20130626

Dialog Keempat: Tamparan Keras!

"datangi ibumu... rasakan getarannya.. dalam dirinya ada keberkahanmu, keajaibanmu, asal kau tau cara mendapatkannya..." 
-Saptuari Sugiharto-

Tak perlu panjang lebar.. Aku rindu Ibu..

Dialog Ketiga: Berputar!

I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books.
I don’t know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
I don’t know if I should
I don’t know if I could
(ride a white swan)

I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books.
I don’t know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
How could you say you paid attention
keep making the same mistake?
How could you say you paid attention
keep making the same mistake?
same mistake

I don’t know if I could
(ride a white swan)
I don’t know if I should
(ride the tide now)
I don’t know if I could
(ride a white swan)
I don’t know if I should
(ride the tide now)

Conundrum - The SIGIT
 
Sulit menentukan bukan? Benar dan salah memang ditentukan pada apa yang berkembang di masyarakat. Pembentukan opini besar-besaran. Bahwasanya kehidupan ini harus dilakukan dengan sesuatu yang selalu benar. Dan kesalahan itu harus dihindari. Tanpa tahu dari mana benar dan salah itu ditentukan. Hanya opini yang terbentuk secara sengaja, teratur, dan terus menerus dilakukan/diulang.
 
Sejak manusia bisa mengingat, sejak itulah pembentukan opini dimulai tentang benar dan salah. Enak bukan? Tanpa harus mencari dan mencoba, benar dan salah itu sudah dijejalkan di setiap sudut pemikiran mereka yang dapat mengingat. Dan dibuktikan dengan apa yang bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung. Padahal itu hanya perputaran dari yang sebelumnya. Hal yang sama yang terus dilakukan. 
 
Ada yang ingin melakukan perubahan? Ah, perubahan itu sendiri dibentuk untuk membentuk opini yang berbeda namun sama. Hanya arahnya saja dirubah. Karena perubahan dilakukan karena melihat ada suatu lubang dijalurnya. Tetapi perubahan itu pun hanya akan menghasilkan lubang lain. Lebih baik daripada tidak sama sekali? Itupun hasil dari pembentukan di kalangan masyarakat luas. Percaya bahwa bergerak dan melakukan perubahan itu akan menuju ke arah yang lebih baik. Satu lubang dihindari ketika ditemukan. Dan lubang lain pun lama-lama akan ditemukan juga. Tanpa perlu dicari. Tunggu saja..

Kehidupan ini berputar. Sudah ada contohnya. Tinggal ikuti saja. Manusia-manusia di masa datang akan mempelajari manusia di masa sekarang. Manusia-manusia di masa sekarang mempelajari dari masa lalu. Yang seharusnya disadari, masa datang pun akan menjadi masa lalu. Tidak ada yang berbeda. Hingga menjadi bingung apa yang seharusnya dilakukan. 

Ikuti saja apa yang sedang berkembang. Dengan begitu lama-lama akan bisa membentuk opini yang diinginkan. Begitu seterusnya.
 


20130625

Dialog Kedua: Berkarya!

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.
Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” 
-Buya Hamka-

Bagaimana menjalani hidup ketika tujuan pun belum ditentukan. 
Apakah hidup yang telah dijalani telah berada di jalur yang tepat?
Bagaimana jika tidak?
Kembali ke sudut pikiran yang pernah terlupakan.
Merasa tak pernah bergerak.
Tak juga merasa terlindas.
Ada hal-hal yang tidak memerlukan alasan untuk memperjelasnya. 
Jalani saja?
Babi di hutan pun menjalani hidupnya lurus-lurus saja. 
Menjadi daging asap jika tertembak pemburu. 
Bahkan monyet pun terus berlatih dari satu pohon ke pohon yang lain.
Terjatuh?
Naik lagi saja.
Diamnya manusia sudah lebih dari sekadar babi di hutan dan atau monyet yang bergelantungan.
Diamnya manusia juga adalah sebuah karya.
  

Dialog Pembuka!

"Lemah sekali aku menjadi manusia."

"Iya, lemah! Pikiranmu hanya bagaimana caranya menghasilkan uang. Menghasilkan uang untuk mendapatkan bahagia. Kau betul-betul lemah. Menjadi seorang setan pun tak pantas." ujar Tuan Setan sambil tekekeh.

"Aku merindukan Ibu."

"Untuk merengek supaya Ibumu memintakan uang terhadap Bapakmu? Untuk memenuhi segala kebutuhanmu? Tak malu dengan umurmu?" Tuan Setan tertawa kencang. "Kau terlalu lemah dan bodoh sebagai manusia." Tuan Setan tertawa penuh kemenangan.

"JANCUUUUUUUUK KOE SETAAAAAN!!!!"

"HAHAHAHAHAHAHAAH" Tuan Setan tertawa semakin kencang.

20130622

Menjadi gila sepertinya mengasyikkan

Pernah berpikiran bahwa menjadi gila itu sungguh mengasyikkan? 

Terbangun dari tidur yang lumayan panjang dan kemudian merasa bahwa aku sebenarnya baru saja mulai tertidur. Aku baru saja mengakhiri kehidupan nyataku di alam mimpi. Seperti merasa satu dari banyaknya nyawa yang tersebar ketika tidur tidak kembali. Tertinggal di alam mimpi. Aku sering mengalami berbagai kejadian yang terasa begitu sangat nyata di alam bawah sadarku. Seperti peperangan yang begitu dahsyat namun tidak jelas apa yang aku bela dari peperangan itu. Atau tragedi kecelakaan pesawat komersil yang entah kenapa bisa melewati daerah yang jauh dari jalur penerbangannya. Tentang balapan motor yang selalu saja aku berada di paling belakang tapi bisa berdiri di atas podium, juara pertama. Nyata tapi tidak jelas alurnya. Aku menyukainya. Menyukai ketidakjelasan yang terjadi yang diperagakan oleh alam bawah sadarku. Terkadang aku merasakan aku bisa mengontrol mimpi sesuai keinginanku karena aku menyadari ada dalam kondisi mimpi. Tapi sesuatu tentang ketidakjelasan alur merupakan sesuatu yang aku nikmati. 

Teringat tiga tahun yang lalu, aku mengalami ketidakjelasan dan ketidakteraturan dalam membuat alur kehidupan di dunia nyata. Ketidakjelasan dan ketidakteraturan yang secara sadar diinginkan oleh aku. Dan secara nyata akulah yang mengatur ketidakteraturan dalam kehidupanku. Jujur saja aku menikmatinya. Menjadi satu-satunya orang yang tentu saja mengetahui kehidupanku sendiri. Bebas mengatur kemana aku akan melangkah. Bebas bercerita tentang apa yang aku lakukan di hari itu walaupun pada kenyataannya tidak melakukan apapun. Berlangsung lumayan lama, dengan berbagai macam proses yang semakin hebat dalam aku membentuk suatu ketidakjelasan itu. Hingga akhirnya aku merasa aku terlalu menikmatinya dan itu akan menyebabkan suatu kekacauan apabila aku terlalu menikmati suatu hal yang aku lakukan. Hingga aku mencari suatu hal lainnya yang baru. Iya, aku meninggalkan ketidakjelasan itu.  Sangat disayangkan karena aku benar-benar menikmatinya. 

Aku mencuci wajah, kemudian menggosok gigi. Keluar untuk minum segelas air. Ketika aku baru keluar dari rumah, ada seorang yang memunguti sampah. Iya, tukang sampah keliling. Pikiranku melayang selama beberapa jam tapi keadaan sebenarnya aku hanya berjalan keluar rumah dan berjalan ke warung untuk membeli sesuatu. Pikiranku mencoba menjadi si tukang sampah yang lihat itu. Bagaimana kehidupannya selama ini, tentang keluarganya. Apakah pekerjaannya itu pekerjaan turun temurun dari keluarga sebelumnya? Atau itu merupakan suatu kesialan karena hanya dia yang mengalaminya? Aku menjadi seorang pengusaha kaya raya. Seorang pemimpin sebuah perusahaan multinasional yang merupakan warisan dari orang tuaku. Tetapi aku mengalami kerugian yang sangat besar hingga akhirnya perusahaanku diambil alih oleh pesaingku dan aku hanya bisa menjadi tukang sampah saat ini. Mungkin nanti anak-anakku yang akan mengambil kembali perusahaan yang dulu pernah dibesarkan oleh ayahku. Sekarang aku hanya berusaha mengumpulkan modal untuk biaya sekolah anak-anakku nanti.  Ah, rumit sekali menjadi tukang sampah ternyata. 

Aku kembali masuk ke dalam kamar. Siaran berita di televisi sangat tidak menarik buatku. Isinya hanya cerita yang direka untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Tidak menarik. Di sudut kamar aku melihat ada bungkusan nasi sisa yang tidak termakan. Secara visual aku melihat seorang anak-anak yang secara terpaksa mengemis di perempatan jalan. Aku sendiri akan menyeberang ke pos polisi yang ada di belakang pengemis cilik itu. Masih menunggu lampu lalu lintas menjadi merah. Pikiranku melambung, kemana orang tua bocah-bocah itu? Sungguh tidak beruntung sekali bocah-bocah itu. Untuk makan saja harus berpanas-panasan dan menghirup asap kendaraan bermotor dulu. 

Tanganku mengarah ke laptop yang sudah dua hari tidak aku matikan, membuka browser dan mengetikkan “Penghasilan pengamen jalanan” di kota pencari. Aku buka beberapa hasil dari pencarian mesin pencari. Tertulis penghasilan pengamen di salah satu mkota kecil di bagian barat pulau jawa minimal seratus ribu. Berarti sebulan pengamen itu mendapatkan uang paling sedikit sejumlah tiga juta rupiah. Wow! Aku yang seorang mahasiswa masih mengandalkan belas kasihan orang tuaku. Menghabiskan uang orang tuaku untuk bertahan hidup di kota orang. Merasa malu? Terntu. Tapi aku tidak berani mengarahkan khayalanku menjadi seorang pengamen.

Perutku mulai terasa tidak enak. Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali aku memberikan makan kepada cacing-cacing di dalam perut ini. Tapi nafsu untuk makan mengalahkan ingatanku. Aku meluncur ke warung makan terdekat. Melewati sebuah sekolah menengah atas. Benar-benar menengah ke atas sekolah yang baru saja aku lewati itu. Aku melewati sekolah itu berpas-pasan dengan waktu pulang siswa siswinya. Mereka mengendari mobil. Aku perhatikan, mobil paling murah adalah city car keluaran honda yang diminati kaum muda perempuan. Apa pekerjaan orang tua mereka? Aku yakin itu bukan dari hasil kerja keras mereka. Karena akupun menggunakan sepeda motor yang merupakan titipan dari orang tua. Seperti apa usaha dari orang tua mereka itu sampai bisa memberikan kendaraan mewah untuk ditumpangi. Haruskah aku menjadi kaya ketika tua nanti dan memberikan kemewahan untuk anak-anakku nanti?

Jalanan semakin hari semakin penuh saja oleh kendaraan-kendaraan yang pengemudinya tampak sibuk. Padahal BBM baru saja naik untuk yang keempat kalinya oleh presiden yang sama. Padahal sebelumnya banyak sekali orang berdemo untuk tidak menaikkan harga BBM. BBM naik maka harga barang-barang akan naik pula. Ah, kenapa harus membeli banyak barang kalau memang tidak perlu? 

Menikmati semua ketidakjelasan dan ketidakteraturan hidup tanpa perlu mempedulikan komentar dan pendapat orang lain. Begitu pula dengan ketidakjelasan tulisanku ini, aku menikmatinya ketika aku menuliskannya. 

Ah, menjadi gila sepertinya mengasyikkan.


20130606

Tragedi Pesawat Jatuh


Aku sedang menonton orang bermain layangan di suatu lapangan. Lebih tepatnya adalah halaman parkir sebuah penginapan yang biasanya diisi oleh para supir truk antar kota. Ah, aku ingat! Saat itu pastinya adalah siang menuju sore. Karena baru ada beberapa layangan saja yang terbang. Ada satu layangan yang terbang sangat tinggi dibandingkan dengan layangan yang biasanya mampu terbang. "Panjang sekali benang yang anak itu punya."  pikirku. Tiba-tiba saja dari arah selatan ada pesawat komersil berukuran besar yang melintas. Timbul pertanyaan dibenakku, daerah tempat aku tinggal bukanlah jalur pesawat komersil. Ah masa bodo lah.
Tiba-tiba pesawat itu menabrak sebuah layangan dan kemudian pesawat itu menukik tajam ke arah timur. Tak berapa lama terdengar suara ledakan. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju arah pesawat tadi jatuh. Aku berlari keluar gang menuju jalan raya. Kemudian berbelok ke kiri. Banyak juga orang-orang yang berlari menuju sumber ledakan tadi. "Ada pesawat jatuh.." "Itu di SMP 1." "Ada apa ramai-ramai?" begitulah, ada yang sudah tahu kejadiannya, ada yang masih bertanya-tanya kenapa. Riuh sekali di jalan raya itu. Aku langsung menuju ke SMP 1 yang banyak dibicarakan orang. Sebelum perempatan andalas, aku berhenti sejenak. Tepat di depan kantor polisi. Anehnya, tak ada satupun polisi yang sibuk untuk mengamankan kota. Bahkan bisa dikatakan kantor polisi sedang kosong. Hanya beberapa tukang becak yang masih melihat ke arah timur langit. Entah apa yang mereka bicarakan.
Aku berlari lagi setelah itu. Terlihat sudah banyak sekali orang berkerumun di depan pagar SMP 1. Anehnya, orang-orang itu berkerumun begitu rapi. Mereka berbaris selayaknya orang sedang membeli tiket di bioskop. Iya, mereka antri untuk melihat bangkai pesawat yang jatuh di dalam SMP 1. Aku jelas tidak mau ikut mengantri. Aku langsung menuju gerbang belakang SMP 1 itu. Aku berhasil menerobos pagar. Di dalam ternyata lebih kacau. Sangat kacau. Aku menuju lorong lab biologi. Kemudian berhenti di situ dan memperhatikan area jatuhnya pesawat.
Beruntung! pikirku. Tidak ada bangunan yang hancur. Pesawat jatuh tepat di lapangan upacara yang sedang kosong. Ledakannya pun tidak terlalu jauh areanya. Ada tali pembatas di sekitar lapangan tersebut. Di bagian dalam tali pembatas tersebut beberapa orang yang mungkin tim penyelamat berlalu lalang. Terlihat beberapa menggotong mayat yang terbakar. Aku melihat beberapa korban meninggal dengan bagian tubuh yang sudah tercerai. Ngeri. Tim penyelamat menumpuk korban meninggal yang rata-rata sudah menjadi daging yang terpisah di bagian pojok timur laut lapangan. Ah, ada bibiku menjadi salah satu tim penyelamat. Satu buah kepala. Iya, hanya kepalanya saja. Dilemparkan tim penyelamat ke tumpukan daging korban tadi.
Aku beralih ke pesawat yang terbelah dibagian perutnya. Masih ada sisa api di sana. Tenda-tenda darurat disekitarnya dibangun untuk tim penyelidik. Untuk korban pun disediakan tenda. Semakin banyak saja potongan-potongan daging tubuh manusia yang dikeluarkan dari dalam pesawat. Aku mulai mual melihatnya. Aku keluar dari SMP 1 itu. Berlari menuju area perumahan di belakang SMP 1.  bersambung......
 

