20091015

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab,tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku."Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times")


20091014

CINTA INDONESIA

"Saya Cinta Indonesia", ayo katakan itu.. jangan mengatakan "I Love Indonesia"

"Saya Bangga Menjadi Orang Indonesia", ayo katakan itu... jangan mengatakan "
I am proud to be Indonesia"
Mungkin ada yang bertanya, "kenapa?? kita akan harus menjadi warga dunia?? kita harus mempraktekan bahasa inggris kita supaya lancar.."
Dan saya akan menjawab dengan pasti dan penuh keyakinan, "kenapa kita tidak mencoba untuk menjadikan Bahasa kita menjadi bahasa dunia?? walaupun sulit, perlahan tapi pasti, itu akan terjadi kalo kita mau.."
Timbul pertanyaan baru, "tapi kan orang luar tidak akan mengerti bahasa kita??"
saya akan menjawab, "kalian bisa menggunakan bahasa inggris kalian ketika nerada di luar Indonesia, orang luar negeri itu ingin sekali mempelajari bahasa Indonesia. Hal ini terbukti, Bahasa Imdonesia sudah dipelajari di sekolah-sekolah yang tersebar di 40 negara di dunia. Termasuk Amerika dan Inggris sendiri. Bahkan di sekolah di Australia, bahasa Indonesia merupakan bahasa asing terfavorit bagi para pelajarnya.
Dan mungkin akan timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang pro-kontra terhadap opini saya di atas. Dan Insya Alloh, saya akan menjawabnya berdasarkan informasi yang saya peroleh..

Paragraf di atas merupakan sebuah pembukaan atau sekedar basa-basi saja untuk memenuhi isi postingan kali ini. :) . Topik utama tulisan kali ini adalah mengenai Densus 88 Anti Teror yang sedang melambung namanya melewati pasukan-pasukan khusus di negara lain (bahkan menjadi bahan pembicaraan di antara agen-agen khusus CIA, FBI bahkan U.S Secret Service yang selama ini kita ketahui dari film-film holywood yang beredar) karena keberhasilan mereka dalam beberapa penyergapan teroris di Indonesia.


Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Keplosian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim gegana.

Detasemen 88 dirancang sebagai unit AntiTeroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli Investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Pembentukan

Detasemen 88 - Latihan Penyergapan

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), sebuah undang-undang anti teror US, yang jika dilafalkan dalam bahasa inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta .

Persenjataan

Satuan pasukan khusus baru polri ini dilengkapi dengan persenjataan dan kendaraan tempur buatan Amerika Serikat, seperti senapan serbu colt M4, senapan penembak jitu Armalite AR-10 dan Shotgun Remington 870. Bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya. Semua persenjataan yang diberikan, termasuk materi latihan, diberitakan sama persis dengan apa yang dimiliki oleh satuan khusus antiteroris AS.

Operasi yang diketahui

Detasemen 88 - Konvoi Tempur

Beberapa hal yang patut dibanggakan

1. Pernahkah pembaca melihat para penembak jitu para agen rahasia di atap gedung? Itu adalah hal biasa, sedangkan para penembak jitu densus 88 beraksi di bukit-bukit sekitar area penyergapan. Hal ini adalah yang membuat iri para pasukan khusus negara lain. Karena untuk mencapai bukit saja diperlukan kerja keras sebelumnya, sedangkan untuk mencapai atap gedung? Menggunakan lift.

2. Densus 88 menggunakan batang pohon yang berbentuk sedemikian rupa untuk mendobrak jendela dan ventilasi. Bagi pasukan khusus negara lain, memanfaatkan benda-benda sekitar yang tepat (apalagi yang alami) di saat kritis adalah sebuah kecerdasan dan kecerdikan luar biasa.

3. Adu tembak sambil berlindung di balik pohon dan semak-semak adalah suatu hal yg menakjubkan bagi pasukan khusus di negara lain. Pasukan khusus U.S atau Inggris ataupun australia hanya bisa melakukan hal biasa bagi Densus 88 dalam adegan tembak menembak dalam film.

4. Dapat menyamar menjadi warga biasa tanpa tidak terdeteksi teroris papan atas adalah luar biasa.

5. Dan yg terakhir, memperbaiki rumah atau tempat yang rusak akibat adu tembak sangat sulit dilakukan oleh pasukan-pasukan khusus negara lain (bahkan di film pun tidak ada! ). Hal ini menunjukkan, bahwa pasukan elit sekelas Densus 88 pun mempelajari pelajar PKN/Kewarganegaraan/PPKN dengan sangat baik dan mempraktekan hasil belajarnya dengan bertanggung jawab terhadap kerusakkan yang telah diperbuat.

akhir kata, masihkah ada orang Indonesia yang mengganggap DENSUS 88 tidak lebih hebat dari PASUKAN KHUSUS U.S atau PASUKAN KHUSUS NEGARA-NEGARA EROPA???

Sumber : wikipedia + pemikiran penulis (ups.soul ctd 09)

20091013

Saya Cinta Kamu, Ibu,,

I Love U Mom
Suatu ketika, hiduplah dua suku di pegunungan Andes. Satu suku tinggal di lembah-lembah, sedangkan suku yang lain tinggal di atas gunung. Suatu hari, suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke atas gunung.

Orang-orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung. Mreka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung. Mereka tidak tahu dimana letak desa suku gunung. Juga, tidak tahu bagaimana mengikuti jejak-jejak suku gunung di tebing-tebing gunung itu.

Tapi, meski pun begitu, mereka mengirim para prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka.

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain. Ketika prajurit pertama gagal, mereka semua pun gagal. Mereka mencoba lagi dengan cara lain. Namun, gagal. Setelah berhari-hari mereka mendaki, mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja.

Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke desa saja. Semua upaya dilakukan namun gagal.

Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat ibu dari bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati mereka, sambil menggendong bayinya. Mereka terkejut sekali, bagaimana si ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya? Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing-tebing itu mengalahkan mereka? Terlebih lagi, mereka melihat si bayi itu telah terselamatkan. Bagaimana mungkin?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya, "Wahai ibu, kami gagal mendaki tebing ini. Bagaimana kau melakukan semua ini, mengalahkan seluruh prajurit terkuat? Bagaimana bisa? Engkau belum pernah menjadi prajurit!"

Ibu itu mengangkat bahu dan berkata, "Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu. Dan, kalian semua belum pernah menjadi Ibu."

-(The Mountain, Jim Stovall)




20091012

CLARA SUMARWATI

Jika pada postingan sebelumnya saya mengutip dari detik tentang penyakit Clara Sumarwati, pada postingan ini saya akan menuliskan kembali hasil pencarian saya di paman google tentang perjalanan yang benar-benar mengesankan dari seorang wanita Indonesia dan ASEAN pertama yang berhasil menaklukan Puncak Everest (8848 mdpl) dengan tipe solo climbing.

Gambar di bawah ini adalah gambar Clara Sumarwati ketika berada di atap dunia.

Tulisan selanjutnya adalah tulisan yang saya kutip dari beberapa sumber yang berhasil saya himpun.

Pendaki pertama dari Indonesia yang menginjak puncak Everest pada ketinggian 8.848 meter adalah seorang Clara Sumarwati. Ternyata prestasinya itu juga menjadikan dirinya orang Asia Tenggara yang pertama sampai di puncak Everest, yaitu pada tanggal 26 September 1996. Namanya dan tanggal pencapaiannya tercatat antara lain di buku-buku Everest karya Walt Unsworth (1999), Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999) dan website EverestHistory.com, sebuah referensi andal akan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendakian gunung di dunia.

Kesangsian akan peristiwa bersejarah yang dicatatnya itu datang dari berbagai pihak di tanah air, semata-mata karena dianggap tidak memberi cukup bukti, contohnya seperti foto yang menunjukkan ia memegang bendera yang tertancap di puncak. Namun di berbagai sumber pencatatan dunia, Clara diakui sebagai penakluk puncak Everest ke-836. Masyarakat pendaki gunung internasional pun sudah maklum bahwa Clara adalah orang Indonesia dan juga orang Asia Tenggara pertama yang sampai ke puncak Everest.

Lahir tanggal 6 Juli 1967 di Yogyakarta, anak ke-6 dari delapan putera-puteri pasangan Marcus Mariun dan Ana Suwarti. cita-cita Clara sewaktu kecil adalah menjadi ahli hukum, tetapi ia tidak bisa menolak ketika kakak laki-lakinya menyekolahkannya di Universitas Atmajaya jurusan Psikologi Pendidikan. Saat kuliah ia ingin menjadi pembimbing dan juru konseling di SMU. Tetapi begitu lulus universitas di tahun 1990, haluannya samasekali berubah ketika ia gabung dengan ekspedisi pendakian gunung ke puncak Annapurna IV (7.535 meter) di Nepal. Rekannya, Aryati, berhasil mencatatkan diri sebagai perempuan Asia pertama yang mencapai puncak itu pada tahun 1991. Pada Januari 1993, Clara bersama tiga pendaki puteri Indonesia lainnya menaklukkan puncak Aconcagua (6.959 meter) di pegunungan Andes, Amerika Selatan.

Sebenarnya pendakian Everest tahun 1996 itu bukan ekspedisi Everest yang pertama bagi Clara. Pada tahun 2004, ia bersama lima orang dari tim PPGAD (Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat) berangkat tetapi hanya mampu mencapai ketinggian 7.000 meter karena terhadang kondisi medan yang teramat sulit dan berbahaya di jalur sebelah selatan Pegunungan Himalaya (lazim disebut South Col). Kegagalan mencapai puncak ini justru membuat Clara Sumarwati semakin penasaran dan bercita-cita untuk mengibarkan Merah-Putih di puncak Everest pada 17 Agustus 1995, tepat 50 tahun Indonesia merdeka. Sebanyak 12 perusahaan ia hubungi waktu itu untuk mendapatkan sponsor. Biaya yang ia butuhkan tidak sedikit, mencapai Rp 500 juta, karena memang segitulah biaya yang harus dikeluarkan siapa pun yang ingin menaklukkan Everest waktu itu. Tidak ada jawaban. Menurut Clara, bahkan ada pihak perusahaan yang meragukan kemampuannya sehingga enggan memberi sponsor.

Salah satu pihak yang ia hubungi untuk sponsor adalah Panitia Ulang Tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dibawahi Sekretariat Negara. Clara dipanggil menghadap pada bulan Agustus 1995 dan mendapat konfirmasi bahwa Pemerintah bersedia mensponsori ekspedisinya. Sertamerta Clara menjadwal-ulang ekspedisi yang seharusnya memancang bendera Indonesia di tahun 1995. Ia mencanangkan ekspedisi berangkat di tahun berikutnya, pada bulan Juli 1996. Ternyata pengunduran jadwal itu mempunyai makna tersendiri karena pada tahun 1995 itu terjadi badai dahsyat di Himalaya yang menewaskan 208 pendaki dari berbagai negara.

Berikut ini adalah suatu penuturan langsung Clara Sumarwati kepada majalah Gatra di tahun 1996 tentang pengalamannya mulai dari persiapan hingga mencapai puncak Everest.

Secara fisik sebenarnya kami sudah siap,” kata Clara. Kesiapan fisik memang dilatihnya sejak ide pendakian itu muncul di benaknya, pada tahun 2004. Mulai pukul 07.00, ia berlatih lari mengelilingi Stadion Senayan, Jakarta, selama dua jam, di bawah pengawasan Gibang Basuki, anggota Komando Pasukan Khusus berpangkat sersan dua. Kemudian sore hari, ia melatih otot di Pusat Kebugaran Hotel Grand Hyatt, Jalan Thamrin, Jakarta. Sedangkan siang, ia berkeliling keluar-masuk kantor untuk mendapatkan sponsor.

Agar tubuhnya tahan menghadapi hawa dingin dan salju, Clara berendam di kolam renang Senayan, Jakarta. “Karena terlalu sering, sampai-sampai penjaga kolam renang menganjurkan agar kami membeli karcis langganan,” kata Gibang Basuki. Selain itu, sebulan sekali Clara melakukan latihan naik-turun gunung sambil membawa beban. Mulai dari Gunung Gede, Jawa Barat, sampai ke puncak Soekarno di Pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya.

Di samping berendam selama dua jam di sebuah kali kecil di Suryakencana, Jawa Barat (ini juga untuk melatih fisik agar tahan terhadap udara dingin), Clara melakukan latihan mendaki dengan kemiringan 900. Di Citatah, Jawa Barat, misalnya, dengan tali, ia naik-turun Gedung Pemadam Kebakaran yang tingginya sekitar 30 meter. Latihan yang biasa disebut rapling atau turun monyet itu juga dilakukan di celah-celah Tebing Singgalang, Padalarang. “Latihan ini yang paling menyeramkan,” kata Clara, yang juga berlatih memanjat tebing dengan jari-jemarinya.

Kenyang menjalani semua latihan berat tadi, barulah Clara bersama Gibang Basuki mengurus izin mendaki. Mengingat misi pendakian solo (tunggal) ini lewat jalur utara, maka surat izinnya dikeluarkan oleh Pemerintah Cina, di Beijing. Dan berkat bantuan seorang warga Australia, mereka berhasil mendapatkan izin dari China Mountain Association (CMA).

Langkah Sudah Dilangkahkan

Lalu dengan biaya sebesar US$ 12.000, mereka mengontrak 12 penduduk Tibet, yang akan membawa beban dan tukang masak. Mereka biasa disebut sherpa, berasal dari nama suku Sherpa di Tibet, yang sering naik- turun gunung. Di samping itu, Clara dan Gibang harus menyewa pula seorang petugas Cina dari China Tibet Mountaineering Association (CTMA), yang berperan sebagai penerjemah sekaligus, “Untuk mempermudah prosedur di perbatasan Cina-Tibet,” kata Clara.

Setelah urusan perizinan beres, mereka kembali ke Jakarta melakukan latihan terakhir. Pas 8 Juli 1996, Clara dan Gibang Basuki memulai perjalanan bersejarah itu. Mereka menumpang Kuwait Airlines menuju Frankfurt, Jerman, untuk membeli perlengkapan mendaki. “Masuk di toko perlengkapan pendaki seperti masuk surga,” tutur Clara, yang menghabiskan dana sampai US$ 50.000. Termasuk di antaranya 12 tabung oksigen dan sepatu. Sepuluh hari kemudian mereka menuju Kathmandu.

Selanjutnya Ke Tibet

Di ibukota Nepal, Kathmandu, selain menjemput ke-12 pemanggul beban serta pemandu jalan, Clara dan Gibang melakukan latihan aklimatisasi. Yakni latihan menyesuaikan diri di tempat ketinggian. Mula-mula mereka diterbangkan pada ketinggian 3.000 meter dengan helikopter. Setelah itu, pelan-pelan mendaki sampai puncak Gunung Kalapatar, yang tingginya 5.545 meter. Kemudian turun kembali ke Kathmandu.

Perjalanan darat menuju perbatasan tidaklah mudah. Terjadi longsor di jalan-jalan raya, sehingga rombongan Clara harus kembali ke Kathmandu dan istirahat seminggu. Sampai-sampai lima kali mereka harus mengganti kendaraan pengangkut. Baik di Kota Zhangmo maupun Nylam Tim, Nepal, mereka menginap di hotel milik Pemerintah Cina. Kondisi kamarnya kurang memadai. Listrik sering mati, dan airnya yang keruh cuma sesekali mengalir. “Kami makan malam di restoran Cina yang makanannya berminyak,” tutur Gibang Basuki.

Sementara menunggu waktu, mereka mengisi kegiatan dengan mengikuti ziarah ke kuil, adat penduduk Nepal dan Tibet yang diikuti pula para pendaki umumnya. “Di kuil itu banyak tanah liat dibakar, seperti di kasongan Yogya,” kata Clara. Setelah itu mereka pun mengawali petualangan, dan tiba di tempat yang biasa disebut Base Camp. Di tempat setinggi 5.154 meter yang dilengkapi dengan pos dan alat komunikasi ini, Clara melakukan latihan naik turun gunung selama empat hari sambil menunggu kedatangan petugas penerjemah Cina.

Dan sekitar pukul 09.00 waktu setempat, 26 Agustus 1996, Clara memulai langkah yang bersejarah dalam hidupnya. Diiringi 12 pembawa beban, Clara menuju tempat pemberhentian berikutnya. Lokasi ini lazim disebut Camp 1, ditentukan sesuai dengan kemampuan para pendaki mengayun langkah. Untuk Clara, Camp 1 mencapai setinggi 5.500 meter. Di sini rombongan Clara disambut hujan lebat, sehingga mereka harus beristirahat dalam tenda. Paginya, menuju ke Camp 2 pada ketinggian 6.000 meter.

Uang Jasa Merintis Jalan

Setelah mereka beristirahat secukupnya, perjalanan dilanjutkan ke Camp 3, Advanced Camp. Di Camp 3 ini Clara harus melakukan latihan naik-turun gunung (aklimitasi) selama tiga pekan. Sebab di ketinggian 6.450 meter itu lapisan oksigen mulai berkurang sehingga banyak pendaki yang menderita hipoksia alias pusing karena kekurangan oksigen. Apalagi ia terserang batuk dan sakit tenggorokan karena tak tahan dengan suhu sedingin minus 350C, akibat badai salju. “Sampai-sampai susah bernapas,” tuturnya.

Clara sembuh setelah diberi minum strepsil dan sebutir tablet antibiotik oleh seorang dokter Yogoslavia dari sebuah rombongan Amerika Serikat yang tiba belakangan. Tim pendaki Amerika Serikat dimintai Gibang Basuki tanda jasa.”Berupa barang apa saja bolehlah,” kata Basuki. Sebab tim Amerika itu menggunakan rute - mulai Base Camp sampai Camp 3 - yang dibuat oleh para sherpa dari tim Indonesia.

Bukan karena komersial, melainkan sebagai balas jasa bagi para sherpa yang merintis jalur tersebut. Memang para sherpa inilah yang merintis jalan menuju kamp berikutnya, baru kemudian si pendaki mengikuti dari belakang. Salah seorang di antaranya bernama Ghalzhen yang terkenal lihai. Ia, bersama tiga rekannya, hampir tewas ditimpa longsoran salju (avalanche).

Tim Ceko yang beranggotakan 12 orang itu akhirnya memberi tali, tenda, bahan makanan, serta meminjamkan alat telekomunikasi berupa telepon satelit. Oleh Gibang Basuki, pemberian itu diserahkan kepada Ghalzhen dan 11 anggota pembawa barang lainnya. Sedangkan enam orang tim Afrika, yang juga menggunakan rute Indonesia, menyumbangkan tali dan uang kontan US$ 200. Lalu ada pula sebuah tim lain yang menolak dimintai sumbangan. Belakangan baru diketahui, ternyata mereka cuma mengantongi izin pendakian untuk seminggu. Artinya, ya mereka tidak bakal sampai ke pucuk Everest.

Didampingi empat sherpa (delapan lainnya sudah berangkat lebih dulu), tim Indonesia melanjutkan perjalanan ke Camp 4 yang tingginya 7.069 meter, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Camp 5, setinggi 7.900 meter. Saat hendak melanjutkan perjalanan ke Camp 6, Gibang Basuki kembali ke Camp 5. Hal ini memang lazim dilakukan sebuah tim pendakian solo (tunggal). Sebab, sebagai pendukung tim, Gibang harus berada di belakang. Bila kondisi memungkinkan, misalnya, persediaan oksigen dan cuaca cukup baik, barulah Gibang menyusul ke kamp berikutnya.

Di Camp 6 ini kemiringan mencapai 80 derajat, sehingga perlu istirahat sejenak meneguk air minum tiap berjalan setengah jam. Gunanya, untuk menghindari batuk dan radang tenggorokan. Di samping itu, di jalur ini banyak terdapat jebakan salju. “Saya sempat terperosok ke jurang,” tutur Clara. Dalam perjalanan dari Camp 5 menuju kamp berikut, kondisinya kurang mendukung. Empasan angin yang sangat kencang dan berkabut memaksa misi pendakian dihentikan beberapa kali. “Air sisa pernapasan di masker saya sampai membeku menjadi es,” Clara bercerita kepada Abdul Latief Siregar dari Gatra.

Salju Sebatas Paha

Alhamdulillah, Clara bersama lima sherpa berhasil mencapai Camp 6 pada pukul 16.00. Di lokasi yang tingginya 8.300 meter inilah Clara dan rombongan beristirahat. Tatkala istirahat itu, Clara yang masih dalam kondisi fit ditawari Kaji, pemimpin sherpa, untuk melanjutkan perjalanan. Menurut ramalan Kaji, cuaca di sekitar kamp cukup bagus. Ditawari begitu, Clara pun tergoda. Setelah dipikir masak- masak, maka diambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan pada pukul 01.00 dini hari, menuju pucuk Dewi Bumi. Waktu itu Clara sempat mengingatkan Kaji agar Gibang Basuki diberitahu rencana mendadak itu. Sekaligus mengajak Gibang agar ikut dalam ekspedisi yang bersejarah itu. Namun, Kaji melarang dengan alasan persediaan oksigen mereka tak akan cukup. Belakangan Gibang mengetahui alasan Kaji itu cuma dibuat-buat. Apa boleh buat, Gibang Basuki yang sebetulnya juga mampu meraih puncak Everest cuma berada di Camp 5.

Jam menunjukkan pukul 01.00, Clara bangun dari tidurnya. Lalu menyantap nasi kering yang tersimpan di rantangnya, dan menenggak segelas teh manis hangat. Setelah itu barulah Clara berangkat menembus kegelapan malam disertai lima sherpa. Ia menuju puncak. Cuaca cukup bersahabat. Tidak berkabut, meski dingin sangat mencucuk. Untuk menghindari frostbite (pembekuan jari-jari tangan dan kaki), Clara mengenakan pakaian rangkap. Mulai dari long zone (sejenis pakaian senam), kaus bertangan pendek dan bertangan panjang, sampai baju hangat, yang kemudian ditutup lagi dengan down jacket yang direkomendasikan untuk suhu minus 40 derajat.

Selain itu Clara Sumarwati juga mengenakan sarung tangan berlapis-lapis. Mulai dari yang tipis, lalu kaus tangan yang direkomendasikan untuk dipakai dalam suhu minus 300C, sampai sarung tangan tebal. Demikian juga kaus kakinya sampai dua rangkap. Bisa dibayangkan betapa berat beban pakaian yang dikenakan para pendaki pada tahun 1920. Tapi kini hal itu bisa dihindari, “Karena bahannya bagus, terasa ringan,” kata Clara.

Perjalanan menuju atap dunia pun dimulai. Itu dilakukan dengan cara travesing atau menyisir sambil mengitar. Para sherpa yang berpengalaman membuat hati Clara jadi tenang. Ghalzen yang membuat jalur, diikuti para sherpa lain seperti Dhawa, Ghalzen Kecil, dan Kaji, sang pimpinan, mengecek keselamatan jalur yang akan digunakan. Barulah Clara berjalan menyusul di belakang.

Menjelang sampai ke pucuk bumi, Clara dihadang hamparan salju sebatas paha manusia. Pada ketinggian 8.550 meter, hadangan pun makin serius. Sebab, bentuknya lain lagi. Yakni o­nggokan salju raksasa setinggi 10 meter, yang bentuknya seperti pinggul sapi. Untuk melewati gundukan itu, para pendaki memerlukan tangga dan tali. Demikian juga Clara. Dengan tangga yang sudah agak retak setinggi 10 meter dan tali-temali, ia akhirnya melewati hadangan itu.

Menyanyikan Indonesia Raya

Sulit dibayangkan, saya akhirnya dapat melalui gundukan itu,” kata Clara dengan bangga. Maka, ketika jarum jam menunjukkan pukul 11.00 waktu setempat, Clara Sumarwati pun sampai di pucuk Everest. Setelah memandang ke sekeliling dan merasa yakin bahwa ia memang sedang tegak di atap dunia, Clara berkata dalam hati, “Tiba-tiba saya merasa sangat kecil dan rendah.”

Setelah selesai mengucapkan 50 kali doa Salam Maria sambil memegang rosarionya (seperti tasbih), pemeluk Katolik ini menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sambil memegang Sang Merah Putih. Lalu wanita kelahiran Yogyakarta ini berpose memegang majalah Time yang bergambar sampul Presiden Soeharto.

Sementara itu, Gibang Basuki menunggu kabar di Camp 4 dengan cemas. Begitu mendengar kabar keberhasilan Clara dari handy talky di genggamannya, ia terkejut bercampur gembira. “Saya sudah mau marah. Kok lama nggak turun-turun,” ujar sersan dua Koppasus ini. Lalu ia turun ke Camp 3, meminjam peralatan komunikasi tim Ceko, untuk mengabarkan keberhasilan ini ke Indonesia.

Keraguan atas keberhasilan Clara, yang sejak semula menggelayuti hampir seluruh pendaki Indonesia, pun hilang. Seorang putri Indonesia ternyata mampu meraih prestasi tertinggi dunia. Yakni menaklukkan pucuk Gunung Everest dalam waktu 53 hari. Sebuah perkumpulan pendaki gunung Nepal bernama Pasang Lhamu (diambil dari nama seorang pendaki wanita Nepal yang tewas di puncak Himalaya tahun 1993), telah mengatur pertemuan antara Clara dan Menteri Olahraga Nepal.

Sebuah konferensi pers menyambutnya di Kathmandu, sesaat setelah Clara menjejakkan kaki kembali di ibu kota Nepal itu. Sejumlah piagam dan kertas penghargaan diberikan kepadanya. Antara lain, diangkat menjadi anggota kehormatan oleh Nepal Mountaineering Association. Sedangkan China Mountaineering Association (CMA) dan China Tibet Mountaineering Association (CTMA) memberi selembar sertifikat, yang menandakan bahwa Clara Sumarwati adalah salah seorang pendaki yang berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia.

Dan sekembalinya di Indonesia, Clara langsung menghadap Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia, Wismoyo Arismunandar. Pada tahun itu juga ia menerima penghargaan Bintang Nararya atas prestasi gemilang yang dicatatnya.

sumber :
Gatra edisi 53/02 tahun 1996 + The Jakarta Post + Detik + mesin pencari



Yang berprestasi yang terlupakan... Wanita Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang menaklukkan puncak everest

Wanita Indonesia pertama pendaki Puncak Everest, Clara Sumarwati (44), kini dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang. Dia adalah warga Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Puncak Gunung Everest pada 1996.

Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof dr Soerojo, Magelang, Bella Patriajaya mengatakan, Clara adalah pasien kambuhan yang sudah tiga kali ini menjalani perawatan di RSJ. Gangguan jiwa yang dideritanya beberapa kali kambuh karena dia tidak rutin mengonsumsi obat.

“Namun, sejauh ini, kami belum bisa menyimpulkan faktor pemicu apa yang menyebabkan Clara mengalami gangguan jiwa,” ujarnya, Minggu (11/10).

Clara pertama kali masuk dan dirawat di RSJ pada 1997. Selama di RSJ, dia pun kerap bercerita bahwa dia pernah mendaki Gunung Everest. Namun, ceritanya kerap diabaikan oleh para tenaga medis karena dianggap hanya sebagai bagian dari khayalannya.

“Kami pun bertambah tidak percaya karena pihak keluarganya sendiri menyangsikan dia pernah mendaki gunung,” ujarnya.

Prestasi Clara dan keberadaannya sebagai sosok istimewa yang pernah mengharumkan nama bangsa baru terungkap pada minggu lalu ketika ada sejumlah tim penilai pemuda pelopor dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga yang datang untuk menilai Poppy Safitri, wakil kontingen Jawa Tengah untuk lomba pemuda pelopor tingkat nasional. Salah satu aktivitas Poppy adalah mengajar tari di RSJ. Dalam kunjungan ke RSJ itulah, salah satu anggota tim mengenali sosok Clara.

Sekarang ini, Clara sudah menjalani perawatan di RSJ selama dua minggu. Kendati kondisinya membaik, keluarga menolak menjemputnya karena khawatir sewaktu-waktu Clara kumat kembali.

Surat penolakan menjemput ini bahkan dilampiri keterangan dari RT dan RW setempat dari alamat tempat tinggalnya di Minggiran, Sleman, DIY, yang menyatakan lingkungan sekitarnya juga menolak keberadaan wanita ini kembali.

“Dengan kondisi tersebut, Clara tidak bisa dipulangkan, dan kami tampung dulu di sini,” ujarnya.

Menurut Bella, ini merupakan kondisi yang rutin dialami pasien di RSJ. Dengan berbagai kejadian semacam ini, dapat disimpulkan bahwa selain beban gangguan jiwa yang dialaminya, pasien sebenarnya menanggung masalah yang lebih besar, yaitu beban sosial karena ditolak oleh lingkungannya.

“Ini lumrah terjadi pada pasien gangguan jiwa mana pun, termasuk mereka yang berprestasi seperti Clara,” ujarnya.

Dalam pencarian informasi di google.co.id, terdapat 889 keluaran yang menyebutkan bahwa Clara Sumarwati adalah pendaki asal Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang berhasil mencapai Gunung Everest di ketinggian 8.848 meter di atas permukaan laut. Atas prestasinya ini, dia mendapatkan penghargaan Bintang Nararya dari pemerintah. (detik)



GAGAL?? TIDAK UNTUKKU>>

gambar di atas adalah cover dari buku yang diterbitkan oleh .. (bisa liat sendiri deh gambarnya)..
Yap, penulis setuju sama tulisan di cover buku di atas.. "Boleh Gagal Tapi Jangan Takut Mencoba". Silahkan para pemabaca yang budiman untuk menguraikan kalimat dari buku itu menjadi untaian-untaian motivasi dalam kehidupan para pemabaca..

Seperti kata D'Nassip "Jangan Menyerah"...

Mari kita budayakan judul postingan ini di dalam kehidupan kita,..
Saya memiliki delapan hal penting mengenai apa itu sebenarnya kegagalan??

1. Gagal itu tidaklah sama dengan menjadi pecundang. Seseorang bisa saja sering gagal namun tetap bukan seorang pecundang.

2. Gagal tidaklah memalukan seperti yang dikira semua orang. Berbuat salah tidaklah lebih daripada bergabung dengan umat manusia.

3. Kegagalan itu hanyalah kemunduran sementara! Kegagalan tidaklah pernah menjadi bab terakhir dari buku kehidupan
anda, kecuali anda menyerah.


4. Sesuatu yang layak itu tak pernah tercapai tanpa resiko gagal. Orang yang meresikokan segalanya untuk mencoba mencapai sesuatu yang
benar2 layak lalu gagal sama sekali bukanlah pecundang yang memalukan
.

5. Kegagalan adalah persiapan alami untuk meraih sukses. Walaupun tampaknya aneh, sukses itu lebih sulit dijalani dengan sukses, ketimbang kegagalan. Setiap kegagalan disertai dengan kemungkinan2 akan sesuatu yang
lebih besar. Analisalah kegagalan dari sudut manapun, maka akan anda temukan benih2
untuk mengubah kegagalan itu menjadi sukses
.

7. Adalah terpulang pada anda untuk menyikapi kegagalan2 dalam
kehidupan anda. Kegagalan itu bisa menjadi berkat atau kutuk, tergantung pada reaksi
atau respons masing2 individu terhadapnya.


8. Kegagalan adalah peluang untuk belajar bagaimana caranya mengerjakan segalanya dengan lebih baik lain kali, belajar di mana bahaya2nya dan bagaimana caranya untuk menghindarinya. Hal yang terbaik dapat dilakukan dengan kegagalan adalah belajar
sebisanya darinya.


Segitu dulu saja.. Mudah-mudahan dapat bermanfaat.. (Ups.Soul 09)






20091011

Hanya cerita seorang Ayah

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada
siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil,
tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain
dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil
mereka.

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil
(mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa
meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.

Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup

Ayah benar-benar senang membantu seseorang...tapi ia sukar meminta
bantuan.

Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah.
Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia
sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu.
Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~

Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia
bisa belajar dengan cepat.

Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk
membuatmu senang tapi tidak takut.

Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan
tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau
memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal
menunggumu.

AYAH ITU MURAH HATI.....
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang
kamu butuhkan.....
Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin
bicara...

Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap
semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa
banyak kerutan di dahinya....

Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....

Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu"
Ketika ia ingin berkata ,,tidak"

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya
kepregok menghisap rokok dikamar mandi.

Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu
sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan
sesuatu hal yang baik persis seperti caranya....

Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....

Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau
meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak
akan pernah bisa melepaskannya.

Ayah tidak suka meneteskan air mata ....
ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama
kalinya,dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya
(ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)

ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa
takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...
tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang
malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar
selama hampir satu bulan.

Ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan
pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar
apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai
besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin
mendaptkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang
Menciptakannya"

Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: ,,jadilah lebih kuat dan
tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang
lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan
cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"

Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :" jangan cengeng
meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari
terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa
melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau
gantikan posisi Ayah di hatimu"

Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik
daripada kamu dulu....

Ayah bisa membuatmu percaya diri...
karena ia percaya padamu...

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba
melakukan yang terbaik....

Dan terpenting adalah...
Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.