Aku mencari jalan bagaimana caranya memperbaiki suatu jembatan. Aku telah membuat suatu alat yang telah merusak suatu jembatan yang begitu kokoh sebelumnya. Alat itu telah membuat jembatannya hanya bisa dipakai sesekali. Jembatan yang sebelumnya begitu kokoh selama setahun lebih, harus dirusak oleh egoku sendiri. Kerusakan yang tidak bisa aku perbaiki selama setahun lebih juga.
Bukan! Bukan tidak bisa! Tapi tidak mau. Ego yang begitu besar telah menutup semua alat yang sebenarnya begitu mudah untuk memperbaiki jembatan itu. Ego yang terlalu melebihi ketulusan hati.
Apabila ego ini dibiarkan terus, jembatan itu semakin lama akan semakin rusak dan tidak akan bisa digunakan. Mungkin telat satu bulan saja, jembatan itu akan hancur. Ah, tidak! Satu Bulan terlalu lama. Jembatan akan semakin rusak. Tapi tidak mungkin juga dalam sekejap jembatan itu akan kembali normal. Akan butuh tahap. Selain itu, masih ada jembatan lain yang masih berfungsi walaupun sepertinya sebentar lagi akan sama nasibnya dengan jembatan yang aku rusak ini. Tapi kapan?
Setidaknya aku harus mencoba untuk memperbaiki jembatan yang aku rusak ini. Perbuatan itu berbanding lurus dengan tanggung jawab bukan? Lalu kenapa mesti menunggu satu tahun atau lebih untuk mempertanggung jawabkannya? Tapi bagaimana cara memulainya? Aku terlalu malu untuk memperbaiki jembatan itu. Apakah harus secara diam-diam? Disaat tidak ada orang lain yang didekat jembatan itu, maka aku dengan cepat memperbaikinya?
Aku terlalu malu untuk memperbaiki jembatan rusak ketika jembatan yang dipakai orang-orang masih berfungsi.
Lalu harus bagaimana? Apa cara yang paling bagus untuk memperbaikinya? Memulai memperbaikinya maksud saya.
Apakah kata MAAF dapat memulai memperbaiki jembatan yang rusak itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar