20111030
Dien adalah Kamu
20111019
Mata Larasati
Larasati, itu adalah nama dia. Nama seorang perempuan yang akhir-akhir ini kuanggap sebagai kekasihku meskipun dia belum menganggap aku sebagai kekasihnya. Aku tak tahu perasaannya padaku. Bagaimanapun juga, tak jelas apakah dia mencintaiku selayaknya aku mencintai dia. Aku tak tahu bukan karena aku tak pernah menanyakannya, atau tak berani menanyakannya. Pernah suatu hari aku bertanya tentang perasaan dia kepadaku. Namun dia hanya menjawab dengan senyum yang indah dari bibirnya. Dia tersenyum setelah mengatakan bahwa dia ingin bersamaku yang tak selalu harus berhubungan dengan cinta. “Aku suka kamu, aku ingin banyak menghabiskan waktu bersamamu.” Begitu kalimat yang aku dengar dari mulut Larasati.
Suka atau cinta. Tak masalah bagiku sekarang. Aku tak terlalu memperdulikan perbedaan kata suka dan cinta yang keluar dari mulutnya. Aku lebih memperdulikan bagaimana caranya aku bisa terus memberikan rasa cintaku kepadanya. Karena aku sudah lama mencari seorang perempuan yang aku idamkan. Perempuan yang ada di dalam diri Larasati. Karena itu dia berhak mendapatkan cintaku.
Larasati, bukan seorang yang cantik yang memperhatikan keindahan dirinya. Rambutnya bahkan tidak seperti seorang perempuan normal lainnya. Dipotongnya pendek rambut dia. Badanya kecil, tak ada lekukan selayaknya gitar spanyol pada tubuhnya. Bila diperhatikan dari belakang, Larasati nampak hanya seorang bocah laki-laki yang baru tamat SMP. Ditambah tinggi badannya yang tidak melibihi tinggi pundakku. Tak ada yang lebih dari dirinya untuk orang lain. Mungkin kaos yang selalu lebih lebih lebih besar dari ukuran yang seharusnya dia kenakan. Tapi untukku, ada satu hal yang membuat aku berani memastikan bahwa Larasati adalah gadis perempuan yang selama ini aku cari. Mata. Ya, tatapan matanya yang membuatku yakin untuk melakukan sesuatu. Matanya yang selalu berhasil menghipnotisku ketika saling berpandangan, matanya yang selalu membawaku ke tempat yang begitu damai, tenang, sejuk, jauh dari kesibukan yang sebenarnya aku jalani.
Aku selalu senang menghabiskan waktu bersamanya. Sepatu. Ya, sepatu yang mempertemukan aku dengan Larasati. Di toko sepatu di pinggiran kota ini, aku tak menemukan pasangan sepatu gunung yang akan kubeli. Aku putuskan untuk bertanya dikasir. Ketika itulah, seorang perempuan membawa sebelah sepatu. Setelah aku perhatikan, itu sepatu dari pasangan sepatu yang aku cari. Perempuan itu bertanya kepada kasir. Pertanyaan yang sama denganku, di mana pasangan sepatu itu. Sepatu itu hanya tinggal satu pasang. Setelah berbincang dengannya,aku mengalah untuk memberika sepatuku padanya. Larasati lah yang menjadi pemilik sepasang sepatu itu. Tak ada pertengkaran untuk memutuskan siapa yang berhak memiliki sepatu itu. Dari pertemuan di toko sepatu itu, kemudian berdatangan pertemuan-pertemuan lainnya yang mejadikan aku lebih dekat dengannya. Yang kemudian aku membuat keputusan untuk memberikan cintaku kepada Larasati walaupun sampai saat ini aku belum tahu apakah dia memberikan cintanya kepadaku atau tidak.
Walaupun kisah kasih ini hanya sepihak, tapi aku tetap menganggap dia sebagai kekasihku. Namun tak selayaknya pasangan kekasih lainnya. Tak ada keromantisan dalam perjalanan cintaku dengan dia. Lebih banyak hal-hal ekstrem yang aku lewati bersamanya. Karena hobi aku sama dengan Larasati. Bermain dekat dengan kematian. Mulai dari tersesat beberapa hari di salah satu gunung di pulau Sumatera. Hingga tidak bisa bergeraknya dia ketika memanjat tebing karena keliru mengambil jalur. Akhirnya harus menunggu hingga bantuan datang.
Malam ini aku akan bertemu dengan Larasati. Di salah satu klub Jazz di kota ini. Larasati yang begitu kalem melemparkan senyumnya padaku ketika aku jemput dari rumahnya. Sudah tiga bulan ini Larasati selalu berpenampilan begitu rapi. Selalu menggunakan kemeja kotak-kotak berlengan panjang. Celana jeansnya tidak ada yang bolong. Kaos hitam yang dia kenakan didalam kemejanya pas sesuai ukurannya. Sangat rapi untuk Larasati yang telah aku kenal sejak pertemuan di rental outdoor tiga tahun yang lalu. Aku membukakan pintu mobilku untuk Larasati. Oh iya, sejak tiga bulan ini juga, aku tidak pernah membawa motor trail ku untuk menjemput Larasati. Aku selalu meminjam mobil Ayahku untuk menjemputnya. Tak ada perbincangan antara aku dan Larasati selama dalam perjalanan. Dia hanya terus menulis di buku yang selalu dibawanya akhir-akhir ini. Tiba-tiba dia memberikan secarik kertas bertuliskan “Tolong belikan air minum dulu!”. Hanya itu perbincangan kami.
Aku memakirkan mobliku di pinggir jalan di depan klub Jazz itu. Aku turun dari mobil, kemudian aku gandeng tangan Larasati. Hanya senyuman yang di sampaikan. Bahkan matanya juga ikut tersenyum. Aku mencarikan tempat duduk yang pas untuk kami berdua. Alunan-alunan musik terus dimainkan oleh para musisi di klub ini. Larasati terus sibuk dengan bukunya. Dia terus menulis dan menulis. Sesekali aku menuliskan sesuatu untuknya. Dan dia balas pula dengan tulisan. Kadang aku menggodanya dengan menuliskan puisi. Dan dia tersenyum lembut melihatku. Terus begitu. Aku sangat menikmati senyumna. Tiga lagu berselang, MC memberikan joke-joke ringan kepada para penonton. Larasati ikut tertawa ketika yang lainnya juga tertawa. Aku hanya bisa tersenyum melihat Larasati bisa tertawa begitu lepas. Aku elus rambutnya. Dia menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku rangkul dia. Ingatanku kembali ke kejadian lima bulan yang lalu.
Saat itu Larasati datang ke tempatku, seperti biasa dia memberitahukan bahwa dia akan melakukan ekspedisi ke pegunungan di Indonesia paling timur. Seringkali dia melakukan ekspedisi selalu aku lepas dengan tenang, karena aku selalu yakin dia bisa pulang tanpa kurang sedikitpun. Namun kali itu begitu berbeda, ada perasaan tidak rela untuk melepasnya pergi. Aku masih diliputi kekhawatiran saat mengantarkannya di bandara. Berhari-hari aku selalu memantau keadaan dia di posko tim ekspedisinya. Selalu dengan perasaan khawatir. Sebelumnya aku tidak pernah langsung memantau di posko. Hanya menunggu kabar dari timnya saja dari rumah. Kali ini memang benar-benar berbeda. Minggu-minggu kedepannya pun selalu dihinggapi perasaan yang sama. Ah, Larasati memang selalu bermain dekat dengan kematian.
Dan akhirnya kekhawatiranku terjawab. Berita dari tim di posko. Dua orang tim ekspedisi di lapangan mengalami kecelakaan. Jatuh dari tebing. Terlempar badai yang tiba-tiba datang menyapu tim itu. Salah satu dari dua orang itu adalah Larasati. Dia terpental ke dasar jurang. Begitu laporan dari tim di lapangan. Seketika itu juga aku terus berdoa supaya tidak terjadi hal yang serius terhadap Larasati.
Selama sebulan aku selalu berkunjung ke rumah sakit tempat dia di rawat. Sejak itu, tak ada perbincangan antara aku dan Larasati. Dokter memvonisnya tuli. Gendang telinga Larasati pecah. Dia jatuh dengan kepala duluan menghantam tanah. Sementara di kepalanya entah berapa puluh jahitan untuk menutup luka-lukanya. Bahu sebelah kirinya juga patah. Saat itu juga aku hanya selalu bisa tersenyum ketika bertatapan dengan Larasati. Aku berbincang dengan matanya.
Larasati mengangkat kepalanya dari bahuku. MC kembali memanggil band selanjutnya untuk tampil. Larasati kembali sibuk dengan buku tulisnya. Aku selalu menemaninya belajar untuk menuliskan apa yang dia lihat ketika pendengarannya sudah tidak berfungsi. Malam itupun berjalan begitu cepat. Aku mengantarkannya pulang. Setelah dia turun, dia hanya melambaikan tangannya dan tersenyum manis. Di bangku mobilku, dia meninggalkan kertas. Isi tulisan kertas itu “Aku Cinta Kamu.. ^_^” . Untuk pertama kalinya aku mengetahui bahwa dia telah membalas cintaku.
catatan:
cerpen ini terinspirasi dari karya Rama Dira berjudul "Oriana"
20110926
Peri Hujan
Kau bukanlah permempuan pencinta hujan. Tapi sore itu kamu membawa payung saat pergi bersamaku. Aku sendiri yang memegang payung punyamu itu. Wajahmu saat itu tidak gelap seperti langit sore yang mendung karena hujan. Aku melihat matahari dari wajahmu yang berseri. Payung yang memang tidak terlalu besar untuk kita berdua berlindung dari air hujan. Tapi karena payung kecil itu lah aku bisa merapatkan tubuhku kepadamu. Tiba-tiba saja kau menarik tanganku untuk berlari kecil untuk masuk ke helai-helai rintik hujan. Aku bergegas melipat payung kecilmu agar aku bisa ikut menikmati air yang ditumpahkan oleh para malaikat penyiram hujan. Orang-orang yang berteduh di emperan toko sempat tersenyum melihat tingkah mu. Ada yang berteriak untuk menyuruh kita berteduh juga. Sepertinya kau terlalu menikmati air dari langit. Akhirnya aku pun ikut berlari ke arahmu. Dan sejak itu aku menyukai hujan gerimis di sore hari.
Sebelumnya kau sempat bercerita banyak hal ketika di warung makan. Tapi aku tak mengingat satu halpun tentang apa yang kau ceritakan. Rambutmu yang hitam panjang, bibirmu yang begitu lembut, warna kulitmu yang kuning kecokelatan, dan seluruh bagian dirimu. Aku lebih tertarik memperhatikan kamu. Aku terlalu menikmati sinar wajahmu saat itu. Senyummu yang membuat suara deru hujan terdengar serperti alunan violin. Kerupuk yang aku pegang di tangan kiriku rasanya menjadi bunga. Ingin aku memberikan bunga itu untukmu. Ternyata film-film India ada benarnya juga, pandangan terhadap seorang perempuan bisa merubah dunia di sekelilingmu. Mulutmu tak hentinya berbicara, aku hanya mendengar kau sedang menceritakan dunia di hadapanmu. Menceritakan aku? Hanya itu yang aku dengar.
Jalanan sudah seperti sungai. Air dari jalan yang lebih tinggi terus mengalir, tapi kakimu menari sangat indah di atasnya. Kamu berlari kecil mencipratkan genangan air ke arahku. Kita tak sedang berada di pantai. Hanya ada aku dan kamu. Kita berlari ke arah gang kecil untuk menuju ke rumahmu. Kini air dari genteng yang menetes ke kepalamu. Tapi itu membuat senyummu menjadi tawa. Tangga-tangga kecil kamu loncati dengan ringan.
Sampai di rumahmu, kamu tak memberikanku kesempatan untuk duduk. Kamu menarik tanganku untuk menuju ke lantai dua rumahmu. Lantai dua yang beratapkan langsung langit sore. Di bawah belaian gerimis, kau lepas tawamu. Aku pun menjadi teman tertawa setiamu di sana. Sentuhan-sentuhan mesra dari hujan membuat aku lebih menikmati wajahmu yang basah. Cukup lama kita menghabiskan waktu hanya untuk tertawa dan berlari mengelilingi atap rumahmu.
Aku memutuskan untuk memelukmu, tapi kau malah menjauh dariku. Hingga akhirnya kau menjadi diam. Raut wajahmu berubah kaku. Apa kamu marah karena aku ingin memelukmu? Aku pun tak bisa berkata apa-apa. Kamu tetap diam saat aku memandangmu lebih tajam. Dan kamu pun membaringkan tubuhmu, membiarkan seluruh tubuhmu di belai oleh air dari para malaikat. Aku pergi dari atapmu. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat kamu lagi.
Hari ini, tepat dua tahun setelah kita terkahir kali bertemu. Aku berdiri di tempat yang sama seperti yang pernah kita lakukan dulu. Dengan rintik hujan yang mesra. Di atap rumahmu. Hari ini aku menunggu kamu untuk menari bersamamu lagi. Mataku tertuju ke tumpukan kabel terbuka yang sudah berkarat di dekat tempatmu berdiri dua tahun yang lalu. Dua tahun berlalu, tapi aku masih bisa melihat tubuhmu ketika listrik dari kabel menyambarmu. Masih jelas terbayang saat tubuhmu menjadi benar-benar kaku. Aku tak berani untuk menyentuhmu. Takut yang aku rasakan ketika aliran listrik menyelimuti tubuhmu yang basah. Seketika itu pula seluruh kulitmu menghitam. Gosong. Hingga akhirnya tubuhmu jatuh. Malaikat penyiram hujan rupanya membutuhkan peri baru untuk menemani mereka membuat gerimis. Dalam hati aku selalu ingin tahu kabar darimu. Apakah kamu ikut menumpahkan air dari langit setiap kali hujan turun? Karena ketika gerimis datang, aku selalu melihat sinar wajahmu dalam helai-helai air dari langit.
Apa kabarmu peri hujanku? Aku akan selalu menunggu gerimis dari mu, malaikatku.
catatan:
cerpen ini terinspirasi dari karya Rama Dira berjudul "Hujanlah yang Membawaku Kepadamu"
20110921
Mendaki Gunung Mengganggu Kuliah?
20110829
Mengaku Islam?
20110818
Chapter: 9 Matari (9 Matahari)
"Tar,semua orang pasti tahu angka sepuluh adalah angka tertinggi. Tapi buat gue, sembilan itu adalah angka yang pas buat diri gue melambangkan betapa bernilai dan berharganya sesuatu itu buat gue. Angka itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 masih akan terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih dari waktu ke waktu.... Dari bentuknya, buat gue angka 9 lebih menawan Kalau lu perhatiin, angka 8 itu membuat dua bulatan yang tertutup. Sementara angka 9, bagian atasnya membentuk sebuah lingkaran yang menurut gw itu adalah ruang pribadi bagi setiap orang. Seperti sebuah tempat untuk menyimpan keyakinan yang tidak akan terganggu. Sementara buntut di bawahnya adalah ruang terbuka, tempat orang terus mengasah dirinya untuk menerima wawasan dan pengetahuan baru, serta akhirnya membuat dirinya terus menerus termotivasi untuk bisa lebih baik lagi. Dan, sembilan itu adalah nilai buat seorang terus membawa impiannya dengan semangat matahari, sembilan itu nilai buat seorang Matari."
"Jangan pernah berhenti buat menggenggam matahari, Tar. Seperti nama lu, Matari, lu pasti memang diharapkan menjadi seperti matahari. Matahari yang nggak akan bergeser kalau bulan dan bintang belum muncul. Matahari yang akan terus menerus memberi energi, kehangatan, dan cahaya buat alam semesta. Kadang dia dicaci kalau bersinar terlalu terik, kadang dia juga diprotes kalau tampak sayu dan sedikit bermalas-malasan. Tapi..nggak peduli apapun itu, matahari selalu muncul setiap hari dengan segala yang dia punya. Dia juga harus berbagi peran dengan bulan dan bintang. Tapi, bukan berarti matahari itu berhenti bersinar, justru dia lagi bersinar hangat di belahan bumi yang lain. Matahari yang mengajarkan banyak pada kita untuk terus berbagi. Supaya, kita benar-benar tahu peran kita dan bisa merasakan jiwa kita hidup..."
Setiap individu pasti memiliki kesukaan dengan penjelasannya masing-masing. Aku yang secara pribadi memang menghargai (bukan menyukai, tapi menghargai) angka 9 pun memiliki suatu cerita yang begitu berharga. Mungkin bisa dikatakan sedikit teguran dari sang Maha Pencipta yang secara kebetulan berhubungan dengan angka 9. Pada postingan yang lainnya mungkin saya akan menceritakan Angka 9 kepunyaan saya itu.
Terima Kasih
20110804
Puing-Puing Rakjat
Rakjat dimana kau
Kutjari dalam ribuan luka
Kuhempas badai mentjari lukamu
Rakjat dimana kau
Deritamu siksa aku dalam djuangku
Biarlah aku ditjabik jutaan harimau agar kau bisa tegak berdiri
Bukan di tindas dan tertekuk dalam kehinaan
Rakjat tjintaku padamu
Ada pada gubuk-gubuk liar
Dan ilalang tanpa nama
Karena kaulah tjintaku tak akan mati
Akulah perindumu yang digotong oleh djoang
Di bantu oleh ketidakberdajaan
Akulah tjintamu
Jang aku inginken di tiap malam gelap
Akan adanja perubahan
Akan adanja perubahan........
Djakarta, 2 Januari 1954
DN AIDIT