20120429

Pada Setiap Senja

Pada sebuah senja
Sungai itu menelan matahari di ujung jembatan

Alunan gitar masih terdengar...
Gitar itu sedang berbincang dengan violin..

Pada sebuah senja
Tawa orang-orang di ujung jalan sangat riang

Dua cangkir kopi hitam untuk beberapa orang pria
Para wanita menikmati teh

Aku menatap seorang gadis..
Lesung pipinya dia perlihatkan..
Ah, dia mulai bernyanyi..

Dia bersaing dengan suara merdu violin
Suara burung-burung membuat violin menjadi diam

Pada sebuah senja
Kopi dan teh mulai habis
Gadis itu selesai bernyanyi
Tersenyum... 
Ah, untuk siapa senyumnya itu?  

Pada sebuah senja
Ah, senja sudah hilang

Gadis itu pulang
Meninggalkan bayangnya 
Untuk aku simpan

Gelap sudah


Di ujung jalan di atas jembatan kayu,
Mungkin 23-27 April 2012







20120424

Kenapa, Cantigi?

Cantigi itu selalu berkumpul bersama batu-batu dan pasir
Mungkin cantigi ingin menjadi batu dan pasir?
Atau mungkin dia itu memang batu yang menyamar menjadi bunga dan daun?
Adakah cantigi itu spesial bagi batu-batu dan pasir disekitarnya?
Ataukah dia dibenci oleh mereka karena berbeda?


sebuah renungan kecil 
untuk aku sendiri
yang ingin menjadi bagian 
dari tawa dan nyanyian
mereka yang senang
duduk bersila 
dan menikmati kopi


Hampir

Hampir....
Iya, hampir...
Ah, sedikit lagi padahal.. 

Apakah aku mempunyai hak untuk mempertanyakan keberadaanku?
Aku hampir menyempurnakan wujudku 
Iya, hampir saja

Seperti sebuah adegan drama
Aku mendaftar untuk ikut bermain dalam drama 
Ya, mereka memberikan aku peran

Mereka pernah meyakinkan aku tentang peran yang harus dimainkan
Naskahnya sudah aku pegang
Hanya saja aku tak pernah muncul dalam adegan

Menjadi seorang figuran?
Sudah aku bilang, aku tak pernah muncul dalam adegan
Dibelakang panggung pun tidak

Wujudku masih berupa bayangan
Terlihat, 
Apakah mereka merasakan keberadaanku?



E-3, 24 April 2012

20120419

Mungkin Judulnya "Pilihan!"

Pilihan, iya pilihan. Aku diingatkan lagi tentang suatu hal yang bernama pilihan. Sederhana saja, aku diingatkan akan banyak hal penting itu dari obrolan kecil di warung burjo di pinggir selokan mataram. Sederhana, mungkin sangat sederhana. Tapi hal sederhana itu yang mengingatkan tentang kehidupan di Bumi. Iya, tentang pilihan.

Seorang kawan yang selama kurang lebih tiga bulan menghilang dari rutinitas kota Jogja. Menghilang dari peredaran, rupanya tak sia-sia dia pergi mencari kehidupan baru. Nyatanya mampu memberikan pencerahan untuk orang di sekitarnya. Tak perlu juga lah di sebut namanya. Nanti geer.

Yang aku ingat pertama adalah tentang jodoh. Ah, jodoh yang menurut kebanyakan orang sudah ditentukan oleh Tuhannya masing-masing umat manusia menurutnya adalah palsu. Nyatanya jodoh itu adalah pilihan kita sendiri, kita yang mencarinya dan Tuhan hanyalah merestui. Jika memang tidak direstui, ya cari lagi. Gitu katanya. Aku hanya bisa mengangguk saja. Nah, untuk orang-orang yang malas mencari atau tidak mencari sama sekali, barulah Tuhannya yang menentukan jodohnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

Selanjutnya, obrolan masih tentang pilihan. Aku kembali teringat tentang pilihan awal aku ingin kuliah di Jogja. Jogja ada di tengah-tengah Pulau Jawa. Aku lihat dari peta, ada banyak gunung yang ada di sekitar kota ini. Sangatlah gampang untuk mendaki gunung. Jadilah dengan mantap aku jawab pertanyaan Ibuku yang bertanya "Mau kuliah di mana?" dengan jawaban "Jogja!". Tanpa aku sebutkan di mana aku akan kuliah. Yang penting Jogja dulu saja. Syukur saja aku bisa lolos masuk Teknik UGM. Ah, mungkin ini yang keliru, pikirku. Iya, keliru aku masuk Teknik UGM. Terlalu mumet, apalagi dengan embel-embel Teknik Nuklir dan Teknik Fisika di depan Teknik UGMnya itu. 

Masih tentang pilihan, kuliah di Teknik ini juga merupakan pilihanku. Dan Tuhan lah yang merestui. Tapi tentang gunung yang aku rencakan itu memang tepat. Di utara Jogja ada Merapi yang telah memberi banyak pengalaman untuk ku. Aku berkenalan dengan Merapi dengan cara yang kurang enak. Dengan letusan. Iya, baru dua bulan aku di Jogja, aku harus berkenalan dengan letusannya. Tak apalah, perkenalan yang kurang baik biasanya akan diingat terus. Mungkin.

Merapi, sekarang tentang Merapi. Gunung yang ketika pertama aku menejejakkan kaki di atas pasir putihnya aku hanya bisa mengagumi karya Tuhanku, Alloh SWT. Sulit untuk berkata-kata saat itu. Iya, pendakian pertama di gunung yang dengan berani aku katakan gunung paling gagah. Tapi sangat anggun dan cantik. Semenjak itulah, hampir tiap bulan aku sempatkan untuk menikmatinya. Sekedar untuk menyapa kabutnya. Aaah, Merapi. Tak perlu aku ceritakan banyak tentangmu. Biarkan mereka yang ingin tahu tentangmu merasakan kegagahan, keanggunan, dan kecantikanmu dengan mata mereka sendiri.

Masih tentang Merapi, beberapa kali aku menikmatinya, selalu dia memberikan hal yang tak terduga. Hal yang luar biasa. Belum lama ini aku dapat kabar bahagia yang berasal dari Merapi juga. Tak usah juga lah aku ceritakan. Tapi dari kabar bahagia ini aku harus memutuskan suatu pilihan. Pilihan yang akan harus di pertanggung-jawabkan.

Kembali lagi tentang pilihan, kabar baik dari Merapi. Aku harus berani memilih untuk kuliah sedikit lebih lama dari kawan-kawan yang lain. Untuk lebih mencintai kabar baik ini. Iya, kabar baik yang semoga akan selalu baik pada setiap kesempatannya. Ah setidaknya aku mencintai hal yang membuat aku lama kuliah. Dan lamanya aku kuliah juga merupakan pilihanku. 

Pilihan kawaaaaan. Pilihaaann. Maka dari itu pilihlah dengan bijak setiap pilihan yang ada. :)

20120324

Apa kabar?

Imaji bayangmu
Merusak konsentrasi
Merasuk, meramu

Ada kabar datang menjelma menjadi angin
Masuk melalui perasaan yang dinamakan rindu

Imajiner, imajiner
Menjadi gelap
Hilang ditelan cahaya

20120204

Apa?

Edel, Edel...
Oh, Edel... 
Haruskah aku katakan?
Bahwa aku mencintaimu...
Aku kira tidak perlu. 
Karena kamu sudah tau!

Gang Asem, 4 Februari 2012

20120203

Perjumpaan

Saat ini aku sedang berada dalam sebuah kereta malam. Kereta ini tidak terlalu sesak seperti biasanya. Aku duduk di kursi dibagian yang dekat dengan jendela. Tujuanku kota Yogyakarta. Masih ada sisa enam jam perjalanan. Sebelahku masih kosong. Belum ada yang menempati.


Tak berapa lama ada seorang perempuan yang mengisi kursi sebelahku. Tak terlalu aku perhatikan. Pemandangan sawah dan gunung di luar lebih menarik untuk aku nikmati. Aah, andai aku bisa menikmati gunung-gunung itu dari lembahnya. 

Lama aku diam memandang ke luar. Samar aku lihat pantulan perempuan di sampingku sedang memperhatikanku. Ah kaca jendelanya retak. Mungkin hanya perasaanku saja. Pelan-pelan aku lirikkan mata ke arahnya. Ya benar, dia memperhatikanku. Biasa! Aku memang sering diperhatikan banyak orang. Karena aku memang selalu menarik perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, dengan tongkat penyangga di sebelah kananku. Ya, aku memang pincang. Sudah terbiasa dengan tatapan banyak orang. Biarlah orang-orang menatapku dengan berbagai macam perasaan mereka. Toh aku tetap selalu bersyukur dengan segala karunia yang diberikan-Nya kepadaku. Aku masih punya kaki kiri.


Aku kembali mengarahkan tatapanku ke arah luar jendela. Tiba-tiba saja perempuan di sampingku itu menyapaku. Dia memanggil namaku. Ah.... ternyata dia sahabatku. Dulu, empat tahun lamanya kami tak bertemu. 

Dia sahabat yang pernah aku mencintainya. Tapi tak berani aku mengungkapkannya. Teman berbagi tawa ketika sedang menikmati sejuknya kabut di dataran tinggi. Sebelum kecelakaan itu merenggut kaki kananku tentunya. Kami pernah saling tertawa, saling bercanda atau saling memaki. Ingatanku terus melambung tanpa sempat menjawab sapaan dari perempuan di sampingku itu. Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya. Tidak terlalu baik. 


Ah, dia menyentuh pundakku. Dia membuyarkan lamunanku. Aku menatap matanya, masih sama. Tajam. Tapi indah dan sayu. Dia tersenyum dan mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Aku tak bisa mendengarnya. Pikiranku terlalu fokus memandangnya. Rambutnya sekarang lebih panjang dari terakhir aku bertemu. Badannya lebih segar. Ah, dia sudah mau menggunakan anting rupanya. Banyak sekali perubahan darinya. Lebih dewasa.


"Hai.." ujarku.


"Hey, apa kabar? Rupanya kamu gak mengenalku. Banyak perubahan dariku kan?" ceria sekali dia. Aku hanya bisa terkekeh saja.


"Hehehe, tak kusangka kita akan bertemu di tempat ini. Hendak kemana tujuanmu?" Aku mencoba mengatur nafasku.


"Kok langsung tanya tujuan. Tak ada rasa rindu dalam hatimu kah, kawan? Bagaimana kabarmu?" tampak tenang sekali dia bertemu denganku.


Ingin aku jawab Aku selalu rindu padamu, tak berani aku mengeluarkan kalimat itu. "Yah, seperti yang kau lihat. Dengan satu kaki. Haruskah aku jelaskan padamu?"


"Maaf, aku hanya ingin memulai obrolan. Aaah, tak menyesal kah kau meninggalkanku dulu seperti itu?"


Rupa-rupanya dia masih ingat jelas apa yang aku lakukan empat tahun yang lalu. Aah, kenapa harus bertemu seperti ini.


"Aku hendak pergi ke Jogja, ada pekerjaan yang mengharuskan aku pergi ke sana. Hanya beberapa hari saja. Kamu? Masih dengan kegiatan alam bebas mu?" Dia melanjutkan kalimatnya tanpa sempat aku jawab. Syukurlah, berarti aku tak harus menceritakan kelakuanku empat tahun yang lalu padanya lagi.


"Oh, ya ya. Ya, aku juga pergi ke Jogja. Sudah dua tahun aku tinggal di sana. Hmmm, lagi. Dengan kaki seperti ini? Menurutmu?"


"Maaf, lagi-lagi maaf. Kau tampak tak sesemangat dulu. Oh, iya? Tinggal di Jogja? Seru sekali sepertinya. Apa kegiatanmu sekarang?" Dia tetap peduli terhadapku. Baguslah, setidaknya dia bisa terus memancing obrolan.


Bulan di langit terlihat tak seterang sebelum obrolan di mulai. Sawah-sawah tak lagi terlihat. Hanya gelap yang aku pandang. Semuanya sama di luar sana. 

Aah, tanpa sempat aku menjawab. Telepon genggamnya berdering. Aku coba untuk menunggu kepentingannya selesai. Terlalu lama. Sebaiknya aku tidur saja.


Banyak hal yang telah kami lakukan sebelum empat tahun ini. Kau benar-benar berubah. Tampak bertambah dewasa. Sangat jauh berbeda sejak kita berpisah. Aaah, kupejamkan mata hanya lembaran kenangan lalu yang muncul. Kau benar-benar berbeda, langkahmu kian panjang ternyata. Aku lebih bahagia sejak 8 menit yang lalu. Terima kasih sobat...


Aku ingin tertidur, dia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Semoga perjalanan kereta ini terhambat. Aku masih ingin berbincang dengannya, setidaknya ingin ku menatap matanya lagi. Tak kan ada kesempatan kita bersama lagi. Kerinduan ini sedikit terobati.


Semoga kau tak menyesal untuk bertemu lagi. Baiklah, aku tidur saja. Semoga ada obrolan yang lebih bersemangat ketika aku bangun. Masih ada 7 jam lagi sebelum Yogyakarta.
Terima kasih kereta malam...