20120419

Mungkin Judulnya "Pilihan!"

Pilihan, iya pilihan. Aku diingatkan lagi tentang suatu hal yang bernama pilihan. Sederhana saja, aku diingatkan akan banyak hal penting itu dari obrolan kecil di warung burjo di pinggir selokan mataram. Sederhana, mungkin sangat sederhana. Tapi hal sederhana itu yang mengingatkan tentang kehidupan di Bumi. Iya, tentang pilihan.

Seorang kawan yang selama kurang lebih tiga bulan menghilang dari rutinitas kota Jogja. Menghilang dari peredaran, rupanya tak sia-sia dia pergi mencari kehidupan baru. Nyatanya mampu memberikan pencerahan untuk orang di sekitarnya. Tak perlu juga lah di sebut namanya. Nanti geer.

Yang aku ingat pertama adalah tentang jodoh. Ah, jodoh yang menurut kebanyakan orang sudah ditentukan oleh Tuhannya masing-masing umat manusia menurutnya adalah palsu. Nyatanya jodoh itu adalah pilihan kita sendiri, kita yang mencarinya dan Tuhan hanyalah merestui. Jika memang tidak direstui, ya cari lagi. Gitu katanya. Aku hanya bisa mengangguk saja. Nah, untuk orang-orang yang malas mencari atau tidak mencari sama sekali, barulah Tuhannya yang menentukan jodohnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

Selanjutnya, obrolan masih tentang pilihan. Aku kembali teringat tentang pilihan awal aku ingin kuliah di Jogja. Jogja ada di tengah-tengah Pulau Jawa. Aku lihat dari peta, ada banyak gunung yang ada di sekitar kota ini. Sangatlah gampang untuk mendaki gunung. Jadilah dengan mantap aku jawab pertanyaan Ibuku yang bertanya "Mau kuliah di mana?" dengan jawaban "Jogja!". Tanpa aku sebutkan di mana aku akan kuliah. Yang penting Jogja dulu saja. Syukur saja aku bisa lolos masuk Teknik UGM. Ah, mungkin ini yang keliru, pikirku. Iya, keliru aku masuk Teknik UGM. Terlalu mumet, apalagi dengan embel-embel Teknik Nuklir dan Teknik Fisika di depan Teknik UGMnya itu. 

Masih tentang pilihan, kuliah di Teknik ini juga merupakan pilihanku. Dan Tuhan lah yang merestui. Tapi tentang gunung yang aku rencakan itu memang tepat. Di utara Jogja ada Merapi yang telah memberi banyak pengalaman untuk ku. Aku berkenalan dengan Merapi dengan cara yang kurang enak. Dengan letusan. Iya, baru dua bulan aku di Jogja, aku harus berkenalan dengan letusannya. Tak apalah, perkenalan yang kurang baik biasanya akan diingat terus. Mungkin.

Merapi, sekarang tentang Merapi. Gunung yang ketika pertama aku menejejakkan kaki di atas pasir putihnya aku hanya bisa mengagumi karya Tuhanku, Alloh SWT. Sulit untuk berkata-kata saat itu. Iya, pendakian pertama di gunung yang dengan berani aku katakan gunung paling gagah. Tapi sangat anggun dan cantik. Semenjak itulah, hampir tiap bulan aku sempatkan untuk menikmatinya. Sekedar untuk menyapa kabutnya. Aaah, Merapi. Tak perlu aku ceritakan banyak tentangmu. Biarkan mereka yang ingin tahu tentangmu merasakan kegagahan, keanggunan, dan kecantikanmu dengan mata mereka sendiri.

Masih tentang Merapi, beberapa kali aku menikmatinya, selalu dia memberikan hal yang tak terduga. Hal yang luar biasa. Belum lama ini aku dapat kabar bahagia yang berasal dari Merapi juga. Tak usah juga lah aku ceritakan. Tapi dari kabar bahagia ini aku harus memutuskan suatu pilihan. Pilihan yang akan harus di pertanggung-jawabkan.

Kembali lagi tentang pilihan, kabar baik dari Merapi. Aku harus berani memilih untuk kuliah sedikit lebih lama dari kawan-kawan yang lain. Untuk lebih mencintai kabar baik ini. Iya, kabar baik yang semoga akan selalu baik pada setiap kesempatannya. Ah setidaknya aku mencintai hal yang membuat aku lama kuliah. Dan lamanya aku kuliah juga merupakan pilihanku. 

Pilihan kawaaaaan. Pilihaaann. Maka dari itu pilihlah dengan bijak setiap pilihan yang ada. :)

20120324

Apa kabar?

Imaji bayangmu
Merusak konsentrasi
Merasuk, meramu

Ada kabar datang menjelma menjadi angin
Masuk melalui perasaan yang dinamakan rindu

Imajiner, imajiner
Menjadi gelap
Hilang ditelan cahaya

20120204

Apa?

Edel, Edel...
Oh, Edel... 
Haruskah aku katakan?
Bahwa aku mencintaimu...
Aku kira tidak perlu. 
Karena kamu sudah tau!

Gang Asem, 4 Februari 2012

20120203

Perjumpaan

Saat ini aku sedang berada dalam sebuah kereta malam. Kereta ini tidak terlalu sesak seperti biasanya. Aku duduk di kursi dibagian yang dekat dengan jendela. Tujuanku kota Yogyakarta. Masih ada sisa enam jam perjalanan. Sebelahku masih kosong. Belum ada yang menempati.


Tak berapa lama ada seorang perempuan yang mengisi kursi sebelahku. Tak terlalu aku perhatikan. Pemandangan sawah dan gunung di luar lebih menarik untuk aku nikmati. Aah, andai aku bisa menikmati gunung-gunung itu dari lembahnya. 

Lama aku diam memandang ke luar. Samar aku lihat pantulan perempuan di sampingku sedang memperhatikanku. Ah kaca jendelanya retak. Mungkin hanya perasaanku saja. Pelan-pelan aku lirikkan mata ke arahnya. Ya benar, dia memperhatikanku. Biasa! Aku memang sering diperhatikan banyak orang. Karena aku memang selalu menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, dengan tongkat penyangga di sebelah kananku. Ya, aku memang pincang. Sudah terbiasa dengan tatapan banyak orang. Biarlah orang-orang menatapku dengan berbagai macam perasaan mereka. Toh aku tetap selalu bersyukur dengan segala karunia yang diberikan-Nya kepadaku. Aku masih punya kaki kiri.


Aku kembali mengarahkan tatapanku ke arah luar jendela. Tiba-tiba saja perempuan di sampingku itu menyapaku. Dia memanggil namaku. Ah.... ternyata dia sahabatku. Dulu, empat tahun lamanya kami tak bertemu. 

Dia sahabat yang pernah aku mencintainya. Tapi tak berani aku mengungkapkannya. Teman berbagi tawa ketika sedang menikmati sejuknya kabut di dataran tinggi. Sebelum kecelakaan itu merenggut kaki kananku tentunya. Kami pernah saling tertawa, saling bercanda atau saling memaki. Ingatanku terus melambung tanpa sempat menjawab sapaan dari perempuan di sampingku itu. Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya. Tidak terlalu baik. 


Ah, dia menyentuh pundakku. Dia membuyarkan lamunanku. Aku menatap matanya, masih sama. Tajam. Tapi indah dan sayu. Dia tersenyum dan mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Aku tak bisa mendengarnya. Pikiranku terlalu fokus memandangnya. Rambutnya sekarang lebih panjang dari terakhir aku bertemu. Badannya lebih segar. Ah, dia sudah mau menggunakan anting rupanya. Banyak sekali perubahan darinya. Lebih dewasa.


"Hai.." ujarku.


"Hey, apa kabar? Rupanya kamu gak mengenalku. Banyak perubahan dariku kan?" ceria sekali dia. Aku hanya bisa terkekeh saja.


"Hehehe, tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini. Hendak kemana tujuanmu?" Aku mencoba mengatur nafasku.


"Kok langsung tanya tujuan. Tak ada rasa rindu dalam hatimu kah, kawan? Bagaimana kabarmu?" tampak tenang sekali dia bertemu denganku.


Ingin aku jawab Aku selalu rindu padamu, tak berani aku mengeluarkan kalimat itu. "Yah, seperti yang kau lihat. Dengan satu kaki. Haruskah aku jelaskan padamu?"


"Maaf, aku hanya ingin memulai obrolan. Aaah, tak menyesal kah kau meninggalkanku dulu seperti itu?"


Rupa-rupanya dia masih ingat jelas apa yang aku lakukan empat tahun yang lalu. Aah, kenapa harus bertemu seperti ini.


"Aku hendak pergi ke Jogja, ada pekerjaan yang mengharuskan aku pergi ke sana. Hanya beberapa hari saja. Kamu? Masih dengan kegiatan alam bebas mu?" Dia melanjutkan kalimatnya tanpa sempat aku jawab. Syukurlah, berarti aku tak harus menceritakan kelakuanku empat tahun yang lalu padanya lagi.


"Oh, ya ya. Ya, aku juga pergi ke Jogja. Sudah dua tahun aku tinggal di sana. Hmmm, lagi. Dengan kaki seperti ini? Menurutmu?"


"Maaf, lagi-lagi maaf. Kau tampak tak sesemangat dulu. Oh, iya? Tinggal di Jogja? Seru sekali sepertinya. Apa kegiatanmu sekarang?" Dia tetap peduli terhadapku. Baguslah, setidaknya dia bisa terus memancing obrolan.


Bulan di langit terlihat tak seterang sebelum obrolan di mulai. Sawah-sawah tak lagi terlihat. Hanya gelap yang aku pandang. Semuanya sama di luar sana. 

Aah, tanpa sempat aku menjawab. Telepon genggamnya berdering. Aku coba untuk menunggu kepentingannya selesai. Terlalu lama. Sebaiknya aku tidur saja.


Banyak hal yang telah kami lakukan sebelum empat tahun ini. Kau benar-benar berubah. Tampak bertambah dewasa. Sangat jauh berbeda sejak kita berpisah. Aaah, kupejamkan mata hanya lembaran kenangan lalu yang muncul. Kau benar-benar berbeda, langkahmu kian panjang ternyata. Aku lebih bahagia sejak 8 menit yang lalu. Terima kasih sobat...


Aku ingin tertidur, dia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Semoga perjalanan kereta ini terhambat. Aku masih ingin berbincang dengannya, setidaknya ingin ku menatap matanya lagi. Tak kan ada kesempatan kita bersama lagi. Kerinduan ini sedikit terobati.


Semoga kau tak menyesal untuk bertemu lagi. Baiklah, aku tidur saja. Semoga ada obrolan yang lebih bersemangat ketika aku bangun. Masih ada 7 jam lagi sebelum Yogyakarta.
Terima kasih kereta malam...

20120202

Aarde

Aarde,
Yang aku ingat kau sangat sejuk bila dinikmati
Aku masih mendengar siulan yang menggesek organ-organ tubuhmu
Hanya jika aku tidak salah mengingat

Aarde, 
Ada yang bilang kau menanti mati
Sangat sering kau marah
Padahal aku bertemu denganmu begitu lembut

Putih,
Itu yang aku lihat ketika pagi menjelang
Selimut yang menutupimu sangat tebal
Aku hanya bisa menggigil kala pagi datang

Putih,
Aku mendapat kabar putihmu menjadi sesak
Bukan pagi selimut putihmu terlihat 
Ketika siang putihmu menjadi pekat

Kamu mulai panas Aarde? 
Jangan sampai biru mu menjadi merah
Siulanmu haruslah tetap lembut
Jangan menjadi kasar dan kasar serta panas

Aarde yang indah
Aarde yang sejuk
Jangan marah Aarde
Jangan mati Aarde

Marrikh
Bulan, 1 Februari 2012

ps: Sajak ini dibuat oleh Marrikh seorang kenalan yang aku temui di Bulan. Marrikh tinggal di planet Venus. Dia seorang panglima  perang dari Mars yang diusir dari kerajaannya karena telah membangkang tidak mau menuruti perintah untuk menyerang Bumi. Hingga dia diasingkan di Venus. 

Sajak ini dia buat untukku. Aku sendiri tak memahami apa arti sajak ini. Mungkin nanti aku mengerti. 

Melihat Jiwa!

Ada jiwa yang sedang bermain jauh sekali hari ini. 
Jiwa yg sedang bermain itu adalah jiwa yg selalu rindu rintik hujan di sore hari. Aku belum sempat menitipkan salam padanya.
Semoga dia mengerti dan menyampaikan rinduku untuk seorang perempuan sombong di gang sebelah. Aku ingin berbincang dengannya. :)

Ah, tiba-tiba saja ada sekolompok jiwa orang lain sedang mengunjungiku.
Jiwa-jiwa dari luar berlarian masuk ke kamarku. Ah, di luar kan hujan. Mereka malah berdansa di atas karpet kamarku.
Seakan mereka tak melihatku yg sedang menikmati musik saat itu. Sungguh mengganggu, tapi dansa mereka sangatlah cantik.
Ada tiga pasangan yang berdansa. Ke tiga pria itu semuanya menggunakan setelan jas hitam-hitam dengan dasi kupu-kupu. Penampilannya klimis.
Pasangannya menggunakan gaun. Wanita prtama menggunakan gaun berwarna kuning. Gaun yg bagian bawahnya mengembang. Cantik, rambutnya pirang!
Wanita kedua, dia selalu tersenyum. Warna rambutnya cokelat kemerahan. Panjangnya sepinggang. Menggunakan gaun merah yg anggun.
Yang ketiga, nampaknya dia yg tertua dari kedua org yg lain. Terpancar aura yg berbeda dari wajahnya. Gaunnya warna biru laut selutut.
Karpetku mulai terlihat basah. Wanita bergaun merah itu paling basah. Tidak! Jangan injak rokoku.
Nampaknya aku tak asing dengan wajah si gaun merah. Ya! Itu si nona sombong yg dulu sempat dekat denganku. Pantas dia slalu melihat padaku.

Jiwa-jiwanya mengunjungiku hari ini. Terima kasih nona sombong.


Gang Timor-Timur, 16 Januari 2012





20111206

Rencana di 2012

Selamat malam kawan, lama tak menulis di halaman ini. Postingan kali ini hanya berupa curhatan dari saya. Betul-betul curhat. Yaa, curhat.. Curahan Hati. Jadi jika tidak bersedia untuk membaca curhatan saya, lebih baik segera pindah ke halaman lain. ^.^ .. Tapi dianjurkan untuk dibaca terlebih dulu. Karena ini curhatan berisi tentang keinginan, atau lebih indah disebut sebagai impian. Setidaknya ini adalah impian-impian pertama saya yang saya beritahukan lewat media sosial. Eh blogger media sosial bukan sih? Tak apa lah... 

Jadi, kita mulai dari mana? 
Sebelumnya, tidak semua impian saya tuliskan di sini. Hanya satu hal saja, tentang gunung. Lagi-lagi gunung. 
Lanjut, impian tentang gunung, tentang gunung mana yang ingin saya ajak kenalan. Gunung mana yang saya prioritaskan ingin saya nikmati. 

Baiklah, ada beberapa gunung yang ingin saya cumbu. Alasannya, cukup jelas! Saya ingin merasakan sendiri kenikmatan yang sudah pernah teman-teman saya rasakan ketika berkenalan dengan gunung-gunung itu. Tapi sebenarnya, awal bulan november lalu saya sudah memutuskan untuk mengurangi kegiatan dalam masuk keluar hutan. Karena sebenarnya sudah saya putuskan untuk berpindah jalur ke hal yang lebih simpel dari mendaki gunung. Tapi apa daya, akhir bulan november yang mana seharusnya saya memulai kehidupan lebih terorganisir dalam satu atap rumah yang sangat nyaman harus terhalang oleh satu musibah. Padahal di dalam rumah tersebut, saya mungkin bisa menyalurkan semangat yang terbuang sia-sia sebelumnya (mungkin untuk kedepannya juga) karena tidak ada yang menampungnya.

Sudahlah, setidaknya impian saya untuk melihat negeri di atas awan belum semuanya saya hapus. Jadi masih bisa saya susun kembali. Walaupun memang saya membutuhkan rumah itu untuk bernaung. Sepertinya takdir membuat saya harus tanpa rumah untuk (mungkin) selama setahun kedepan (lagi). 

Jadi seperti ini teman-teman, saya sebenarnya mempunyai suatu catatan tentang impian-impian saya yang harus saya laksanakan dalam waktu yang (belum) saya tentukan. Hanya dalam satu lembar saja, tapi banyak sekali. Salah satunya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Ingin rasanya menginjakkan kaki ini di tempat-tempat tertinggi di bumi ini. Ditambah sudah dua minggu kaki kanan saya tidak menyentuh bumi.

Lebih tepatnya sih impian dadakan. Hehehe. Ceritanya seperti ini, beberapa hari yang lalu ada seorang teman yang mengajak saya mencari kedamaian di jalanan berdebu dan dingin. Tapi waktunya kurang tepat, kaki kanan saya sedang terbalut kain putih yang katanya bernama perban. Ditambah eksperimen tiga orang dokter menyambung tulang kaki saya. Katanya sih biar lebih kuat mendaki gunung. Masih ingat kalimat yang dilontarkan salah seorang dokter itu, "Masnya suka naik gunung kan?". Terus saya jawab, "Kok tau dok?" saya berharap bukan jawaban gombal seperti karena kamu telah mendaki hatiku atau karena aku tersesat di hatimu atau apalah itu. Ternyata si dokter menjawab seperti ini, "Tuh banyak teman-temannya lagi nunggu di luar.". Saya hanya bisa terkekeh saat itu, karena dalam kondisi saya masih bisa melihat daging dan tulang di kaki saya. Si dokter kemudian nyaut lagi, "Mas, ini kakinya udah saya pasang kawat, jadi kalo mau naik gunung tinggal pasang tali aja. Jadi ntar tinggal ditarik sama temen-temennya dari atas. hehehe". Dasar dokter cabul. heeheheh..

Kembali ke topik dan tujuan awal menulis, ada beberapa gunung yang saya rencanakan untuk saya nikmati tahun 2012 nanti. Berikut rencananya: Gunung Rinjani ; Gunung Kerinci; Gunung Sindoro; Gunung Sumbing; Gunung Gede-Pangrango; Gunung Merapi; Gunung Raung; Gunung Argopuro; Gunung Ciremai. Sebenarnya gunung Raung dan Argopuro masuk di rencana pendakian tahun 2011. Tapi apa daya, tidak terlaksana karena terhambat oleh tim yang akan berangkat. Karena saya tidak punya tim. Hehehe.

Sekian dulu lah untuk postingan tidak jelas kali ini. Sebenarnya saya ingin terus menulis. Tapi jika dilanjutkan pasti akan semakin tidak jelas isi dari postingan ini. Hoooammmmm... 

Kenapa harus mendaki gunung? Karena gunung selalu memberikan ilmu secara gratis.