir ini. Ah, semoga saja aku bisa menemukan Malam Lailatul Qadar, walaupun di jalan raya. Semoga saja. Heheh. 

Kucari Kamu...

Kurang dari 10 hari lagi. Entah aku harus sedih karena bulan yang penuh kemenangan ini akan lewat. Atau aku harus senang karena aku sudah tak harus menahan haus dan lapar di siang hari karena berpuasa. Ah, yang pasti ramadhan pasti akan segera berlalu. Dan tahun depan semoga masih bisa bertemu lagi. Dengan iman yang lebih mantap.

Dalam setiap langkah...
Dalam ragu yang membisu...

Lebaran, lebaran sebentar lagi. Aku ragu dengan kesiapan ku menghadapi Idul Fitri. Apakah aku bisa menjadi suci kembali? Iya, seperti yang dulu selalu diberi tahu oleh Ustadz di pesantren kilat. Dengan keadaan aku menghadapi shaum saja masih banyak mengeluh. Masih ngomel. Masih balas dendam ketika adzan magrib terdengar. Pantaskah jika aku kembali suci di Idul Fitri? 

Aku cari Kamu...
Dalam setiap ruang...

Tapi setidaknya aku siap untuk mengirimi ucapan-ucapan berisi permohonan maaf dan ucapan selamat Idul Fitri kepada kawan-kawan melalui SMS ataupun MMS. Iya, aku siap hal itu. Aku selalu siap merangkai kata-kata yang indah. Baik itu berupa pantun, puisi atau hanya ucapan biasa. Bahkan, melalui facebook, aku tak pernah lupa untuk men-tag teman-teman di gambar-gambar yang lucu dan unik yang masih bertema lebaran. Minal Aidzin yaaaa.. Begitu lah kurang lebih isinya. 

Seperti aku yang menunggu...
...kabar dari angin malam...

Iya, aku akan terus mencari. Tentang apa yang harus aku pelajari untuk melaksanakan apa yang harus dilakukan, apa yang tidak harus dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan. 

Aku cari Kamu...
Di setiap malam yang panjang...

Ramadhan, pertemukan lah lagi aku denganmu tahun depan. Aku akan lebih siap lagi dalam menjalani hari-hari di bulanmu. Lebih tulus lagi. Agar aku bisa mencapai Lailatul Qadar apabila tahun ini aku tak mendapatkannya. Datanglah lagi, Ramadhan. Agar aku belajar untuk lebih pantas lagi mendapatkan kesucian di hari raya. 

Aku cari Kamu...
Kutemui Kau tiada...
Aku cari Kamu...
Disetiap bayang Kau tersenyum...
Aku cari Kamu...
Kutemui kau berubah...


Gang Asem, 12 Agustus 2012

Tentang WC

WC adalah hal simpel yang mampu merubah hidup seseorang. Dan Toilet adalah tempat di mana dimulainya perubahan tersebut. Ketika sedang berada di Toilet, katakanlah ketika sedang melaksanakan boker, seorang manusia mampu menjelajahi pikirannya sendiri lebih luas daripada ketika berada di tempat lain. Sebagai contoh, saya sendiri mampu mengolah pikiran-pikiran sederhana menjadi hal-hal yang lebih kompleks. Hal yang biasanya terpikirkan sederhana di tempat selain Toilet, (kamar tidur misalnya) bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang saling berhubungan ketika sedang melaksanakan boker. 

Misalnya, ketika sedang berada di kamar tidur, saya memikirkan atau merindukan suatu makanan yang bernama Dodongkal. Dodongkal adalah makanan khas sunda yang (katanya) saat ini sudah menjadi makanan yang langka. Nah, di kamar tidur saya cuman bisa membayangkan Dodongkal saja. Iya, hanya Dodongkal, tanpa ada pemikiran lainnya. Saya cuman membayangkan betapa enaknya Dodongkal tersebut. Tapi, ketika berada di dalam Toilet, pikiran saya yang awalnya hanya sebuah Dodongkal bisa menjadi pemikiran yang mengarah ke bisnis. Ketika sedang nagog (baca: jongkok), kepikiran kenapa gak nyoba buat membuat bisnis Dodongkal saja? Dodongkal kan udah langka nih, tapi yang nyari masih banyak. Dan orang-orang nyari juga kebanyakan cuman sekadar nyari doang. Gak ada kepikiran buat ngeproduksi Dodongkal itu sendiri. Nah, masih di Toilet, langsung kepikiran juga di mana emak-emak yang biasa bikin Dodongkal itu berproduksi. Terus cara bikinnya gimana. Kalo udah bisa bikinnya mau di lempar kemana tuh Dodongkal buat di jual. Ajaib kan toilet?

Atau contoh lain, misalnya ketika sedang nonton acara musik di TV. Yang terjadi adalah hanya menonton. Menikmati. Tapi pas masuk ke Toilet? Kita bisa memikirkan suatu konsep sebuah lagu. Bikin puisi lah sederhananya. Konon katanya banyak orang mampu membuat puiklir si lebih indah ketika sedang nagog di WC. Atau tingkat romantis seorang lelaki lebih meningkat ketika sedang nagog itu. Sambil megang handphone, dia bisa lebih mudah merayu perempuan yang menjadi gebetannya. Dan konon katanya juga, rayuannya lebih sukses dari sekedar di ruangan lain. Heheh. Ajaib?

Atau banyak orang yang memikirkan cita-citanya di Toilet. Ketika sedang duduk atau nagog di WC. Kalau begitu berarti kita harus sangat berterima kasih kepada sang penemu WC dan Toilet. Karena WC dan Toilet sangat menginspirasi banyak orang. Katanya sih penemunya Sir John Harrington. Dari Inggris. 

Bayangkan, mungkin saja tanpa adanya Toilet, kita tak kan bisa mendengarkan karya karya agung dari Bob Dylan. Karena mungkin saja karya Bob Dylan sebagian dipikirkan ketika sedang di WC. Atau orang-orang gak bakal kenal yang namanya Iphone atau Ipad kalau gak ada WC. Gak menutup kemungkinan sang penemu Iphone dan Ipad menciptakan kedua benda tersebut karena ingin lebih sederhana lagi dalam membaca koran ketika sedang melaksanakan boker. Atau karya Kahlil Gibran tak kan seromantis itu membicarakan cinta jika tak ada WC. Orang-orang haruslah berterima kasih pada Sir John Harrington.

Tapi, bisa juga WC menjadi awal terjadinya bencana. Mungkin Hitler yang agung terpikir untuk membunuh para Yahudi berawal dari WC. Ketika Hitler kecil sedang bermain dan jajan di sebuah warung milik Yahudi, misalnya, terus dia sakit perut dan langsung ke WC. Bisa saja dia ingin membalas dendam atas sakit perutnya itu kepada si Yahudi. Mungkin saja kan. Atau Hiroshima dan Nagasaki tak kan menjadi korban bom nuklir kalau saja Oppenheimer gak menemukan bom atom. Bisa juga kan Oppenheimer kepikiran rumus-rumus yang canggih ketika sedang nagog di WC? Ah, berarti gak harus juga berterima kasih pada Sir John Harrington. 

Tapi terlepas dari itu, WC dan Toilet memang sanggup menciptakan pikiran-pikiran yang kritis terhadap para penggunanya. Edan lah WC sama Toilet itu. Maka, nikmatilah saat-saat kita sedang berada di WC untuk melaksanakan boker. :)

20120625

duapuluhsatuhari

Siapa sih yang gak kenal Gunung Rinjani? Atau setidaknya belum pernah mendengar kata "Rinjani"? Tentunya masyarakat Indonesia mengenal betul kata Rinjani. Satu kata yang cukup menggambarkan keindahan salah satu Gunung di Indonesia. Iya, Rinjani. Rinjani yang selalu menggoda lewat Danau Sagara Anaknya. Yang selalu menggoda dengan keindahan dari puncaknya. Rinjani yang selalu memberikan harapan kepada setiap umat manusia untuk sekedar menghirup aroma segar alam dari puncaknya.

Satu bulan yang lalu seorang kawan mengajak untuk pergi ke daerah Indonesia bagian Tengah. Atau orang-orang yang tinggal di Jawa bilangnya main ke daerah Timur. Padahal masih belum Timur (seharusnya). Pilihan tempat bermainnya tentu saja Gunung Rinjani. Rencananya pendakian akan dilakukan seminggu setelah lebaran tahun 1433 Hijriah. Sekitar awal bulan September. Namun nahas, saya tidak bisa ikut dalam pendakian tersebut karena ingin memanfaatkan libur lebaran di Subang. 

Masih dari kawan yang sama, dia kembali menawarkan ajakan dengan waktu pendakian yang berbeda. Yaitu awal Juli. Dan tentu saya bisa ikut bergabung dalam pendakiannya. Beberapa hari membicarakan yang memang harus dibicarakan, hingga akhirnya diputuskan tanggal 28 Juni pukul 07.30 WIB menggunakan Kereta Sri Tanjung kami berangkat dengan (mungkin) 4 orang. Namun sayang beribu sayang, ada jadwal ujian di jam yang sama. Dan diputuskan saya berangkat seorang diri pukul 13.00 WIB menggunakan Bis Wisata Komodo. 

Oh iya, rencana saya menulis ini adalah sebagai perbandingan sejauh mana rencananya berjalan dengan lancar. Ketika perjalanan selesai, saya akan menuliskan hasil dari perjalanannya juga.

Hari Pertama, 28 Juni 2012
Kembali ke Bis Wisata Komodo. Bis dengan ongkos Rp 225.000 dari Terminal Jombor, Yogyakarta sampai Terminal Ubung, Denpasar akan menempuh waktu hampir 23 Jam. Angka 23 jam tentu bukan angka mutlak, karena 23 jam hanya merupakan terkaan saja. Berangkat dari Terminal Jombor, Yogyakarta tanggal 28 Juni 2012 pukul 13.00 WIB, dan diperkirakan akan sampai di Terminal Ubung, Denpasar tanggal 29 Juni 2012 pukul 11.00 WITA. Tentu akan menjadi perjalanan yang sangat panjang dan membosankan. Oleh karena itu, saya akan menyiapkan beberapa buku bacaan untuk membuang bosan.

Hari Kedua, 29 Juni 2012
Iya, kemudian setelah sampai di Terminal Ubung, Denpasar akan dilanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Padang Bai menggunakan bis (yang entah apa namanya nanti mau dicari di sana) yang katanya harus bayar sebesar Rp 35.000. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 jam. Lumayan. Selanjutnya tentu perjalanan di atas air. Dari Pelabuhan Padang Bai, Pulau Bali, akan menyebrang ke Pelabuhan Lembar, Pulau Lombok dengan menggunakan Kapal Laut (entah namanya apa). Perjalanan sekitar 6 jam katanya, terus ongkosnya Rp 36.000. Kemudian, setelah 6 jam perjalanan dilanjutkan di darat untuk mencapai Kota Mataram selama 2 jam. Dengan ongkos Rp 25.000. Diperkirakan ketika sampai Terminal Mandalika, Mataram telah menyentuh pukul 21.00 WITA.

Dari Terminal Mandalika, Mataram, akan sedikit bingung karena saya belum dapat rencana kemana akan bernaung hingga fajar tiba untuk menuju Aikmal kota sebelum Desa Sembalun. Terlepas dari itu, ketika fajar menjelang saya akan melanjutkan perjalanan menuju Aikmal selama 2 jam yang kemudian dilanjutkan menuju Sembalun selama 3 Jam. Total ongkos dari Mataram ke Sembalun adalah Rp 20.000.

Perkiraan sampai di Sembalun telah menginjak senja. Mungkin dekat-dekat ke Magrib tanggal 30 Juni 2012. Total rencana biaya perjalanan dari Terminal Jombor, Yogyakarta hingga Desa Sembalun adalah Rp 341.000. Berikutnya adalah tentang rencana pendakian di Gunung Rinjani via Desa Sembalun.

Hari Ketiga, 30 Juni 2012
Setelah sampai di Desa Sembalun pada sore hari di tanggal 30 Juni 2012,  saya bersama kawan-kawan yang lain akan mencoba langsung melakukan perjalanan dari Basecamp Desa Sembalun menuju Pos 1 yang kurang lebih menghabiskan waktu selama 2,5 jam. Setelah sampai di Pos 1, hari pertama dinyatakan selesai. 

Hari Keempat, 1 Juli 2012
Hari keempat akan dimulai di Pos 1 pada jam yang pagi (entah jam berapa, menyesuaikan saja). Target hari kedua adalah menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 adalah selama 2,5 jam. Kemudian dilanjutkan menuju Pos 3 selama 2 jam. Dari Pos 3 menuju Plawangan Sembalun dibutuhkan waktu berjalan selama 4 jam. Total perjalanan dari Pos 1 menuju Plawangan Sembalun adalah 8,5 jam. Setelah sampai di Plawangan Sembalun, kegiatan selanjutnya adalah istirahat menunggu hari ketiga.

Hari Kelima, 2 Juli 2012
Hari kelima akan dimulai pada pukul 01.30 WITA. Dengan target mencapai puncak pas fajar muncul. Di hari ketiga pula perjalanan akan dilanjutkan ke Danau Sagara Anak setelah turun dari Puncak. Perjalanan dari Plawangan Sembalun ke Puncak sekitar 4 jam. Dari Puncak ke Danau Sagara Anak akan menghabiskan waktu sekitar 4 atau 5 jam. Hari ketiga berakhir di Danau Sagara Anak. 

Hari Keenam, 3 Juli 2012
Menghabiskan waktu di Danau Sagara Anak

Hari Ketujuh, 4 Juli 2012
Hari ketujuh ini diusahakan adalah hari terakhir tidur di Gunung Rinjani. Target hari keempat adalah sampai di Desa Senaru. Perjalanan akan membutuhkan waktu selama 6 atau 7 jam. Hari keenam usai, istirahat di Desa Senaru.


Hari Kedelapan, 5 Juli 2012

Hari kedelepan adalah saatnya berpisah dengan kawan-kawan yang lain untuk melanjutkan kegiatannya masing-masing. Kawan-kawan yang lain ada yang langsung kembali menuju Jojga dan ada pula yang tetap tinggal di Pulau Lombok untuk melaksanakan kegiatan KKN. Saya sendiri akan mencoba untuk berkeliling sejenak ke Gili Trawangan dan Pantai Senggigi. Mungkin akan menghabiskan hari ketujuh di Pantai Senggigi.

Berikut ini transportasinya:
* Senaru-Pemenang = -
*Pemenang-Bangsal = Rp 2.000
*Bangsal-Gili Trawangan = Rp 10.000
*Gili Trawangan-Bangsal = Rp 10.000
*Bangsal-Pemenang = Rp 2.000
*Pemenang-Pantai Senggigi = Rp 15.000

Hari Kesembilan, 6 Juli 2012 

Berharap terbangun di pasir Pantai Senggigi. Dan menghabiskan waktu di sekitar pantai. Untuk hari kesembilan. Hari kesembilan harus berpindah tempat ke Mataram untuk mencari tempat bernaung. Rencana akan singgah di Wapala FH Unram. Dari Pantai Senggigi menuju Mataram akan menghabiskan ongkos sebanyak 20.000 rupiah.


Hari Kesepuluh, 7 Juli 2012 - Hari Kesebelas, 8 Juli 2012
Menghabiskan waktu di Kota Mataram
Sebelum masuk ke hari keduabelas, mari kita menghitung ongkos transportasi yang telah dikeluarkan selama sebelas hari. Total biaya transportasi adalah Rp 400.000. 

Hari Kedua belas, 9 Juli 2012 - Hari Ketiga belas, 10 Juli 2012
Bergabung dengan rombongan Satu Bumi Teknik UGM di UNRAM.

Hari Keempat belas, 11 Juli 2012

Hari ini rencananya akan menyebrang ke Pulau Sumbawa bersama kawan-kawan dari Satu Bumi Teknik UGM. Tujuannya pendakian Gunung Tambora. Dari Terminal Mandalika, Mataram, dengan menggunakan bis langsung ke Dompu selama kira-kira 11 atau 12 jam. Dengan ongkos Rp 140.000.



Dari Dompu, perjalanan dilanjutkan ke Desa Doropeti selama 6 jam perjalanan darat. Ongkosnya Rp 20.000. Desa Doropeti merupakan desa terkahir sebelum pendakian Gunung Tambora.

Hari Kelimabelas, 12 Juli 2012
Rencana pendakian dimulai pada pagi hari. Tujuannya adalah Camp II. Katanya pendakian membutuhkan waktu selama 8 jam. 

Hari Keenambelas, 13 Juli 2012
Rencana pendakian dari Camp II dengan target Camp IV. Lama pendakian sekitar 8 jam. 

Hari Ketujuhbelas, 14 Juli 2012
Hari ini menuju Puncak Tambora dan kemudian melanjutkan turun ke Camp V jalur Pancasila. Kemudian istirahat.

Hari Kedelapanbelas, 15 Juli 2012
Dari Camp V melanjutkan turun dengan target Camp II. Perjalanan sekitar 8 jam.


Hari Kesembilanbelas, 16 Juli 2012
Dari Camp II langsung ke Desa Pancasila dengan perkiraan waktu selama 7 jam. Berisitrahat di Desa Pancasila untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Mataram hari selanjutnya.

Hari Keduapuluh, 17 Juli 2012

Perjalanan usai. Kawan-kawan dari Satu Bumi Teknik UGM akan melanjutkan kegiatannya. Dan saya akan berusaha langsung menuju Mataram hari ini juga. Sebelum ke Mataram, dari Desa Pancasila harus menuju Dompu terlebih dahulu, akan menghabiskan uang sebanyak Rp 35.000. Dari Dompu, mencari Bis yang langsung ke Mataram. Masih dengan ongkos yang sama seperti dari Mataram ke Dompu, yaitu Rp 140.000.

Sebelum berlanjut, mari menghitung biaya kembali ke Mataram. Total dari Jogja-Mataram-Dompu-Tambora-Dompu-Mataram adalah sebesar Rp 735.000.

Hari keduapuluhsatu, 18 Juli 2012

Telah kembali di Jogja Bermartabat. Dan petualangan akan beristirahat di Subang pada nantinya. 


Total ongkos perjalanan adalah sebesar Rp 1.092.000.  Waw, angka yang sangat besar. 
Semoga perjalanan berjalan sesuai rencana dan lancar. Amin.

20120419

Mungkin Judulnya "Pilihan!"

Pilihan, iya pilihan. Aku diingatkan lagi tentang suatu hal yang bernama pilihan. Sederhana saja, aku diingatkan akan banyak hal penting itu dari obrolan kecil di warung burjo di pinggir selokan mataram. Sederhana, mungkin sangat sederhana. Tapi hal sederhana itu yang mengingatkan tentang kehidupan di Bumi. Iya, tentang pilihan.

Seorang kawan yang selama kurang lebih tiga bulan menghilang dari rutinitas kota Jogja. Menghilang dari peredaran, rupanya tak sia-sia dia pergi mencari kehidupan baru. Nyatanya mampu memberikan pencerahan untuk orang di sekitarnya. Tak perlu juga lah di sebut namanya. Nanti geer.

Yang aku ingat pertama adalah tentang jodoh. Ah, jodoh yang menurut kebanyakan orang sudah ditentukan oleh Tuhannya masing-masing umat manusia menurutnya adalah palsu. Nyatanya jodoh itu adalah pilihan kita sendiri, kita yang mencarinya dan Tuhan hanyalah merestui. Jika memang tidak direstui, ya cari lagi. Gitu katanya. Aku hanya bisa mengangguk saja. Nah, untuk orang-orang yang malas mencari atau tidak mencari sama sekali, barulah Tuhannya yang menentukan jodohnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

Selanjutnya, obrolan masih tentang pilihan. Aku kembali teringat tentang pilihan awal aku ingin kuliah di Jogja. Jogja ada di tengah-tengah Pulau Jawa. Aku lihat dari peta, ada banyak gunung yang ada di sekitar kota ini. Sangatlah gampang untuk mendaki gunung. Jadilah dengan mantap aku jawab pertanyaan Ibuku yang bertanya "Mau kuliah di mana?" dengan jawaban "Jogja!". Tanpa aku sebutkan di mana aku akan kuliah. Yang penting Jogja dulu saja. Syukur saja aku bisa lolos masuk Teknik UGM. Ah, mungkin ini yang keliru, pikirku. Iya, keliru aku masuk Teknik UGM. Terlalu mumet, apalagi dengan embel-embel Teknik Nuklir dan Teknik Fisika di depan Teknik UGMnya itu. 

Masih tentang pilihan, kuliah di Teknik ini juga merupakan pilihanku. Dan Tuhan lah yang merestui. Tapi tentang gunung yang aku rencakan itu memang tepat. Di utara Jogja ada Merapi yang telah memberi banyak pengalaman untuk ku. Aku berkenalan dengan Merapi dengan cara yang kurang enak. Dengan letusan. Iya, baru dua bulan aku di Jogja, aku harus berkenalan dengan letusannya. Tak apalah, perkenalan yang kurang baik biasanya akan diingat terus. Mungkin.

Merapi, sekarang tentang Merapi. Gunung yang ketika pertama aku menejejakkan kaki di atas pasir putihnya aku hanya bisa mengagumi karya Tuhanku, Alloh SWT. Sulit untuk berkata-kata saat itu. Iya, pendakian pertama di gunung yang dengan berani aku katakan gunung paling gagah. Tapi sangat anggun dan cantik. Semenjak itulah, hampir tiap bulan aku sempatkan untuk menikmatinya. Sekedar untuk menyapa kabutnya. Aaah, Merapi. Tak perlu aku ceritakan banyak tentangmu. Biarkan mereka yang ingin tahu tentangmu merasakan kegagahan, keanggunan, dan kecantikanmu dengan mata mereka sendiri.

Masih tentang Merapi, beberapa kali aku menikmatinya, selalu dia memberikan hal yang tak terduga. Hal yang luar biasa. Belum lama ini aku dapat kabar bahagia yang berasal dari Merapi juga. Tak usah juga lah aku ceritakan. Tapi dari kabar bahagia ini aku harus memutuskan suatu pilihan. Pilihan yang akan harus di pertanggung-jawabkan.

Kembali lagi tentang pilihan, kabar baik dari Merapi. Aku harus berani memilih untuk kuliah sedikit lebih lama dari kawan-kawan yang lain. Untuk lebih mencintai kabar baik ini. Iya, kabar baik yang semoga akan selalu baik pada setiap kesempatannya. Ah setidaknya aku mencintai hal yang membuat aku lama kuliah. Dan lamanya aku kuliah juga merupakan pilihanku. 

Pilihan kawaaaaan. Pilihaaann. Maka dari itu pilihlah dengan bijak setiap pilihan yang ada. :)

20110921

Mendaki Gunung Mengganggu Kuliah?

Mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari arti kata kebebasan. Kebebasan memilih, kebebasan berpendapat, kebebasan menghargai, dan kebebasan kebebasan lainnya. Ada yang memilih bebas dan benar-benar bebas, tidak sedikit pula mereka yang memilih menyalurkan kebebasannya di organisasi kemahasiswaan. Salah satunya menjadi Mahasiswa Pencinta Alam atau biasa di sebut Mapala. Ada Mapala yang berbentuk organisasi atau himpunan, ada pula yang hanya sebagai freelancer  atau hanya sebagai seorang individu yang mencintai kegiatan di alam bebas.

Salah satu kegiatan mereka yang mencintai kegiatan outdoor adalah mendaki gunung. Tidak sedikit orang yang bilang bahwa kegiatan mapala atau outdoor dapat mengganggu aktivitas kuliah. Katanya bisa membuat lama kuliah dan tidak ada hubungannya dengan kegiatan di perkuliahan. Hanya buang-buang waktu dan tenaga, begitu kata mereka yang tidak memilih outdoor activity sebagai sarana membebaskan dirinya. Benarkah hanya membuang-buang waktu dan tenaga? Sebenarnya ada banyak hubungan antara kegiatan alam bebas dan kuliah. Untuk tulisan ini penulis membatasi hanya antara mendaki gunung dengan kuliah saja. Karena terlalu luasnya esensi antara dua kegiatan mahasiswa itu.

Mendaki gunung atau santainya orang menyebutnya naik gunung.  Apa sih hubungannya dengan kuliah? Ketika seseorang memilih untuk mendaki gunung, berarti orang itu telah mengambil suatu resiko yang tidak mudah. Karena dapat membahayakan keselamatan dirinya sendiri dan juga membuat khawatir orang-orang terdekatnya. Mereka akan menunggu kabar di rumah hingga si pendaki dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat. Sama halnya dengan ketika seseorang yang lulus SMA kemudian memilih meneruskan kuliah, dia telah membuat keputusan untuk membahayakan dirinya karena dia memilih keluar dari rumah untuk memberikan masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan keluarganya. Orang-orang di rumah pun akan selalu setia menunggu kabar baik dari kampus mengenai dirinya.

Kemudian ketika seorang pendaki menginjakkan kakinya di pintu masuk menuju hutan, dia harus bisa dengan cepat beradaptasi dengan hutan tersebut. Tersesat di perjalanan adalah salah satu masalah yang harus dihadapi ketika di alam bebas. Oleh karena itu, para pendaki pasti telah mempelajari karakter gunung yang akan didakinya sebelum dia melakukan perjalanan. Membuat rencana perjalanan, akan berapa lama dia melakukan perjalanan, apa tujuan dari pendakian, jalur mana yang akan dilalui atau dengan siapa dia akan mendaki. Jika tidak melakukan itu semua, tersesat adalah hasil dari perjalanannya. Sama halnya ketika lulusan SMA  memulai perkuliahan, harus cepat pula beradaptasi. Baik itu dengan teman-teman barunya, dengan dosen ataupun dirinya sendiri. Membuat rencana butuh berapa lama dia untuk menjadi seorang sarjana. Jika tidak membuat dia akan tersesat pula di dunia kampus.

Di dalam perjalanan pasti akan mendapatkan masalah yang harus diselesaikan dengan tenang, cepat dan tepat. Ketika pendaki memilih untuk menikmati perjalanannya, itu akan membuat pengalaman dan ilmu dari perjalanannya lebih banyak daripada seorang pendaki yang memilih untuk sampai ke puncak gunung dengan cepat. Padahal puncak gunung hanyalah bonus dari perjalanan itu. Begitupula kuliah, akan ada ujian-ujian yang diberikan dosen. Apakah harus dinikmati? Atau dibuat pusing? Jika puncak gunung di ibaratkan nilai bagus. Berarti nilai bagus itu adalah bonus dari hasil ujian-ujian yang telah dilaluinya. Sampai puncak, berarti nilai bagus. Ya, nilai bagus di kuliah hanyalah bonus. Yang terpenting adalah bagaimana cara dia menyelesaikan masalah atau ujian yang dia hadapi selama belajar.

Lalu bagaimana hubungan ketika pendaki itu telah kembali turun dengan perkuliahan? Hal ini bisa diibaratkan dengan lulusnya seorang mahasiswa menjadi sarjana. Lebih tepatnya, apa yang akan dilakukan sarjana itu ketika telah selesai kuliah. Ketika seseorang telah mendaki gunung, pasti akan banyak sekali kebesaran dari Sang Pencipta yang dia lihat dan rasakan. Berbeda ketika dia sedang di kota. Biasanya ketika dia berhasil menyikapi dan memaknai dari kebesaran Sang Pencipta artinya dia sukses melakukan perjalannya. Hasilnya dia akan menjadi seorang yang lebih baik dari sebelumnya, karena dia sadar bahwa dia hanyalah setitik debu kecil di antara besarnya kuasa Allah SWT. Tidak jauh berbeda dengan perkuliahan, ketika seseorang menjadi sarjana, dia bisa dikatakan sukses ketika dia berhasil mengambil inti dari perkuliahan yang dia jalani cukup lama. Akan menjadi orang yang lebih dari orang-orang yang tidak merasakan kuliah apabila dia berhasil menyikapi bahwa masih banyak ilmu yang belum dia ketahui selama dia kuliah.

Masih banyak hubungan antara kegiatan alam bebas dengan perkuliahan apabila dijabarkan lebih luas. Setiap kegiatan apapun yang dipilih adalah sama tujuannya. Tergantung bagaimana menyikapi perjalanan yang dilalu selama beraktivitas. Baik itu mapala, BEM, HMJ, atau apapun akan sama saja. Tidak ada yang lebih buruk dan tidak ada yang lebih baik. Yang membuatnya beda hanya sebutan. Tidak ada pula yang mengganggu kuliah apabila direncanakan dengan baik.

Catatan: konteks mapala di sini tidak di artikan sebagai organisasi, hanya sebagai sebutan untuk orang-orang yang senang berkegiatan di alam bebas. Mohon maaf apabila ada Mapala yang sebenarnya yang membaca tulisan ini tidak berkenan di hati. Boleh menyampaikan komentar langsung. Untuk para pembaca lainnya juga, penulis mohon maaf apabila ada salah-salah kata. Terima kasih

20110829

Mengaku Islam?

Ada yang menarik di pagi hari ini, awalnya terkait dengan sweaping yang hendak dilakukan FPI ke markas SCTV yang akan menayangkan film "?" karya Hanung Bramantyo. Sebelumnya saya tidak terlalu tertarik dengan dilakukannya sweaping itu, tapi ketika saya memberikan sedikit komentar tentang ketidak-setujuan tentang kekerasan yang dilakukan oknum FPI, saya malah dicecar dengan kata-kata "tolol" "bodoh" "sibodoh" bahkan "idiot". Ketidak-setujuan saya adalah tentang kekerasan mereka, bukan tentang film "?". Di sini saya hanya akan membahas mengenai orang-orang yang mengaku mengerti Islam hanya sebatas ilmu yang saya ketahui dan miliki.

Berawal dari komentar saya yang hanya bertuliskan "Negara ini bukan negara Islam>>Cerdas", komentar saya ditujukan untuk komentar user lain yang menyebutkan hal yang sama. Tapi kemudian ada pesan pribadi yang masuk ke profile saya berisi cacian dan makian yang mengatas namakan islam. Yang jadi pertanyaan, apakah orang yang meneriakkan Islam itu benar-benar memahami islam (beriman)? Ataukah dalam penulisan komentar saya ada yang salah? Komentar saya yang lain hanya berupa membenarkan komentar dari user lain. Seperti berikut:

1. Islam itu agama penyempurna dari agama sebelumnya. <<< ini untuk mengomentari >>> Islam adalah agama paling benar sejak zaman nabi Adam.

Di sini saya berpikir sebelum Islam datang ada agama lain yang secara jelas di Al-Quran memiliki kitab yang berasal dari Alloh. Lantas Islam datang untuk menyempurnakannya.

2. Kalo emang FPI (yang mengaku Islam) menghargai perbedaan agama, tidak akan ada sweaping dengan pengrusakan ke tempat-tempat makan yang buka di siang hari. Karena negara ini bukan negara Islam <<< untuk mengomentari >>> Islam sangat menghargai perbedaan agama.

Dalam Islam memang diajarkan untuk saling bertoleransi dalam beragama, apalagi Indonesia ini negara dengan multi-etnis, multi-agama, multi-ras. Bukan hanya Islam saja yang ada di Indonesia. Jika memang warung makan diharuskan tutup, orang yang bukan beragama Islam mau makan apa?

Untuk masalah pengrusakan tempat makan, dari pihak FPI menegaskan sudah melayangkan surat teguran sebelumnya kepada pemilik tempat makan. Tapi apakah harus berakhir dengan pengrusakan?

3. Bisakah seorang bayi memilih agama mereka? <<< untuk mengomentari >>> Bahwa murtad merupakan penodaan agama.

Mungkin ini yang sedikit mengguncang para oknum itu di Forum, tapi di sini saya tidak berarti membenarkan yang murtad. Saya memandang bahwa setiap pemeluk agama merasa agama yang dianutnya paling benar. Termasuk saya pribadi yang beragama Islam.

Ketika seseorang mencapai titik kedewasaan, pertanyaan-pertanyaan nakal pasti akan muncul di benak orang itu. Dia akan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Untuk kondisi murtad, mungkin orang tersebut merasa kurang yakin dengan agama Islam yang "diberikan" kedua orang tuanya. Kebetulan dua jam sebelumnya saya sempat bertanya juga kepada seorang teman kenapa dia beragama Islam, kemudian dia menjawab karena orang tua dia Islam.

4. Mereka akan mati secara psikis, orang-orang yang didatangi puluhan masa FPI dengan teriakan-teriakan serta balok kayu di tangannya. <<< untuk mengomentari >>> termasuk juga orang-orang bodoh (salah satunya dengan memberikan pembelajaran), kalo masih ngelawan juga maka boleh dengan kekerasan asal tidak menimbulkan kematian.

Untuk ini tidak perlu saya jelaskan lagi.

