20100828

Ketika Gambar yang Bercerita

Gambar... suatu potret mati tak bergerak, tak bersuara, tak bernafas yang menjadi suatu perantara untuk menyambungkan emosi jiwa dengan kehidupan nyata. Gambar yang memperlihatkan keburukan dan kebaikan dalam hidup. Gambar yang tak bergerak, tak bersuara itu akan menjadi seperti terlihat hidup. Bahkan bisa melebihi kata "seperti" itu sendiri. Ketika gambar berada di tempat dan waktu yang tepat.

Hari ini, suatu pameran foto anak-anak muda yang memegang tanggung jawab bangsa Indonesia di masa depan di pamerkan dengan satu tema yang seragam, yaitu 55+. Berbeda dengan pameran-pameran foto yang biasanya menampilkan keindahan abstrak dalam gambar, kali banyak sekali potret-potret lusuh para pemuda di jaman dulu yang saat ini sudah menjadi tua. Terkesan sangat tua memang pameran foto itu.

Namun dalam foto yang bermodelkan wajah-wajah keriput, tersirat makna suatu perjuangan hidup yang telah model-model itu alami. Masih tergambar jelas semangat-semangat muda mereka, baik itu dalam hal pendidikan, kesehatan, karir, bahkan kisah cinta yang tak tersampaikan.

Wajah-wajah tua dalam gambar itu seperti ingin berteriak, "Akulah yang terhebat." Mereka tak peduli seberapa lusuh wajah mereka dalam gambar. Mereka tak peduli tinggal berapa tahun sisa umur mereka. Bahkan mungkin hari.

Namun ironis sekali ketika dibandingkan dengan foto-foto yang selalu menjadi wajah dalam headline news suatu koran atau surat kabar yang setiap harinya pasti selalu ada wajah-wajah muda yang menundukkan kepalanya karena malu dengan perbuatan mereka. Wajah-wajah yang kerap kali mereka tutup dengan tangan. Seakan mereka berteriak, "Cukup jangan berbicara lagi." Sangat bertolak belakangan dengan semangat yang terpancar dari gambar-gambar di pameran foto 55+ itu.

Gambar yang bercerita. Gambar yang berbicara. Gambar yang berkomentar. Gambar yang menceritakan kisah buruk seseorang sering kali bisa didapatkan dengan mudah. Kareka keburukan itu sangat mudah dalam penyebarannya. Namun ketika gambar yang berceritakan kisah baik seseorang, diperlukan tempat dan waktu yang mahal. Tempat dan waktu yang tepat. Tempat dan waktu yang eklusif. Karena kebaikan itu adalah mahal.

LUTHFIL HADI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar