20121014

Rumah

Seperti halnya sebuah keluarga, pencinta kesunyian pun tentunya membutuhkan sebuah tempat untuk bernaung.

“Kamu membutuhkan tempat untuk kembali...” kata seorang perempuan di sampingku.

Aku masih memegang gitar ¾ tanpa ada satu senarpun yang aku petik. Aku hanya sedikit menggeser tubuhku ke arah perempuan yang tadi berada di sampingku. Kulihat dia menyeruput teh hangatnya, sebelum dia lanjutkan kalimatnya yang terpotong.

“Kamu membutuhkan tempat untuk kembali, tempat untuk kau bercerita tentang segala hal yang telah kau lakukan di waktu sebelumnya.”

“Aku belum membutuhkannya. Aku cukup nyaman dengan keadaanku yang seperti sekarang.” Ujarku.

Dia tampak tersenyum dengan masih memainkan gelas plastik bergambar polos di tangannya. Aku menidurkan gitar ¾ di atas matras yg kosong. Kemudian mencari sebungkus kopi hitam untuk aku seduh. Perempuan di depanku mengerti apa yang aku cari, dia menyalakan kompor mini untuk menghangatkan air.

“Terima kasih.” aku mengambil kembali gitar untuk memainkan sebuah lagu.

“Bukan belum membutuhkannya, kamu belum menginginkannya, bukan?” sambil menuangkan kopi bubuk ke dalam gelas lain yang sama dengan gelas yg digunakan untuk teh.

“Kelihatannya begitu ya?”

“Tentu, tak masalah kamu berjalanan sendiri kemanapun kamu inginkan. Aku juga menyukai perjalanan seorang diri. Tenang, sunyi, hanya ada dirimu dan pikiranmu. Begitu yang pernah kamu katakan kepadaku. Sampai akupun terhipnotis untuk mengikutimu.” dia memberikan segelas kopi panas.

Tak sampai aku memetik senar paling bawah, aku menyeruput kopi. Panas. Dia tertawa melihatku kepanasan. Ah, perempuan ini selalu saja terlihat manis. Rambutnya yang pendek tak sampai menyentuh bahunya terlihat dibelai angin. Kadang aku cemburu dengan angin yang dengan leluasa dapat menyentuh rambutnya. Aku ikut tertawa.

“Kamu butuh tempat untuk bercerita. Kamu butuh dukungan tentang apapun yang akan kamu lakukan. Tak bisa selamanya kamu berjalanan sendirian tanpa ada seorang pun yang tahu tentang tujuanmu. Itu tidak baik.” dia meyeruput tehnya yang sudah hampir kosong. Mengambil sebuah spidol, kemudian mencorat-coret gelas plastik polosnya. “Selama ini kamu melakukan semua perjalanan tanpa pernah bercerita kepada siapapun. Mungkin aku jadi satu-satunya orang yang beruntung yang dapat mendengar beberapa bagian ceritamu. Tentang segala keluh kesahmu. Tapi, aku hanya bisa mendengarkan ceritamu, tanpa bisa memberikan tanggapan tentang perjalananmu.” masih sambil mencorat-coret gelas

“Dengan didengarkan olehmu saja aku sudah sangat senang. Aku selalu senang melihat lesung pipimu ketika kau tersenyum membaca puisi yang aku buat selama perjalanan. Atau ketika kamu khawatir karena aku terjatuh ke dalam jurang.” ujarku.

“Sudah, jangan mulai lagi gombalnya.” mukanya sedikit memerah.

Iya, lesung pipinya itu selalu membuat aku rindu. Senyumannya yg walaupun kecil selalu membuat matanya tertutup. Atau ketika dia yang sedang tertawa membuat matanya malah tertutup semua. Kadang aku suka meledeknya karena matanya yang sipit. Tapi dia selalu membalas dengan hal serupa, karena mataku juga sipit. Heheh.

“Tapi suka, kan? dia tertawa. Dan aku pun ikut tertawa.

“Heheh, iya, iya. Aku serius dengan yang aku katakan tadi. Kamu butuh sebuah rumah. Kamu butuh orang-orang yang tinggal di rumah itu. Orang-orang yang ketika kau bercerita tentang semua perjalananmu, tentang keinginanmu, akan meresponmu. Yang akan memberikan solusi ketika perjalananmu mengalami masalah. Yang akan mengetahui kemana kamu akan pergi.” dia menghabiskan tehnya. Aku masih menyeruput kopi panasku. Gitar masih aku peluk tanpa aku mainkan. “Orang-orang di rumah itu yang tidak akan menyalahkanmu ketika kamu salah jalan, tapi akan memberitahukan yang seperti apa yang benar. Di rumah itu kamu akan mendapat dukungan. Yang akan memberikan semangat ketika kamu terjatuh. Intinya kamu membutuhkan sebuah rumah. Tempat di mana kamu akan kembali setelah melakukan perjalanan. Karena seorang petualangpun membutuhkan tempat untuk kembali.”

Aku hanya tersenyum melihatnya. Gitar yang dari tadi hanya aku peluk, mulai aku petik.

A Cold and frosty morning there's not a lot to say. About the things caught in my mind.”

Ah, aku selalu suka ketika aku memainkan gitarku dan dia yang bernyanyi mengikuti suara gitarku. Don’t Go Away-nya OASIS.

A Cold and frosty morning there's not a lot to say 
About the things caught in my mind 
As the day was dawning my plane flew away 
With all the things caught in my mind 

And I want to be there when you're... 
Coming down 

And I want to be there when you hit the ground 
So don't go away say what you say 
But say that you'll stay 
Forever and a day...in the time of my life 

'Cause I need more time yes I need more time 
Just to make things right 
Damn my situation and the games I have to play 
With all the things caught in my mind 

Rambutnya yang pirang terkena pantulan oranye dari sang senja. Senyum dan lesung pipinya yang indah. Matanya yang sipit. Aku dan dia. Di sebuah bukit.

15.29
II/1035, 14 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar