Pernah
berpikiran bahwa menjadi gila itu sungguh mengasyikkan?
Terbangun dari
tidur yang lumayan panjang dan kemudian merasa bahwa aku sebenarnya baru saja
mulai tertidur. Aku baru saja mengakhiri kehidupan nyataku di alam mimpi.
Seperti merasa satu dari banyaknya nyawa yang tersebar ketika tidur tidak
kembali. Tertinggal di alam mimpi. Aku sering mengalami berbagai kejadian yang
terasa begitu sangat nyata di alam bawah sadarku. Seperti peperangan yang
begitu dahsyat namun tidak jelas apa yang aku bela dari peperangan itu. Atau
tragedi kecelakaan pesawat komersil yang entah kenapa bisa melewati daerah yang
jauh dari jalur penerbangannya. Tentang balapan motor yang selalu saja aku
berada di paling belakang tapi bisa berdiri di atas podium, juara pertama.
Nyata tapi tidak jelas alurnya. Aku menyukainya. Menyukai ketidakjelasan yang
terjadi yang diperagakan oleh alam bawah sadarku. Terkadang aku merasakan aku
bisa mengontrol mimpi sesuai keinginanku karena aku menyadari ada dalam kondisi
mimpi. Tapi sesuatu tentang ketidakjelasan alur merupakan sesuatu yang aku
nikmati.
Teringat tiga
tahun yang lalu, aku mengalami ketidakjelasan dan ketidakteraturan dalam
membuat alur kehidupan di dunia nyata. Ketidakjelasan dan ketidakteraturan yang
secara sadar diinginkan oleh aku. Dan secara nyata akulah yang mengatur
ketidakteraturan dalam kehidupanku. Jujur saja aku menikmatinya. Menjadi satu-satunya
orang yang tentu saja mengetahui kehidupanku sendiri. Bebas mengatur kemana aku
akan melangkah. Bebas bercerita tentang apa yang aku lakukan di hari itu
walaupun pada kenyataannya tidak melakukan apapun. Berlangsung lumayan lama,
dengan berbagai macam proses yang semakin hebat dalam aku membentuk suatu
ketidakjelasan itu. Hingga akhirnya aku merasa aku terlalu menikmatinya dan itu
akan menyebabkan suatu kekacauan apabila aku terlalu menikmati suatu hal yang
aku lakukan. Hingga aku mencari suatu hal lainnya yang baru. Iya, aku
meninggalkan ketidakjelasan itu. Sangat
disayangkan karena aku benar-benar menikmatinya.
Aku mencuci
wajah, kemudian menggosok gigi. Keluar untuk minum segelas air. Ketika aku baru
keluar dari rumah, ada seorang yang memunguti sampah. Iya, tukang sampah
keliling. Pikiranku melayang selama beberapa jam tapi keadaan sebenarnya aku
hanya berjalan keluar rumah dan berjalan ke warung untuk membeli sesuatu.
Pikiranku mencoba menjadi si tukang sampah yang lihat itu. Bagaimana
kehidupannya selama ini, tentang keluarganya. Apakah pekerjaannya itu pekerjaan
turun temurun dari keluarga sebelumnya? Atau itu merupakan suatu kesialan
karena hanya dia yang mengalaminya? Aku menjadi seorang pengusaha kaya raya.
Seorang pemimpin sebuah perusahaan multinasional yang merupakan warisan dari
orang tuaku. Tetapi aku mengalami kerugian yang sangat besar hingga akhirnya
perusahaanku diambil alih oleh pesaingku dan aku hanya bisa menjadi tukang
sampah saat ini. Mungkin nanti anak-anakku yang akan mengambil kembali
perusahaan yang dulu pernah dibesarkan oleh ayahku. Sekarang aku hanya berusaha
mengumpulkan modal untuk biaya sekolah anak-anakku nanti. Ah, rumit sekali menjadi tukang sampah
ternyata.
Aku kembali
masuk ke dalam kamar. Siaran berita di televisi sangat tidak menarik buatku.
Isinya hanya cerita yang direka untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Tidak
menarik. Di sudut kamar aku melihat ada bungkusan nasi sisa yang tidak
termakan. Secara visual aku melihat seorang anak-anak yang secara terpaksa
mengemis di perempatan jalan. Aku sendiri akan menyeberang ke pos polisi yang
ada di belakang pengemis cilik itu. Masih menunggu lampu lalu lintas menjadi
merah. Pikiranku melambung, kemana orang tua bocah-bocah itu? Sungguh tidak
beruntung sekali bocah-bocah itu. Untuk makan saja harus berpanas-panasan dan
menghirup asap kendaraan bermotor dulu.
Tanganku
mengarah ke laptop yang sudah dua hari tidak aku matikan, membuka browser dan
mengetikkan “Penghasilan pengamen jalanan” di kota pencari. Aku buka beberapa
hasil dari pencarian mesin pencari. Tertulis penghasilan pengamen di salah satu
mkota kecil di bagian barat pulau jawa minimal seratus ribu. Berarti sebulan
pengamen itu mendapatkan uang paling sedikit sejumlah tiga juta rupiah. Wow!
Aku yang seorang mahasiswa masih mengandalkan belas kasihan orang tuaku.
Menghabiskan uang orang tuaku untuk bertahan hidup di kota orang. Merasa malu?
Terntu. Tapi aku tidak berani mengarahkan khayalanku menjadi seorang pengamen.
Perutku mulai
terasa tidak enak. Aku berusaha mengingat kapan terakhir kali aku memberikan
makan kepada cacing-cacing di dalam perut ini. Tapi nafsu untuk makan mengalahkan
ingatanku. Aku meluncur ke warung makan terdekat. Melewati sebuah sekolah
menengah atas. Benar-benar menengah ke atas sekolah yang baru saja aku lewati
itu. Aku melewati sekolah itu berpas-pasan dengan waktu pulang siswa siswinya.
Mereka mengendari mobil. Aku perhatikan, mobil paling murah adalah city car
keluaran honda yang diminati kaum muda perempuan. Apa pekerjaan orang tua
mereka? Aku yakin itu bukan dari hasil kerja keras mereka. Karena akupun menggunakan
sepeda motor yang merupakan titipan dari orang tua. Seperti apa usaha dari
orang tua mereka itu sampai bisa memberikan kendaraan mewah untuk ditumpangi.
Haruskah aku menjadi kaya ketika tua nanti dan memberikan kemewahan untuk
anak-anakku nanti?
Jalanan semakin
hari semakin penuh saja oleh kendaraan-kendaraan yang pengemudinya tampak
sibuk. Padahal BBM baru saja naik untuk yang keempat kalinya oleh presiden yang
sama. Padahal sebelumnya banyak sekali orang berdemo untuk tidak menaikkan
harga BBM. BBM naik maka harga barang-barang akan naik pula. Ah, kenapa harus
membeli banyak barang kalau memang tidak perlu?
Menikmati semua
ketidakjelasan dan ketidakteraturan hidup tanpa perlu mempedulikan komentar dan
pendapat orang lain. Begitu pula dengan ketidakjelasan tulisanku ini, aku
menikmatinya ketika aku menuliskannya.
Ah, menjadi
gila sepertinya mengasyikkan.