Selamat ulang tahun untukku. Tepat 19 tahun yang lalu pukul 23.30-an aku dilahirkan ke dunia. Katanya dulu aku lahir hari Jumat di tanggal 26 Juni tahun 1992. Dari rahim Ibu bernama Cucu Asiah, yang ditemani oleh pria bernama Danis Wara yang merupakan Bapakku. Dan hari ini tanggal 26 Juni 2011 aku merayakan dan mensyukuri tahun ke 19 ku di Gunung Merapi.
Di tahun yang ke 19 ini aku berkenalan dengan badai merapi yang cukup membuat hati ini gentar untuk melangkah menuju puncak. Badai itu memang berhasil mengurungkan pendakian kedua yang kulakukan pasca meletus ini menuju puncak. Kemarin malam aku berencana untuk melakukan syukuran di pasar bubrah, namun untuk melihat jalan saja ternyata sudah sulit terhalang kabut yang tertiup angin. Rasa takut pun tak dapat ku pungkiri ada dalam pikiranku saat itu.
Pukul 16.00 tanggal 25 Juni 2011 aku berangkat dari Jogja menuju Selo, Boyolali. Perjalanan selama satu jam setengah tidak terasa, karena aku dimanjakan dengan cantik dan putihnya Gunung Merapi. Tiba di base camp pukul 17.30 disambut dengan ramainya basecamp barameru yang penuh dengan anak SMA. Sekitar 23 orang di dalam basecamp kecil, penuh sesak. Namun keramaian itu hanya sebentar saja, tak kurang dari pukul 19.00 mereka memulai pendakian mereka. Saat itu cuaca sangat cerah, aku bersyukur dengan cerahnya malam itu. Selama dua jam aku sendiri di basecamp menikmati suara alam yang tiba-tiba gaduh karena angin. Di luar badai. Sangat dingin. Berselimut kain batik, aku memutar lagu yang damai dari ponselku. Mendaki Gunung milik Tony Q Rastafara. Lumayan menghangatkan suasana.
Dua jam berlalu, datang dua orang pendaki yang berniat hanya tek tok saja. Oborolan ngaler ngidul pun terjadi sekitar setengah jam sampai temanku dari Solo datang membawa dua teman perempuannya. Orang gila, pikirku. Mereka bertiga membawa carriel full dengan isinya yang terlihat berat. Temanku dengan carriel 40 liternya yang katanya berisi air mineral 5 liter, ditemani satu orang perempuan dengan carriel 70 liter di punggungnya yang di dalam nya terdapat Tenda kapasitas 4 orang dengan logistik dua orang teman yang lainnya. Benar-benar sudah gila orang-orang gunung ini.
Ajakan untuk mendaki saat itu juga terus dilancarkan oleh temanku. Aku memang berniat untuk memulai pendakin subuh tanggal 26 Juni. Namun akhirnya aku pun ikut dengan mereka bertiga. Perjalanan di mulai 09.30 dengan cuaca yang cerah, badai sudah berhenti rupanya. Kira-kira setengah jam perjalanan, angin kencang kembali berhembus. Semoga tidak terjadi badai pikirku. Namun alam berkehendak lain, semakin atas kami mendaki, semakin kencang pula angin menerpa tubuh kami. Tak tanggung-tanggung, angin pun mengajak kabut untuk menemani perjalananku. Perjalanan yang seharusnya bisa di tempuh selama satu jam itu akhirnya harus menjadi dua jam setengah. Itu hanya sampai pos 1.
Tenda pun telah dipasang, tentunya dengan ditemani angin dan kabut yang tak pernah henti menyapa. Ponsel aku aktifkan, ada beberapa sms masuk mengucapkan selamat ulang tahun. Teman perjalananku pun akhirnya mengetahui aku berulang tahun malam itu, terjadilah koor paduan suara menyanyikan lagu selamat ulang tahun di tengah badai. Tak ada yang perlu kuceritakan apa yang terjadi setelah itu, karena aku berada di dalam tenda yang selalu bergoyang tertabrak angin. Ada sedikit ketakutan frame tenda patah.
Malam pun berganti pagi, jam menunjukkan pukul 04.36 saat itu, namun badai belum berhenti. Ternyata air dari kabut jenuh merembes masuk tenda. Sleeping bag pun menjadi dingin. 05.30 pun lewat, namun tak ada tanda-tanda matahari menghangatkan pagi itu. Yang ada badai semakin kencang menggoyangkan tenda. Aku pun tertidur kembali. Pukul 08.00 aku dibangunkan alarm. Aku paksakan keluar. Tubuh secara otomatis bergoyang karena dingin. Sempat juga badanku terbawa angin. Lagi-lagi badai belum berhenti. Satu persatu, pendaki turun aku tanya tentang keadaan di atas. Jawaban semuanya sama, "Badai mas, anginnya kenceng, jalannya ketutup kabut."
Rasa kesal pun sempat datang, kenapa harus di hari ulang tahunku. Saat itu suara angin semakin kencang, kabut pun berlari semakin kencang sambil melemparkan airnya. Tak ada cahaya matahari saat itu. Perjalanan selanjutnya tetap sama, ditemani badai. Kadang duduk, kadang tiarap untuk menghindar dari kencangnya angin itu. Tak banyak yang dapat aku ceritakan, karena hanya ada badai saat itu. Jarak pandang sangat pendek, angin yang kencang, air yang deras turun.
Perjalanan ku tidak sampai ke pasar bubrah, langsung turun setelah membayangkan berjalan di caldera dengan diterpa angin kencang serta gelapnya kabut. Nyawa taruhannya. Aku pun turun, saat turun rasa kesal itu perlahan hilang. Aku mulai merasakan suara-suara angin kencang itu bagaikan nyanyian selamat ulang tahun untukku, kabut-kabut yang menghalangiku seperti pelukan-pelukan hangat yang diberikan untukku, air-air yang dibawa kabut itu bahkan seperti kue bolu untukku. Ternyata, perjalanan ini sepertinya tak akan pernah kulupakan. Di tahun ke 19 ini aku mendapatkan kado ulang tahun Badai Merapi. Kado yang begitu spesial.
Semoga di tahun ke 19 ini aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi seseorang yang lebih tangguh dari sebelumnya, menjadi orang tangguh yang bisa lebih menghormati alam.
Tenang yang pernah kurasakan tak pernah setenang ketika membuka telinga,
menikmati suara deru angin yang saling bersahutan
Tentram yang pernah kurasakan tak pernah setentram ketika mengangkat tangan,
menikmati pelukan mesra kabut yang terhempas angin
Damai yang pernah kurasakan tak pernah sedamai ketika memejamkan mata,
menikmati sentuhan air yang berkejaran dengan kabut
Satu rasa yang belum pernah kurasakan,
menikmati badai di hari ulang tahunku
Selamat ulang tahun untuk aku! Terima kasih merapi!
Aku sayang Ibu, Bapak, kakak, keluarga, sahabat, teman, dan alam!
Aku syukuri keberanian hidup!
Pukul 23.33
26 juni 2011
Luthfil Hadi
ih aku ge hari jumat lahirnya.,
BalasHapuswah? terus-terus? :p
BalasHapustidak terus-terus :p
BalasHapus