| Aku bisa melihat ini, sambil menunggu teriakan Ibu dari bawah.... :) 24 Maret 2012 - 18.01 WIB |
20120507
20120505
Di Rumahmu, Kemarin Malam!
Aku kembali datang padamu.
Masih dengan desah nafas yang sama.
Ada kabar dari bawah, kau kesepian.
Kata mereka kau bergumam sendiri selepas senja.
Atau kau marah? Karena mereka membuatmu kotor.
Syukurlah, kau masih mau menghiburku.
Aku bisa melihat bayanganku tadi malam.
Cahaya dari langit juga membuatmu tampak.
Tapi, kau begitu dingin.
Aku juga tak melihat satu titik cahaya yang biasa tepat di atasmu.
Padahal yang lainnya begitu terang.
Mungkin kau gundah?
Karena kelakuan penghuni bawah yang mencari untung darimu?
Atau karena umurmu memang sudah tak muda lagi?
Di balik batu besar, 2 Mei 2012
20120429
Pada Setiap Senja
Pada sebuah senja
Sungai itu menelan matahari di ujung jembatan
Alunan gitar masih terdengar...
Gitar itu sedang berbincang dengan violin..
Pada sebuah senja
Tawa orang-orang di ujung jalan sangat riang
Dua cangkir kopi hitam untuk beberapa orang pria
Para wanita menikmati teh
Aku menatap seorang gadis..
Lesung pipinya dia perlihatkan..
Ah, dia mulai bernyanyi..
Dia bersaing dengan suara merdu violin
Suara burung-burung membuat violin menjadi diam
Pada sebuah senja
Kopi dan teh mulai habis
Gadis itu selesai bernyanyi
Tersenyum...
Ah, untuk siapa senyumnya itu?
Pada sebuah senja
Ah, senja sudah hilang
Gadis itu pulang
Meninggalkan bayangnya
Untuk aku simpan
Gelap sudah
Di ujung jalan di atas jembatan kayu,
Mungkin 23-27 April 2012
20120424
Kenapa, Cantigi?
Cantigi itu selalu berkumpul bersama batu-batu dan pasir
Mungkin cantigi ingin menjadi batu dan pasir?
Atau mungkin dia itu memang batu yang menyamar menjadi bunga dan daun?
Adakah cantigi itu spesial bagi batu-batu dan pasir disekitarnya?
Ataukah dia dibenci oleh mereka karena berbeda?
sebuah renungan kecil
untuk aku sendiri
yang ingin menjadi bagian
dari tawa dan nyanyian
mereka yang senang
duduk bersila
dan menikmati kopi
Hampir
Hampir....
Iya, hampir...
Ah, sedikit lagi padahal..
Apakah aku mempunyai hak untuk mempertanyakan keberadaanku?
Aku hampir menyempurnakan wujudku
Iya, hampir saja
Seperti sebuah adegan drama
Aku mendaftar untuk ikut bermain dalam drama
Ya, mereka memberikan aku peran
Mereka pernah meyakinkan aku tentang peran yang harus dimainkan
Naskahnya sudah aku pegang
Hanya saja aku tak pernah muncul dalam adegan
Menjadi seorang figuran?
Sudah aku bilang, aku tak pernah muncul dalam adegan
Dibelakang panggung pun tidak
Wujudku masih berupa bayangan
Terlihat,
Apakah mereka merasakan keberadaanku?
E-3, 24 April 2012
20120419
Mungkin Judulnya "Pilihan!"
Pilihan, iya pilihan. Aku diingatkan lagi tentang suatu hal yang bernama pilihan. Sederhana saja, aku diingatkan akan banyak hal penting itu dari obrolan kecil di warung burjo di pinggir selokan mataram. Sederhana, mungkin sangat sederhana. Tapi hal sederhana itu yang mengingatkan tentang kehidupan di Bumi. Iya, tentang pilihan.
Seorang kawan yang selama kurang lebih tiga bulan menghilang dari rutinitas kota Jogja. Menghilang dari peredaran, rupanya tak sia-sia dia pergi mencari kehidupan baru. Nyatanya mampu memberikan pencerahan untuk orang di sekitarnya. Tak perlu juga lah di sebut namanya. Nanti geer.
Yang aku ingat pertama adalah tentang jodoh. Ah, jodoh yang menurut kebanyakan orang sudah ditentukan oleh Tuhannya masing-masing umat manusia menurutnya adalah palsu. Nyatanya jodoh itu adalah pilihan kita sendiri, kita yang mencarinya dan Tuhan hanyalah merestui. Jika memang tidak direstui, ya cari lagi. Gitu katanya. Aku hanya bisa mengangguk saja. Nah, untuk orang-orang yang malas mencari atau tidak mencari sama sekali, barulah Tuhannya yang menentukan jodohnya. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
Selanjutnya, obrolan masih tentang pilihan. Aku kembali teringat tentang pilihan awal aku ingin kuliah di Jogja. Jogja ada di tengah-tengah Pulau Jawa. Aku lihat dari peta, ada banyak gunung yang ada di sekitar kota ini. Sangatlah gampang untuk mendaki gunung. Jadilah dengan mantap aku jawab pertanyaan Ibuku yang bertanya "Mau kuliah di mana?" dengan jawaban "Jogja!". Tanpa aku sebutkan di mana aku akan kuliah. Yang penting Jogja dulu saja. Syukur saja aku bisa lolos masuk Teknik UGM. Ah, mungkin ini yang keliru, pikirku. Iya, keliru aku masuk Teknik UGM. Terlalu mumet, apalagi dengan embel-embel Teknik Nuklir dan Teknik Fisika di depan Teknik UGMnya itu.
Masih tentang pilihan, kuliah di Teknik ini juga merupakan pilihanku. Dan Tuhan lah yang merestui. Tapi tentang gunung yang aku rencakan itu memang tepat. Di utara Jogja ada Merapi yang telah memberi banyak pengalaman untuk ku. Aku berkenalan dengan Merapi dengan cara yang kurang enak. Dengan letusan. Iya, baru dua bulan aku di Jogja, aku harus berkenalan dengan letusannya. Tak apalah, perkenalan yang kurang baik biasanya akan diingat terus. Mungkin.
Merapi, sekarang tentang Merapi. Gunung yang ketika pertama aku menejejakkan kaki di atas pasir putihnya aku hanya bisa mengagumi karya Tuhanku, Alloh SWT. Sulit untuk berkata-kata saat itu. Iya, pendakian pertama di gunung yang dengan berani aku katakan gunung paling gagah. Tapi sangat anggun dan cantik. Semenjak itulah, hampir tiap bulan aku sempatkan untuk menikmatinya. Sekedar untuk menyapa kabutnya. Aaah, Merapi. Tak perlu aku ceritakan banyak tentangmu. Biarkan mereka yang ingin tahu tentangmu merasakan kegagahan, keanggunan, dan kecantikanmu dengan mata mereka sendiri.
Masih tentang Merapi, beberapa kali aku menikmatinya, selalu dia memberikan hal yang tak terduga. Hal yang luar biasa. Belum lama ini aku dapat kabar bahagia yang berasal dari Merapi juga. Tak usah juga lah aku ceritakan. Tapi dari kabar bahagia ini aku harus memutuskan suatu pilihan. Pilihan yang akan harus di pertanggung-jawabkan.
Kembali lagi tentang pilihan, kabar baik dari Merapi. Aku harus berani memilih untuk kuliah sedikit lebih lama dari kawan-kawan yang lain. Untuk lebih mencintai kabar baik ini. Iya, kabar baik yang semoga akan selalu baik pada setiap kesempatannya. Ah setidaknya aku mencintai hal yang membuat aku lama kuliah. Dan lamanya aku kuliah juga merupakan pilihanku.
Pilihan kawaaaaan. Pilihaaann. Maka dari itu pilihlah dengan bijak setiap pilihan yang ada. :)
20120324
Apa kabar?
Imaji bayangmu
Merusak konsentrasi
Merasuk, meramu
Ada kabar datang menjelma menjadi angin
Masuk melalui perasaan yang dinamakan rindu
Imajiner, imajiner
Menjadi gelap
Hilang ditelan cahaya
Titik-titik tak teratur
Garis-garis tak mau lurus
Imajiner, imajiner
Menjadi gelap
Hilang ditelan cahaya
Bayangmu menemani lamunan
Mencari cara mengistirahatkan rindu
Imaji bayangmu
Tak pernah mati
Menjelma, merindu
Subang, 24 Maret 2012
Langganan:
Postingan (Atom)