Bulannya sendu, bukitnya memilu.
Awan meringis, cahaya menanti jawaban.
Angin menderu, embunnya menusuk.
Pohon mencari teman, malam bersama kepalsuan.
Kepada langit ku bertanya, kepada alam ku menyapa.
Dalam gelap tertawa, dengan terang aku terlelap.
Kabut mesra, hujan memecahkannya.
Dingin menyimpan rindu, hangat menjadi lupa.
Malam itu aku teringat tentang kehidupan. Tentang Indonesia. Akhir-akhir ini pun aku lebih sering memikirkan tentang negara ini, tentang pemerintahannya. Mungkin karena aku bisa setiap hari mengakses berita di televisi. Jadi aku pun terbawa untuk memikirkannya. Tapi ironis, hanya tentang keburukannya yang aku lihat. Dan keindahan negara ini hanya dalam khayalan. Apakah benar?
Ada yang menjual, ada yang membeli.
Yang satu menyikut yang berdiri, yang duduk selalu menunduk.
Mereka yang nyaman duduk di kursi panjang, yang lainnya bergelantungan di pintu.
Terinjak di tengah-tengah jalan, memilih tidur di toilet.
Malam itu terasa begitu hidup. Banyak orang di sini. Apakah itu Indonesia? Penuh sesak dengan kehidupannya. Yang nyaman tak mau bergantian. Lengah sedikit terjatuh dari kereta. Yang kebagian kursi bisa tertidur pulas, tak kebagian? Pilihannya antara tidur di lantai dengan resiko terinjak atau pergi ke toilet dan tidur tak ada yang mengganggu. Hampir mirip dengan kehidupan di negara ini bukan? Posisi bagus ya nyaman, posisi kurang bagus? Terus berusaha walau terinjak atau menghindar.
Entah mengapa, hanya dengan berkereta saja aku merasakan kehidupan di Indonesia. Tujuannya berbeda, tapi dengan satu media dan satu arah. Mungkin sesekali mereka yang di atas itu harus merasakannya juga, setidaknya mereka bisa berpikir bahwa Indonesia itu benar-benar beragam, tak cukup dengan hanya satu tindakan.
Selalu semangat untuk setiap elemen bangsa ini. Untuk petinggi-petinggi yang sepertinya "tinggi", sempatkanlah untuk turun dari "rumah pohon" kalian. Bantulah untuk "menyirami" dan "merawat" pohon-pohon yang belum kuat untuk dibuat rumah di atasnya. Untuk rakyat yang "mewakilkan" hidupnya kepada para "wakilnya", jangan malas untuk selalu berjalan. Namun jangan hanya berjalan dengan kaki dan mulutmu (baca: berteriak), gunakanlah seluruh anggota tubuhmu untuk berjalan.
Bersama kita bisa! :D :D
20110714
20110702
Hmmmm, untuk Edelweissku (lagi)
Bunga kecil itu nampaknya sedang mekar hari ini
Entah kenapa, bunga itu selalu indah dalam ingatanku
Akhir-akhir ini aku selalu menghabiskan tembakau dengan cepat
Tak ada yang mengingatkanku untuk berhenti hari ini
Dulu saat bunga itu masih ada di dekatku
Aku selalu bisa untuk menghindar dari asap putih ini
Ingatanku juga selalu tertuju pada bunga itu,
Bunga yang selalu tumbuh tegar di tengah batuan-batuan pasir
Senang sekali mengetahui bungaku senang hari ini
Teman dekatnya saat ini ternyata selalu membuatnya tersenyum
Syukurlah, aku tak perlu khawatir bunga itu dicuri orang
Sudah ada yang menjaganya
Bunga indah itu
Aku masih mencarinya sampai saat ini
Namun belum ada bunga yang bisa aku lebih sayangi
Dari setangkai Bunga Edelweiss
catatan: malam ini aku hanya sedang ingin menulis tentang bunga itu, tapi aku tak bisa merangkai kata untuk mengungkapkan rindu ku untuknya. Hanya susunan susunan kata di atas yang bisa aku tulis untuk menyampaikan pesanku untuknya. Edelweiss ku yang entah sedang berada di mana sekarang...
Entah kenapa, bunga itu selalu indah dalam ingatanku
Akhir-akhir ini aku selalu menghabiskan tembakau dengan cepat
Tak ada yang mengingatkanku untuk berhenti hari ini
Dulu saat bunga itu masih ada di dekatku
Aku selalu bisa untuk menghindar dari asap putih ini
Ingatanku juga selalu tertuju pada bunga itu,
Bunga yang selalu tumbuh tegar di tengah batuan-batuan pasir
Senang sekali mengetahui bungaku senang hari ini
Teman dekatnya saat ini ternyata selalu membuatnya tersenyum
Syukurlah, aku tak perlu khawatir bunga itu dicuri orang
Sudah ada yang menjaganya
Bunga indah itu
Aku masih mencarinya sampai saat ini
Namun belum ada bunga yang bisa aku lebih sayangi
Dari setangkai Bunga Edelweiss
catatan: malam ini aku hanya sedang ingin menulis tentang bunga itu, tapi aku tak bisa merangkai kata untuk mengungkapkan rindu ku untuknya. Hanya susunan susunan kata di atas yang bisa aku tulis untuk menyampaikan pesanku untuknya. Edelweiss ku yang entah sedang berada di mana sekarang...
20110629
Gunung Canggak / Canggah
Harum bau tanahmu
Segar desah anginmu
Hangat pelukan kabutmu
Lembut sentuhan hujanmu
Aku rindu denganmu
Batumu yang membuatku mampu berjalan semalaman
Pohonmu yang begitu nyaman aku peluk
Suaramu yang membuatku berani untuk melihat kebelakang
Darimu aku belajar semua tentang hidup
Ternyata kamu menjadi tenang ketika mendengar suara adzan
Aliran sungaimu membuatku semangat untuk hidup
Gelapmu telah mencuri egoisku pergi bersama angin
Semua karenamu canggah
Karena dinginmu, aku bisa terlelap ketika yang lain kedinginan
Badaimu itu membuatku tersenyum ketika yang lain sibuk mencari tempat berlindung
Jalan buntumu juga membuatku lapar ketika yang lain frustasi karena tersesat
Mengingatmu selalu menambah cerita dalam setiap petualanganku
Segar desah anginmu
Hangat pelukan kabutmu
Lembut sentuhan hujanmu
Aku rindu denganmu
Batumu yang membuatku mampu berjalan semalaman
Pohonmu yang begitu nyaman aku peluk
Suaramu yang membuatku berani untuk melihat kebelakang
Darimu aku belajar semua tentang hidup
Ternyata kamu menjadi tenang ketika mendengar suara adzan
Aliran sungaimu membuatku semangat untuk hidup
Gelapmu telah mencuri egoisku pergi bersama angin
Semua karenamu canggah
Karena dinginmu, aku bisa terlelap ketika yang lain kedinginan
Badaimu itu membuatku tersenyum ketika yang lain sibuk mencari tempat berlindung
Jalan buntumu juga membuatku lapar ketika yang lain frustasi karena tersesat
Mengingatmu selalu menambah cerita dalam setiap petualanganku
20110626
Kado Spesial: Badai Merapi
Selamat ulang tahun untukku. Tepat 19 tahun yang lalu pukul 23.30-an aku dilahirkan ke dunia. Katanya dulu aku lahir hari Jumat di tanggal 26 Juni tahun 1992. Dari rahim Ibu bernama Cucu Asiah, yang ditemani oleh pria bernama Danis Wara yang merupakan Bapakku. Dan hari ini tanggal 26 Juni 2011 aku merayakan dan mensyukuri tahun ke 19 ku di Gunung Merapi.
Di tahun yang ke 19 ini aku berkenalan dengan badai merapi yang cukup membuat hati ini gentar untuk melangkah menuju puncak. Badai itu memang berhasil mengurungkan pendakian kedua yang kulakukan pasca meletus ini menuju puncak. Kemarin malam aku berencana untuk melakukan syukuran di pasar bubrah, namun untuk melihat jalan saja ternyata sudah sulit terhalang kabut yang tertiup angin. Rasa takut pun tak dapat ku pungkiri ada dalam pikiranku saat itu.
Pukul 16.00 tanggal 25 Juni 2011 aku berangkat dari Jogja menuju Selo, Boyolali. Perjalanan selama satu jam setengah tidak terasa, karena aku dimanjakan dengan cantik dan putihnya Gunung Merapi. Tiba di base camp pukul 17.30 disambut dengan ramainya basecamp barameru yang penuh dengan anak SMA. Sekitar 23 orang di dalam basecamp kecil, penuh sesak. Namun keramaian itu hanya sebentar saja, tak kurang dari pukul 19.00 mereka memulai pendakian mereka. Saat itu cuaca sangat cerah, aku bersyukur dengan cerahnya malam itu. Selama dua jam aku sendiri di basecamp menikmati suara alam yang tiba-tiba gaduh karena angin. Di luar badai. Sangat dingin. Berselimut kain batik, aku memutar lagu yang damai dari ponselku. Mendaki Gunung milik Tony Q Rastafara. Lumayan menghangatkan suasana.
Dua jam berlalu, datang dua orang pendaki yang berniat hanya tek tok saja. Oborolan ngaler ngidul pun terjadi sekitar setengah jam sampai temanku dari Solo datang membawa dua teman perempuannya. Orang gila, pikirku. Mereka bertiga membawa carriel full dengan isinya yang terlihat berat. Temanku dengan carriel 40 liternya yang katanya berisi air mineral 5 liter, ditemani satu orang perempuan dengan carriel 70 liter di punggungnya yang di dalam nya terdapat Tenda kapasitas 4 orang dengan logistik dua orang teman yang lainnya. Benar-benar sudah gila orang-orang gunung ini.
Ajakan untuk mendaki saat itu juga terus dilancarkan oleh temanku. Aku memang berniat untuk memulai pendakin subuh tanggal 26 Juni. Namun akhirnya aku pun ikut dengan mereka bertiga. Perjalanan di mulai 09.30 dengan cuaca yang cerah, badai sudah berhenti rupanya. Kira-kira setengah jam perjalanan, angin kencang kembali berhembus. Semoga tidak terjadi badai pikirku. Namun alam berkehendak lain, semakin atas kami mendaki, semakin kencang pula angin menerpa tubuh kami. Tak tanggung-tanggung, angin pun mengajak kabut untuk menemani perjalananku. Perjalanan yang seharusnya bisa di tempuh selama satu jam itu akhirnya harus menjadi dua jam setengah. Itu hanya sampai pos 1.
Tenda pun telah dipasang, tentunya dengan ditemani angin dan kabut yang tak pernah henti menyapa. Ponsel aku aktifkan, ada beberapa sms masuk mengucapkan selamat ulang tahun. Teman perjalananku pun akhirnya mengetahui aku berulang tahun malam itu, terjadilah koor paduan suara menyanyikan lagu selamat ulang tahun di tengah badai. Tak ada yang perlu kuceritakan apa yang terjadi setelah itu, karena aku berada di dalam tenda yang selalu bergoyang tertabrak angin. Ada sedikit ketakutan frame tenda patah.
Malam pun berganti pagi, jam menunjukkan pukul 04.36 saat itu, namun badai belum berhenti. Ternyata air dari kabut jenuh merembes masuk tenda. Sleeping bag pun menjadi dingin. 05.30 pun lewat, namun tak ada tanda-tanda matahari menghangatkan pagi itu. Yang ada badai semakin kencang menggoyangkan tenda. Aku pun tertidur kembali. Pukul 08.00 aku dibangunkan alarm. Aku paksakan keluar. Tubuh secara otomatis bergoyang karena dingin. Sempat juga badanku terbawa angin. Lagi-lagi badai belum berhenti. Satu persatu, pendaki turun aku tanya tentang keadaan di atas. Jawaban semuanya sama, "Badai mas, anginnya kenceng, jalannya ketutup kabut."
Rasa kesal pun sempat datang, kenapa harus di hari ulang tahunku. Saat itu suara angin semakin kencang, kabut pun berlari semakin kencang sambil melemparkan airnya. Tak ada cahaya matahari saat itu. Perjalanan selanjutnya tetap sama, ditemani badai. Kadang duduk, kadang tiarap untuk menghindar dari kencangnya angin itu. Tak banyak yang dapat aku ceritakan, karena hanya ada badai saat itu. Jarak pandang sangat pendek, angin yang kencang, air yang deras turun.
Perjalanan ku tidak sampai ke pasar bubrah, langsung turun setelah membayangkan berjalan di caldera dengan diterpa angin kencang serta gelapnya kabut. Nyawa taruhannya. Aku pun turun, saat turun rasa kesal itu perlahan hilang. Aku mulai merasakan suara-suara angin kencang itu bagaikan nyanyian selamat ulang tahun untukku, kabut-kabut yang menghalangiku seperti pelukan-pelukan hangat yang diberikan untukku, air-air yang dibawa kabut itu bahkan seperti kue bolu untukku. Ternyata, perjalanan ini sepertinya tak akan pernah kulupakan. Di tahun ke 19 ini aku mendapatkan kado ulang tahun Badai Merapi. Kado yang begitu spesial.
Semoga di tahun ke 19 ini aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi seseorang yang lebih tangguh dari sebelumnya, menjadi orang tangguh yang bisa lebih menghormati alam.
Tenang yang pernah kurasakan tak pernah setenang ketika membuka telinga,
menikmati suara deru angin yang saling bersahutan
Tentram yang pernah kurasakan tak pernah setentram ketika mengangkat tangan,
menikmati pelukan mesra kabut yang terhempas angin
Damai yang pernah kurasakan tak pernah sedamai ketika memejamkan mata,
menikmati sentuhan air yang berkejaran dengan kabut
Satu rasa yang belum pernah kurasakan,
menikmati badai di hari ulang tahunku
Selamat ulang tahun untuk aku! Terima kasih merapi!
Aku sayang Ibu, Bapak, kakak, keluarga, sahabat, teman, dan alam!
Aku syukuri keberanian hidup!
Pukul 23.33
26 juni 2011
Luthfil Hadi
Di tahun yang ke 19 ini aku berkenalan dengan badai merapi yang cukup membuat hati ini gentar untuk melangkah menuju puncak. Badai itu memang berhasil mengurungkan pendakian kedua yang kulakukan pasca meletus ini menuju puncak. Kemarin malam aku berencana untuk melakukan syukuran di pasar bubrah, namun untuk melihat jalan saja ternyata sudah sulit terhalang kabut yang tertiup angin. Rasa takut pun tak dapat ku pungkiri ada dalam pikiranku saat itu.
Pukul 16.00 tanggal 25 Juni 2011 aku berangkat dari Jogja menuju Selo, Boyolali. Perjalanan selama satu jam setengah tidak terasa, karena aku dimanjakan dengan cantik dan putihnya Gunung Merapi. Tiba di base camp pukul 17.30 disambut dengan ramainya basecamp barameru yang penuh dengan anak SMA. Sekitar 23 orang di dalam basecamp kecil, penuh sesak. Namun keramaian itu hanya sebentar saja, tak kurang dari pukul 19.00 mereka memulai pendakian mereka. Saat itu cuaca sangat cerah, aku bersyukur dengan cerahnya malam itu. Selama dua jam aku sendiri di basecamp menikmati suara alam yang tiba-tiba gaduh karena angin. Di luar badai. Sangat dingin. Berselimut kain batik, aku memutar lagu yang damai dari ponselku. Mendaki Gunung milik Tony Q Rastafara. Lumayan menghangatkan suasana.
Dua jam berlalu, datang dua orang pendaki yang berniat hanya tek tok saja. Oborolan ngaler ngidul pun terjadi sekitar setengah jam sampai temanku dari Solo datang membawa dua teman perempuannya. Orang gila, pikirku. Mereka bertiga membawa carriel full dengan isinya yang terlihat berat. Temanku dengan carriel 40 liternya yang katanya berisi air mineral 5 liter, ditemani satu orang perempuan dengan carriel 70 liter di punggungnya yang di dalam nya terdapat Tenda kapasitas 4 orang dengan logistik dua orang teman yang lainnya. Benar-benar sudah gila orang-orang gunung ini.
Ajakan untuk mendaki saat itu juga terus dilancarkan oleh temanku. Aku memang berniat untuk memulai pendakin subuh tanggal 26 Juni. Namun akhirnya aku pun ikut dengan mereka bertiga. Perjalanan di mulai 09.30 dengan cuaca yang cerah, badai sudah berhenti rupanya. Kira-kira setengah jam perjalanan, angin kencang kembali berhembus. Semoga tidak terjadi badai pikirku. Namun alam berkehendak lain, semakin atas kami mendaki, semakin kencang pula angin menerpa tubuh kami. Tak tanggung-tanggung, angin pun mengajak kabut untuk menemani perjalananku. Perjalanan yang seharusnya bisa di tempuh selama satu jam itu akhirnya harus menjadi dua jam setengah. Itu hanya sampai pos 1.
Tenda pun telah dipasang, tentunya dengan ditemani angin dan kabut yang tak pernah henti menyapa. Ponsel aku aktifkan, ada beberapa sms masuk mengucapkan selamat ulang tahun. Teman perjalananku pun akhirnya mengetahui aku berulang tahun malam itu, terjadilah koor paduan suara menyanyikan lagu selamat ulang tahun di tengah badai. Tak ada yang perlu kuceritakan apa yang terjadi setelah itu, karena aku berada di dalam tenda yang selalu bergoyang tertabrak angin. Ada sedikit ketakutan frame tenda patah.
Malam pun berganti pagi, jam menunjukkan pukul 04.36 saat itu, namun badai belum berhenti. Ternyata air dari kabut jenuh merembes masuk tenda. Sleeping bag pun menjadi dingin. 05.30 pun lewat, namun tak ada tanda-tanda matahari menghangatkan pagi itu. Yang ada badai semakin kencang menggoyangkan tenda. Aku pun tertidur kembali. Pukul 08.00 aku dibangunkan alarm. Aku paksakan keluar. Tubuh secara otomatis bergoyang karena dingin. Sempat juga badanku terbawa angin. Lagi-lagi badai belum berhenti. Satu persatu, pendaki turun aku tanya tentang keadaan di atas. Jawaban semuanya sama, "Badai mas, anginnya kenceng, jalannya ketutup kabut."
Rasa kesal pun sempat datang, kenapa harus di hari ulang tahunku. Saat itu suara angin semakin kencang, kabut pun berlari semakin kencang sambil melemparkan airnya. Tak ada cahaya matahari saat itu. Perjalanan selanjutnya tetap sama, ditemani badai. Kadang duduk, kadang tiarap untuk menghindar dari kencangnya angin itu. Tak banyak yang dapat aku ceritakan, karena hanya ada badai saat itu. Jarak pandang sangat pendek, angin yang kencang, air yang deras turun.
Perjalanan ku tidak sampai ke pasar bubrah, langsung turun setelah membayangkan berjalan di caldera dengan diterpa angin kencang serta gelapnya kabut. Nyawa taruhannya. Aku pun turun, saat turun rasa kesal itu perlahan hilang. Aku mulai merasakan suara-suara angin kencang itu bagaikan nyanyian selamat ulang tahun untukku, kabut-kabut yang menghalangiku seperti pelukan-pelukan hangat yang diberikan untukku, air-air yang dibawa kabut itu bahkan seperti kue bolu untukku. Ternyata, perjalanan ini sepertinya tak akan pernah kulupakan. Di tahun ke 19 ini aku mendapatkan kado ulang tahun Badai Merapi. Kado yang begitu spesial.
Semoga di tahun ke 19 ini aku dapat menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi seseorang yang lebih tangguh dari sebelumnya, menjadi orang tangguh yang bisa lebih menghormati alam.
Tenang yang pernah kurasakan tak pernah setenang ketika membuka telinga,
menikmati suara deru angin yang saling bersahutan
Tentram yang pernah kurasakan tak pernah setentram ketika mengangkat tangan,
menikmati pelukan mesra kabut yang terhempas angin
Damai yang pernah kurasakan tak pernah sedamai ketika memejamkan mata,
menikmati sentuhan air yang berkejaran dengan kabut
Satu rasa yang belum pernah kurasakan,
menikmati badai di hari ulang tahunku
Selamat ulang tahun untuk aku! Terima kasih merapi!
Aku sayang Ibu, Bapak, kakak, keluarga, sahabat, teman, dan alam!
Aku syukuri keberanian hidup!
Pukul 23.33
26 juni 2011
Luthfil Hadi
20110624
Mimpi Tadi Malam
Postingan kali ini mungkin akan sedikit aneh, aku akan menuliskan mimpi tadi malam yang aku ingat. Berikut ceritanya.
"Kumpulan cuy..", sms dari seorang teman masuk ke dalam handphoneku. Rencananya aku memang hendak mengikuti Diklatsar Mapala di kampus.
"OTW om...", langsung aku balas sms itu, dalam artian secara harfiah OTW=On The Way. Sedang dalam perjalanan? Tidak, wong aku baru bangun ko, gimana ceritanya sedang dalam perjalanan. OTW yang aku maksud ini "Ok, Tunggu Weh".
Dan setelah sms aku balas, aku langsung menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Langsung aku berangkat ke sekre tempat kumpulan di maksud. Dan ternyata di situ tinggal aku sendiri yang telat, yang berakhir pada hukuman berupa push up lima belas kali. Mimpiku pun berjalanan begitu cepat, tak banyak yang aku ingat.
Dari push up tadi langsung menuju ke sebuah tempat yang beralaskan tanah liat. Aku memakai baju berlengan panjang berwarna biru saat itu. Di pundakku ada tali carriel tapi tidak terasa berat karena aku sedang duduk ketika itu. Di belakangku ada carriel basah yang sepertinya sebelum itu hujan turun. Karena daun-daun yang berada di sekelilingku pun basah.
"Ok, luruskan dulu kaki kalian.", ujar salah seorang mentor yang berdiri di depanku. Oh iya, saat itu di sebelahku ada 5 orang yang dapat aku lihat. Jadi denganku total adalah 6 orang.
"Sekarang saya akan tes ilmu navigasi yang telah kalian dapat sebelumnya." lanjut mentor yang mukanya aku tidak ingat seperti apa. Karena yang tergambarkan dalam mimpiku hanya dari kaki sampe dada nya saja. Kurang lebih dia menggunakan celana berwarna hitam dengan kemeja lapangan berwarna krem. Kaca mata oakley tampak menggantung di lehernya. Sepatu trekking berwarna cokelat yang dia pakai membuat dia sangat di segani.
"Keluarkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk bernavigasi." mentor itu terus berbicara tanpa menunggu jawaban dari kami. Aku pun mengeluarkan map yang dibungkus dengan plastik, pensil, penggaris segitiga, serta busur. Aku lupa membawa kompas bidik. Matilah aku.
"Kali ini, kalian dijadikan satu kelompok. Gabungkan perlengkapan kalian." nice beibeh, aku selamat. Akhirnya kami berenam pun menggabungkan peralatan itu.
Entah kenapa, kami langsung berada di sebuah tenda dome yang terlihat berwarna merah dari dalam. Udara terasa begitu dingin saat itu, tenda pun sepertinya basah. Mungkin hujan, tapi aku tidak mendengar suara hujan saat itu. Di dalam tenda pun hanya ada empat orang denganku. Entah kemana dua orang temanku itu. Mungkin ada di belakangku, atau sedang berada di luar tenda.
Dalam pandanganku, aku melihat orang di sebelah kananku yang memakai head lamp memegang peta punya ku. Orang yang didepanku terlihat duduk bersila tanpa melakukan apapun. Orang yang di sebelah kiriku terlihat sedang sibuk membuat garis di peta itu. Aku sendiri tidak melakukan apa-apa, hanya sedikit membungkuk untuk melihat peta. Sepertinya kami sedang mencari titik koordinat kami dalam peta. Dan aku masih belum mengetahui siapa teman-teman yang berada di sekitarku ini. Tak pernah dilihatkan kepala mereka.
Mungkin dalam mimpiku lebih panjang lagi cerita di dalam tenda itu, hanya saja aku tidak bisa mengingat lebih kelanjutnya. Aku hanya ingat, setelah di dalam tenda itu aku berada di jalanan aspal yang jalannya naik. Terdengar suara gerungan mobil. Aku berada di dalam mobil 3/4. Sepertinya cerita aku Diklatsar telah selesai. Karena orang-orang yang berada di sekitarku kini tampak jelas. Aku mengenal orang-orang ini. Kebanyakan teman SMP-ku, ditambah satu orang teman SMA-ku.
Di dalam mobil itu aku duduk paling belakang, ada 5 kursi di paling belakang. Dari luar aku melihat ini mobil 3/4. Tapi dalamnya seperti mini bus saja. Biarlah, toh ini hanya mimpi. Aku duduk di kursi kedua dari kanan. Sebelah kananku tampak seorang perempuan, aku mengenalnya dengan nama fitri. Di samping kiriku ada temanku yang aku lupa wajahnya. Sebelah temanku itu dua kursi tidak ada yang menempati. Di depanku duduk Jodi, satu-satunya temanku dari SMA yang masuk ke dalam mimpi. Entah disebelahnya siapa. Kondisi mobil saat itu tidak terlalu penuh.
Dari situ tidak terlalu banyak mimpi yang dapat aku ceritakan, karena aku lupa apa percapakan yang terjadi. Tiba-tiba aku sedang mengendarai sepeda ontel. Sepertinya masih lanjutan dari dalam mobil, karena aku melihat di sebelahku ada Jodi yang menggunakan sepeda ontel juga. Gila, hanya satu yang aku bisa ucapkan saat itu. Aku mengendarai sepeda ontel untuk menuruni bukit. Jalanan yang penuh lubang dan curam, kiri-kanan masih banyak pohon. Hal ini mungkin hanya di dalam mimpi, down hill by ontel bike.
Aku terus menyusuri bukit itu, hingga akhirnya aku menemukan jalan raya. Ternyata sama saja, jalannya jelek. Jodi terus menggangguku, dia memepetkan sepedanya ke arah ku. Ya aku masuk ke jalan rusak. Kondisi jalan saat itu hanya di bagian tengah saja jalan yang mulus, di sebelah kiri adalah jalanan rusak yang berbeda ketinggiannya dengan jalan yang tengah. Jalan yang dibagian kanan juga sepertinya rusak. Tiba-tiba, jalan rusak yang aku lalui hilang. Seperti dalam film Oscar the Oase, aku jatuh melayang dengan slow motion ala film-film kartun. Aku terjatuh ke dalam jurang. Rupanya jalan tengah yang mulus tadi ada jembatannya. Sial sekali.
Aku terbangun, ah sial. Baru jam setengah 5 pagi rupanya. Untuk mimpi kali selesai. Aku akan mencoba untuk menulis mimpi-mimpiku yang lainnya.
"Kumpulan cuy..", sms dari seorang teman masuk ke dalam handphoneku. Rencananya aku memang hendak mengikuti Diklatsar Mapala di kampus.
"OTW om...", langsung aku balas sms itu, dalam artian secara harfiah OTW=On The Way. Sedang dalam perjalanan? Tidak, wong aku baru bangun ko, gimana ceritanya sedang dalam perjalanan. OTW yang aku maksud ini "Ok, Tunggu Weh".
Dan setelah sms aku balas, aku langsung menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Langsung aku berangkat ke sekre tempat kumpulan di maksud. Dan ternyata di situ tinggal aku sendiri yang telat, yang berakhir pada hukuman berupa push up lima belas kali. Mimpiku pun berjalanan begitu cepat, tak banyak yang aku ingat.
Dari push up tadi langsung menuju ke sebuah tempat yang beralaskan tanah liat. Aku memakai baju berlengan panjang berwarna biru saat itu. Di pundakku ada tali carriel tapi tidak terasa berat karena aku sedang duduk ketika itu. Di belakangku ada carriel basah yang sepertinya sebelum itu hujan turun. Karena daun-daun yang berada di sekelilingku pun basah.
"Ok, luruskan dulu kaki kalian.", ujar salah seorang mentor yang berdiri di depanku. Oh iya, saat itu di sebelahku ada 5 orang yang dapat aku lihat. Jadi denganku total adalah 6 orang.
"Sekarang saya akan tes ilmu navigasi yang telah kalian dapat sebelumnya." lanjut mentor yang mukanya aku tidak ingat seperti apa. Karena yang tergambarkan dalam mimpiku hanya dari kaki sampe dada nya saja. Kurang lebih dia menggunakan celana berwarna hitam dengan kemeja lapangan berwarna krem. Kaca mata oakley tampak menggantung di lehernya. Sepatu trekking berwarna cokelat yang dia pakai membuat dia sangat di segani.
"Keluarkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk bernavigasi." mentor itu terus berbicara tanpa menunggu jawaban dari kami. Aku pun mengeluarkan map yang dibungkus dengan plastik, pensil, penggaris segitiga, serta busur. Aku lupa membawa kompas bidik. Matilah aku.
"Kali ini, kalian dijadikan satu kelompok. Gabungkan perlengkapan kalian." nice beibeh, aku selamat. Akhirnya kami berenam pun menggabungkan peralatan itu.
Entah kenapa, kami langsung berada di sebuah tenda dome yang terlihat berwarna merah dari dalam. Udara terasa begitu dingin saat itu, tenda pun sepertinya basah. Mungkin hujan, tapi aku tidak mendengar suara hujan saat itu. Di dalam tenda pun hanya ada empat orang denganku. Entah kemana dua orang temanku itu. Mungkin ada di belakangku, atau sedang berada di luar tenda.
Dalam pandanganku, aku melihat orang di sebelah kananku yang memakai head lamp memegang peta punya ku. Orang yang didepanku terlihat duduk bersila tanpa melakukan apapun. Orang yang di sebelah kiriku terlihat sedang sibuk membuat garis di peta itu. Aku sendiri tidak melakukan apa-apa, hanya sedikit membungkuk untuk melihat peta. Sepertinya kami sedang mencari titik koordinat kami dalam peta. Dan aku masih belum mengetahui siapa teman-teman yang berada di sekitarku ini. Tak pernah dilihatkan kepala mereka.
Mungkin dalam mimpiku lebih panjang lagi cerita di dalam tenda itu, hanya saja aku tidak bisa mengingat lebih kelanjutnya. Aku hanya ingat, setelah di dalam tenda itu aku berada di jalanan aspal yang jalannya naik. Terdengar suara gerungan mobil. Aku berada di dalam mobil 3/4. Sepertinya cerita aku Diklatsar telah selesai. Karena orang-orang yang berada di sekitarku kini tampak jelas. Aku mengenal orang-orang ini. Kebanyakan teman SMP-ku, ditambah satu orang teman SMA-ku.
Di dalam mobil itu aku duduk paling belakang, ada 5 kursi di paling belakang. Dari luar aku melihat ini mobil 3/4. Tapi dalamnya seperti mini bus saja. Biarlah, toh ini hanya mimpi. Aku duduk di kursi kedua dari kanan. Sebelah kananku tampak seorang perempuan, aku mengenalnya dengan nama fitri. Di samping kiriku ada temanku yang aku lupa wajahnya. Sebelah temanku itu dua kursi tidak ada yang menempati. Di depanku duduk Jodi, satu-satunya temanku dari SMA yang masuk ke dalam mimpi. Entah disebelahnya siapa. Kondisi mobil saat itu tidak terlalu penuh.
Dari situ tidak terlalu banyak mimpi yang dapat aku ceritakan, karena aku lupa apa percapakan yang terjadi. Tiba-tiba aku sedang mengendarai sepeda ontel. Sepertinya masih lanjutan dari dalam mobil, karena aku melihat di sebelahku ada Jodi yang menggunakan sepeda ontel juga. Gila, hanya satu yang aku bisa ucapkan saat itu. Aku mengendarai sepeda ontel untuk menuruni bukit. Jalanan yang penuh lubang dan curam, kiri-kanan masih banyak pohon. Hal ini mungkin hanya di dalam mimpi, down hill by ontel bike.
Aku terus menyusuri bukit itu, hingga akhirnya aku menemukan jalan raya. Ternyata sama saja, jalannya jelek. Jodi terus menggangguku, dia memepetkan sepedanya ke arah ku. Ya aku masuk ke jalan rusak. Kondisi jalan saat itu hanya di bagian tengah saja jalan yang mulus, di sebelah kiri adalah jalanan rusak yang berbeda ketinggiannya dengan jalan yang tengah. Jalan yang dibagian kanan juga sepertinya rusak. Tiba-tiba, jalan rusak yang aku lalui hilang. Seperti dalam film Oscar the Oase, aku jatuh melayang dengan slow motion ala film-film kartun. Aku terjatuh ke dalam jurang. Rupanya jalan tengah yang mulus tadi ada jembatannya. Sial sekali.
Aku terbangun, ah sial. Baru jam setengah 5 pagi rupanya. Untuk mimpi kali selesai. Aku akan mencoba untuk menulis mimpi-mimpiku yang lainnya.
20110616
Rindu
Dan di sini aku mendengar angin yang tertawa
Di sini pula aku bisa melihat kabut yang tersenyum manis
Dengan indahnya mereka berdua bersentuhan dengan pinus pinus yang berdiri tegak
Dari kejauhan aku melihat padang ilalang yang sedang bercengkrama dengan hangatnya mentari siang
Dengan semangat mereka saling melengkapi
Untuk menemani burung yang sedang bernyanyi
Inilah yang sejak dulu aku rindu, kini telah hadir kembali
Di tengah rimba ini, dengan dinginnya kabut di siang hari
Di temani merdunya suara burung, disuguhi lucunya tingkah tupai
Menggelagarnya suara kepakan burung, besarnya batu yang kududuki
Kunikmati alam hutan gunung semeru
10-14 Juni 2011
Gunung Semeru
Di sini pula aku bisa melihat kabut yang tersenyum manis
Dengan indahnya mereka berdua bersentuhan dengan pinus pinus yang berdiri tegak
Dari kejauhan aku melihat padang ilalang yang sedang bercengkrama dengan hangatnya mentari siang
Dengan semangat mereka saling melengkapi
Untuk menemani burung yang sedang bernyanyi
Inilah yang sejak dulu aku rindu, kini telah hadir kembali
Di tengah rimba ini, dengan dinginnya kabut di siang hari
Di temani merdunya suara burung, disuguhi lucunya tingkah tupai
Menggelagarnya suara kepakan burung, besarnya batu yang kududuki
Kunikmati alam hutan gunung semeru
10-14 Juni 2011
Gunung Semeru
20110601
Teruntuk Mereka Para Pemuda Abadi
Teruntuk sahabat-sahabatku yang telah tiada.
Andai saja kita masih bisa saling bercengkrama lewat facebook ini, izinkan aku untuk menanyakan suatu hal yang telah lama ada di benak ini.
Dalam dua minggu ini ada tiga orang saudaraku yang meninggal ketika sedang menikmati indahnya hidup menuju kedewasaan.
Entah kenapa akhir-akhir ini pula begitu banyak hal tentang kematian yang aku dapatkan. Entah itu dalam mimpi, bacaan, ataupun musibah seorang teman.
Kepada mereka yang mati muda, aku ingin bertanya, bagaimana rasanya ketika ajal akan segera datang? Lalu untuk kalian yang sempat bertobat sebelum nyawa kalian melewati leher, bagaimana indahnya dunia alam bawah tanah itu? Apakah benar apa yang diceritakan ustad-ustad, bahwa tempat tidur kalian terang benderang?
Kepada mereka yang belum sempat mengucap taubat, apa yang kalian pertanggung jawabkan kepada Alloh SWT? Apa yang kalian lakukan ketika tidak ada terang di tempat kalian?
Aku di sini selalu bertanya, bagaimana mungkin kalian yang begitu tenang dalam hidup di dunia, mungkin beberapa di antara kalian belum sempat memikirkan mati, bisa dengan beruntungnya mati di usia muda.
Aku tidak pernah bercita-cita untuk mati muda, tapi aku selalu melihat mereka yang mati muda itu sangat terhormat.
Mereka yang mati muda sangat beruntung karena tidak perlu berpura-pura mati dalam melihat kehidupan.
Aku bersyukur kepada Alloh SWT karena telah diperlhatkan bahwa ajal itu selalu lebih dekat dari bayangan kita.
Untuk saat ini, aku selalu berpikiran tentang mati muda. Tapi aku belum siap untuk membuat kedua orang tuaku meneteskan mata. Begitu juga saudara dan sahabat ku.
Satu lagi yang ingin aku tanyakan kepada sahabat-sahabat beda alamku, sedang apa kalian sekarang?
Andai saja kita masih bisa saling bercengkrama lewat facebook ini, izinkan aku untuk menanyakan suatu hal yang telah lama ada di benak ini.
Dalam dua minggu ini ada tiga orang saudaraku yang meninggal ketika sedang menikmati indahnya hidup menuju kedewasaan.
Entah kenapa akhir-akhir ini pula begitu banyak hal tentang kematian yang aku dapatkan. Entah itu dalam mimpi, bacaan, ataupun musibah seorang teman.
Kepada mereka yang mati muda, aku ingin bertanya, bagaimana rasanya ketika ajal akan segera datang? Lalu untuk kalian yang sempat bertobat sebelum nyawa kalian melewati leher, bagaimana indahnya dunia alam bawah tanah itu? Apakah benar apa yang diceritakan ustad-ustad, bahwa tempat tidur kalian terang benderang?
Kepada mereka yang belum sempat mengucap taubat, apa yang kalian pertanggung jawabkan kepada Alloh SWT? Apa yang kalian lakukan ketika tidak ada terang di tempat kalian?
Aku di sini selalu bertanya, bagaimana mungkin kalian yang begitu tenang dalam hidup di dunia, mungkin beberapa di antara kalian belum sempat memikirkan mati, bisa dengan beruntungnya mati di usia muda.
Aku tidak pernah bercita-cita untuk mati muda, tapi aku selalu melihat mereka yang mati muda itu sangat terhormat.
Mereka yang mati muda sangat beruntung karena tidak perlu berpura-pura mati dalam melihat kehidupan.
Aku bersyukur kepada Alloh SWT karena telah diperlhatkan bahwa ajal itu selalu lebih dekat dari bayangan kita.
Untuk saat ini, aku selalu berpikiran tentang mati muda. Tapi aku belum siap untuk membuat kedua orang tuaku meneteskan mata. Begitu juga saudara dan sahabat ku.
Satu lagi yang ingin aku tanyakan kepada sahabat-sahabat beda alamku, sedang apa kalian sekarang?
Langganan:
Postingan (Atom)