20130821

Ini adalah Kisah Tentang Seorang Perempuan

Ini adalah kisah tentang seorang perempuan
...
Pada kabut dititipkannya peluk
Pada matahari terbit menyimpan hangat
Pada setiap jejak langkah terselip rindu
...
Mengisi dialog pada waktu yang kosong
Menjadi senandung indah pada setiap keramaian
Mengirimkan teduh ketika terlelap
...
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan

20130820

Curhat: Meninggalkan Zona Kenyamanan


Sayang sekali bulan ke tujuh di tahun 2013 ini dilewati tanpa ada postingan. Hmmm, kemana saja saya selama ini? Mungkin ada pula yang bertanya "kemana saja saya selama tiga bulan terakhir?" di dunia yang biasa membawa saya mengorbit pada matahari. Hehehe, saya memang menghilang dari dunia normal. Normal bagi saya tentunya. Jadi kali ini tentang apa? Sedikit curhat? Mari menyeduh segelas kopi ginseng terlebih dahulu. :D

Mungkin kali ini sepenuhnya curhat atau apalah itu. Sebenarnya hasrat untuk menulis selalu saja besar, hanya saja bagaimana memulainya itulah yang sepertinya sulit. Iya, sepertinya, selalu saja terlalu banyak membayangkan dan memikirkan. 

Jadi apa yang telah saya lakukan selama beberapa minggu terakhir ini? Sambil menikmati Hold On-nya Santana. 

Jauh-jauh hari saya memang telah merencanakan akan sebuah perjalanan bersama dengan kawan-kawan saya ke suatu tempat yang tempatnya memang baru ditetapkan satu bulan yang lalu, perjalanannya pun sudah terlaksana satu minggu yang lalu. Ndak ada hubungannya sih sama tulisan kali ini. Sekarang mah mari kita berbicara tentang zona nyaman saja yak? Sebelumnya, mari kita pindahkan backsoundnya ke Evil Ways-nya Santana. Okay, tentang zona nyaman. Beberapa minggu terakhir ini saya keluar dari zona nyamannya versi saya. Menjauh dari kehidupan yang bisa membuat saya tenang dan adrenalin tidak terpacu. Membatasi orang-orang yang ingin saya temui (jujur saja ini membuat sangat tidak nyaman). Pada keadaan normal saya senang bisa bertemu dengan orang-orang yang bahkan saya tidak kenal dan memulai berbincang kemanapun saya dan orang yang saya temui mau. Bahkan hanya saling terdiam atau mendengarkan orang lain berbincang. Hal-hal itu berada di area nyaman saya. Hanya hitungan jari orang-orang yang saya ajak berbincang pada beberapa minggu terakhir ini. Buruk? Tidak juga. Tergantung dari sudut mana penilaian dilakukan. 

Beberapa bulan sebelumnya, sering terjadi perbincangan dengan orang-orang yang saya temui. Tentang masalah sosial, tentang anti kemapanan, tentang anti pemerintahan, tentang hal-hal lain yang menurut saya bisa diklasifikasikan dengan memperbincangkan kaum-kaum yang hidup bebas dan terlupakan. Salah satu obrolan tentang (saya tidak tahu apa istilahnya) hidup segala ngepas. Mau makan harus ngepas, mau jalan-jalan ngepas. Padahal bisa lebih dari ngepas. Ada beberapa kelompok yang menyebutnya anti hedonisme. Saya pun mengalami hal itu. 

Lalu ada yang berbicara tentang anti kemapanan. Yang mengagungkan hidup secara berkelompok dan yang penting selalu bersama dengan kawan-kawan. Berbahagia. Yang tidak menyukai kehidupan serba mewah. Atau ada lagi yang mereka berbicara tentang keberanian mereka keluar dari zona nyaman mereka yang dibuktikan dengan keluarnya mereka dari segala kehidupan yang nyaman. Atau keluar dari kehidupan mereka sebagai pekerja kemudian hidup dengan bebas sesuai dengan keinginannya. Hmmmm, hubungannya dengan kehidupan saya beberapa minggu terakhir? 

Saya keluar dari zona nyaman saya. Pada keadaan sebelumnya, saya merasa nyaman berada di lingkungan yang bisa  disebut segala anti tersebut. Saya keluar dari segala hal yang sehari-harinya biasa saya lakukan. Kehidupan saya biasanya adalah bagaimana caranya hidup ngepas. Memandang buruk mereka yang serba ada sebagai kegiatan menghambur-hamburkan. Saya merubahnya walaupun tidak 180 derajat tepat. Tapi saya ingin merasakan hidup yang tidak ngepas. Karena zona nyaman saya berada di hal yang sebelumnya. Saya yang terbiasa hidup bebas (merdeka) mulai terkungkung dalam berbagai aturan. Karena zona nyaman saya adalah kebebasan, maka saya harus membuat aturan untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Supaya tidak bosan hidup ini. 

Singkatnya bagaimana caranya membuat adrenalin saya mengalir kembali lah. Selama beberapa minggu terakhir ini saya melakukannya. Benar-benar melakukannya. Segala hal yang berbanding terbalik dengan kebiasaan saya. Ndak semuanya sih. Hehehe. Hidup dengan segala keteraturan, tidak pas-pasan, membatasi dengan siapa saya akan bertemu hari ini, tidak menjadi orang yang spontan, membatasi interaksi dengan alam, menghindar dari hal-hal menyenangkan sebelumnya dan hal lain yang bukan kebiasaan saya. Adakah hasilnya setelah beberapa minggu? Tentu!

Dalam beberapa hal setelah keluar dari zona nyaman, saya bisa melihat satu hal dari sudut pandang yang lain juga. Ada tambahan aspek ketika saya menilai sesuatu. Yang pada akhirnya semakin mengaburkan benar atau salah yang didasari pada kebiasaan manusia. Benar atau salah yang berlaku karena pembentukan opini (bukan karena agama) semakin buram. Semuanya bisa menjadi benar di satu sudut pandang, pada waktu yang sama bisa terpatahkan menjadi salah karena sudut pandang lain. Dan tentang menjadi orang-orang yang pernah saya kritiki sebelumnya. Iya, saya menjadi orang yang saya kritiki sebelumnya. Asyik kan? Baru beberapa minggu saja saya melakukannya. Mungkin satu atau dua minggu ke depan akan kembali ke zona nyaman yang sebelumnya. Atau mencari lagi yang baru di luar zona nyaman saya. Begitulah.
Satu hal lagi yang saya dapat beberapa minggu terakhir ini: "Keluar dari zona nyaman itu seperti keluar dari tubuh sendiri, seperti menjadi orang lain. Pahit!"

L

Photo Taken: 11-Agustus-2013 / 15:22 / by Agam Djuhaedi
 :)


20130628

Kekuatan Super: Butterfly Effect


organized chaos

Beberapa orang setuju jika kekuatan jumper (teleportation) yang dikisahkan melalui film Jumper adalah kekuatan yang paling menguntungkan dibandingkan dengan kekuatan-kekuatan super lainnya. Namun ada yang lebih menarik perhatian mengenai kekuatan super yang (mungkin hanya) dimiliki oleh manusia-manusia di dalam skenario film. Dapat dibayangkan jika ada manusia yang menguasai teori chaos dan dapat mempraktekannya dengan tepat di dunia nyata. Teori chaos atau dikenal juga dengan nama Butterfly Effect. Dengan berdasarkan pada konsep yang dikisahkan pada film Butterfly Effect, kekuatan itu benar-benar menakjubkan (tentunya diluar maksud sesungguhnya dari film tersebut). Dengan hanya mengendalikan pikiran (yang artinya tidak perlu kembali ke masa lalu), seorang pengguna butterfly effect bisa mengubah nasibnya. Berkali-kali, dengan resiko yang sangat kecil. Kecuali si pengguna menyatakan dirinya meninggal di masa lalu. 

Teori chaos pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli matematika dan metereologi dari United States. Teori ini diungkapkan oleh Edward Norton Lorenz (1978-2008) pada tahun 1961 yang pada awal pemikirannya adalah efek yang dihasilkan satu kepakan seekor burung camar laut dapat merubah cuaca untuk selamanya. Yang pada akhirnya dihaluskan menjadi satu kepakan sayap kupu-kupu di Brazil bisa membuat tornado di Texas di masa depan. Yang akhirnya teori chaos ini lebih dikenal dengan Butterfly Effect. Butterfly effect ini pada awalnya digunakan untuk ilmu matematika dan fisika quantum. Namun saat ini berbagai bidang telah menerapkan teori ini karena teori ini mendukung teori yang berada pada bidang selain matematika dan fisika. Sebut saja imu psikologi, hukum, atau sosial. Karena secara sederhana, teori butterfly effect ini mengungkapkan bahwa hal sekecil apapun yang dilakukan saat ini akan mampu membuat perubahan besar dikemudian hari. Atau suatu kejadian yang besar saat ini dikarenakan suatu hal kecil yang dilakukan pada masa lalu. Yang artinya satu hal kecil tidak dapat diabaikan dalam kehidupan ini.

Bayangkan ketika butterfly effect ini menjadi suatu kekuatan super yang dikawinkan dengan kemampuan kembali ke masa lalu tanpa perlu menggunakan mesin waktu. Artinya hanya menggunakan kekuatan pikiran. Cukup dengan merubah hal kecil saja bisa merubah kehidupan saat ini. Bahkan hanya dengan merubah kalimat yang telah diucapkan. Perubahannya akan begitu besar. Contoh sederhananya mungkin mengenai cinta, sebut saja seorang pria bernama W memiliki kemampuan mengatur butterfly effect. W mencintai seorang perempuan bernama V, namun W tidak memeliki keberanian di masa lalu untuk mengungkapkannya. Saat ini W merasa sangat terpuruk karena tidak memiliki V. Dan dia yakin apabila memiliki V, kehidupannya akan berubah drastis menjadi lebih baik. Dengan kekuatan pikirannya, W kembali ke masa saat W pertama kali mengenal V. Tanpa canggung W berani mengatakan bahwa W mencintai V. W berani mengatakannya karena hal itu hanya terjadi di alam pikirannya. Namun akan sangat berpengaruh di kehidupan nyata. Akhirnya V menerima W dan mereka berdua saling memiliki. Pada saat ini, kehidupan W memang berubah sangat drastis dengan V berada di sampingnya. Maka W telah berhasil menggunakan kekuatan butterfly effect untuk merubah kehidupannya dengan kembali ke masa lalu menggunakan alam pikirannya. 

Namun tentunya efek yang terjadi karena merubah masa lalu tidak terjadi sesederhana itu, pasti ada hal lain yang berubah ke arah negatif. Yang artinya, perubahan kecil di masa lalu memang akan menimbulkan efek yang sangat besar dikemudian hari. Sebut saja misalnya W yang saat ini telah bersama V kehilangan sahabat baiknya ketika W tidak bersama V. Karena di perjalanan kisahnya yang tidak dia gambarkan di pikirannya, V telah membatasi kehidupan liar W. Memang selalu ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu yang besar. 

Teori ini memang sangatlah hebat. Tak perlu khawatir tentang keterpurukan. Tinggal memejamkan mata untuk masuk ke alam bawah sadar dan membangkitkannya, kemudian menggali ingatan dan merubahnya sesuai keinginan. Dahsyat bukan? Tapi apa yang akan terjadi ketika terlalu sering menggunakan kekuatan tersebut? Tentunya akan membuat gila penggunanya. Karena apa yang didapatkan pasti ada yang harus dibuang atau ditinggalkan atau bahkan terpaksa dihilangkan. Yang akhirnya akan mengakibatkan de javu secara berlebihan. De javu secara berlebihan akan mempengaruhi pikiran ke arah kehidupan nyata atau hanya mimpi saja. Akhirnya bingung tentang apa yang terjadi sebenarnya atau hanya merupakan sebuah imajinasi saja. Efeknya adalah tidak teraturnya pola pikir si pengguna kekuatan tersebut karena bingung dan akhirnya gila.

Kekuatan yang sangat hebat bukan? Manfaatnya sangat luar biasa. Tapi jika berlebihan akan terjadi chaos (kekacauan) bagi si penggunanya. Ah, semua hal pun bila dilakukan berlebihan memang tidak baik. Namun hal kecil apapun memang harusnya tidak boleh dianggap enteng. Butterfly effect, efek abstrak yang mengagumkan. Sebuah seni kekacauan yang begitu indah. 

Pertanyaannya, apakah ada manusia canggih di dunia nyata ini yang mampu mengendalikan pikirannya untuk mencapai kekuatan butterfly effect?  Mungkin ada, yaitu manusia-manusia yang mampu memanfaatkan hal-hal kecil menjadi luar biasa. Iya, manusia-manusia yang mampu melihat dan memanfaatkan kesempatan ketika manusia lainnya tidak. :D


sumber gambar: http://liesma.deviantart.com/art/organized-chaos-160240663 

20130626

Dialog Keempat: Tamparan Keras!

"datangi ibumu... rasakan getarannya.. dalam dirinya ada keberkahanmu, keajaibanmu, asal kau tau cara mendapatkannya..." 
-Saptuari Sugiharto-

Tak perlu panjang lebar.. Aku rindu Ibu..

Dialog Ketiga: Berputar!

I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books.
I don’t know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
I don’t know if I should
I don’t know if I could
(ride a white swan)

I went down at the banyan trees
I would never agrees
Declarants of your unprovement
(ride a white swan)
I read all the history books.
I don’t know if I should
Keep believes in your exponents
(ride the tide now)
How could you say you paid attention
keep making the same mistake?
How could you say you paid attention
keep making the same mistake?
same mistake

I don’t know if I could
(ride a white swan)
I don’t know if I should
(ride the tide now)
I don’t know if I could
(ride a white swan)
I don’t know if I should
(ride the tide now)

Conundrum - The SIGIT
 
Sulit menentukan bukan? Benar dan salah memang ditentukan pada apa yang berkembang di masyarakat. Pembentukan opini besar-besaran. Bahwasanya kehidupan ini harus dilakukan dengan sesuatu yang selalu benar. Dan kesalahan itu harus dihindari. Tanpa tahu dari mana benar dan salah itu ditentukan. Hanya opini yang terbentuk secara sengaja, teratur, dan terus menerus dilakukan/diulang.
 
Sejak manusia bisa mengingat, sejak itulah pembentukan opini dimulai tentang benar dan salah. Enak bukan? Tanpa harus mencari dan mencoba, benar dan salah itu sudah dijejalkan di setiap sudut pemikiran mereka yang dapat mengingat. Dan dibuktikan dengan apa yang bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung. Padahal itu hanya perputaran dari yang sebelumnya. Hal yang sama yang terus dilakukan. 
 
Ada yang ingin melakukan perubahan? Ah, perubahan itu sendiri dibentuk untuk membentuk opini yang berbeda namun sama. Hanya arahnya saja dirubah. Karena perubahan dilakukan karena melihat ada suatu lubang dijalurnya. Tetapi perubahan itu pun hanya akan menghasilkan lubang lain. Lebih baik daripada tidak sama sekali? Itupun hasil dari pembentukan di kalangan masyarakat luas. Percaya bahwa bergerak dan melakukan perubahan itu akan menuju ke arah yang lebih baik. Satu lubang dihindari ketika ditemukan. Dan lubang lain pun lama-lama akan ditemukan juga. Tanpa perlu dicari. Tunggu saja..

Kehidupan ini berputar. Sudah ada contohnya. Tinggal ikuti saja. Manusia-manusia di masa datang akan mempelajari manusia di masa sekarang. Manusia-manusia di masa sekarang mempelajari dari masa lalu. Yang seharusnya disadari, masa datang pun akan menjadi masa lalu. Tidak ada yang berbeda. Hingga menjadi bingung apa yang seharusnya dilakukan. 

Ikuti saja apa yang sedang berkembang. Dengan begitu lama-lama akan bisa membentuk opini yang diinginkan. Begitu seterusnya.
 


20130625

Dialog Kedua: Berkarya!

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.
Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.” 
-Buya Hamka-

Bagaimana menjalani hidup ketika tujuan pun belum ditentukan. 
Apakah hidup yang telah dijalani telah berada di jalur yang tepat?
Bagaimana jika tidak?
Kembali ke sudut pikiran yang pernah terlupakan.
Merasa tak pernah bergerak.
Tak juga merasa terlindas.
Ada hal-hal yang tidak memerlukan alasan untuk memperjelasnya. 
Jalani saja?
Babi di hutan pun menjalani hidupnya lurus-lurus saja. 
Menjadi daging asap jika tertembak pemburu. 
Bahkan monyet pun terus berlatih dari satu pohon ke pohon yang lain.
Terjatuh?
Naik lagi saja.
Diamnya manusia sudah lebih dari sekadar babi di hutan dan atau monyet yang bergelantungan.
Diamnya manusia juga adalah sebuah karya.