20130602

Random Padahal Juni


Sudah Bulan Juni lagi,berharap ada sesuatu yang baru dan asyik di bulan ini. Saya saat ini sedang berada di bengkel resmi suatu pabrikan kendaraan bermotor ternama di Indonesia. Di ruang tunggu servis motor lebih tepatnya. Lama sekali saya tidak menulis tentang apapun. Terlalu banyak berpikir sepertinya. Bulan lalu saya memikirkan bagaimana caranya menuliskan tentang mimpi saya tentang sebuah kecelakan pesawat yang sangat dahsyat. Iya, mimpi. Bunga tidur. Bukan mimpi yang berarti cita-cita. Saya terlalu memikirkan bagaimana konsep untuk menceritakan bunga tidur itu. Bagaimana supaya mimpi yang saya alami menjadi menarik untuk diceritakan. Bisa membuat pembaca terkesima (mungkin).
Ada lagi tentang menceritakan Pantai Siung yang berada di Selatan Yogyakarta. Aaah, begitu juga menceritakan Merapi di Utaranya. Lagi-lagi terpaku tentang konsep. Konsep yang bagaimana caranya bisa membuat pembaca menjadi tertarik. Terlalu mengharapkan imbalan akhir-akhir ini dalam menulis. Padahal menurut Ayah Pidi, “... ketika kamu sibuk berpikir mencari inspirasi, orang lain justeru sedang berkarya tanpa banyak pikiran.”. Iya, saya terlalu banyak berpikir dalam menuangkan karya. Seharusnya saya bisa menceritakan tentang kecelakaan pesawat, Pantai Siung, dan Merapi itu apa adanya saja. Tanpa harus terlalu banyak berpikir.
Di samping saya ada seorang pemuda tanggung berambut cepak dengan kaos merah dan celana kain ngatung. Dari tadi nggak banyak bergerak. Apa yang ada dipikirannya? Mungkin hanya menunggu motornya selesai di servis.
Iya, terlalu banyak berpikir. Awal Bulan Mei yang membuat saya terlalu berpikir dalam menuangkan karya. Saat itu ada saya mengikuti sebuah sharing tentang bagaimana tulisan yang kita buat bisa dihargai (harga dalam artian sesungguhnya) oleh orang lain. Saya sedikitnya terdoktrin untuk melakukan itu. Untuk membuat karya dalam bentuk tulisan yang benar-benar terkonsep yang bisa dihargai oleh orang. Atau beberapa bulan sebelum Mei, ketika ada seorang penulis yang kebetulan saya bisa berbincang dengannya mengatakan “...tulisan kita setidaknya harus bisa dimuat di surat kabar...”, mengharapkan sebuah penghargaan lagi?
Tapi memang dengan dihargainya tulisan kita, bisa melihat seberapa jauh kita berkembang dalam menulis. Termotivasi oleh penghargaan setidaknya. Tapi dari dulu saya tidak terlalu tertarik dengan penghargaan yang orang berikan terhadap apapun yang saya lakukan. Jadi saya sedikit merasa bersalah karena sedikit terdoktrin oleh mereka.
Hmmm, bukan mereka juga sih yang salah. Tapi dari saya pribadi yang mengharapkan penghargaan atas buah pikir saya. Seharusnya mungkin saya menulis ya tinggal menulis. Berkarya ya tinggal berkarya. Kemudian di publish dan apapun bentuk penghargaanya harus saya terima. Begitu. Jadi ada konsep yang keliru di Bulan Mei ini. Saya terlalu banyak berpikir sebuah konsep untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain atas karya saya. Seharusnya saya berkarya dengan konsep yang mengalir di otak, masalah penghargaan itu urusan mereka yang membaca. Begitu mungkin seharusnya.
Bulan Mei juga, ada sedikit ketidak terkontronlnya masalah keuangan. Tidak ada catatan pasti mengenai pengeluaran dan kebutuhan saya di bulan ini. Oh iya, ada orang yang sedang duduk di belakang saya sedang memperhatikan apa yang saya tulis. Terlalu mengeluarkan untuk apa yang saya tidak butuhkan. Ngidam bahasa ibu hamilnya. Tidak butuh tapi harus dipenuhi.
Apa lagi? Cukup saja lah dulu. Saya mau ngambil uang untuk biaya servis. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar