20130323

Dia!

Di antara tirai-tirai kesunyian yang diselimuti keraguan matahari pagi..
Kebekuan rindu malam hari yang perlahan mencair..

Ramai sekali pagi ini. Banyak sekali aku yang berlalulalang di hadapanku. Beberapa di antaranya bertanya tentang sebuah kepastian. Yang lainnya tentang keberanian.
Dalam beberapa hal, kehidupan ini memang tentang sebuah keberanian dalam memastikan.
Sebuah keputusan memang sudah selayaknya dibicarakan.
Tak seharusnya membiarkan gerimis menguasai pagi. Yang menjadikan matahari menjadi dinanti.


Lantai keramik yang dingin 
24/01/2013 07:49 

  

20130114

Pertanyaan!

Mari berdialog! Ciptakan pertanyaan!

20130105

Embuh

Dan yang aku nikmati pagi ini adalah jari-jarinya yang lembut yang menggerakkan pena gambar di atas plastik yang baru saja kosong. Butir-butir pasir putih di kakinya.
“Sudahlah jangan kau gambari terus gelas plastik itu.” ujarku sambil memainkan kaki di buih-buih ombak.
“Habiskan saja dulu kopi di gelasmu itu. Ingin aku lukis juga gelas plastikmu.” tanpa mengalihkan pandangan matanya dari gelas di tangannya.
“Untuk apa?”
“Aku hanya ingin pada nantinya ketika aku melihat gelas-gelas ini, aku bisa mengingat bahwa kita pernah duduk berdua di sini. Memandang langit biru dengan awan bergelombang di batasnya. Menghirup bau ombak yang saling bersaut satu sama lain.”
“Menciptakan kenangan. Begitu maksudmu?”
“Mungkin. Tapi aku hanya menggambar saja. Tak lebih.”
“Plin-plan!” aku berdiri, kemudian berlari membasahi kakiku dengan air laut.
Pagi itu bau matahari bercampur bau ombak yang berisik bercampur. Menciptakan bau harum yang dapat aku ingat jelas ketika aku melihat gelas-gelas plastik yang dia gambar pada hari-hari berikutnya. Hari-hari ketika kenangan sudah tak bisa lagi diciptakan.

20121225

Random

Banyak perbedaan yang begitu terasa selama tiga bulan terkahir ini. Sebuah perjalanan waktu yang bisa dibilang sangat singkat. Iya, tiga bulan. Kurang malah. Tak lebih dari 90 hari. Bisa dibilang selama tiga bulan terkahir ini aku kembali ke kehidupan sekitar tiga tahun yang lalu. Yang mana berinteraksi dengan orang lain merupakan suatu keharusan, bukan kebutuhan.


Keharusan, ada unsur keterpaksaan di dalamnya. Kebutuhan, di situ hanya berbicara sebuah pilihan. 

Untuk sementara ini (bila dibandingkan dengan dua tahun terkahir), jelas aku lebih merasa nyaman dengan kata kebutuhan. Ketika aku bisa memilih apa yang akan aku lakukan dengan lepas. Jelas nyaman ketika tak ada batasan dan kepura-puraan dalam berinteraksi. Tak perlu mengatur pembicaraan. Tak perlu mengatur janji untuk membicarakan sesuatu dengan manusia lain. Lepas. Begitu sajalah yang nyaman menurutku.

Tapi kata orang-orang banyak bukankah kehidupan di luar sana memang seperti melaksanakan suatu keharusan? Yang walaupun ada keterpaksaan dalam melakukannya harus lah dilakukan. Yang ketika harus berinteraksi dengan manusia lain ada unsur kepura-puraan di dalamnya. 

Jujur saja, aku lebih nyaman dengan hal yang mengalir begitu saja. Yang tak harus direncanakan terlalu matang. Toh kejutan-kejutan yang akan tercipta akan membuat semuanya lebih menarik. 

Cukuplah, sebelum lebih panjang lagi bercerita. Nanti malah terlalu banyak mengeluhnya. Malu dengan mereka yang sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Tapi mungkin mereka memang nyaman dengan keadaan seperti itu. Ataupun aku sendiri yang berbeda. 


20121224

Ke Entah Berantah

Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana

Dia bertingkah tiada bercela
Siapa kuasa?

Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana

Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa?

Dan kawan bawaku tersesat ke antah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat 
Bersiap terhempas ke tanda tanya

Dia bagai suara hangat senja
Senandung tanpa kata

Dia mengaburkan gelap rindu
Siapa kuasa?

Ke Entah Berantah - Banda Neira

20121218

Untitled

Di sore itu, ketika hujan turun membentuk tirai yang menghubungkan langit dan bumi. Sepasang manusia bersembunyi di antaranya. Berjalan di bawah kuningnya langit ufuk barat. Kadang berlari, bermain gemericik air. Kemudian berjalan lagi, menikmati gradasi warna langit senja.

Semburat kuning tembaga. Perlahan menjadi redup. Bayangan sepasang manusia itu menjadi satu. Di antara gelap yang akan menjadi terang. Tak ada bulan malamnya. Hanya pasir-pasir di langit biru yang berkilauan. Saling berkedip menggoda si wanita. Mencoba mengalihkan perhatiannya dari si pria.

Dingin. Begitu biasanya ketika si wanita tak bisa digoda. Senandung fajar seketika menggema di antara hembusan angin.

Si wanita perlahan terlelap. Si pria melihat ada bunga bersemi di antara cahaya yang masih kelabu.


Di Ujung Malam, 18 Desember 2012

20121206

Sebelum Senja

Di atas rumput pada suatu siang
Angin enggan bermain karena terik

Pandanganku tak jelas memandang arah
Rasa cemas menanti keadatangan seorang gadis
Padahal nada sungai mengalun lembut

Di atas rumput pada suatu siang
Ilalang hanya sesekali mengangguk di atas bukit

Fokusku pada jalan setapak sebelum belokan
Seorang gadis muncul dari ujungnya
Dengan senyum yang  menghias wajahnya

Suara angin perlahan mengalun
Lembut mencumbu daun-daun pada pohon di pinggir sungai

Waktu berjalan sangat lambat
Gadis itu masih tetap dengan senyumnya
Membentuk lesung di pipinya

Goresan warna biru di langit perlahan memudar

Gadis itu duduk disampingku
Angin mencumbu mesra rambutnya
Senyum lembutnya mengantarkan waktu pada senja

Sebelum Hujan Turun
Mungkin di awal Desember 2012