20130602

Random Padahal Juni


Sudah Bulan Juni lagi,berharap ada sesuatu yang baru dan asyik di bulan ini. Saya saat ini sedang berada di bengkel resmi suatu pabrikan kendaraan bermotor ternama di Indonesia. Di ruang tunggu servis motor lebih tepatnya. Lama sekali saya tidak menulis tentang apapun. Terlalu banyak berpikir sepertinya. Bulan lalu saya memikirkan bagaimana caranya menuliskan tentang mimpi saya tentang sebuah kecelakan pesawat yang sangat dahsyat. Iya, mimpi. Bunga tidur. Bukan mimpi yang berarti cita-cita. Saya terlalu memikirkan bagaimana konsep untuk menceritakan bunga tidur itu. Bagaimana supaya mimpi yang saya alami menjadi menarik untuk diceritakan. Bisa membuat pembaca terkesima (mungkin).
Ada lagi tentang menceritakan Pantai Siung yang berada di Selatan Yogyakarta. Aaah, begitu juga menceritakan Merapi di Utaranya. Lagi-lagi terpaku tentang konsep. Konsep yang bagaimana caranya bisa membuat pembaca menjadi tertarik. Terlalu mengharapkan imbalan akhir-akhir ini dalam menulis. Padahal menurut Ayah Pidi, “... ketika kamu sibuk berpikir mencari inspirasi, orang lain justeru sedang berkarya tanpa banyak pikiran.”. Iya, saya terlalu banyak berpikir dalam menuangkan karya. Seharusnya saya bisa menceritakan tentang kecelakaan pesawat, Pantai Siung, dan Merapi itu apa adanya saja. Tanpa harus terlalu banyak berpikir.
Di samping saya ada seorang pemuda tanggung berambut cepak dengan kaos merah dan celana kain ngatung. Dari tadi nggak banyak bergerak. Apa yang ada dipikirannya? Mungkin hanya menunggu motornya selesai di servis.
Iya, terlalu banyak berpikir. Awal Bulan Mei yang membuat saya terlalu berpikir dalam menuangkan karya. Saat itu ada saya mengikuti sebuah sharing tentang bagaimana tulisan yang kita buat bisa dihargai (harga dalam artian sesungguhnya) oleh orang lain. Saya sedikitnya terdoktrin untuk melakukan itu. Untuk membuat karya dalam bentuk tulisan yang benar-benar terkonsep yang bisa dihargai oleh orang. Atau beberapa bulan sebelum Mei, ketika ada seorang penulis yang kebetulan saya bisa berbincang dengannya mengatakan “...tulisan kita setidaknya harus bisa dimuat di surat kabar...”, mengharapkan sebuah penghargaan lagi?
Tapi memang dengan dihargainya tulisan kita, bisa melihat seberapa jauh kita berkembang dalam menulis. Termotivasi oleh penghargaan setidaknya. Tapi dari dulu saya tidak terlalu tertarik dengan penghargaan yang orang berikan terhadap apapun yang saya lakukan. Jadi saya sedikit merasa bersalah karena sedikit terdoktrin oleh mereka.
Hmmm, bukan mereka juga sih yang salah. Tapi dari saya pribadi yang mengharapkan penghargaan atas buah pikir saya. Seharusnya mungkin saya menulis ya tinggal menulis. Berkarya ya tinggal berkarya. Kemudian di publish dan apapun bentuk penghargaanya harus saya terima. Begitu. Jadi ada konsep yang keliru di Bulan Mei ini. Saya terlalu banyak berpikir sebuah konsep untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain atas karya saya. Seharusnya saya berkarya dengan konsep yang mengalir di otak, masalah penghargaan itu urusan mereka yang membaca. Begitu mungkin seharusnya.
Bulan Mei juga, ada sedikit ketidak terkontronlnya masalah keuangan. Tidak ada catatan pasti mengenai pengeluaran dan kebutuhan saya di bulan ini. Oh iya, ada orang yang sedang duduk di belakang saya sedang memperhatikan apa yang saya tulis. Terlalu mengeluarkan untuk apa yang saya tidak butuhkan. Ngidam bahasa ibu hamilnya. Tidak butuh tapi harus dipenuhi.
Apa lagi? Cukup saja lah dulu. Saya mau ngambil uang untuk biaya servis.