Sudah Bulan Juni lagi,berharap ada sesuatu yang baru dan asyik di bulan
ini. Saya saat ini sedang berada di bengkel resmi suatu pabrikan kendaraan
bermotor ternama di Indonesia. Di ruang tunggu servis motor lebih tepatnya.
Lama sekali saya tidak menulis tentang apapun. Terlalu banyak berpikir
sepertinya. Bulan lalu saya memikirkan bagaimana caranya menuliskan tentang
mimpi saya tentang sebuah kecelakan pesawat yang sangat dahsyat. Iya, mimpi.
Bunga tidur. Bukan mimpi yang berarti cita-cita. Saya terlalu memikirkan
bagaimana konsep untuk menceritakan bunga tidur itu. Bagaimana supaya mimpi
yang saya alami menjadi menarik untuk diceritakan. Bisa membuat pembaca
terkesima (mungkin).
Ada lagi tentang menceritakan Pantai Siung yang berada di Selatan
Yogyakarta. Aaah, begitu juga menceritakan Merapi di Utaranya. Lagi-lagi
terpaku tentang konsep. Konsep yang bagaimana caranya bisa membuat pembaca
menjadi tertarik. Terlalu mengharapkan imbalan akhir-akhir ini dalam menulis.
Padahal menurut Ayah Pidi, “... ketika
kamu sibuk berpikir mencari inspirasi, orang lain justeru sedang berkarya tanpa
banyak pikiran.”. Iya, saya terlalu banyak berpikir dalam menuangkan karya.
Seharusnya saya bisa menceritakan tentang kecelakaan pesawat, Pantai Siung, dan
Merapi itu apa adanya saja. Tanpa harus terlalu banyak berpikir.
Di samping saya ada seorang pemuda tanggung berambut cepak dengan kaos
merah dan celana kain ngatung. Dari
tadi nggak banyak bergerak. Apa yang
ada dipikirannya? Mungkin hanya menunggu motornya selesai di servis.
Iya, terlalu banyak berpikir. Awal Bulan Mei yang membuat saya terlalu
berpikir dalam menuangkan karya. Saat itu ada saya mengikuti sebuah sharing tentang bagaimana tulisan yang
kita buat bisa dihargai (harga dalam artian sesungguhnya) oleh orang lain. Saya
sedikitnya terdoktrin untuk melakukan itu. Untuk membuat karya dalam bentuk
tulisan yang benar-benar terkonsep yang bisa dihargai oleh orang. Atau beberapa
bulan sebelum Mei, ketika ada seorang penulis yang kebetulan saya bisa
berbincang dengannya mengatakan “...tulisan
kita setidaknya harus bisa dimuat di surat kabar...”, mengharapkan sebuah
penghargaan lagi?
Tapi memang dengan dihargainya tulisan kita, bisa melihat seberapa jauh
kita berkembang dalam menulis. Termotivasi oleh penghargaan setidaknya. Tapi
dari dulu saya tidak terlalu tertarik dengan penghargaan yang orang berikan
terhadap apapun yang saya lakukan. Jadi saya sedikit merasa bersalah karena
sedikit terdoktrin oleh mereka.
Hmmm, bukan mereka juga sih yang salah. Tapi dari saya pribadi
yang mengharapkan penghargaan atas buah pikir saya. Seharusnya mungkin saya
menulis ya tinggal menulis. Berkarya ya tinggal berkarya. Kemudian di publish dan apapun bentuk penghargaanya
harus saya terima. Begitu. Jadi ada konsep yang keliru di Bulan Mei ini. Saya
terlalu banyak berpikir sebuah konsep untuk mendapatkan penghargaan dari orang
lain atas karya saya. Seharusnya saya berkarya dengan konsep yang mengalir di
otak, masalah penghargaan itu urusan mereka yang membaca. Begitu mungkin
seharusnya.
Bulan Mei juga, ada sedikit ketidak terkontronlnya masalah keuangan.
Tidak ada catatan pasti mengenai pengeluaran dan kebutuhan saya di bulan ini.
Oh iya, ada orang yang sedang duduk di belakang saya sedang memperhatikan apa
yang saya tulis. Terlalu mengeluarkan untuk apa yang saya tidak butuhkan. Ngidam bahasa ibu hamilnya. Tidak butuh
tapi harus dipenuhi.
Apa lagi? Cukup saja lah dulu. Saya mau ngambil uang untuk biaya servis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar