20120812

Tentang WC

WC adalah hal simpel yang mampu merubah hidup seseorang. Dan Toilet adalah tempat di mana dimulainya perubahan tersebut. Ketika sedang berada di Toilet, katakanlah ketika sedang melaksanakan boker, seorang manusia mampu menjelajahi pikirannya sendiri lebih luas daripada ketika berada di tempat lain. Sebagai contoh, saya sendiri mampu mengolah pikiran-pikiran sederhana menjadi hal-hal yang lebih kompleks. Hal yang biasanya terpikirkan sederhana di tempat selain Toilet, (kamar tidur misalnya) bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang saling berhubungan ketika sedang melaksanakan boker. 

Misalnya, ketika sedang berada di kamar tidur, saya memikirkan atau merindukan suatu makanan yang bernama Dodongkal. Dodongkal adalah makanan khas sunda yang (katanya) saat ini sudah menjadi makanan yang langka. Nah, di kamar tidur saya cuman bisa membayangkan Dodongkal saja. Iya, hanya Dodongkal, tanpa ada pemikiran lainnya. Saya cuman membayangkan betapa enaknya Dodongkal tersebut. Tapi, ketika berada di dalam Toilet, pikiran saya yang awalnya hanya sebuah Dodongkal bisa menjadi pemikiran yang mengarah ke bisnis. Ketika sedang nagog (baca: jongkok), kepikiran kenapa gak nyoba buat membuat bisnis Dodongkal saja? Dodongkal kan udah langka nih, tapi yang nyari masih banyak. Dan orang-orang nyari juga kebanyakan cuman sekadar nyari doang. Gak ada kepikiran buat ngeproduksi Dodongkal itu sendiri. Nah, masih di Toilet, langsung kepikiran juga di mana emak-emak yang biasa bikin Dodongkal itu berproduksi. Terus cara bikinnya gimana. Kalo udah bisa bikinnya mau di lempar kemana tuh Dodongkal buat di jual. Ajaib kan toilet?

Atau contoh lain, misalnya ketika sedang nonton acara musik di TV. Yang terjadi adalah hanya menonton. Menikmati. Tapi pas masuk ke Toilet? Kita bisa memikirkan suatu konsep sebuah lagu. Bikin puisi lah sederhananya. Konon katanya banyak orang mampu membuat puiklir si lebih indah ketika sedang nagog di WC. Atau tingkat romantis seorang lelaki lebih meningkat ketika sedang nagog itu. Sambil megang handphone, dia bisa lebih mudah merayu perempuan yang menjadi gebetannya. Dan konon katanya juga, rayuannya lebih sukses dari sekedar di ruangan lain. Heheh. Ajaib?

Atau banyak orang yang memikirkan cita-citanya di Toilet. Ketika sedang duduk atau nagog di WC. Kalau begitu berarti kita harus sangat berterima kasih kepada sang penemu WC dan Toilet. Karena WC dan Toilet sangat menginspirasi banyak orang. Katanya sih penemunya Sir John Harrington. Dari Inggris. 

Bayangkan, mungkin saja tanpa adanya Toilet, kita tak kan bisa mendengarkan karya karya agung dari Bob Dylan. Karena mungkin saja karya Bob Dylan sebagian dipikirkan ketika sedang di WC. Atau orang-orang gak bakal kenal yang namanya Iphone atau Ipad kalau gak ada WC. Gak menutup kemungkinan sang penemu Iphone dan Ipad menciptakan kedua benda tersebut karena ingin lebih sederhana lagi dalam membaca koran ketika sedang melaksanakan boker. Atau karya Kahlil Gibran tak kan seromantis itu membicarakan cinta jika tak ada WC. Orang-orang haruslah berterima kasih pada Sir John Harrington.

Tapi, bisa juga WC menjadi awal terjadinya bencana. Mungkin Hitler yang agung terpikir untuk membunuh para Yahudi berawal dari WC. Ketika Hitler kecil sedang bermain dan jajan di sebuah warung milik Yahudi, misalnya, terus dia sakit perut dan langsung ke WC. Bisa saja dia ingin membalas dendam atas sakit perutnya itu kepada si Yahudi. Mungkin saja kan. Atau Hiroshima dan Nagasaki tak kan menjadi korban bom nuklir kalau saja Oppenheimer gak menemukan bom atom. Bisa juga kan Oppenheimer kepikiran rumus-rumus yang canggih ketika sedang nagog di WC? Ah, berarti gak harus juga berterima kasih pada Sir John Harrington. 

Tapi terlepas dari itu, WC dan Toilet memang sanggup menciptakan pikiran-pikiran yang kritis terhadap para penggunanya. Edan lah WC sama Toilet itu. Maka, nikmatilah saat-saat kita sedang berada di WC untuk melaksanakan boker. :)

20120731

Memoria

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan rambut kelimis disisirkan ibu
dan baju seragam yang agak bau keringat hari rabu

aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan dengan lidah cadel dan kepala agak miring ke kanan
—yang kuhafal secara lengkap hampir tanpa kesalahan

aku ingin mencintaimu seperti menghafal lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kunyanyikan setiap saat dengan kaki-kaki kecil penuh semangat
mengentak lantai—meski kadang sumbang, kadang salah ketukan

aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang kuiringi dengan pukulan-pukulan kecil di bangku
sekolah yang tua dan rapuh, sambil menunggu giliran dipanggil guru
dengan dada berdebar, seperti dada pencuri tertangkap radar

aku ingin mencintaimu seperti lagu wajib di sekolah dasar dulu
lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana
—yang hanya meminta dirinya dinyanyikan
: itu saja!



Curhat Setan, 2009


*dari sebuah buku berudul: ""curhat setan":Karena berdosa membuatmu selalu bertanya"

20120710

Prolog I: duabelashari

...tak perlulah aku keliling dunia
biarkan ku disini...
 
"Tak perlulah aku keliling dunia..." penggalan lirik itu menjadi sebuah renungan yang sangat penting selama perjalanan di Pulau Lombok. Baru dua Pulau saja aku singgahi, itupun tak terlalu lama. Tapi banyak berbagai macam hal yang membuatku berdecak kagum.

Selama 4 hari 4 malam aku berada di Gunung Rinjani. Ada 4 hal yang membuatku akan mengingat Rinjani. Bukit Penyesalan, Puncak Rinjani, Danau Sagara Anak, Gunung Baru Jari dan Jalur Senaru. 4 hal yang mungkin akan sulit dilupakan.



...tak perlulah aku keliling dunia
kaulah segalanya bagiku...
  
Banyak orang yang telah menceritakan keindahan Gunung Rinjani dengan pesona Sagara Anaknya, tapi menurutku belum ada yang benar-benar menceritakannya dengan benar (dan begitupula aku). Tak kan ada yang sanggup untuk merangkai kata untuk menceritakan Gunung Rinjani. Iya, Gunung ini sangat indah.

Ketika aku sedang dalam perjalanan menuju puncak misalnya, ketika melihat ke arah kanan aku bisa melihat keindahan Danau Sagara Anak dengan bulan berwarna merah di atasnya. Di waktu yang bersamaan, ketika aku melihat ke arah kiri, aku bisa melihat Gunung Tambora dengan warna langit yang kemerahan karena fajar. Sangatlah indah.

Selain itu, keanggunan Gunung Baru Jari yang berada di Danau Sagara Anak luar biasa menggoda. Andaikan saja aku masih punya banyak waktu (dan tentu saja uang), ingin sekali untuk tinggal lebih lama di Danau Sagara Anak. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat berat untuk meninggalkan Gunung. Dan perlu banyak paragraf untuk bercerita tentang Rinjani.
 
...biarkanlah aku bernyanyi 
berlari berputar menari disini...

Iya, kuingin tetap berada di sini. Selain itu, ada Gili Trawangan. Selama 3 hari aku tinggal bersama seorang kenalan dari Perancis selama di Gili Trawangan. Jeje, kami memanggilnya begitu. Banyak hal yang dia ceritakan tentang apa yang telah dia alami. Ada satu kalimat yang mungkin seharusnya menyindir banyak orang di Indonesia, ketika itu aku tanya kapan dia akan meninggalkan Lombok. Dia mengatakan, "Beberapa waktu lalu aku pergi ke Laos, di sana waktu sangatlah santai (baca: ngaret) tapi di sini (baca: Indonesia) waktu sangat lebih santai lagi, jadi aku tak bisa merencakan sesuatu di sini.". Aku hanya tertawa saat itu. Jeje telah pergi ke banyak tempat di Asean. Dan Indonesia adalah tujuan terakhir sebelum kembali ke Perancis.

...kutulis seribu kata
dan kuungkap semua yang sedang kurasa...

Saat ini (10 Juli 2012) aku sedang berada di Mataram. Berharap akan banyak hal menarik lagi yang bisa aku temui. Dan bisa menuliskan semua hal menarik selama dalam perjalanan.


...tak perlulah aku keliling dunia
kaulah segalanya bagiku...
 
Dan ini baru Lombok, masih ada pulau-pulau lain dengan keunikannya masing-masing di Indonesia. Iya, dengan berani aku katakan, "Tak Perlulah Aku Keliling Dunia, Kaulah Segalanya Bagiku!"



Mataram, 10 Juli 2012


20120625

duapuluhsatuhari

Siapa sih yang gak kenal Gunung Rinjani? Atau setidaknya belum pernah mendengar kata "Rinjani"? Tentunya masyarakat Indonesia mengenal betul kata Rinjani. Satu kata yang cukup menggambarkan keindahan salah satu Gunung di Indonesia. Iya, Rinjani. Rinjani yang selalu menggoda lewat Danau Sagara Anaknya. Yang selalu menggoda dengan keindahan dari puncaknya. Rinjani yang selalu memberikan harapan kepada setiap umat manusia untuk sekedar menghirup aroma segar alam dari puncaknya.

Satu bulan yang lalu seorang kawan mengajak untuk pergi ke daerah Indonesia bagian Tengah. Atau orang-orang yang tinggal di Jawa bilangnya main ke daerah Timur. Padahal masih belum Timur (seharusnya). Pilihan tempat bermainnya tentu saja Gunung Rinjani. Rencananya pendakian akan dilakukan seminggu setelah lebaran tahun 1433 Hijriah. Sekitar awal bulan September. Namun nahas, saya tidak bisa ikut dalam pendakian tersebut karena ingin memanfaatkan libur lebaran di Subang. 

Masih dari kawan yang sama, dia kembali menawarkan ajakan dengan waktu pendakian yang berbeda. Yaitu awal Juli. Dan tentu saya bisa ikut bergabung dalam pendakiannya. Beberapa hari membicarakan yang memang harus dibicarakan, hingga akhirnya diputuskan tanggal 28 Juni pukul 07.30 WIB menggunakan Kereta Sri Tanjung kami berangkat dengan (mungkin) 4 orang. Namun sayang beribu sayang, ada jadwal ujian di jam yang sama. Dan diputuskan saya berangkat seorang diri pukul 13.00 WIB menggunakan Bis Wisata Komodo. 

Oh iya, rencana saya menulis ini adalah sebagai perbandingan sejauh mana rencananya berjalan dengan lancar. Ketika perjalanan selesai, saya akan menuliskan hasil dari perjalanannya juga.

Hari Pertama, 28 Juni 2012
Kembali ke Bis Wisata Komodo. Bis dengan ongkos Rp 225.000 dari Terminal Jombor, Yogyakarta sampai Terminal Ubung, Denpasar akan menempuh waktu hampir 23 Jam. Angka 23 jam tentu bukan angka mutlak, karena 23 jam hanya merupakan terkaan saja. Berangkat dari Terminal Jombor, Yogyakarta tanggal 28 Juni 2012 pukul 13.00 WIB, dan diperkirakan akan sampai di Terminal Ubung, Denpasar tanggal 29 Juni 2012 pukul 11.00 WITA. Tentu akan menjadi perjalanan yang sangat panjang dan membosankan. Oleh karena itu, saya akan menyiapkan beberapa buku bacaan untuk membuang bosan.

Hari Kedua, 29 Juni 2012
Iya, kemudian setelah sampai di Terminal Ubung, Denpasar akan dilanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Padang Bai menggunakan bis (yang entah apa namanya nanti mau dicari di sana) yang katanya harus bayar sebesar Rp 35.000. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 jam. Lumayan. Selanjutnya tentu perjalanan di atas air. Dari Pelabuhan Padang Bai, Pulau Bali, akan menyebrang ke Pelabuhan Lembar, Pulau Lombok dengan menggunakan Kapal Laut (entah namanya apa). Perjalanan sekitar 6 jam katanya, terus ongkosnya Rp 36.000. Kemudian, setelah 6 jam perjalanan dilanjutkan di darat untuk mencapai Kota Mataram selama 2 jam. Dengan ongkos Rp 25.000. Diperkirakan ketika sampai Terminal Mandalika, Mataram telah menyentuh pukul 21.00 WITA.

Dari Terminal Mandalika, Mataram, akan sedikit bingung karena saya belum dapat rencana kemana akan bernaung hingga fajar tiba untuk menuju Aikmal kota sebelum Desa Sembalun. Terlepas dari itu, ketika fajar menjelang saya akan melanjutkan perjalanan menuju Aikmal selama 2 jam yang kemudian dilanjutkan menuju Sembalun selama 3 Jam. Total ongkos dari Mataram ke Sembalun adalah Rp 20.000.

Perkiraan sampai di Sembalun telah menginjak senja. Mungkin dekat-dekat ke Magrib tanggal 30 Juni 2012. Total rencana biaya perjalanan dari Terminal Jombor, Yogyakarta hingga Desa Sembalun adalah Rp 341.000. Berikutnya adalah tentang rencana pendakian di Gunung Rinjani via Desa Sembalun.

Hari Ketiga, 30 Juni 2012
Setelah sampai di Desa Sembalun pada sore hari di tanggal 30 Juni 2012,  saya bersama kawan-kawan yang lain akan mencoba langsung melakukan perjalanan dari Basecamp Desa Sembalun menuju Pos 1 yang kurang lebih menghabiskan waktu selama 2,5 jam. Setelah sampai di Pos 1, hari pertama dinyatakan selesai. 

Hari Keempat, 1 Juli 2012
Hari keempat akan dimulai di Pos 1 pada jam yang pagi (entah jam berapa, menyesuaikan saja). Target hari kedua adalah menuju Plawangan Sembalun. Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 adalah selama 2,5 jam. Kemudian dilanjutkan menuju Pos 3 selama 2 jam. Dari Pos 3 menuju Plawangan Sembalun dibutuhkan waktu berjalan selama 4 jam. Total perjalanan dari Pos 1 menuju Plawangan Sembalun adalah 8,5 jam. Setelah sampai di Plawangan Sembalun, kegiatan selanjutnya adalah istirahat menunggu hari ketiga.

Hari Kelima, 2 Juli 2012
Hari kelima akan dimulai pada pukul 01.30 WITA. Dengan target mencapai puncak pas fajar muncul. Di hari ketiga pula perjalanan akan dilanjutkan ke Danau Sagara Anak setelah turun dari Puncak. Perjalanan dari Plawangan Sembalun ke Puncak sekitar 4 jam. Dari Puncak ke Danau Sagara Anak akan menghabiskan waktu sekitar 4 atau 5 jam. Hari ketiga berakhir di Danau Sagara Anak. 

Hari Keenam, 3 Juli 2012
Menghabiskan waktu di Danau Sagara Anak

Hari Ketujuh, 4 Juli 2012
Hari ketujuh ini diusahakan adalah hari terakhir tidur di Gunung Rinjani. Target hari keempat adalah sampai di Desa Senaru. Perjalanan akan membutuhkan waktu selama 6 atau 7 jam. Hari keenam usai, istirahat di Desa Senaru.


Hari Kedelapan, 5 Juli 2012

Hari kedelepan adalah saatnya berpisah dengan kawan-kawan yang lain untuk melanjutkan kegiatannya masing-masing. Kawan-kawan yang lain ada yang langsung kembali menuju Jojga dan ada pula yang tetap tinggal di Pulau Lombok untuk melaksanakan kegiatan KKN. Saya sendiri akan mencoba untuk berkeliling sejenak ke Gili Trawangan dan Pantai Senggigi. Mungkin akan menghabiskan hari ketujuh di Pantai Senggigi.

Berikut ini transportasinya:
* Senaru-Pemenang = -
*Pemenang-Bangsal = Rp 2.000
*Bangsal-Gili Trawangan = Rp 10.000
*Gili Trawangan-Bangsal = Rp 10.000
*Bangsal-Pemenang = Rp 2.000
*Pemenang-Pantai Senggigi = Rp 15.000

Hari Kesembilan, 6 Juli 2012 

Berharap terbangun di pasir Pantai Senggigi. Dan menghabiskan waktu di sekitar pantai. Untuk hari kesembilan. Hari kesembilan harus berpindah tempat ke Mataram untuk mencari tempat bernaung. Rencana akan singgah di Wapala FH Unram. Dari Pantai Senggigi menuju Mataram akan menghabiskan ongkos sebanyak 20.000 rupiah.


Hari Kesepuluh, 7 Juli 2012 - Hari Kesebelas, 8 Juli 2012
Menghabiskan waktu di Kota Mataram
Sebelum masuk ke hari keduabelas, mari kita menghitung ongkos transportasi yang telah dikeluarkan selama sebelas hari. Total biaya transportasi adalah Rp 400.000. 

Hari Kedua belas, 9 Juli 2012 - Hari Ketiga belas, 10 Juli 2012
Bergabung dengan rombongan Satu Bumi Teknik UGM di UNRAM.

Hari Keempat belas, 11 Juli 2012

Hari ini rencananya akan menyebrang ke Pulau Sumbawa bersama kawan-kawan dari Satu Bumi Teknik UGM. Tujuannya pendakian Gunung Tambora. Dari Terminal Mandalika, Mataram, dengan menggunakan bis langsung ke Dompu selama kira-kira 11 atau 12 jam. Dengan ongkos Rp 140.000.



Dari Dompu, perjalanan dilanjutkan ke Desa Doropeti selama 6 jam perjalanan darat. Ongkosnya Rp 20.000. Desa Doropeti merupakan desa terkahir sebelum pendakian Gunung Tambora.

Hari Kelimabelas, 12 Juli 2012
Rencana pendakian dimulai pada pagi hari. Tujuannya adalah Camp II. Katanya pendakian membutuhkan waktu selama 8 jam. 

Hari Keenambelas, 13 Juli 2012
Rencana pendakian dari Camp II dengan target Camp IV. Lama pendakian sekitar 8 jam. 

Hari Ketujuhbelas, 14 Juli 2012
Hari ini menuju Puncak Tambora dan kemudian melanjutkan turun ke Camp V jalur Pancasila. Kemudian istirahat.

Hari Kedelapanbelas, 15 Juli 2012
Dari Camp V melanjutkan turun dengan target Camp II. Perjalanan sekitar 8 jam.


Hari Kesembilanbelas, 16 Juli 2012
Dari Camp II langsung ke Desa Pancasila dengan perkiraan waktu selama 7 jam. Berisitrahat di Desa Pancasila untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Mataram hari selanjutnya.

Hari Keduapuluh, 17 Juli 2012

Perjalanan usai. Kawan-kawan dari Satu Bumi Teknik UGM akan melanjutkan kegiatannya. Dan saya akan berusaha langsung menuju Mataram hari ini juga. Sebelum ke Mataram, dari Desa Pancasila harus menuju Dompu terlebih dahulu, akan menghabiskan uang sebanyak Rp 35.000. Dari Dompu, mencari Bis yang langsung ke Mataram. Masih dengan ongkos yang sama seperti dari Mataram ke Dompu, yaitu Rp 140.000.

Sebelum berlanjut, mari menghitung biaya kembali ke Mataram. Total dari Jogja-Mataram-Dompu-Tambora-Dompu-Mataram adalah sebesar Rp 735.000.

Hari keduapuluhsatu, 18 Juli 2012

Telah kembali di Jogja Bermartabat. Dan petualangan akan beristirahat di Subang pada nantinya. 


Total ongkos perjalanan adalah sebesar Rp 1.092.000.  Waw, angka yang sangat besar. 
Semoga perjalanan berjalan sesuai rencana dan lancar. Amin.

20120621

Dalam Satu Tahun

Iya, aku suka bulan Maret. Masa-masa di mana hujan mulai berhenti turun. 
Kemudian April, peralihan. 
Bulan Mei, Edel tumbuh di bulan ini. 
Dan Juni, selamat datang musim kemarau. Aku bisa menikmati Edel yang sedang mekar di bulan ini. Tanpa harus takut basah. 
Kemudian ada September yang hebat. 
Setelahnya aku menanti Desember. Bulan ketika hujan benar-benar terasa syahdu. Romantis.

20120619

Kenangan

"Hampir malam di Jogja.....Ketika keretaku tibaaa... " 

Sudah lewat 36 menit untuk hari ini. Lagu Sepasang Mata Bola yang dibawakan oleh kawan-kawan dari JMS tiba-tiba mengingatkan momen sekitar 6 tahun yang lalu. Memori mengulang rekaman yang berlokasi di rumah dinas milik Bupati Subang. Dengan suasana yang tidak terlalu terang, lagu ini hampir berpuluh-puluh kali dimainkan beberapa hari di sekitar 6 tahun yang lalu itu. Sepasang Mata Bola, iya sepasang bola mataku harus berkonsentrasi membaca nada-nada pada sebuah partitur.  

Dan sebelum hari ini, setelah 6 tahun (yang aku ingat) baru kali ini saja aku mendengar kembali lagu Sepasang Mata bola. Lagu ini mengingatkan pada berbagai hal manis maupun pahit di masa menuju remaja. Ketika umur baru berubah menjadi dua digit. Ah, masa-masa yang konyol. (Walaupun mungkin sekarang pun masih konyol).

"... Sepasang mata bola.. Dari balik jendela.."

Bulan ini, jika dihitung-hitung mungkin bulan ke 24 aku menetap di Jogja. Setelah teringat masa-masa konyol ketika menuju remaja 6 tahun yang lalu, terbesit akan seperti apakah aku mengenang Jogja ketika aku nanti harus meninggalkan kota ini. Mungkin 3 atau 4 atau 5 atau 6 bahkan entah kapan mungkin aku akan meninggalkan Jogja. Apa yang akan terkenang dari kota ini? 

Teringat aku akan sebuah lagu milik Kla Project, judulnya sudah pasti "Yogyakarta". Menurut orang-orang sih katanya lagu ini begitu berkesan untuk setiap orang yang pernah tinggal di Tapi aku masih belum bisa Jogja, bahkan orang-orang yang sekedar singgah. Tapi aku belum merasakan "kesan" dari lagu ini. Mungkin harus terlebih dahulu meninggalkan Jogja  untuk mendapatkan perasaan "haru" dan "rindu" ketika mendengar lagu ini.

".... Hati telah terpikat.."

Terlalu cepat memang untuk membicarakan rindu pada Jogja. Toh aku baru 24 bulan di sini. Tapi pertanyaannya masih sama, seperti apakah aku mengenang Jogja nanti? Atau apa yang membuat aku rindu akan Jogja? Mungkin aku akan rindu dengan angkringan kopi jos tempat aku saling menyapa dengan kawan lama? Ataukah lembahan di sudut barat yang akan mengingatkan pada sepasang mata bola dari seorang perempuan? Mungkin saja kopi klotok ketika masa-masa suram menguasai? Ah barangkali juga aku rindu dengan suasana pagelaran seni dan musik setiap minggunya. 

Banyak juga jika dibayangkan apa yang akan membuatku rindu Jogja nanti. Ada Gunung Merapi di Utara, ada pantai di daerah selatan. Ada orang-orang bersahaja disekitarku. Terlalu banyak lah. 

"... Semoga kita kelak berjumpa pula...."

Iya, semoga kita kelak berjumpa pula ketika aku harus meninggalkan kota ini. Tapi tidak untuk waktu dekat. Ada 5 atau 6 atau lebih lagi tahun yang harus dilalui. Untuk sekedar mengumpulkan momen untuk dikenang di kota ini. Untuk ketika aku kembali ke kota ini, aku akan tersenyum haru penuh rindu. 


Yogyakarta, 19 Juni 2012

20120606

Mengenang Malam

Pada malam kita pernah mencerca siang
Pada malam juga kita pernah mengenang senja
Dan pada malam juga kita pernah menanti pagi

Tentunya,
Malamlah yang pernah mempersatukan kita

Bantal Lipat, 6 Juni 2012