Gambar... suatu potret mati tak bergerak, tak bersuara, tak bernafas yang menjadi suatu perantara untuk menyambungkan emosi jiwa dengan kehidupan nyata. Gambar yang memperlihatkan keburukan dan kebaikan dalam hidup. Gambar yang tak bergerak, tak bersuara itu akan menjadi seperti terlihat hidup. Bahkan bisa melebihi kata "seperti" itu sendiri. Ketika gambar berada di tempat dan waktu yang tepat.
Hari ini, suatu pameran foto anak-anak muda yang memegang tanggung jawab bangsa Indonesia di masa depan di pamerkan dengan satu tema yang seragam, yaitu 55+. Berbeda dengan pameran-pameran foto yang biasanya menampilkan keindahan abstrak dalam gambar, kali banyak sekali potret-potret lusuh para pemuda di jaman dulu yang saat ini sudah menjadi tua. Terkesan sangat tua memang pameran foto itu.
Namun dalam foto yang bermodelkan wajah-wajah keriput, tersirat makna suatu perjuangan hidup yang telah model-model itu alami. Masih tergambar jelas semangat-semangat muda mereka, baik itu dalam hal pendidikan, kesehatan, karir, bahkan kisah cinta yang tak tersampaikan.
Wajah-wajah tua dalam gambar itu seperti ingin berteriak, "Akulah yang terhebat." Mereka tak peduli seberapa lusuh wajah mereka dalam gambar. Mereka tak peduli tinggal berapa tahun sisa umur mereka. Bahkan mungkin hari.
Namun ironis sekali ketika dibandingkan dengan foto-foto yang selalu menjadi wajah dalam headline news suatu koran atau surat kabar yang setiap harinya pasti selalu ada wajah-wajah muda yang menundukkan kepalanya karena malu dengan perbuatan mereka. Wajah-wajah yang kerap kali mereka tutup dengan tangan. Seakan mereka berteriak, "Cukup jangan berbicara lagi." Sangat bertolak belakangan dengan semangat yang terpancar dari gambar-gambar di pameran foto 55+ itu.
Gambar yang bercerita. Gambar yang berbicara. Gambar yang berkomentar. Gambar yang menceritakan kisah buruk seseorang sering kali bisa didapatkan dengan mudah. Kareka keburukan itu sangat mudah dalam penyebarannya. Namun ketika gambar yang berceritakan kisah baik seseorang, diperlukan tempat dan waktu yang mahal. Tempat dan waktu yang tepat. Tempat dan waktu yang eklusif. Karena kebaikan itu adalah mahal.
LUTHFIL HADI
20100828
20100827
20100823
AKULAH SOLUSI BANGSAKU !!
"Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada
Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku."
-Hymne Gadjah Mada-
"Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan...
... wahai kalian yang rindu kemenangan.. "
-Darah Juang-
Potongan bait lagu yang selalu dan menjadi kebanggan para mahasiswa, khususnya mahasiswa Gadjah Mada itu sudah cukup untuk menyampaikan bahwa kami mahasiswa selalu siap untuk mencapai kejayaan. Potongan lagu yang apabila dinyanyikan utuh selalu bisa menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Dengan kepalan tangan yang diangkat setinggi-tingginya, dengan kepalan tangan yang bangga menyentuh dada, mahasiswa siap untuk berjuang mencapai kemenangan.
Aku adalah solusi bangsaku, itu sudah terdapat dalam kedua lagu itu, merupakan suatu janji untuk berjuang mencapai, mencapai kejayaan. Namun untuk mencapai kemenangan dan kejayaan itu, tidak cukup dengan bernyanyi begitu semangatnya. Untuk menjadi solusi bangsa yang besar ini dibutuhkan pula keberanian, kebersamaan dan tanggung jawab yang besar.
"Berjuta rakyat bersimbah luka/Anak kurus tak sekolah/Pemuda desa tak kerja." Bait lainnya dari lagu "Darah Juang" ini adalah gambaran bangsa Indonesia yang telah 65 tahun merdeka. Butuh waktu untuk merubah liriknya menjadi "Berjuta rakyat bersimbah harta/Anak sehat menjadi sarjana/Pemuda desa berkelana." Tak banyak yang bisa dilakukan apabila seorang mahasiswa masih menjadi "Aku". Seorang "Aku" tak akan bisa menjadi solusi bangsa yang telah lama merindukan suatu kejayaan. Bahkan seorang mahasiswa yang panda dalam berorasi atau membakar semangat orang lain pun tak akan bisa menjadi solusi bangsa ini apabila masih menjadi seorang "Aku".
Hanya sedikit yang bisa, maaf, masih hanya sedikit yang bisa menjadi solusi bangsa yang besar ini. Yaitu orang-orang atau mahasiswa-mahasiswa yang sudah bukan menjadi seorang "Aku", mahasiswa-mahasiswa yang sudah tidak "menyebut"kata "kami", mahasiswa yang bukan berpikir "kamu" tidak bisa mengalahkan "Aku". Mahasiswa yang menjadikan dirinya seorang "KITA". Mahasiswa "KITA" adalah mahasiswa yang mampu memyelesaikan permasalahan bangsa. Mahasiswa yang mampu melihat keadaan dan dengan cepat menyesuaikan dirinya.
Mahasiswa "KITA" di Indonesia hanya menjadi dan pernah besar ketika bangsa ini sudah sangat terpuruk. Sebagai contoh kecil adalah ketika semua mahasiswa turun ke jalan dan selalu berteriak "KITA ADALAH SATU", "KITA ADALAH SAMA." Ketika itu keadaan bangsa sudah sangat terpuruk di bawah tahta Soeharto. Mereka berteriak "KITA BUTUH KEADILAN", berbeda dengan kebanyakan para orator yang selalu meneriakan "KAMI MINTA KORUPSI DIMUSNAHKAN".
Sewaktu masih bersekolah, setiap hari senin selalu diucapkan "Persatuan Indonesia" ketika pembacaan pancasila. Namun itu hanya menjadi suatu ucapan saja. Atau ketika kepedulian muncul apabila banyak orang sudah peduli. Menjadi solusi bangsa itu harus cepat tanggap apabila ada suatu masalah. Mampu membuka lebar pandangan dan pola berpikirnya.
Untuk menjadi solusi bangsa, seorang mahasiswa bukan hanya butuh profesionalitas saja, tapi juga nilai-nilai moral dan agama, dan menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Yaitu bangsa yang santun dan penuh rasa hormat. Karena seorang mahasiswa merupakan pewaris peradaban yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Peradaban yang dulu pernah menjadi raja di hutan yang keras. Itulah yang selalu dinyanyikan mahasiswa.
Menjadi solusi bangsa bukan hanya dengan turun ke jalan, tapi bisa dengan memperlihatkan kehormatan kita. Dengan menunjukkan kualitas kita dalam sebuah bangsa. Karena kita adalah satu.
Aku bisa menjadi solusi bangsa. Akulah solusi bangsa ketika aku adalah bukan seorang "Aku". Ketika aku adalah bukan "Kamu". Ketika aku adalah bukan "Kami". Tapi aku adalah solusi bangsa, akulah solusi bangsa, aku menjadi solusi bangsa ketika aku sudah menjadi "KITA".
HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!
HIDUP RAKYAT INDONESIA !!
Luthfil Hadi
Ku berjanji memenuhi panggilan bangsaku."
-Hymne Gadjah Mada-
"Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan...
... wahai kalian yang rindu kemenangan.. "
-Darah Juang-
Potongan bait lagu yang selalu dan menjadi kebanggan para mahasiswa, khususnya mahasiswa Gadjah Mada itu sudah cukup untuk menyampaikan bahwa kami mahasiswa selalu siap untuk mencapai kejayaan. Potongan lagu yang apabila dinyanyikan utuh selalu bisa menggetarkan hati orang-orang yang mendengarnya. Dengan kepalan tangan yang diangkat setinggi-tingginya, dengan kepalan tangan yang bangga menyentuh dada, mahasiswa siap untuk berjuang mencapai kemenangan.
Aku adalah solusi bangsaku, itu sudah terdapat dalam kedua lagu itu, merupakan suatu janji untuk berjuang mencapai, mencapai kejayaan. Namun untuk mencapai kemenangan dan kejayaan itu, tidak cukup dengan bernyanyi begitu semangatnya. Untuk menjadi solusi bangsa yang besar ini dibutuhkan pula keberanian, kebersamaan dan tanggung jawab yang besar.
"Berjuta rakyat bersimbah luka/Anak kurus tak sekolah/Pemuda desa tak kerja." Bait lainnya dari lagu "Darah Juang" ini adalah gambaran bangsa Indonesia yang telah 65 tahun merdeka. Butuh waktu untuk merubah liriknya menjadi "Berjuta rakyat bersimbah harta/Anak sehat menjadi sarjana/Pemuda desa berkelana." Tak banyak yang bisa dilakukan apabila seorang mahasiswa masih menjadi "Aku". Seorang "Aku" tak akan bisa menjadi solusi bangsa yang telah lama merindukan suatu kejayaan. Bahkan seorang mahasiswa yang panda dalam berorasi atau membakar semangat orang lain pun tak akan bisa menjadi solusi bangsa ini apabila masih menjadi seorang "Aku".
Hanya sedikit yang bisa, maaf, masih hanya sedikit yang bisa menjadi solusi bangsa yang besar ini. Yaitu orang-orang atau mahasiswa-mahasiswa yang sudah bukan menjadi seorang "Aku", mahasiswa-mahasiswa yang sudah tidak "menyebut"kata "kami", mahasiswa yang bukan berpikir "kamu" tidak bisa mengalahkan "Aku". Mahasiswa yang menjadikan dirinya seorang "KITA". Mahasiswa "KITA" adalah mahasiswa yang mampu memyelesaikan permasalahan bangsa. Mahasiswa yang mampu melihat keadaan dan dengan cepat menyesuaikan dirinya.
Mahasiswa "KITA" di Indonesia hanya menjadi dan pernah besar ketika bangsa ini sudah sangat terpuruk. Sebagai contoh kecil adalah ketika semua mahasiswa turun ke jalan dan selalu berteriak "KITA ADALAH SATU", "KITA ADALAH SAMA." Ketika itu keadaan bangsa sudah sangat terpuruk di bawah tahta Soeharto. Mereka berteriak "KITA BUTUH KEADILAN", berbeda dengan kebanyakan para orator yang selalu meneriakan "KAMI MINTA KORUPSI DIMUSNAHKAN".
Sewaktu masih bersekolah, setiap hari senin selalu diucapkan "Persatuan Indonesia" ketika pembacaan pancasila. Namun itu hanya menjadi suatu ucapan saja. Atau ketika kepedulian muncul apabila banyak orang sudah peduli. Menjadi solusi bangsa itu harus cepat tanggap apabila ada suatu masalah. Mampu membuka lebar pandangan dan pola berpikirnya.
Untuk menjadi solusi bangsa, seorang mahasiswa bukan hanya butuh profesionalitas saja, tapi juga nilai-nilai moral dan agama, dan menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Yaitu bangsa yang santun dan penuh rasa hormat. Karena seorang mahasiswa merupakan pewaris peradaban yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Peradaban yang dulu pernah menjadi raja di hutan yang keras. Itulah yang selalu dinyanyikan mahasiswa.
Menjadi solusi bangsa bukan hanya dengan turun ke jalan, tapi bisa dengan memperlihatkan kehormatan kita. Dengan menunjukkan kualitas kita dalam sebuah bangsa. Karena kita adalah satu.
Aku bisa menjadi solusi bangsa. Akulah solusi bangsa ketika aku adalah bukan seorang "Aku". Ketika aku adalah bukan "Kamu". Ketika aku adalah bukan "Kami". Tapi aku adalah solusi bangsa, akulah solusi bangsa, aku menjadi solusi bangsa ketika aku sudah menjadi "KITA".
HIDUP MAHASISWA INDONESIA !!
HIDUP RAKYAT INDONESIA !!
Luthfil Hadi
20100719
Exclusive: Pengakuan Kikan(Ex Vocalist Cokelat)
Entah keterangan kikan ini dapat dipertanggung-jawabkan atau tidak. Itu sama sekali bukan tanggung jawab dari saya selaku pemilik dari blog ini. Saya hanya sekedar Copy-Paste dari sebuah forum KASKUS | The Largest Indonesian Community. Tapi tidak ada salahnya untuk dibaca.
Alasan mundur dari Cokelat, hubungan persahabatan mereka kini dan opininya tentang vokalis baru.
Hanya sehari setelah para personel Cokelat membeberkan secara eksklusif kepada Rolling Stone bahwa vokalis mereka, Kikan, telah resmi berpisah sejak akhir Maret 2010 lalu, mendadak akun Twitter pribadi miliknya (@KikanNamara) berhenti berkicau. Tak ada update sama sekali dari Kikan yang mengonfirmasi kabar hengkangnya ia dari Cokelat.
Kontras sekali jika dibandingkan dengan akun Twitter milik para personel Cokelat lainnya, gitaris Edwin (@Edwin_Cokelat), bassist (@ronnycokelat), gitaris Ernest (@ernestcokelat) yang terlihat sibuk membalas satu persatu pesan dari para Bintang Kita (julukan bagi fans Cokelat) menyangkut kabar hengkangnya Kikan dan drummer Ervin dari Cokelat.
Kikan baru menjawab permohonan untuk bersedia diwawancara melalui balasan direct message di Twitter. Ini setelah upaya menelepon dan sms yang terkirim tidak direspon sama sekali atau lebih tepatnya gagal karena nomor yang didapat salah. Ketika akhirnya mendapat nomor ponsel yang baru dan bisa dihubungi, terdengar suara vokalis yang merupakan ibu dari dua orang anak ini terisak-isak seperti orang tengah menangis. Entah kenapa. Akhirnya kami berjanji untuk melakukan sesi wawancara eksklusif pada hari itu juga (15/7) di sebuah cafe di Pondok Indah Mall I.
Sebagai salah seorang dari sedikit saja vokalis band perempuan yang memiliki suara sangat berkarakter dan bahkan menjadi penanda utuh identitas Cokelat selain musik mereka, maka mundurnya Kikan jelas sebuah kehilangan besar bagi Cokelat dan tentunya para Bintang Kita. Masa depan band ini pun kontan dipertanyakan.
Selama lebih kurang dua jam lamanya pemilik nama lengkap Namara Surtikanti (33 tahun) ini bercerita panjang lebar tentang alasan utamanya mundur dari band yang selama 14 tahun ikut membesarkan namanya, rencana karir solo, hubungan persahabatannya kini dengan para personel Cokelat yang lain, serta ketakutan sekaligus keinginannya untuk menyaksikan panggung pertama Cokelat bersama vokalis baru, Sarah Hadju. Berikut kutipannya
Mengapa Anda mundur dari Cokelat?
Mau alasan klise atau off the record? (tertawa) Sebetulnya ada beberapa alasan, tapi yang paling utama memang, sama seperti yang anak-anak (para personel Cokelat) bilang, karena gue merasa serba salah. Gue tidak bisa lagi mengikuti ritme kerjanya Cokelat, sementara kalau mereka harus beradaptasi dengan jadwal gue, kasihan mereka. Sebenarnya ini masalah yang cukup lama, bolak balik kami selalu mencoba mencari jalan keluar yang enak bagi kedua belah pihak. Sebenarnya ini bukan sebuah keputusan yang gampang, karena kalau nggak sama Cokelat sebenarnya gue juga nggak tahu mau apa lagi. Memang kalau mau dilihat lagi, gue cewek sendiri dengan empat cowok yang masing-masing berfungsi sebagai kepala keluarga di Cokelat ini. Gue berbeda dengan mereka, selain itu gue single parent, dua anak gue sudah semakin gede, butuh perhatian lebih dari gue dan segala macamnya. Gue sangat mengerti kalau para cowok-cowok ini nggak mungkin bisa mengikuti kemauan gue selamanya, jadi akhirnya sering terjadi bentrokan kepentingan. Akhirnya karena kasihan mereka pengen berlari sementara gue seperti berjalan di tempat, akhirnya gue mengambil keputusan untuk mundur dari band. Memutuskan gue resign dari band itu, bagi gue pribadi berat banget, tapi gue rasa anak-anak mengerti banget lah, apalagi kami sudah puluhan tahun ngeband dan mereka sering melihat sendiri bagaimana sulitnya, jatuh bangunnya gue, dengan jadwal, anak-anak gue dan segala macamnya.
Jadi Anda sebenarnya sudah lama ingin mengundurkan diri dari Cokelat?
Sebenarnya bukan untuk resign-nya ya, tapi ritme kerja band ini menjadi masalah. Itu sejak gue mulai punya anak pertama. Artinya dari tujuh tahun yang lalu. Akhirnya suka nggak suka, mau nggak mau, memang ada masanya gue ikut merintis Cokelat dari nol, saat gue belum menikah dan mempunyai anak itu gue bisa sebebas merpati, mau ngapain aja sesuka hati. Ketika punya anak akhirnya pelan-pelan memang terjadi perubahan.
Apakah Anda memutuskan untuk berhenti main musik selamanya atau hanya berhenti bermain musik bersama Cokelat?
Sebetulnya inti dari mundurnya gue ini, gue pengen rehat. Tapi mengingat skill-nya cuma main musik dan menyanyi, akhirnya gue tetap butuh uang. Nggak munafiklah, bagaimana gue menghidupi anak-anak gue nantinya? Sebetulnya gue kemarin sudah hampir memutuskan apakah mau seimbang atau mengejar duit? Karena kalau di band kan nggak bisa memutuskan sendirian, semua untuk kepentingan bersama. Kalau gue nggak mau mengambil satu job maka anak-anak crew gue bisa nggak makan nanti. Itu yang berat. Sebenarnya harapan gue dengan resign ini, gue punya kuasa lebih banyak atas diri gue sendiri, untuk memutuskan kapan gue mau bekerja dan kapan mau berlibur. Itu yang mungkin selama ini nggak bisa gue dapat di Cokelat. Dan gue pastinya hanya akan tetap main musik karena gue hanya bisa hidup dari situ.
Berarti Anda akan segera memulai karir solo setelah ini?
Agak terlalu serius ya? Karena sebenarnya gue nggak punya atensi untuk ke sana ya sementara ini.
Kalau membuat band baru?
OK, sebenarnya begini. Saat ini gue memang mempunyai satu proyek band tapi band ini dipersiapkan bukan sebagai satu proyek utama, ini lebih hanya untuk menyambung hidup gue saja. Setelah gue nggak sama Cokelat, kalau ada tawaran manggung nanti gue mau manggung dengan siapa? Tapi kalau untuk gue membuat sebuah band baru yang serius dan membuat album kayaknya gue perlu berpikir cukup lama lagi, untuk mendapatkan chemistry, mencari personel baru pasti sulit, apalagi selama 14 tahun gue sudah bersama-sama Cokelat. Belum tentu gue mendapat partner yang seasik mereka.
Persisnya kapan Anda mulai mundur dari Cokelat?
Gue resmi resigned itu sebenarya sejak 20 Mei 2010. Akhir Maret gue mulai ngomong dengan mereka namun pas menandatangani surat mundurnya gue dari Cokelat itu pada tanggal 20 Mei 2010. Tapi memang karena gue merasa pengunduran diri gue ini adalah sebuah keputusan yang akan membuat ribet banyak banget pihak, terutama dari Cokelat. Waktu itu gue pernah mengeluarkan statement bahwa gue nggak ingin ada satu periode dimana Cokelat nggak bisa manggung karena belum mempunyai vokalis lagi, jadi selama mereka belum mendapatkan pengganti maka gue akan terus membantu mereka. Ini berlaku untuk konser-konser yang sudah teken kontrak atau yang akan datang. Sampai 28 Juni kemarin (bukan 4 Juli seperti ditulis sebelumnya) gue masih membantu mereka. Itu show terakhir gue bersama Cokelat di PRJ.
Publik sangat sulit memisahkan Kikan dengan Cokelat, kalian seperti tidak bisa dipisahkan, ketika Anda mundur pernah terpikir bahwa keputusan itu berdampak besar bagi kehidupan para personel lainnya?
Gue selalu melihatnya dari dua sisi ya. Tidak bisa dipungkiri selama 14 tahun bersama Cokelat orang melihat image Cokelat itu sangat gue, bukan Cokelat kalau nggak ada Kikan, gue rasa orang seharusnya bisa melihat sebaliknya bahwa gue bukan siapa-siapa tanpa Cokelat. Bahwa gue akhirnya menjadi orang paling depan dan melihat image Cokelat sebagai gue itu rasanya terjadi di semua band ya? Image vokalis memang selalu dominan di semua band. Walau gue banyak bikin lagu dan bikin lirik, tapi gue yakin hasil akhir itu selalu ada di tangan kami berlima. Mungkin orang nggak banyak tahu bahwa Edwin, Ernest dan Ronny itu juga banyak menciptakan lagu. Dan mudah-mudahan stigma bahwa Cokelat nggak bisa apa-apa lagi tanpa gue itu tidak terbukti. Mungkin dengan tidak ada gue warnanya akan sedikit berubah...
Anda mendengar Cokelat telah memiliki vokalis baru dari siapa?
Baru minggu lalu, bukan dari anak-anak. Karena gue sudah benar-benar tidak berkomunikasi dengan mereka...
Sejak?
Sejak... Yah, pokoknya begini saja, setelah gue bilang resign, di beberapa manggung terakhir gue nggak diajak ngomong. Begitu saja. Gue bisa mengerti sih.
Mungkin mereka agak marah dengan Anda?
Iya, pasti ada seperti itu. Gue sangat memahami itu, walaupun gue sedih ya. Ketika terakhir duduk semeja dengan mereka gue pernah bilang, ”Walau sudah nggak kerja bareng lagi, bukan berarti kita nggak bisa berteman kan?” Maksudnya, pertemanan ini lebih dari segalanya, karena gue juga bisa 14 tahun bersama mereka pasti karena itu. Jadi bukan hanya cocok di panggung, tetapi pas turun kami bisa gila-gilaan bersama. Cuma yah, gue pikir nggak apa-apa juga sih, it takes time… Sampai semua bisa kembali normal.
Apakah Anda tertarik datang ke konser pertama Cokelat dengan vokalis baru pada tanggal 24 Juli nanti?
Gue pengen sekali ada di sana, tapi gue takut justru keberadaan gue nanti disalahartikan. Gue cukup tahu dirilah. Gue dari dulu sempat amit-amit untuk nonton band sendiri. Karena ini pernah kejadian dengan Robert (eks-gitaris Cokelat, kini manajer Drive) yang setahun setelah mundur dari band dia nonton kami di PRJ. Sebelumnya dia pernah ngomong, ”gimana rasanya ya nonton Cokelat dari depan panggung?” (Tertawa). Akhirnya gue sering menegaskan, ”jangan sampai gue menonton Cokelat dari depan panggung.” Dan ternyata malah terjadi. Tapi kayaknya nggak sekarang ini, mungkin nanti. Padahal gue pengen banget sebenarnya hadir di sana dan semoga ini diartikan sebagai bentuk dukungan bagi Cokelat, terutama dukungan kepada Sarah. Cuma takutnya nanti dianggap pengen eksis saja. Tapi kayaknya gue pasti bakal sedih deh...
”To be honest, gue takut banget omongan gue ada yang menyinggung mereka. Gue cuma nggak mau ada konflik berkepanjangan, kasihan anak-anak, bagaimanapun juga gue sayang banget sama mereka semua.”
Saat jarak memisahkan....
Hanya sehari setelah para personel Cokelat membeberkan secara eksklusif kepada Rolling Stone bahwa vokalis mereka, Kikan, telah resmi berpisah sejak akhir Maret 2010 lalu, mendadak akun Twitter pribadi miliknya (@KikanNamara) berhenti berkicau. Tak ada update sama sekali dari Kikan yang mengonfirmasi kabar hengkangnya ia dari Cokelat.
Kontras sekali jika dibandingkan dengan akun Twitter milik para personel Cokelat lainnya, gitaris Edwin (@Edwin_Cokelat), bassist (@ronnycokelat), gitaris Ernest (@ernestcokelat) yang terlihat sibuk membalas satu persatu pesan dari para Bintang Kita (julukan bagi fans Cokelat) menyangkut kabar hengkangnya Kikan dan drummer Ervin dari Cokelat.
Kikan baru menjawab permohonan untuk bersedia diwawancara melalui balasan direct message di Twitter. Ini setelah upaya menelepon dan sms yang terkirim tidak direspon sama sekali atau lebih tepatnya gagal karena nomor yang didapat salah. Ketika akhirnya mendapat nomor ponsel yang baru dan bisa dihubungi, terdengar suara vokalis yang merupakan ibu dari dua orang anak ini terisak-isak seperti orang tengah menangis. Entah kenapa. Akhirnya kami berjanji untuk melakukan sesi wawancara eksklusif pada hari itu juga (15/7) di sebuah cafe di Pondok Indah Mall I.
Sebagai salah seorang dari sedikit saja vokalis band perempuan yang memiliki suara sangat berkarakter dan bahkan menjadi penanda utuh identitas Cokelat selain musik mereka, maka mundurnya Kikan jelas sebuah kehilangan besar bagi Cokelat dan tentunya para Bintang Kita. Masa depan band ini pun kontan dipertanyakan.
Selama lebih kurang dua jam lamanya pemilik nama lengkap Namara Surtikanti (33 tahun) ini bercerita panjang lebar tentang alasan utamanya mundur dari band yang selama 14 tahun ikut membesarkan namanya, rencana karir solo, hubungan persahabatannya kini dengan para personel Cokelat yang lain, serta ketakutan sekaligus keinginannya untuk menyaksikan panggung pertama Cokelat bersama vokalis baru, Sarah Hadju. Berikut kutipannya
Mengapa Anda mundur dari Cokelat?
Mau alasan klise atau off the record? (tertawa) Sebetulnya ada beberapa alasan, tapi yang paling utama memang, sama seperti yang anak-anak (para personel Cokelat) bilang, karena gue merasa serba salah. Gue tidak bisa lagi mengikuti ritme kerjanya Cokelat, sementara kalau mereka harus beradaptasi dengan jadwal gue, kasihan mereka. Sebenarnya ini masalah yang cukup lama, bolak balik kami selalu mencoba mencari jalan keluar yang enak bagi kedua belah pihak. Sebenarnya ini bukan sebuah keputusan yang gampang, karena kalau nggak sama Cokelat sebenarnya gue juga nggak tahu mau apa lagi. Memang kalau mau dilihat lagi, gue cewek sendiri dengan empat cowok yang masing-masing berfungsi sebagai kepala keluarga di Cokelat ini. Gue berbeda dengan mereka, selain itu gue single parent, dua anak gue sudah semakin gede, butuh perhatian lebih dari gue dan segala macamnya. Gue sangat mengerti kalau para cowok-cowok ini nggak mungkin bisa mengikuti kemauan gue selamanya, jadi akhirnya sering terjadi bentrokan kepentingan. Akhirnya karena kasihan mereka pengen berlari sementara gue seperti berjalan di tempat, akhirnya gue mengambil keputusan untuk mundur dari band. Memutuskan gue resign dari band itu, bagi gue pribadi berat banget, tapi gue rasa anak-anak mengerti banget lah, apalagi kami sudah puluhan tahun ngeband dan mereka sering melihat sendiri bagaimana sulitnya, jatuh bangunnya gue, dengan jadwal, anak-anak gue dan segala macamnya.
Jadi Anda sebenarnya sudah lama ingin mengundurkan diri dari Cokelat?
Sebenarnya bukan untuk resign-nya ya, tapi ritme kerja band ini menjadi masalah. Itu sejak gue mulai punya anak pertama. Artinya dari tujuh tahun yang lalu. Akhirnya suka nggak suka, mau nggak mau, memang ada masanya gue ikut merintis Cokelat dari nol, saat gue belum menikah dan mempunyai anak itu gue bisa sebebas merpati, mau ngapain aja sesuka hati. Ketika punya anak akhirnya pelan-pelan memang terjadi perubahan.
Apakah Anda memutuskan untuk berhenti main musik selamanya atau hanya berhenti bermain musik bersama Cokelat?
Sebetulnya inti dari mundurnya gue ini, gue pengen rehat. Tapi mengingat skill-nya cuma main musik dan menyanyi, akhirnya gue tetap butuh uang. Nggak munafiklah, bagaimana gue menghidupi anak-anak gue nantinya? Sebetulnya gue kemarin sudah hampir memutuskan apakah mau seimbang atau mengejar duit? Karena kalau di band kan nggak bisa memutuskan sendirian, semua untuk kepentingan bersama. Kalau gue nggak mau mengambil satu job maka anak-anak crew gue bisa nggak makan nanti. Itu yang berat. Sebenarnya harapan gue dengan resign ini, gue punya kuasa lebih banyak atas diri gue sendiri, untuk memutuskan kapan gue mau bekerja dan kapan mau berlibur. Itu yang mungkin selama ini nggak bisa gue dapat di Cokelat. Dan gue pastinya hanya akan tetap main musik karena gue hanya bisa hidup dari situ.
Berarti Anda akan segera memulai karir solo setelah ini?
Agak terlalu serius ya? Karena sebenarnya gue nggak punya atensi untuk ke sana ya sementara ini.
Kalau membuat band baru?
OK, sebenarnya begini. Saat ini gue memang mempunyai satu proyek band tapi band ini dipersiapkan bukan sebagai satu proyek utama, ini lebih hanya untuk menyambung hidup gue saja. Setelah gue nggak sama Cokelat, kalau ada tawaran manggung nanti gue mau manggung dengan siapa? Tapi kalau untuk gue membuat sebuah band baru yang serius dan membuat album kayaknya gue perlu berpikir cukup lama lagi, untuk mendapatkan chemistry, mencari personel baru pasti sulit, apalagi selama 14 tahun gue sudah bersama-sama Cokelat. Belum tentu gue mendapat partner yang seasik mereka.
Persisnya kapan Anda mulai mundur dari Cokelat?
Gue resmi resigned itu sebenarya sejak 20 Mei 2010. Akhir Maret gue mulai ngomong dengan mereka namun pas menandatangani surat mundurnya gue dari Cokelat itu pada tanggal 20 Mei 2010. Tapi memang karena gue merasa pengunduran diri gue ini adalah sebuah keputusan yang akan membuat ribet banyak banget pihak, terutama dari Cokelat. Waktu itu gue pernah mengeluarkan statement bahwa gue nggak ingin ada satu periode dimana Cokelat nggak bisa manggung karena belum mempunyai vokalis lagi, jadi selama mereka belum mendapatkan pengganti maka gue akan terus membantu mereka. Ini berlaku untuk konser-konser yang sudah teken kontrak atau yang akan datang. Sampai 28 Juni kemarin (bukan 4 Juli seperti ditulis sebelumnya) gue masih membantu mereka. Itu show terakhir gue bersama Cokelat di PRJ.
Publik sangat sulit memisahkan Kikan dengan Cokelat, kalian seperti tidak bisa dipisahkan, ketika Anda mundur pernah terpikir bahwa keputusan itu berdampak besar bagi kehidupan para personel lainnya?
Gue selalu melihatnya dari dua sisi ya. Tidak bisa dipungkiri selama 14 tahun bersama Cokelat orang melihat image Cokelat itu sangat gue, bukan Cokelat kalau nggak ada Kikan, gue rasa orang seharusnya bisa melihat sebaliknya bahwa gue bukan siapa-siapa tanpa Cokelat. Bahwa gue akhirnya menjadi orang paling depan dan melihat image Cokelat sebagai gue itu rasanya terjadi di semua band ya? Image vokalis memang selalu dominan di semua band. Walau gue banyak bikin lagu dan bikin lirik, tapi gue yakin hasil akhir itu selalu ada di tangan kami berlima. Mungkin orang nggak banyak tahu bahwa Edwin, Ernest dan Ronny itu juga banyak menciptakan lagu. Dan mudah-mudahan stigma bahwa Cokelat nggak bisa apa-apa lagi tanpa gue itu tidak terbukti. Mungkin dengan tidak ada gue warnanya akan sedikit berubah...
Anda mendengar Cokelat telah memiliki vokalis baru dari siapa?
Baru minggu lalu, bukan dari anak-anak. Karena gue sudah benar-benar tidak berkomunikasi dengan mereka...
Sejak?
Sejak... Yah, pokoknya begini saja, setelah gue bilang resign, di beberapa manggung terakhir gue nggak diajak ngomong. Begitu saja. Gue bisa mengerti sih.
Mungkin mereka agak marah dengan Anda?
Iya, pasti ada seperti itu. Gue sangat memahami itu, walaupun gue sedih ya. Ketika terakhir duduk semeja dengan mereka gue pernah bilang, ”Walau sudah nggak kerja bareng lagi, bukan berarti kita nggak bisa berteman kan?” Maksudnya, pertemanan ini lebih dari segalanya, karena gue juga bisa 14 tahun bersama mereka pasti karena itu. Jadi bukan hanya cocok di panggung, tetapi pas turun kami bisa gila-gilaan bersama. Cuma yah, gue pikir nggak apa-apa juga sih, it takes time… Sampai semua bisa kembali normal.
Apakah Anda tertarik datang ke konser pertama Cokelat dengan vokalis baru pada tanggal 24 Juli nanti?
Gue pengen sekali ada di sana, tapi gue takut justru keberadaan gue nanti disalahartikan. Gue cukup tahu dirilah. Gue dari dulu sempat amit-amit untuk nonton band sendiri. Karena ini pernah kejadian dengan Robert (eks-gitaris Cokelat, kini manajer Drive) yang setahun setelah mundur dari band dia nonton kami di PRJ. Sebelumnya dia pernah ngomong, ”gimana rasanya ya nonton Cokelat dari depan panggung?” (Tertawa). Akhirnya gue sering menegaskan, ”jangan sampai gue menonton Cokelat dari depan panggung.” Dan ternyata malah terjadi. Tapi kayaknya nggak sekarang ini, mungkin nanti. Padahal gue pengen banget sebenarnya hadir di sana dan semoga ini diartikan sebagai bentuk dukungan bagi Cokelat, terutama dukungan kepada Sarah. Cuma takutnya nanti dianggap pengen eksis saja. Tapi kayaknya gue pasti bakal sedih deh...
”To be honest, gue takut banget omongan gue ada yang menyinggung mereka. Gue cuma nggak mau ada konflik berkepanjangan, kasihan anak-anak, bagaimanapun juga gue sayang banget sama mereka semua.”
Saat jarak memisahkan....
20100615
Aku Suka Kamu
Hmmmmm
"Selamat pagi dan tetap semangat."
Sayang, cuman itu yang bisa aku kirimkan.
Itupun sudah beberapa hari yang lalu.
Aku benci ketika harus tidur terlalu awal.
Karena aku harus berhenti melihat senyummu dalam gambar.
Aku juga benci ketika harus terjaga hingga pagi datang.
Karena aku tidak akan bertemu kamu dalam mimpi.
Walaupun tak setiap mimpi selalu penuh dengan kamu.
Tapi kamu selalu ada dalam mimpi.
Aku benci ketika harus mengingat awal aku mengenal kamu.
Karena aku tampak sangat bodoh ketika itu.
Aku juga benci ketika aku sudah mengenalmu.
Karena aku tambah menjadi seperti orang bodoh.
Mengenal kamu membuat aku capek.
Tapi selalu ada motivasi untuk aku pergi belajar.
Aku benci ketika kamu acuhkan aku.
Karena aku ingin berbagi sesuatu denganmu.
Aku juga benci ketika kamu menjawab semua tanyaku.
Karena aku harus berpikir lagi untuk membuat pertanyaan yang lain.
Berbicara denganmu sangat membuat kesal.
Tapi itu membuat semangat baru untuk terus berjuang.
Aku benci ketika kamu tidak membalas senyumku.
Karena itu membuatku dongkol.
Aku juga benci ketika kamu membalas tatapan dan senyumanku.
Karena itu membuat aku terlihat bodoh.
Senyuman darimu adalah suatu pertanyaan bagiku.
Tapi itu membuat aku tambah percaya diri.
Aku benci ketika kamu menolak tawaranku.
Karena itu membuat aku seperti pecundang.
Aku juga benci ketika kamu menerima tawaranku.
Karena aku menjadi salah tingkah olehmu.
Kamu itu lugu.
Tapi sangat setia.
Aku benci ketika kamu tidak membalas sms-ku.
Karena itu berarti kamu mengacuhkan aku.
Tapi aku benci ketika kamu membalas sms-ku begitu cepat.
Karena itu membuatku ragu dengan kamu.
Kamu itu menghubungiku ketika sedih, tapi lupa ketika senang.
Tapi itu membuatku tahu, kapan aku harus menghiburmu.
Aku benci kamu.
Karena kamu, membuatku menjadi suka kamu.
"Selamat pagi dan tetap semangat."
Sayang, cuman itu yang bisa aku kirimkan.
Itupun sudah beberapa hari yang lalu.
Aku benci ketika harus tidur terlalu awal.
Karena aku harus berhenti melihat senyummu dalam gambar.
Aku juga benci ketika harus terjaga hingga pagi datang.
Karena aku tidak akan bertemu kamu dalam mimpi.
Walaupun tak setiap mimpi selalu penuh dengan kamu.
Tapi kamu selalu ada dalam mimpi.
Aku benci ketika harus mengingat awal aku mengenal kamu.
Karena aku tampak sangat bodoh ketika itu.
Aku juga benci ketika aku sudah mengenalmu.
Karena aku tambah menjadi seperti orang bodoh.
Mengenal kamu membuat aku capek.
Tapi selalu ada motivasi untuk aku pergi belajar.
Aku benci ketika kamu acuhkan aku.
Karena aku ingin berbagi sesuatu denganmu.
Aku juga benci ketika kamu menjawab semua tanyaku.
Karena aku harus berpikir lagi untuk membuat pertanyaan yang lain.
Berbicara denganmu sangat membuat kesal.
Tapi itu membuat semangat baru untuk terus berjuang.
Aku benci ketika kamu tidak membalas senyumku.
Karena itu membuatku dongkol.
Aku juga benci ketika kamu membalas tatapan dan senyumanku.
Karena itu membuat aku terlihat bodoh.
Senyuman darimu adalah suatu pertanyaan bagiku.
Tapi itu membuat aku tambah percaya diri.
Aku benci ketika kamu menolak tawaranku.
Karena itu membuat aku seperti pecundang.
Aku juga benci ketika kamu menerima tawaranku.
Karena aku menjadi salah tingkah olehmu.
Kamu itu lugu.
Tapi sangat setia.
Aku benci ketika kamu tidak membalas sms-ku.
Karena itu berarti kamu mengacuhkan aku.
Tapi aku benci ketika kamu membalas sms-ku begitu cepat.
Karena itu membuatku ragu dengan kamu.
Kamu itu menghubungiku ketika sedih, tapi lupa ketika senang.
Tapi itu membuatku tahu, kapan aku harus menghiburmu.
Aku benci kamu.
Karena kamu, membuatku menjadi suka kamu.
20100601
"Ayat-Ayat Allah" Turun Di Gaza Palestina
Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.
Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.
Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.
Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.
Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***
Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.
Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.
SuaraTak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).
Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.
“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.
Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.
Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.
“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.
Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”
Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.
Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.
Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? ***
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.
Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.
Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.
Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”
Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.
Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.
Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”
Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.
Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.
Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.
Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.
Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”
Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).
Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.
Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.
Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.
Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
Selamat dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.
Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.
Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).***
Harum Jasad Para Syuhada
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.
Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Is*rael melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.
Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus,” katanya kepada islamonline.net (2/2/ 2009).
Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka,” ungkapnya. ***
Sumber: Majalah Hidayatullah EDISI 11| XXI | Maret 2009 /Rabiul Ula 1430 | ISSN 0863-2367
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.
Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.
Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.
Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.
Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.
Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***
Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.
Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.
SuaraTak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).
Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.
“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.
Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.
Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.
“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.
Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.
Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”
Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.
Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya
Saksi Serdadu Israel
Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.
Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Chan*nel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? ***
Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh
Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.
Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.
Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.
Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.
Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.
Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimana engkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”
Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.
Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.
Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya, para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.
Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”
Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.
Merpati dan Anjing
Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.
Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.
Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.
Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situs Filithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribath di front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.
Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada di tempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”
Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.
Kabut pun Ikut Membantu
Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).
Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.
Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.
Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.
Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoa kepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.
Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.
Selamat dengan al-Qur’an
Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.
Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.
Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).
Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).***
Harum Jasad Para Syuhada
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.
Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir
Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahan khutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000
Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Is*rael melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.
Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus,” katanya kepada islamonline.net (2/2/ 2009).
Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka,” ungkapnya. ***
Sumber: Majalah Hidayatullah EDISI 11| XXI | Maret 2009 /Rabiul Ula 1430 | ISSN 0863-2367
20100524
Kecerdasan Ditentukan Dengan Bagaimana Cara Anda Tidur

Udah pada tidur belom? Manusia normal yang berada di atas bumi pasti melakukan aktifitas ini, meskipun cuma 1 jam tiap hari. Jaman dahulu kala orang tidur memakai bantal kayu atau batu atau bahkan tidak memakai bantal. Sekarang aja enak, orang tidur pakai yang 'empuk-empuk' heu heu.Kebiasaan tidur dengan bantal kayu atau batu, menyebabkan orang-orang dahulu bisa bangun dengan segar bugar, karena tubuh mereka bisa beristirahat total saat tidur. berbeda dengan mereka yang tidur di atas kasur empuk, tubuh mereka tidak bisa istirahat dengan total, kenapa ya? karena saling menekan dengan alas tidurnya.
Posisi tidur yang benar adalah tubuh miring ke kanan dengan kaki bagian atas di tekuk, dan tangan kiri sebagai bantal. Tidur dengan posisi ini bermanfaat agar mengalirkan darah ke otak dengan sempurna, karena posisi kepala lebih rendah dari jantung.
Posisi tidur yang membuat bodoh adalah : terlentang, tengkurap, dan kaki mengangkang. Posisi ini diibaratkan sebagai cara tidurnya binatang, karena aliran darah tidak lancar, perut dan dada tertekan, juga aliran darah ke otak juga terhambat.
Saat tidur yang baik adalah jam 20.00 WIB - 01.00 Pagi. Selanjutnya 01.00-04.00 digunakan untuk belajar, pukul 04.00 - 06.00 untuk olahraga, dan seterusnya...
Saat tidur yang tidak baik adalah pukul 06.30 WIB setelah matahari terbit, pada tengah hari pukul 11.30 - 12.00 WIB dan pukul 17.30 WIB saat matahari tenggelam. Tidur pada saat tersebut akan mengakibatkan seseorang linglung dan separuh kesadarannya hilang, diakibatkan oleh keseimbangan alam yang pada waktu-waktu tersebut harus berada pada kondisi sadar.
Tidur yang baik berada dalam keadaan atau ruang yang gelap, terhindar dari cahaya yang menyengat dan silau. Rangsang cahaya yang terlalu banyak, menyebabkan otak tidak optimal dalam melakukan defragmentasi data-data yang terekam sebelum tidur, hal ini akan berdampak kepada daya ingat pada jangka waktu yang lama.
Ayo tidur yang panjang buat sehatkan badan
Langganan:
Postingan (Atom)