Seperti di awal tadi, setelah komentar berbagai macam dalam forum itu bermunculan, ada satu user yang mengirim pesan meneriaki saya dengan kata-kata celaan. Ironisnya, mereka mengaku pintar dalam beragama. Apakah menyebut sesama muslim tolol, bodoh, idiot itu orang yang memahami Al-Quran?

Pertanyaannya, dengan cara seperti apakah FPI merekrut orang atau anggotanya?

20110818

Chapter: 9 Matari (9 Matahari)

Sembilan (9) merupakan sesuatu yang tidak terlalu penting bagi setiap orang, tapi untuk sedikit orang, ada arti penting dibalik uniknya angka 9. Salah satunya dari seorang Arga, salah satu tokoh dalam novel 9 Matahari yang begitu menyukai angka 9.

"Tar,semua orang pasti tahu angka sepuluh adalah angka tertinggi. Tapi buat gue, sembilan itu adalah angka yang pas buat diri gue melambangkan betapa bernilai dan berharganya sesuatu itu buat gue. Angka itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 masih akan terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih dari waktu ke waktu.... Dari bentuknya, buat gue angka 9 lebih menawan Kalau lu perhatiin, angka 8 itu membuat dua bulatan yang tertutup. Sementara angka 9, bagian atasnya membentuk sebuah lingkaran yang menurut gw itu adalah ruang pribadi bagi setiap orang. Seperti sebuah tempat untuk menyimpan keyakinan yang tidak akan terganggu. Sementara buntut di bawahnya adalah ruang terbuka, tempat orang terus mengasah dirinya untuk menerima wawasan dan pengetahuan baru, serta akhirnya membuat dirinya terus menerus termotivasi untuk bisa lebih baik lagi. Dan, sembilan itu adalah nilai buat seorang terus membawa impiannya dengan semangat matahari, sembilan itu nilai buat seorang Matari."

"Jangan pernah berhenti buat menggenggam matahari, Tar. Seperti nama lu, Matari, lu pasti memang diharapkan menjadi seperti matahari. Matahari yang nggak akan bergeser kalau bulan dan bintang belum muncul. Matahari yang akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya buat alam semesta. Kadang dia dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang dia juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi..nggak peduli apapun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang. Tapi, bukan berarti matahari itu berhenti bersinar, justru dia lagi bersinar hangat di belahan bumi yang lain. Matahari yang mengajarkan banyak pada kita untuk terus berbagi. Supaya, kita benar-benar tahu peran kita dan bisa merasakan jiwa kita hidup..."

Setiap individu pasti memiliki kesukaan dengan penjelasannya masing-masing. Aku yang secara pribadi memang menghargai (bukan menyukai, tapi menghargai) angka 9 pun memiliki suatu cerita yang begitu berharga. Mungkin bisa dikatakan sedikit teguran dari sang Maha Pencipta yang secara kebetulan berhubungan dengan angka 9. Pada postingan yang lainnya mungkin saya akan menceritakan Angka 9 kepunyaan saya itu.

Terima Kasih

20110714

Di Kereta Malam untuk Indonesia

Bulannya sendu, bukitnya memilu.
Awan meringis, cahaya menanti jawaban.

Angin menderu, embunnya menusuk.
Pohon mencari teman, malam bersama kepalsuan.

Kepada langit ku bertanya, kepada alam ku menyapa.

Dalam gelap tertawa, dengan terang aku terlelap.
Kabut mesra, hujan memecahkannya.

Dingin menyimpan rindu, hangat menjadi lupa.


Malam itu aku teringat tentang kehidupan. Tentang Indonesia. Akhir-akhir ini pun aku lebih sering memikirkan tentang negara ini, tentang pemerintahannya. Mungkin karena aku bisa setiap hari mengakses berita di televisi. Jadi aku pun terbawa untuk memikirkannya. Tapi ironis, hanya tentang keburukannya yang aku lihat. Dan keindahan negara ini hanya dalam khayalan. Apakah benar?

Ada yang menjual, ada yang membeli.
Yang satu menyikut yang berdiri, yang duduk selalu menunduk.
Mereka yang nyaman duduk di kursi panjang, yang lainnya bergelantungan di pintu.
Terinjak di tengah-tengah jalan, memilih tidur di toilet.


Malam itu terasa begitu hidup. Banyak orang di sini. Apakah itu Indonesia? Penuh sesak dengan kehidupannya. Yang nyaman tak mau bergantian. Lengah sedikit terjatuh dari kereta. Yang kebagian kursi bisa tertidur pulas, tak kebagian? Pilihannya antara tidur di lantai dengan resiko terinjak atau pergi ke toilet dan tidur tak ada yang mengganggu. Hampir mirip dengan kehidupan di negara ini bukan? Posisi bagus ya nyaman, posisi kurang bagus? Terus berusaha walau terinjak atau menghindar.
Entah mengapa, hanya dengan berkereta saja aku merasakan kehidupan di Indonesia. Tujuannya berbeda, tapi dengan satu media dan satu arah. Mungkin sesekali mereka yang di atas itu harus merasakannya juga, setidaknya mereka bisa berpikir bahwa Indonesia itu benar-benar beragam, tak cukup dengan hanya satu tindakan.

Selalu semangat untuk setiap elemen bangsa ini. Untuk petinggi-petinggi yang sepertinya "tinggi", sempatkanlah untuk turun dari "rumah pohon" kalian. Bantulah untuk "menyirami" dan "merawat" pohon-pohon yang belum kuat untuk dibuat rumah di atasnya. Untuk rakyat yang "mewakilkan" hidupnya kepada para "wakilnya", jangan malas untuk selalu berjalan. Namun jangan hanya berjalan dengan kaki dan mulutmu (baca: berteriak), gunakanlah seluruh anggota tubuhmu untuk berjalan.

Bersama kita bisa! :D :D

20110509

Surat Cinta Untuk Calon Istriku

Surat Cinta Untuk Calon Istriku
Teruntuk,
Wanita yang paling kucintai setelah ibu


Hai puanku, bila saatnya tiba kau baca surat cintaku ini, aku hanya berharap esok hari saat dimana kau kecup punggung tanganku untuk yang pertama kali di hadapan penghulu, para saksi, orang tua kita, saudaramu, saudaraku, sahabatmu, sahabatku, adalah simbol cintamu yang akan selalu ada disisiku sampai Izrail menghampiri kita.

Perempuanku, jangan kaget bila aku menuliskan surat cinta ini jauh dari hari saat kau membacanya. Saat aku belum melihat paras cantikmu, saat aku belum mengenal akhlak muliamu, saat aku belum tahu namamu. Jangan khawatir sayang, dulu kita sudah bertemu. Saat di alam ruh. Allah telah memilihkan kamu untuk menjadi istriku, saat empat bulan masa kandunganku di dalam perut ibu. Sejak saat itu namamu sudah disandingkan di sebelah namaku. Sejak saat itu aku sudah mencintaimu.

Cantik, selain mahar yang kau minta saat pernikahan kita. Aku ingin berikan kau satu lagi: sebuah mukjizat Nabi terakhir. Alquranul Karim, yang akan selalu kau baca dengan suara merdumu, sebagai pelepas lelahku sepulang aku bekerja. Alquranul Karim, yang akan kau ajarkan betapa indah lantunan ayat - ayat suci kepada anak - anak kita nanti. Alquranul Karim, yang akan kau baca tepat disampingku nanti, saat aku terkulai lemah tak lagi berarti walau hanya untuk menjentikan jari. Alquranul Karim, yang akan selalu kau bawa dan kau baca tepat di samping nisanku nanti apabila Izrail menjemputku lebih dulu. Tetap bacakan untukku walau seayat sayang, aku pasti akan merindukan suara bidadariku bernyanyi: Kau mengaji.

Sayang, mungkin aku tak lebih hebat dari ayahmu dalam menjagamu. Aku tak segagah ia melindungi dirimu, mempertahankanmu dari para pria yang menginginkanmu darinya, termasuk aku yang akhirnya ia percayakan sebagai penggantinya untuk menjagamu. Tapi puanku, percayalah. Kaulah alasanku untuk belajar menjadi pria yang kuat. Pria yang rela walau harus sampai mati melindungimu, demi menjaga hatimu, kehormatanmu juga ragamu. Dinginnya malam sekali pun tak akan aku biarkan mengigit kulit indahmu sayang.

Cinta, izinkanlah akau saat esok hari, sebelum kuucapkan ijab qabul pernikahan kita yang disahkan para saksi, kulantunkan selarik ayat suci: An Nisa. 34, sebagai janjiku yang akan selalu melindungimu atas nama laki - laki. Sebagaimana Allah telah mewahyukan ayat itu kepada Muhammad nabi kita.

Hei wanitaku, saat kau sudah menggenapkan agamaku nanti, sesudah kau amini Al-Fatihahku yang pertama kali, setelah pertama kalinya kau cium tanganku selepas sholat, aku ingin saat itu kau selalu jadi pengingatku. Aku hanya manusia yang terkadang lupa, sering melakukan salah, dan laki – laki yang tak peka seperti wanita. Sekali kau memohon: ‘Maukah kau lakukan itu untukku?’ Demi apa pun, apalah arti dunia jika aku melihat air matamu. Kan kulakukan sepenuh hati hanya untukmu hei Batariku.

Hei bidadariku, aku berjanji.Tanpa sedikit pun aku menentang hal yang pernah dilakukan Rasulullah. Saat kau menjadi istriku nanti, akan kujadikan kau satu – satunya di dunia dan akhirat. Seperti halnya Sayidina Ali Radliallahuanhu menjadikan Fatimah Az Zahra satu – satunya bidadari bumi yang dimilikinya.

Kasih, tenanglah. Saat aku telah menjadi imammu nanti, tak akan pernah berhenti aku mencari rezeki. Selama masih keluar keringat kuperas dari tubuhku, selama masih kuat kubanting tulang punggungku, aku akan terus menafkahimu. Tak akan kubiarkan kau dan anak – anak kita kelaparan dan kehausan. Kupastikan kalian tak akan pernah kekurangan cintaku, sayang.

Jelita, kalau boleh aku meminta. Aku menginginkan putri yang menjadi buah hati kita yang pertama. Kita didik ia menjadi anak yang shalehah, dan kan kutanam sekeping jiwamu pada dirinya. Agar apabila nanti kau dipanggil lebih dulu oleh Pemilikmu yang sebenar – benarnya, aku masih bisa melihat kamu dalam diri putri kita. Dan aku ingin putra kita hanya terpaut satu tahun dengan kakaknya. Agar ia bisa tumbuh dewasa bersama saudari kandungnya. Dan akan kutempa dia agar menjadi pria yang kuat, bahkan melebihi aku. Agar apabila nanti aku yang kembali lebih dulu ke sisiNya, ia bisa menjaga ibu dan kakaknya seperti yang telah kulakukan dan kuajarkan kepadanya.

Manis, saat aku resmi menjadi suamimu nanti. Tak kan kulewatkan pagi tanpa mengecup keningmu yang harum. Kan kulakukan tiap aku hendak bekerja, atau tiap kali aku pergi meninggalkanmu. Dan akan selalu kulisankan tiga kata setelah bibirku ini meletakkan cinta di wajahmu: I love you. Dan tak akan kulewatkan pula detik berharga sebelum kau memejamkan mata, kembali kan kuletakkan cinta di kening atau pipimu. Aku tak akan bosan menciummu setiap hari, sayang. Seperti halnya nabimu juga nabiku yang tak pernah bosan melakukan hal romantis ini kepada istrinya setiap hari.

Batariku, aku tahu perjalanan bahtera kita tak akan selalu berlangit cerah. Syaitan pun tak kan pernah berhenti merusak hidup manusia sampai kiamat tiba. Maka ingatkanlah aku dengan kelembutan hatimu, agar tak ada hal lain yang kulakukan untukmu selain mencintaimu dan melindungimu. Sungguh aku tahu wanita itu tercipta dari tulang rusuk pria yang paling bengkok. Maka tak akan kupaksa ‘tuk luruskan engkau hingga patah, dan tak akan pula kubiarkan engkau tetap bengkok. Islam yang akan selalu menuntunku bagaimana seharusnya aku memperlakukanmu.

Sayang percayalah, aku akan selalu mencintaimu di tiap waktuku. Aku akan tetap menciummu, meski pipimu tak lagi sekencang dulu, meski keriput tlah menggarisi keningmu. Aku akan tetap membelai rambutmu, meski putih telah memakan habis hitamnya yang indah. Aku akan tetap memelukmu, meski bungkuk bdanmu dan ringkih tubuhmu, aku akan tetap memelukmu.

Berjanjilah cinta, apabila tiba saatnya Izrail memamerkan surga dan neraka di kedua sayapnya di hadapanku. Jangan pernah berhenti bisikkan nama Allah di telingaku, jangan pernah kau lepas genggaman tanganku dan jangan dulu jatuhkan air matamu sebelum malaikat benar – benar mencabut ruh dari ragaku. Sudah kubilang: Apalah arti dunia jika aku melihat air matamu.

Tenanglah kasih, batu nisan memang akan pisahkan dunia kita nanti, tapi dia tak akan mampu pisahkan cinta kita. Aku mencintaimu tak hanya di dunia.
Semoga Allah mengabulkan doa di tiap sujudku, agar pernikahan kita tak hanya dilanggengkan di dunia, tapi juga diabadikan di taman surgaNya. Amin…

Aku mencintaimu karena Allah, bidadari surgaku

Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6885577

Allah Turunkan Hujan Dari Gumpalan Awan

Berawal dari nyari-nyari lagu yang ada di Emak Ingin Naik Haji, aku jadi teringat sama lagu-lagu waktu kecil dulu.
Lagu-lagunya Hj. Neno Warisman yang bener-bener mendidik dan berkualitas dan juga menyenangkan. Mungkin ada juga kalo temen-temen yang seangkatan yang ngalamin masa kecilnya di taun 90-95 an yang inget sama lagu "Allah Turunkan Hujan". Atau pun "Masjid-masjid here I come" dan lain-lain...

Sumpah, kasian anak-anak jaman sekarang. Gak tau lagu-lagu bagus kayak itu.
Aku kasih link kalo ada yang mau download Allah Turunkan Hujan dan teman-temannya. Langsung di klik aja di sini : download.

A Ba Ta Tsa
Allah Turunkan Hujan
Always Remember
Assalamualaikum
Hello My Dear
Masjid Masjid Here I Come
Mengaji Dengan Senang Hati
Share Our Happines
Siapa Yang Mengajarkan
The Creator

Semoga lagu-lagu seperti ini kembali jaya untuk anak-anak Indonesia..



Sumber: http://siliaji.wordpress.com/2009/09/21/neno-warisman-aulade-gemintang/

Emak Ingin Naik Haji (Adegan Paling Menyentuh)

Aku sangat telat nonton Emak Ingin Naik Haji, cuman pengen share saja, ada satu scene yang bener-bener nyentuh di film Emak Ingin Naik Haji yang bikin aku netesin air mata. Di scene ini terlihat adegan emak sedang ngebenerin buku yang isinya tentang Mekkah. Terus terdengar backsound yang liriknya bener-bener ngingetin ke Ibuku sendiri. Di scene ini air mata yang sudah lama gak keluar, tiba-tiba keluar sendiri. Ya, tiba-tiba rasa kangen ke Ibuku sangat terasa di situ. Aku inget tentang Ibu yang selalu sabar kepadaku. Aku ingat tentang Ibu yang selalu terlihat tegar di hadapanku. Ibu Ibu Ibu, aku kangen Ibu, kangan Bapak, kangen Teteh. Sayang mereka juga.
Walaupun sebenarnya lirik tersebut bermakna tentang hubungan Alloh dengan hambanya, tapi entah kenapa malah kenanya ke sosok Ibu..

Best Scene for me:




Lirik Backsound di Emak Ingin Naik Haji, menit ke 00:40:25 - 00:43:41

Sejak dulu Kau telah jadi kasihku
Bayangan diri-Mu hiasi rinduku
Meski Kau berada jauh nun di sana
Sentuhan tangan-Mu kurasakan nyata
Hanya kasih-Mu
Hanya sayang-Mu, kuharap selalu
Hadir bersamaku, sepanjang hayatku
Imanku, keimananku lurus di jalan-Mu
Untuk menggapai-Mu
Itulah Doaku
Gambar hatiku, tarikan nafasku
.......

Mungkin ada yang tau judulnya?

20110331

Mendaki Gunung

Naik gunung, biasanya diidentikkan dengan kegiatan para pencinta alam. Menembus badai, mencari jejak dengan satu tujuan, yaitu puncak. Sekarang ini orang ramai-ramai mendaki gunung dengan berbagai macam tujuan.

Sebenarnya saya merasa kurang beruntung karena tidak dilahirkan lebih awal untuk menikmati indahnya mendaki gunung. Mendengar cerita dari orang-orang yang lebih awal dilahirkan, mendaki gunung itu memiliki satu kepuasan tersendiri ketika telah sukses mencapai puncak. Mereka bercerita banyak hal tentang membuat jalur menuju puncak, mendaki tebing karena tidak mendapat jalur yang lebih nyaman, terperosok ke dalam jurang karena salah mengambil jalur, hingga tersesat berhari-hari di dalam hutan karena salah perhitungan. Dulu mendaki gunung itu benar-benar untuk mencari ketenangan, ketegangan dan kepuasan. Belum ada jalur yang dipastikan benar, atau mungkin setiap jalur itu adalah benar. Itu dulu ketika para pencinta alam sangat identik dengan kebebasan.

Namun rasa kurang beruntung itu salalu tertutupi ketika saya sendiri sedang berada di alam bebas. Kurang beruntung itu selalu tertutupi oleh rasa syukur, karena sekarang mendaki gunung itu bukan hanya tentang ketenangan, keteganagan, dan kepuasan. Tapi tentang rasa nyaman dan syukur tanpa meninggalkan tiga hal di atas. Selalu banyak tanya yang menghampiri ketika sedang berada di gunung. Dan tanya itu selalu terjawab ketika telah berada di puncaknya. Walaupun kadang ada beberapa puncak yang mengecewakan karena banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh pendaki sebelumnya.

Saat ini banyak sekali orang-orang yang mengaku sebagai pencinta alam yang karena dibajunya terdapat logo himpunan atau organisasi pencinta alam. Bahkan karena mereka pernah mendaki satu gunung, mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai pencinta alam. Benarkah mereka pencinta alam? Hanya alam yang bisa menilai.

Sebenarnya apa sih pencinta alam? Saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa itu pencinta alam, karena saya pun bukan pencinta alam. Mungkin saya lebih memilih menyebut diri saya sebagai penggiat alam. Karena saya mendaki gunung hanya sebatas untuk menghilangkan penat dan mencari ketenangan. Lalu bagaimana dengan mereka para "pencinta alam"? Entahlah, itu urusan pribadi masing-masing. Karena menurut saya pencinta alam itu hanya sebatas nama untuk dituliskan di lembar kertas ketika menyerahkan proposal untuk mencari dana suatu ekspedisi. Kata pencinta alam itu pupus sudah ketika sudah memasuki alam bebas karena mereka para pencinta alam adalah sama-sama orang yang ingin bebas dari belenggu sebuah nama.

Terlepas dari pencinta alam, organisasi, himpunan, sispala, mapala, ataupun komunitas dan tanpa mengurangi hormat kepada mereka yang telah disebutkan sebelumnya. Mendaki gunung itu seharusnya tanpa misi. Karena mendaki gunung itu untuk mencari kebebasan. Untuk melepaskan rasa egois terbang bersama angin. Dan mendaki gunung itu sebenarnya bukan tentang mencapai puncak. Tapi tentang menjalin persaudaraan dan saling mengerti. Mendaki gunung itu bukan tentang mebuang-buang waktu. Tapi tentang menyusun bagaimana cara terbaik membunuh waktu. Mendaki gunung itu bukan tentang mendapat panggilan si gagah. Tapi tentang mencari cara membunuh rasa takut.

Jadi, mendaki gunung itu adalah tentang kebebasan.