Tak berapa lama ada seorang perempuan yang mengisi kursi sebelahku. Tak terlalu aku perhatikan. Pemandangan sawah dan gunung di luar lebih menarik untuk aku nikmati. Aah, andai aku bisa menikmati gunung-gunung itu dari lembahnya.
Lama aku diam memandang ke luar. Samar aku lihat pantulan perempuan di sampingku sedang memperhatikanku. Ah kaca jendelanya retak. Mungkin hanya perasaanku saja. Pelan-pelan aku lirikkan mata ke arahnya. Ya benar, dia memperhatikanku. Biasa! Aku memang sering diperhatikan banyak orang. Karena aku memang selalu menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, dengan tongkat penyangga di sebelah kananku. Ya, aku memang pincang. Sudah terbiasa dengan tatapan banyak orang. Biarlah orang-orang menatapku dengan berbagai macam perasaan mereka. Toh aku tetap selalu bersyukur dengan segala karunia yang diberikan-Nya kepadaku. Aku masih punya kaki kiri.
Aku kembali mengarahkan tatapanku ke arah luar jendela. Tiba-tiba saja
perempuan di sampingku itu menyapaku. Dia memanggil namaku. Ah.... ternyata dia
sahabatku. Dulu, empat tahun lamanya kami tak bertemu.
Dia sahabat yang pernah aku mencintainya. Tapi tak berani aku
mengungkapkannya. Teman berbagi tawa ketika sedang menikmati sejuknya kabut di
dataran tinggi. Sebelum kecelakaan itu merenggut kaki kananku tentunya. Kami
pernah saling tertawa, saling bercanda atau saling memaki. Ingatanku terus
melambung tanpa sempat menjawab sapaan dari perempuan di sampingku itu. Aku
ingat terakhir kali aku bertemu dengannya. Tidak terlalu baik.
Ah, dia menyentuh pundakku. Dia membuyarkan lamunanku. Aku menatap matanya, masih sama. Tajam. Tapi indah dan sayu. Dia tersenyum dan mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Aku tak bisa mendengarnya. Pikiranku terlalu fokus memandangnya. Rambutnya sekarang lebih panjang dari terakhir aku bertemu. Badannya lebih segar. Ah, dia sudah mau menggunakan anting rupanya. Banyak sekali perubahan darinya. Lebih dewasa.
"Hai.." ujarku.
"Hey, apa kabar? Rupanya kamu gak mengenalku. Banyak perubahan dariku kan?" ceria sekali dia. Aku hanya bisa terkekeh saja.
"Hehehe, tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini. Hendak kemana tujuanmu?" Aku mencoba mengatur nafasku.
"Kok langsung tanya tujuan. Tak ada rasa rindu dalam hatimu kah, kawan? Bagaimana kabarmu?" tampak tenang sekali dia bertemu denganku.
Ingin aku jawab Aku selalu rindu padamu, tak berani aku mengeluarkan kalimat itu. "Yah, seperti yang kau lihat. Dengan satu kaki. Haruskah aku jelaskan padamu?"
"Maaf, aku hanya ingin memulai obrolan. Aaah, tak menyesal kah kau meninggalkanku dulu seperti itu?"
Rupa-rupanya dia masih ingat jelas apa yang aku lakukan empat tahun yang lalu. Aah, kenapa harus bertemu seperti ini.
"Aku hendak pergi ke Jogja, ada pekerjaan yang mengharuskan aku pergi ke sana. Hanya beberapa hari saja. Kamu? Masih dengan kegiatan alam bebas mu?" Dia melanjutkan kalimatnya tanpa sempat aku jawab. Syukurlah, berarti aku tak harus menceritakan kelakuanku empat tahun yang lalu padanya lagi.
"Oh, ya ya. Ya, aku juga pergi ke Jogja. Sudah dua tahun aku tinggal di sana. Hmmm, lagi. Dengan kaki seperti ini? Menurutmu?"
"Maaf, lagi-lagi maaf. Kau tampak tak sesemangat dulu. Oh, iya? Tinggal di Jogja? Seru sekali sepertinya. Apa kegiatanmu sekarang?" Dia tetap peduli terhadapku. Baguslah, setidaknya dia bisa terus memancing obrolan.
Bulan di langit terlihat tak seterang sebelum obrolan di mulai. Sawah-sawah tak lagi terlihat. Hanya gelap yang aku pandang. Semuanya sama di luar sana.
Aah, tanpa sempat aku menjawab. Telepon genggamnya berdering. Aku coba untuk menunggu kepentingannya selesai. Terlalu lama. Sebaiknya aku tidur saja.
Banyak hal yang telah kami lakukan sebelum empat tahun ini. Kau benar-benar berubah. Tampak bertambah dewasa. Sangat jauh berbeda sejak kita berpisah. Aaah, kupejamkan mata hanya lembaran kenangan lalu yang muncul. Kau benar-benar berbeda, langkahmu kian panjang ternyata. Aku lebih bahagia sejak 8 menit yang lalu. Terima kasih sobat...
Aku ingin tertidur, dia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Semoga perjalanan kereta ini terhambat. Aku masih ingin berbincang dengannya, setidaknya ingin ku menatap matanya lagi. Tak kan ada kesempatan kita bersama lagi. Kerinduan ini sedikit terobati.
Semoga kau tak menyesal untuk bertemu lagi. Baiklah, aku tidur saja. Semoga ada obrolan yang lebih bersemangat ketika aku bangun. Masih ada 7 jam lagi sebelum Yogyakarta.
Terima kasih kereta malam...
Banyak hal yang telah kami lakukan sebelum empat tahun ini. Kau benar-benar berubah. Tampak bertambah dewasa. Sangat jauh berbeda sejak kita berpisah. Aaah, kupejamkan mata hanya lembaran kenangan lalu yang muncul. Kau benar-benar berbeda, langkahmu kian panjang ternyata. Aku lebih bahagia sejak 8 menit yang lalu. Terima kasih sobat...
Aku ingin tertidur, dia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Semoga perjalanan kereta ini terhambat. Aku masih ingin berbincang dengannya, setidaknya ingin ku menatap matanya lagi. Tak kan ada kesempatan kita bersama lagi. Kerinduan ini sedikit terobati.
Semoga kau tak menyesal untuk bertemu lagi. Baiklah, aku tidur saja. Semoga ada obrolan yang lebih bersemangat ketika aku bangun. Masih ada 7 jam lagi sebelum Yogyakarta.
Terima kasih kereta malam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar