20100103

Mengambil Untuk Masa Depan


Diawali celetukan penulis untuk mengadakan kegiatan yang benar-benar mencintai alam pada malam sebelumnya. Ketika itu lima orang anggota perintis TIM PAKSA (Pencinta Alam Kabupaten subang) sedang melaksanakan kegiatan rutin muda-mudi saat ini (Saturday Night .red). Ngobrol di warung bandrek susu di depan SMP Negeri 1 Subang atau biasa kita sebut "kemang". Lima orang anggota TIM PAKSA itu ingin obrolan mereka malam itu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi banyak orang. Walaupun minum hanya kopi ABC mocca dan susu hangat serta satu bungkus rokok Djarum Super (yang malam itu "diliarkan" begitu saja ), tapi obrolan haruslah berbobot. Penulis ketika itu mendapatkan ide untuk melakukan operasi semut di daerah GOR Subang yang apabila setiap minggu berubah menjadi pasar kaget dengan ratusan sampah plastic yang terkulai tak berdaya di atas aspal. Janjian pukul 05.30 berkumpul di rumah penulis. Namun ada kendala pada saat itu, obrolan mereka berlangsung sampai pukul 23.45. Itu akan menjadi masalah ketika dihubungkan dengan kebiasaan jelek kami yang tidak bisa bangun pagi (setelah sholat shubuh langsung tidur). Tapi dengan tekad yang kuat, kami akan bangun pagi. Obrolan malam itu selesai dengan adanya peredaran uang antara kami berlima dengan penjual bansus, kami menyebutnya dengan panggilan "OM".

Malam pun berakhir dengan terdengarnya suara adzan Shubuh yang tidak pernah terdengar oleh penulis. Namun penulis d
apat bangun dengan gagahnya setelah dipaksa bangun oleh Ucup (anggota TIM PAKSA yang menginap di rumah penulis). Singkat cerita, penulis dan ucup langsung menelepon anggota yang lainnya untuk segera bangun dan meluncur ke rumah penulis. Dari enam orang yang ditelepon itu, hanya empat orang yang menjawab teleponnya dan langsung meluncur ke TKP (rumah penulis .red). Walaupun harus beberapa kali ditelepon sebenarnya. Janjian pukul 05.30, baru datang semua 30 menit setelahnya. Alasan mereka cukup sederhana, "Maklum orang SUbang". Apa boleh dikata, memang kenyataan begitu.

Setelah semua yang hadir disitu berkump
ul dan menjadi berjumlah lima orang termasuk penulis. Kami berangkat menuju GOR Subang memanfaatkan transportasi sepatu. Bermodalkan tiga buah palstic sampah berwarna hitam, kami dengan pede dan gagah berani berlari sekencang-kencangnya untuk segera samapi di lokasi. Berlari sambil menundukkan badan ke bawah untuk mengambil sampah memang melelahkan.

Kami disambut oleh suara peluit milik tukang parkir dadakan yang ada di pintu gerbang GOR SUbang. Walaupun hanya berjarak lima menit mengg
unakan motor, plastik sampah kami sudah terisi sebagian. Tanpa basa-basi, setiap melihat sampah plastik di jalan, langsung kami ambil dan kami masukkan ke dalam plastik yang kami bawa. Selama dua jam berkeliling GOR Subang sambil berkonsentrasi dapat menyebabkan tubuh berkeringat dan pegal-pegal. Kami berhasil mengumpulkan sebanyak lima plastik sampah hitam. Ironis bukan?

Hal ini kami lakukan guna menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat Kabupaten Subang, khususnya pengguna GOR subang akan pentingnya membuang sampah sembarangan. bayangkan apabila sampah plastik dibiarkan terus berkumpul bersama tanah hijau. Akan jadi apa masa depan ini?

Kami pun ingi
n merubah kegiatan organisasi Pencinta ALam yang biasanya hanya naik turun gunung, loncat-loncat tebing menjadi berguna untuk alam sesuai dengan namanya. Mudah-mudahan dengan diawali oleh lima orang yang memungut sampah, dapat menjadi lima juta orang yang memungut sampah setiap harinya dan memuang ke tempat yang seharusnya.

Walaupun TIM PAKSA belum diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten SUbang. Tapi kami ingin berbuat yang terbaik.
"KAMI LAKUKAN INI UNTUK MASA DEPAN"
"KARENA KAMI INI PEDULI, BUKAN CARI SENSASI"
SALAM RIMBA, SALAM LESTARI, S
ALAM PETUALANGAN







1 komentar: