Sudah lama aku tak mengunjungi Negeri Hujan dan Negeri Senja. Dua negeri yang berada di batas antara rindu dan benci. Bagaimana kabar siluet-siluet hitam yang selalu menari ketika aku mengunjungi Negeri Senja? Adakah cerita menarik lainnya yang digambarkan di balik tirai-tirai hujan di Negeri Hujan?
Hari ini sepertinya aku bisa mengunjungi salah satu kerinduan itu. Aku lebih tertarik mengunjungi Negeri Senja. Karena beberapa hari yang lalu, hujan selalu hadir ke duniaku. Akan seperti apa negeri itu ya? Sudah lama sekali aku tak mengunjunginya.
Aku mengendarai sepeda motorku ke ujung dari kota yang aku tinggali saat ini. Menuju gerbang Negeri Senja. Gerbang yang hanya terbuka beberapa menit saja dalam sehari. Terbuka di menit-menit akhir menuju senja di duniaku. Tidak begitu jauh jarak dari tempatku ke gerbang itu. Mudah-mudahan saja tidak banyak orang yang berlalulalang di sana. Karena akan menjadi kacau ketika banyak orang baru yang mengetahui tentang keberadaan gerbang Negeri Senja itu. Banyak orang yang ingin pergi ke sana namun tidak mengetahui gerbangnya. Beruntung aku bisa mengetahuinya dulu, diajak oleh seorang perempuan yang hingga kini aku tidak mengetahui keberadaanya. Dan aku pun tak perlu mencari tahu di mana dia sekarang.
Sepeda motorku melaju tak begitu cepat. Sengaja. Aku ingin menikmati kota ini sebelum aku menuju negeri senja. Negeri yang hanya selalu di waktu senja di duniaku. Akan bertemu siapa aku di sana? Siluet yang baru kah? Atau bayangan lama yang akan menghampiriku?
Ah, itu dia! Gerbangnya sudah dekat. Aku menitipkan sepeda motorku di warung yang biasa aku singgahi sebelum menuju ke sana.
"Sudah lama ndak berkunjung ke sini, Mas?" ujar seorang ibu tua yang muncul dari dalam rumah di belakang warung itu.
"Iya, Mbah. Baru ada waktu lagi." ujarku seraya menyalami ibu tua itu.
"Terlalu sibuk dengan dunia ya? Hati-hati loh, hidup itu harus selalu berimbang. Jangan terlalu menikmati dunia ini. Jangan terlalu bersenang-senang di dalamnya." beliau tersenyum sambil mengunyah sesuatu. Aku hanya bisa tersenyum. Tak perlu aku jawab.
"Sehat, Mbah? Banyak yang berkunjung ke sini?"
"Masih orang-orang yang sama, Mas. Belum ada orang-orang baru."
Syukurlah, pikirku. Negeri senja akan tetap sama dengan dahulu terkahir aku mengunjunginya.
"Saya langsung masuk ya, Mbah? Sudah waktunya." aku menyalami ibu tua itu.
Gerbangnya masih tertutup. Masih harus menunggu beberapa menit lagi untuk aku melompat ke dalamnya. Aku menyulut sebatang rokok. Semoga sempat aku habiskan sebatang rokok ini.
Cahaya oranye. Dari arah barat. Akhirnya terbuka juga gerbangnya. Aku berlari ke arah cahaya itu. Itu berarti gerbangnya sudah terbuka. Aku lempar rokok yang belum setengahnya terbakar itu. Hap! Aku berada di dalamnya.
Menjadi gelap ketika baru memasukinya. Aku masih harus berjalan untuk meninggalkan gelap itu. Tak lama, tercium bau khas dari negeri senja. Harum! Masih sama rupanya. Harum angin laut jika aku berada di duniaku. Angin laut yang bercampur dengan wewangian bunga yang entah aku tidak tahu jenis bunga apa itu. Harumnya selalu pas. Menenangkan.
Akhirnya, hanya oranye yang bisa aku lihat. Aku berjalan menyusuri batas senja. Mencari tempat yang biasa aku gunakan untuk menikmati suasana ini.
"Akhirnya kau datang juga. Aku kira kau tak akan kembali ke negeri ini." suara yang aku pernah mengenalnya. Aku memutar kepalaku. Ah, sebuah bayang hitam yang indah. Sesuatu yang aku pernah merindukannya.
Aku tak bisa meresponnya. Siluet itu terlalu indah. Siluet pada lembayung yang bermahkota jingga. Bayang hitam di antara garis warna yang kuning keperakkan. Ah, rambutnya yang tergerai. Memerah saga. Lekuk tubuhnya selalu menari dalam imajiku. Menghembuskan angin yang meramu nafas dari siluet itu.
"Masih merindukanku?" ujarnya mendekatiku.
"Se.. Selalu, Sayang." ujarku berbohong. Seraya aku berjalan mundur berusaha menjauh darinya. Aku tak mau terjebak lagi dalam keindahannya. Tapi akupun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat bercumbu di sela-sela cahaya matahari yang redup. Cahaya indah yang tak pernah bersembunyi karena gelap di negeri ini.
"Sudah kau dapatkan gadis yang kau puja itu? Hingga kau lupa untuk mengunjungi aku di sini?" suaranya parau. Dia berhenti. Memalingkan tubuhnya. Aku mendekatinya. Ingin aku peluk tubuhnya.
"Maaf, Sayang."
"Seindah itukah dia? Aku kira tak kan ada hal lain yang bisa melebihi keindahan matahari yang menggantung memberikan cahaya kuning keperakkan. Iya, barangkali tak ada yang melebihi syahdunya suara angin yang bernafas yang mencumbu seluruh tubuhmu."
"Lebih indah dari sekedar kata-kata, Sayang. Bahkan angin di negeri ini pun tak akan sanggup menyanyikan keindahanya. Riuh ombak akan berkecamuk ketika dia mendesah. Bahasa yang dipancarkan wajahnya...."
"Tapi di duniamu, kau tak akan pernah bisa mendapatkan senja yang abadi. Kau begitu mencintai senja bukan?" bayang itu memotong kalimatku.
"Bahasa yang dipancarkan wajahnya. Seindah lembayung yang menggantung syahdu. Aku mencintainya, Sayang. Seperti aku mencintai senja di negeri ini. Abadi. Aku bisa menikmati senja di duniaku. Memang tak selalu setiap waktu adalah senja di duniaku. Tapi lebih indah ketika ada sesuatu yang aku tunggu untuk aku nikmati bersamanya. Iya, aku merindukan waktu yang bisa menyatukan aku dengan dia. Bukan tentang keabadian. Tapi tentang kerinduan." aku tak bisa merangkai kata lagi. Sejenak aku terdiam. Aku sudah tidak kuat untuk menatap keindahan siluet indah itu menjauh dariku.
Ah, sudahlah. Setidaknya aku bisa menikmati negeri ini sendiri. Seperti biasanya. Ketika kekasih yang aku cintai tak bisa menemaniku. Aku tetap harus menikmatinya.
Tapi memang keabadian senja yang ditawarkan negeri ini, jauh kalah indah dari senja di duniaku yang menawarkan kerinduan untuk menikmatinya. Untuk saling berbagi di kala waktu akan menjadi gelap. Iya, aku mencintai kekasihku melebihi keabadian senja di negeri ini. Karena tanpa keabadian, aku bisa memiliki rasa rindu. Rindu pada senja dan kekasihku.